PENGANTAR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA
(Sub-CPMK 1: Memahami Ruang Lingkup Morfologi)
1. Hakikat Linguistik dan Kedudukan
Morfologi
Linguistik merupakan ilmu yang mengkaji bahasa secara ilmiah, sistematis,
dan objektif. Dalam tradisi linguistik modern, bahasa dipandang sebagai sebuah
sistem yang terdiri atas beberapa subsistem yang saling berkaitan, antara lain
fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Setiap subsistem
memiliki fokus kajian yang berbeda, tetapi tidak berdiri sendiri. Salah satu
subsistem penting dalam linguistik adalah morfologi, yakni
cabang linguistik yang mengkaji struktur internal kata dan proses
pembentukannya.
Kedudukan morfologi dalam linguistik bersifat strategis karena morfologi
menjadi jembatan antara bunyi (fonologi) dan struktur kalimat (sintaksis). Kata
sebagai satuan dasar gramatikal tidak hanya dipandang sebagai bentuk leksikal,
tetapi juga sebagai hasil dari proses morfologis yang sistematis. Oleh karena
itu, pemahaman morfologi menjadi fondasi penting dalam analisis kebahasaan,
baik secara teoretis maupun terapan.
Dalam konteks bahasa Indonesia, morfologi memiliki peran yang sangat sentral
karena bahasa Indonesia dikenal sebagai bahasa yang produktif secara
morfologis, terutama melalui proses afiksasi, reduplikasi, dan pemajemukan.
Tanpa pemahaman morfologi, analisis terhadap makna, fungsi, dan perubahan kelas
kata akan menjadi tidak utuh.
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
2. Definisi Morfologi
Secara etimologis, istilah morfologi berasal dari bahasa Yunani,
yaitu morphé yang berarti ‘bentuk’ dan logos yang berarti
‘ilmu’. Dengan demikian, morfologi dapat dipahami sebagai ilmu tentang bentuk.
Dalam linguistik, morfologi didefinisikan sebagai cabang ilmu bahasa yang
mempelajari struktur kata dan proses pembentukannya.
Chaer (2007) mendefinisikan morfologi sebagai ilmu yang mempelajari
seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan bentuk kata terhadap golongan
dan makna kata tersebut. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menyatakan
bahwa morfologi mengkaji satuan-satuan bahasa terkecil yang bermakna (morfem)
serta cara satuan-satuan tersebut bergabung membentuk kata.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa morfologi tidak
hanya membahas bentuk kata, tetapi juga mencakup makna gramatikal dan fungsi
kata dalam sistem bahasa. Dengan kata lain, morfologi merupakan kajian yang
mengintegrasikan aspek bentuk, makna, dan fungsi.
3. Ruang Lingkup Kajian Morfologi
Ruang lingkup kajian morfologi mencakup berbagai aspek yang berkaitan dengan
pembentukan kata. Secara umum, kajian morfologi meliputi hal-hal berikut.
Pertama, morfem, yaitu satuan bahasa terkecil yang memiliki
makna. Morfem dapat berupa morfem bebas (misalnya buku, rumah)
dan morfem terikat (misalnya me-, -kan).
Kedua, proses morfologis, yaitu proses pembentukan kata
yang melibatkan penggabungan atau perubahan morfem. Proses ini meliputi
afiksasi, reduplikasi, komposisi, abreviasi, akronimisasi, dan deviasi.
Ketiga, makna gramatikal, yakni makna yang muncul akibat
proses morfologis. Misalnya, kata ajar memiliki makna leksikal
tertentu, tetapi setelah mengalami afiksasi menjadi mengajar atau pelajaran,
maknanya mengalami perubahan gramatikal.
Keempat, fungsi morfologis, yaitu peran bentuk kata dalam
struktur bahasa, termasuk perubahan kelas kata, peran sintaktis, dan nuansa
makna yang ditimbulkan.
Dengan demikian, ruang lingkup morfologi tidak hanya terbatas pada bentuk
kata, tetapi juga meluas pada proses, makna, dan fungsi kata dalam sistem
bahasa.
4. Hubungan Morfologi
dengan Sintaksis dan Semantik
Morfologi memiliki hubungan yang sangat erat dengan sintaksis dan semantik.
Hubungan ini bersifat timbal balik dan saling melengkapi.
Hubungan morfologi dengan sintaksis terlihat pada peran
kata sebagai unsur pembentuk frasa dan kalimat. Perubahan bentuk kata akibat
proses morfologis sering kali memengaruhi fungsi sintaktisnya. Misalnya, kata ajar
(verba dasar) setelah mengalami afiksasi menjadi pengajaran berubah
menjadi nomina dan memiliki fungsi sintaktis yang berbeda dalam kalimat.
Sementara itu, hubungan morfologi dengan semantik berkaitan
dengan perubahan dan perluasan makna. Proses morfologis tidak hanya
menghasilkan bentuk baru, tetapi juga makna baru, baik makna gramatikal maupun
makna leksikal. Reduplikasi, misalnya, dapat menyatakan makna jamak,
intensitas, atau variasi, tergantung konteks penggunaannya.
Dengan demikian, morfologi berada di antara sintaksis dan semantik sebagai
penghubung antara bentuk, struktur, dan makna bahasa.
5. Objek Kajian Morfologi Bahasa
Indonesia
Objek kajian morfologi bahasa Indonesia meliputi seluruh bentuk kata yang
digunakan dalam bahasa Indonesia, baik kata dasar maupun kata turunan. Secara
khusus, objek kajian morfologi bahasa Indonesia mencakup:
1. Morfem dan alomorf bahasa Indonesia
2. Proses afiksasi (prefiks, sufiks, infiks, konfiks)
3. Proses reduplikasi
4. Proses komposisi atau pemajemukan
5. Proses abreviasi dan akronimisasi
6. Deviasi atau penyimpangan bentuk kata dalam pemakaian bahasa
Objek-objek tersebut dapat dikaji dalam berbagai ragam bahasa, seperti
bahasa baku, bahasa jurnalistik, bahasa akademik, dan bahasa media sosial. Hal
ini menunjukkan bahwa morfologi bersifat dinamis dan selalu berkembang seiring
dengan perkembangan penggunaan bahasa.
6. Manfaat Morfologi dalam Kajian Bahasa
dan Pendidikan
Kajian morfologi memiliki manfaat yang luas, baik dalam bidang kebahasaan
maupun pendidikan. Dalam kajian bahasa, morfologi membantu peneliti memahami
sistem pembentukan kata, perubahan makna, serta produktivitas bahasa. Analisis
morfologi juga menjadi dasar dalam penyusunan kamus, tata bahasa, dan kajian
linguistik terapan.
Dalam bidang pendidikan, khususnya pendidikan bahasa Indonesia, morfologi
memiliki peran penting dalam meningkatkan kompetensi berbahasa peserta didik.
Pemahaman morfologi membantu siswa dan mahasiswa memahami makna kata secara
lebih mendalam, memperkaya kosakata, serta meningkatkan kemampuan menulis dan
berbicara secara efektif.
Selain itu, morfologi juga berkontribusi dalam pembelajaran literasi,
analisis teks, dan penulisan ilmiah. Mahasiswa yang memahami morfologi dengan
baik akan lebih cermat dalam memilih kata, membentuk istilah, dan memahami teks
akademik.
7. Ringkasan
Morfologi merupakan cabang linguistik yang mengkaji struktur internal kata
dan proses pembentukannya. Kedudukan morfologi sangat penting karena menjadi
penghubung antara fonologi, sintaksis, dan semantik. Ruang lingkup kajian
morfologi mencakup morfem, proses morfologis, makna gramatikal, dan fungsi
kata. Dalam bahasa Indonesia, morfologi bersifat produktif dan dinamis, serta
memiliki manfaat besar dalam kajian bahasa dan pendidikan.
8. Latihan dan Diskusi
1. Jelaskan kedudukan morfologi dalam kajian linguistik!
2. Bandingkan definisi morfologi menurut dua ahli linguistik!
3. Sebutkan dan jelaskan ruang lingkup kajian morfologi!
4. Berikan contoh hubungan morfologi dengan sintaksis dalam kalimat
bahasa Indonesia!
5. Diskusikan peran morfologi dalam pembelajaran bahasa Indonesia
di sekolah!
9. Tugas Terstruktur
Lakukan analisis morfologis terhadap 10 kata yang ditemukan
dalam teks berita daring. Identifikasilah morfem, proses morfologis, serta
makna gramatikal yang muncul. Susun hasil analisis dalam bentuk laporan singkat
(2–3 halaman) dengan format ilmiah sederhana.
Daftar Pustaka
Arifin, E. Z., & Junaiyah H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna,
dan fungsi. Jakarta: Grasindo.
Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar