Abstrak — Pemerolehan bahasa adalah proses dinamis yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor biologis, kognitif, sosial, dan lingkungan. Artikel ini mengulas faktor-faktor utama yang berperan dalam pemerolehan bahasa pertama (L1) dan implikasinya untuk pendidikan bahasa anak. Tinjauan mencakup bukti empiris tentang pengaruh kualitas dan kuantitas input linguistik, status sosioekonomi, interaksi sosial, faktor biologis (periode kritis dan neuroplastisitas), faktor kognitif (memori, perhatian), serta konteks bilingualisme/multilingualisme. Ilustrasi kasus dan implikasi praktis disajikan untuk membantu pendidik dan peneliti merancang lingkungan pembelajaran bahasa yang mendukung perkembangan anak.
Kata
kunci: pemerolehan bahasa, input linguistik, sosioekonomi,
bilingualisme, periode kritis
![]() |
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
Pendahuluan
Pemerolehan bahasa (language acquisition) pada
anak merupakan fenomena kompleks yang melibatkan interaksi antara kapasitas
biologis, kemampuan kognitif, dan kondisi lingkungan sosial. Pemahaman tentang
faktor-faktor yang mempengaruhi proses ini penting bagi pendidik, terapis
wicara, dan pembuat kebijakan pendidikan anak usia dini. Kajian empiris selama
beberapa dekade telah menunjukkan bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang
menentukan; sebaliknya, pemerolehan bahasa adalah hasil hibrida dari banyak
pengaruh yang saling berinteraksi (Tomasello, 2003; Krashen, 1982).
Faktor
Biologis dan Periode Kritis
Salah satu faktor biologis yang sering dibahas
dalam literatur adalah keberadaan periode
kritis untuk pemerolehan bahasa. Lenneberg (1967) mengemukakan bahwa
kapasitas biologis untuk pemerolehan bahasa menurun setelah masa kanak-kanak
dan berlangsung hingga pubertas; bukti neurologis modern mendukung adanya jendela
neuroplastisitas yang lebih kuat pada masa awal kehidupan (Lenneberg, 1967).
Misalnya, anak yang mengalami kehilangan input bahasa (seperti anak feral atau
kasus keterlambatan bahasa yang ekstrem) menunjukkan keterbatasan pemulihan
bahasa yang lengkap jika intervensi terlambat.
Ilustrasi:
Seorang anak yang tidak terpapar bahasa lisan sampai usia 8 tahun akan
menghadapi kesulitan yang lebih besar untuk mencapai kefasihan tata bahasa
ketimbang anak yang mendapat paparan sejak bayi (Lenneberg, 1967).
Kuantitas
dan Kualitas Input Linguistik
Input linguistik—berapa banyak dan bagaimana
kualitas ujaran yang diterima anak—merupakan prediktor kuat perkembangan
kosakata dan struktur bahasa. Studi landmark Hart dan Risley menunjukkan
perbedaan dramatis dalam jumlah kata yang didengar anak dari lingkungan
berbeda, yang berkorelasi dengan perbedaan penguasaan kosakata di usia dini;
ulasan modern menegaskan pentingnya kualitas interaksi, bukan hanya jumlah kata
(Romeo et al., 2018). Krashen (1982) juga menekankan bahwa comprehensible input (i+1) sangat penting bagi pemerolehan
bahasa, khususnya pada tahap awal.
Ilustrasi:
Dua bayi usia 2 tahun yang dibesarkan dalam keluarga berbeda — satu dikelilingi
percakapan dewasa yang kaya (dialog responsif, variasi kosakata), sementara
yang lain jarang diajak bercakap — cenderung menunjukkan perbedaan besar dalam
ukuran kosakata dan kompleksitas kalimat pada usia 3 tahun (Romeo et al., 2018;
Krashen, 1982).
Faktor Sosial-Interaksional
Pendekatan sosiokultural, terutama gagasan
Vygotsky, menempatkan interaksi sosial sebagai fondasi pembelajaran bahasa.
Bahasa tumbuh melalui interaksi dengan "yang lebih mahir" (orang tua,
pengasuh, teman sebaya) dan melalui scaffolding dalam Zone of Proximal Development (Vygotsky, 1978). Interaksi
yang responsif — dialog dua arah, pertanyaan terbuka, pengulangan terarah —
memfasilitasi proses internalisasi struktur bahasa dan fungsi komunikatif.
Ilustrasi:
Metode "parentese" (intonasi bayi, pengulangan) meningkatkan
perhatian bayi terhadap struktur bunyi dan pola prosodi, sehingga mempercepat
respons dan produksi awal kata-kata.
Faktor
Kognitif: Memori, Perhatian, dan Kapasitas Pemrosesan
Faktor kognitif seperti kapasitas memori
kerja, kontrol perhatian, dan kemampuan pemrosesan mempengaruhi seberapa cepat
dan efisien anak dapat menyerap struktur bahasa. Teori pemrosesan kognitif
menunjukkan bahwa keterbatasan memori jangka pendek dapat menghambat pengolahan
frasa kompleks, sehingga input yang disajikan secara bertahap dan kontekstual
lebih mudah dipelajari (Miller, 1956 dalam kajian kognitif klasik; Tomasello,
2003).
Ilustrasi:
Anak dengan memori kerja yang relatif kuat mampu menangani kalimat lebih
panjang dan menyusun ulang informasi menjadi pernyataan sendiri lebih cepat
daripada anak dengan kapasitas memori kerja rendah.
Faktor Sosioekonomi dan Lingkungan Keluarga
Status sosioekonomi keluarga (SES) berkaitan
dengan variasi dalam paparan bahasa, akses ke sumber belajar (buku, stimulasi
verbal), serta pola interaksi orang tua. Hart & Risley (1995) dan tinjauan
lebih baru menunjukkan korelasi antara SES dan jumlah/jenis input linguistik
yang diterima anak; perbedaan ini berkontribusi pada disparitas perkembangan
kosakata dan kesiapan sekolah (Romeo et al., 2018).
Ilustrasi:
Program intervensi awal yang melatih orang tua untuk berbicara lebih banyak dan
lebih berkualitas dengan anak (misalnya membaca bersama, menanggapi inisiatif
bicara anak) menunjukkan peningkatan ukuran kosakata anak pada evaluasi
lanjutan.
Bilingualisme
/ Multilingualisme
Lingkungan bilingual menyediakan tantangan
sekaligus keuntungan. Penelitian menunjukkan bahwa anak bilingual mungkin
menunjukkan ukuran kosakata total yang berbeda jika dihitung per bahasa, tetapi
seringkali memiliki keunggulan dalam fungsi eksekutif dan fleksibilitas
kognitif (Byers-Heinlein et al., 2013). Pola perkembangan bilingual bersifat
heterogen tergantung jumlah input per bahasa, konteks penggunaan, dan dukungan
instruksional.
Ilustrasi:
Anak yang menerima paparan seimbang dua bahasa sejak lahir dapat mengembangkan
kemampuan pragmatik dan kemampuan switching bahasa yang kuat, sementara anak
dengan paparan terfragmentasi mungkin menunjukkan jeda perkembangan sementara
pada kosakata pada setiap bahasa.
Faktor
Budaya dan Nilai Komunikatif
Nilai budaya mempengaruhi tujuan penggunaan
bahasa dalam keluarga—apakah lebih menekankan ketaatan, narasi keluarga, atau
diskusi eksploratif—yang pada gilirannya memengaruhi jenis interaksi verbal
yang anak alami. Dalam beberapa kebudayaan, anak diajak langsung mengikuti
percakapan dewasa; di kebudayaan lain, anak lebih sering belajar melalui
observasi, sehingga jalur pemerolehan berbeda namun tetap efektif dalam konteks
budaya masing-masing (Tomasello, 2003).
Ilustrasi:
Di budaya yang menekankan narasi historis keluarga, anak lebih cepat
mengembangkan keterampilan naratif; di budaya yang menekankan instruksi
singkat, anak mungkin lebih cepat dalam interpretasi perintah.
Implikasi Praktis untuk Pendidikan dan Intervensi
1.
Fokus pada kualitas input: Guru dan orang tua dianjurkan
menyediakan input yang kaya makna, kontekstual, dan responsif. Membaca bersama,
dialog terbuka, dan elaborasi makna efektif meningkatkan pemerolehan. (Krashen,
1982; Romeo et al., 2018).
2.
Intervensi awal untuk kelompok berisiko: Program yang
melatih keterampilan komunikasi orang tua mampu mengurangi disparitas akibat
faktor SES.
3.
Mendukung bilingualisme: Pendidikan multibahasa yang
konsisten dan bernilai mendukung perkembangan dua bahasa tanpa mengorbankan
kemampuan salah satunya (Byers-Heinlein et al., 2013).
4.
Menjaga konteks sosial-kultural: Kurikulum harus
menghormati praktik bahasa lokal dan memanfaatkan kekuatan budaya untuk
mengembangkan kemampuan komunikasi.
Simpulan
Pemerolehan bahasa dipengaruhi oleh kumpulan
faktor yang saling berinteraksi: biologis (periode kritis, neuroplastisitas),
input linguistik (kuantitas dan kualitas), sosial-interaksional (peran
caregiver dan scaffolding), kognitif (memori, perhatian), sosioekonomi,
bilingualisme, dan konteks budaya. Bukti empiris menegaskan bahwa intervensi
awal, peningkatan kualitas interaksi verbal, dan pendekatan yang peka budaya efektif
untuk mendukung perkembangan bahasa anak. Untuk praktik pendidikan, fokus harus
diberikan pada memperkaya input yang dapat dipahami dan bermakna, menjalin
interaksi responsif, serta menyediakan dukungan untuk anak bilingual.
Daftar Pustaka
Byers-Heinlein, K., Burns, T. C., &
Werker, J. F. (2013). Bilingualism in the early years: What the science says. Annals of the New York Academy of Sciences, 1251(1),
1–16. https://doi.org/10.1111/nyas.12167
(Review article accessible via PMC).
Krashen, S. D. (1982). Principles and
practice in second language acquisition. Pergamon. Retrieved from https://www.sdkrashen.com/content/books/principles_and_practice.pdf
Lenneberg, E. H. (1967). Biological
foundations of language. Wiley.
Romeo, R. R., et al. (2018). Beyond the 30-million-word gap: Children's
conversational exposure is associated with language-related brain function. PLOS Biology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5945324/
Tomasello, M. (2003). Constructing a
language: A usage-based theory of language acquisition. Harvard University
Press.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The
development of higher psychological processes (M. Cole, V. John-Steiner,
S. Scribner, & E. Souberman, Eds.). Harvard University Press.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar