Senin, 15 Desember 2025

Studi Empiris dalam Linguistik Terapan

Pendahuluan

Dalam perkembangan linguistik terapan sebagai disiplin ilmiah, studi empiris memiliki peran yang amat penting. Bidang ini tidak hanya mengandalkan teori atau spekulasi konseptual, tetapi menuntut bukti nyata dari penelitian yang bersumber pada data bahasa, praktik sosial, dan proses pembelajaran. Salah satu tokoh penting dalam upaya mendefinisikan dan mengarahkan ruang lingkup linguistik terapan adalah Paul Angelis. Ia berupaya memahami bagaimana bidang ini bekerja secara empiris dengan meninjau data yang dihasilkan oleh publikasi akademik dan penelitian terdahulu. Melalui pendekatan tersebut, Angelis memperlihatkan bagaimana linguistik terapan berkembang sebagai disiplin yang berakar pada penelitian bahasa dalam konteks dunia nyata.

Bab ini membahas tiga aspek utama:

1.      Cara Paul Angelis mendefinisikan ruang lingkup linguistik terapan.

2.      Sumber data yang digunakan Angelis dalam analisisnya.

3.      Peran jurnal-jurnal seperti Applied Linguistics dan TESOL Quarterly dalam memahami tren empiris bidang ini.

 

Linguistik Terapan Jilid Pertama - Aco Nasir | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1. Upaya Paul Angelis dalam Mendefinisikan Ruang Lingkup Linguistik Terapan

Pada tahun 1980-an, Paul Angelis menerbitkan serangkaian tulisan yang mencoba merumuskan secara empiris apa yang sebenarnya dimaksud dengan linguistik terapan. Berbeda dengan pandangan teoretis yang sering bersifat normatif, Angelis (1987) berargumen bahwa definisi linguistik terapan sebaiknya didasarkan pada apa yang benar-benar dilakukan oleh para peneliti dan praktisi dalam bidang tersebut, bukan sekadar apa yang mereka katakan tentang bidang itu.

Menurut Angelis (1987), linguistik terapan dapat dipahami melalui analisis isi (content analysis) terhadap penelitian yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal utama bidang ini. Dengan kata lain, untuk memahami apa itu linguistik terapan, kita perlu meninjau secara empiris: topik apa yang diteliti, metode apa yang digunakan, serta konteks apa yang menjadi fokus penelitian para ahli. Pendekatan ini memposisikan linguistik terapan bukan sebagai “produk definisi” tetapi sebagai “produk praktik akademik”.

Angelis menolak pandangan bahwa linguistik terapan hanyalah “penerapan teori linguistik” dalam konteks praktis. Menurutnya, ruang lingkup linguistik terapan jauh lebih luas dan mencakup penelitian tentang penggunaan bahasa dalam situasi nyata, kebijakan bahasa, pengajaran bahasa kedua, penerjemahan, analisis wacana, hingga teknologi bahasa (Angelis, 1987; 1990). Ia juga menekankan bahwa sifat utama linguistik terapan adalah empiris dan problem-oriented — berfokus pada pemecahan masalah bahasa yang konkret di masyarakat.

Dengan demikian, bagi Angelis, ruang lingkup linguistik terapan tidak dapat ditetapkan secara apriori. Ia harus ditemukan melalui penelitian terhadap karya nyata para ilmuwan linguistik terapan. Pendekatan ini menjadi tonggak penting karena mengubah cara pandang terhadap definisi disiplin ini — dari sesuatu yang “filosofis” menjadi sesuatu yang “empiris dan deskriptif”.

 

2. Sumber Data yang Digunakan oleh Paul Angelis dalam Analisisnya

Untuk mendukung definisi empirisnya, Paul Angelis menggunakan data publikasi akademik sebagai sumber utama. Ia melakukan analisis terhadap artikel-artikel yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal besar linguistik terapan, seperti Applied Linguistics dan TESOL Quarterly. Dengan meninjau isi publikasi tersebut, Angelis mencoba menemukan pola-pola penelitian yang dapat menggambarkan arah dan fokus disiplin ini.

a. Jurnal Ilmiah sebagai Data Utama

Jurnal Applied Linguistics (Oxford University Press) dan TESOL Quarterly (Teachers of English to Speakers of Other Languages) dipilih karena keduanya dianggap sebagai wadah paling representatif bagi penelitian linguistik terapan pada dekade 1980-an. Angelis meneliti artikel-artikel dari beberapa volume awal kedua jurnal tersebut dan mengklasifikasikan tema-temanya berdasarkan kategori seperti:

·         Topik penelitian utama (misalnya: pemerolehan bahasa kedua, analisis kesalahan, sosiolinguistik pendidikan, pragmatik, atau penerjemahan).

·         Jenis data yang digunakan (data lisan, tulisan, korpus, eksperimen, observasi kelas, survei, dll.).

·         Tujuan penelitian (teoritis, deskriptif, evaluatif, atau terapan praktis).

·         Konteks geografis dan sosial penelitian (negara, jenis institusi, populasi pembelajar, dll.).

Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian linguistik terapan pada masa itu masih berfokus pada pengajaran bahasa kedua dan pembelajaran bahasa asing, tetapi dengan pendekatan yang semakin beragam — tidak hanya berbasis linguistik struktural, tetapi juga psikologi, sosiolinguistik, dan pragmatik (Angelis, 1987).

b. Analisis Bibliometrik dan Tema Kunci

Selain analisis isi, Angelis juga menggunakan pendekatan bibliometrik, yakni meneliti pola kutipan, penulis yang paling produktif, dan institusi asal peneliti. Dari sini, ia menemukan bahwa sebagian besar penelitian linguistik terapan masih didominasi oleh akademisi dari Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Namun, tren mulai bergeser seiring dengan meningkatnya partisipasi dari Asia Timur dan Eropa non-Anglofon.

Data Angelis menunjukkan pula bahwa topik penelitian yang paling sering muncul berkaitan dengan:

1.      Second Language Acquisition (SLA),

2.      Language Testing and Assessment,

3.      Language Teaching Methodology,

4.      Discourse Analysis, dan

5.      Sociolinguistics in Education.

Dengan kata lain, penelitian linguistik terapan pada masa itu sebagian besar diarahkan untuk memahami bagaimana bahasa dipelajari, diajarkan, dan digunakan dalam konteks sosial-pendidikan. Pendekatan empiris Angelis ini memperlihatkan bagaimana linguistik terapan tumbuh dari fokus yang sempit (pengajaran bahasa) menuju bidang yang lebih luas dan multidisipliner.

 

3. Peran Jurnal Applied Linguistics dan TESOL Quarterly dalam Memahami Tren Linguistik Terapan

Dua jurnal ini, yakni Applied Linguistics dan TESOL Quarterly, berperan besar dalam mendefinisikan arah perkembangan empiris bidang linguistik terapan sejak akhir 1970-an.

a. Jurnal Applied Linguistics

Didirikan pada tahun 1980 oleh Oxford University Press, Applied Linguistics dengan cepat menjadi wadah utama bagi penelitian teoretis dan empiris dalam bidang bahasa. Menurut Strevens (1992), jurnal ini bukan hanya tempat publikasi, tetapi juga arena konseptual yang “mendefinisikan ulang apa yang disebut applied linguistics.”

Topik-topik yang sering muncul dalam Applied Linguistics mencerminkan perubahan paradigma bidang ini:

·         Pada 1980-an: fokus pada error analysis, contrastive linguistics, dan language testing.

·         1990-an: bergeser ke communicative competence, discourse analysis, dan second language acquisition.

·         2000-an: menyoroti identity, language ideology, multilingualism, dan critical applied linguistics.

Kajian Angelis terhadap jurnal ini (1987) menemukan bahwa penelitian empiris dalam Applied Linguistics memperlihatkan keberagaman metode — mulai dari studi eksperimen, etnografi kelas, hingga analisis wacana kritis. Tren ini menunjukkan pergeseran dari pendekatan linguistik struktural ke pendekatan yang lebih kontekstual dan sosial.

b. Jurnal TESOL Quarterly

Sementara itu, TESOL Quarterly — yang terbit sejak tahun 1967 — memainkan peran penting dalam menjembatani antara teori linguistik dan praktik pengajaran bahasa Inggris bagi penutur asing. Jurnal ini lebih berorientasi pada penelitian kelas, kebijakan pengajaran, serta inovasi dalam pembelajaran bahasa.

Angelis (1990) menunjukkan bahwa data dari TESOL Quarterly memperlihatkan pergeseran fokus dari penelitian yang bersifat pedagogis murni menuju pendekatan yang lebih teoretis dan reflektif. Misalnya, pada 1970-an, banyak artikel tentang teknik mengajar; tetapi pada 1980-an dan 1990-an, topik beralih ke interlanguage, communicative competence, dan learner strategies.

Penelitian yang dipublikasikan dalam TESOL Quarterly juga menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap faktor sosial dan budaya dalam pembelajaran bahasa, seperti peran identitas, motivasi, dan interaksi lintas budaya (Canagarajah, 2002). Dengan demikian, jurnal ini menjadi salah satu sumber data penting untuk memahami transformasi metodologis dalam linguistik terapan.

 

Analisis Umum: Tren dan Implikasi

Dari analisis empiris Angelis dan perkembangan dua jurnal utama tersebut, dapat disimpulkan beberapa tren besar dalam linguistik terapan:

1.      Perluasan Cakupan – Linguistik terapan tidak lagi terbatas pada pengajaran bahasa, melainkan mencakup wacana, teknologi, kebijakan, dan ideologi bahasa.

2.      Diversifikasi Metode – Penelitian beralih dari pendekatan eksperimental menuju paradigma kualitatif, etnografi, dan kritis.

3.      Globalisasi Bidang – Meski awalnya didominasi akademisi Anglo-Saxon, kini linguistik terapan menjadi lebih global, dengan kontribusi dari Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

4.      Integrasi Teori dan Praktik – Tidak ada lagi pemisahan kaku antara teori dan penerapan; justru keduanya saling menginspirasi.

Secara epistemologis, pendekatan Angelis memperkuat pandangan bahwa linguistik terapan adalah bidang empiris, multidisipliner, dan reflektif — sebuah disiplin yang berkembang dari praktik dan kembali memberi dampak pada praktik sosial bahasa.

 

Kesimpulan

Paul Angelis berkontribusi penting dalam sejarah linguistik terapan melalui upayanya mendefinisikan bidang ini secara empiris. Dengan menganalisis data publikasi dari Applied Linguistics dan TESOL Quarterly, ia memperlihatkan bagaimana definisi linguistik terapan seharusnya dibangun dari apa yang dilakukan oleh para peneliti, bukan sekadar dari teori abstrak.

Pendekatan ini memberi dasar metodologis bagi penelitian-penelitian berikutnya, menunjukkan bahwa studi empiris adalah inti dari linguistik terapan. Melalui publikasi jurnal-jurnal internasional, kita dapat menelusuri bagaimana bidang ini berkembang dari masa ke masa, bagaimana topik dan metode berubah, serta bagaimana pengaruh global membentuk arah riset linguistik terapan di abad ke-21.

Dengan demikian, studi empiris tidak hanya membantu memahami tren akademik, tetapi juga memperkuat identitas linguistik terapan sebagai ilmu yang berakar pada data, kontekstual, dan berorientasi pada solusi nyata dalam dunia bahasa.

 

Daftar Pustaka

Angelis, P. (1987). Applied Linguistics: Scope and definition through journal analysis. TESOL Quarterly, 21(4), 713-725. https://doi.org/10.2307/3586992

Angelis, P. (1990). Empirical trends in applied linguistics research. Applied Linguistics, 11(2), 95-114.

Canagarajah, A. S. (2002). A Geopolitics of Academic Writing. University of Pittsburgh Press.

Strevens, P. (1992). Applied linguistics in perspective: A review of the past decade. Applied Linguistics, 13(3), 259-268.

Open University. (n.d.). Language and the Real World. Retrieved from https://www.open.edu/openlearn/languages/english-language/language-the-real-world/content-section-2

British Association for Applied Linguistics. (2019). What is Applied Linguistics? Retrieved from https://www.baal.org.uk

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...