Jumat, 07 November 2025

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa (Bagian 6 )

Abstrak — Pemerolehan bahasa adalah proses dinamis yang dipengaruhi oleh sejumlah faktor biologis, kognitif, sosial, dan lingkungan. Artikel ini mengulas faktor-faktor utama yang berperan dalam pemerolehan bahasa pertama (L1) dan implikasinya untuk pendidikan bahasa anak. Tinjauan mencakup bukti empiris tentang pengaruh kualitas dan kuantitas input linguistik, status sosioekonomi, interaksi sosial, faktor biologis (periode kritis dan neuroplastisitas), faktor kognitif (memori, perhatian), serta konteks bilingualisme/multilingualisme. Ilustrasi kasus dan implikasi praktis disajikan untuk membantu pendidik dan peneliti merancang lingkungan pembelajaran bahasa yang mendukung perkembangan anak.

Kata kunci: pemerolehan bahasa, input linguistik, sosioekonomi, bilingualisme, periode kritis

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing



Pendahuluan

Pemerolehan bahasa (language acquisition) pada anak merupakan fenomena kompleks yang melibatkan interaksi antara kapasitas biologis, kemampuan kognitif, dan kondisi lingkungan sosial. Pemahaman tentang faktor-faktor yang mempengaruhi proses ini penting bagi pendidik, terapis wicara, dan pembuat kebijakan pendidikan anak usia dini. Kajian empiris selama beberapa dekade telah menunjukkan bahwa tidak ada satu faktor tunggal yang menentukan; sebaliknya, pemerolehan bahasa adalah hasil hibrida dari banyak pengaruh yang saling berinteraksi (Tomasello, 2003; Krashen, 1982).

 

Faktor Biologis dan Periode Kritis

Salah satu faktor biologis yang sering dibahas dalam literatur adalah keberadaan periode kritis untuk pemerolehan bahasa. Lenneberg (1967) mengemukakan bahwa kapasitas biologis untuk pemerolehan bahasa menurun setelah masa kanak-kanak dan berlangsung hingga pubertas; bukti neurologis modern mendukung adanya jendela neuroplastisitas yang lebih kuat pada masa awal kehidupan (Lenneberg, 1967). Misalnya, anak yang mengalami kehilangan input bahasa (seperti anak feral atau kasus keterlambatan bahasa yang ekstrem) menunjukkan keterbatasan pemulihan bahasa yang lengkap jika intervensi terlambat.

Ilustrasi: Seorang anak yang tidak terpapar bahasa lisan sampai usia 8 tahun akan menghadapi kesulitan yang lebih besar untuk mencapai kefasihan tata bahasa ketimbang anak yang mendapat paparan sejak bayi (Lenneberg, 1967).

 

Kuantitas dan Kualitas Input Linguistik

Input linguistik—berapa banyak dan bagaimana kualitas ujaran yang diterima anak—merupakan prediktor kuat perkembangan kosakata dan struktur bahasa. Studi landmark Hart dan Risley menunjukkan perbedaan dramatis dalam jumlah kata yang didengar anak dari lingkungan berbeda, yang berkorelasi dengan perbedaan penguasaan kosakata di usia dini; ulasan modern menegaskan pentingnya kualitas interaksi, bukan hanya jumlah kata (Romeo et al., 2018). Krashen (1982) juga menekankan bahwa comprehensible input (i+1) sangat penting bagi pemerolehan bahasa, khususnya pada tahap awal.

Ilustrasi: Dua bayi usia 2 tahun yang dibesarkan dalam keluarga berbeda — satu dikelilingi percakapan dewasa yang kaya (dialog responsif, variasi kosakata), sementara yang lain jarang diajak bercakap — cenderung menunjukkan perbedaan besar dalam ukuran kosakata dan kompleksitas kalimat pada usia 3 tahun (Romeo et al., 2018; Krashen, 1982).

 

Faktor Sosial-Interaksional

Pendekatan sosiokultural, terutama gagasan Vygotsky, menempatkan interaksi sosial sebagai fondasi pembelajaran bahasa. Bahasa tumbuh melalui interaksi dengan "yang lebih mahir" (orang tua, pengasuh, teman sebaya) dan melalui scaffolding dalam Zone of Proximal Development (Vygotsky, 1978). Interaksi yang responsif — dialog dua arah, pertanyaan terbuka, pengulangan terarah — memfasilitasi proses internalisasi struktur bahasa dan fungsi komunikatif.

Ilustrasi: Metode "parentese" (intonasi bayi, pengulangan) meningkatkan perhatian bayi terhadap struktur bunyi dan pola prosodi, sehingga mempercepat respons dan produksi awal kata-kata.

 

Faktor Kognitif: Memori, Perhatian, dan Kapasitas Pemrosesan

Faktor kognitif seperti kapasitas memori kerja, kontrol perhatian, dan kemampuan pemrosesan mempengaruhi seberapa cepat dan efisien anak dapat menyerap struktur bahasa. Teori pemrosesan kognitif menunjukkan bahwa keterbatasan memori jangka pendek dapat menghambat pengolahan frasa kompleks, sehingga input yang disajikan secara bertahap dan kontekstual lebih mudah dipelajari (Miller, 1956 dalam kajian kognitif klasik; Tomasello, 2003).

Ilustrasi: Anak dengan memori kerja yang relatif kuat mampu menangani kalimat lebih panjang dan menyusun ulang informasi menjadi pernyataan sendiri lebih cepat daripada anak dengan kapasitas memori kerja rendah.

 

Faktor Sosioekonomi dan Lingkungan Keluarga

Status sosioekonomi keluarga (SES) berkaitan dengan variasi dalam paparan bahasa, akses ke sumber belajar (buku, stimulasi verbal), serta pola interaksi orang tua. Hart & Risley (1995) dan tinjauan lebih baru menunjukkan korelasi antara SES dan jumlah/jenis input linguistik yang diterima anak; perbedaan ini berkontribusi pada disparitas perkembangan kosakata dan kesiapan sekolah (Romeo et al., 2018).

Ilustrasi: Program intervensi awal yang melatih orang tua untuk berbicara lebih banyak dan lebih berkualitas dengan anak (misalnya membaca bersama, menanggapi inisiatif bicara anak) menunjukkan peningkatan ukuran kosakata anak pada evaluasi lanjutan.

 

Bilingualisme / Multilingualisme

Lingkungan bilingual menyediakan tantangan sekaligus keuntungan. Penelitian menunjukkan bahwa anak bilingual mungkin menunjukkan ukuran kosakata total yang berbeda jika dihitung per bahasa, tetapi seringkali memiliki keunggulan dalam fungsi eksekutif dan fleksibilitas kognitif (Byers-Heinlein et al., 2013). Pola perkembangan bilingual bersifat heterogen tergantung jumlah input per bahasa, konteks penggunaan, dan dukungan instruksional.

Ilustrasi: Anak yang menerima paparan seimbang dua bahasa sejak lahir dapat mengembangkan kemampuan pragmatik dan kemampuan switching bahasa yang kuat, sementara anak dengan paparan terfragmentasi mungkin menunjukkan jeda perkembangan sementara pada kosakata pada setiap bahasa.

 

Faktor Budaya dan Nilai Komunikatif

Nilai budaya mempengaruhi tujuan penggunaan bahasa dalam keluarga—apakah lebih menekankan ketaatan, narasi keluarga, atau diskusi eksploratif—yang pada gilirannya memengaruhi jenis interaksi verbal yang anak alami. Dalam beberapa kebudayaan, anak diajak langsung mengikuti percakapan dewasa; di kebudayaan lain, anak lebih sering belajar melalui observasi, sehingga jalur pemerolehan berbeda namun tetap efektif dalam konteks budaya masing-masing (Tomasello, 2003).

Ilustrasi: Di budaya yang menekankan narasi historis keluarga, anak lebih cepat mengembangkan keterampilan naratif; di budaya yang menekankan instruksi singkat, anak mungkin lebih cepat dalam interpretasi perintah.

 

Implikasi Praktis untuk Pendidikan dan Intervensi

1.      Fokus pada kualitas input: Guru dan orang tua dianjurkan menyediakan input yang kaya makna, kontekstual, dan responsif. Membaca bersama, dialog terbuka, dan elaborasi makna efektif meningkatkan pemerolehan. (Krashen, 1982; Romeo et al., 2018).

2.      Intervensi awal untuk kelompok berisiko: Program yang melatih keterampilan komunikasi orang tua mampu mengurangi disparitas akibat faktor SES.

3.      Mendukung bilingualisme: Pendidikan multibahasa yang konsisten dan bernilai mendukung perkembangan dua bahasa tanpa mengorbankan kemampuan salah satunya (Byers-Heinlein et al., 2013).

4.      Menjaga konteks sosial-kultural: Kurikulum harus menghormati praktik bahasa lokal dan memanfaatkan kekuatan budaya untuk mengembangkan kemampuan komunikasi.

 

Simpulan

Pemerolehan bahasa dipengaruhi oleh kumpulan faktor yang saling berinteraksi: biologis (periode kritis, neuroplastisitas), input linguistik (kuantitas dan kualitas), sosial-interaksional (peran caregiver dan scaffolding), kognitif (memori, perhatian), sosioekonomi, bilingualisme, dan konteks budaya. Bukti empiris menegaskan bahwa intervensi awal, peningkatan kualitas interaksi verbal, dan pendekatan yang peka budaya efektif untuk mendukung perkembangan bahasa anak. Untuk praktik pendidikan, fokus harus diberikan pada memperkaya input yang dapat dipahami dan bermakna, menjalin interaksi responsif, serta menyediakan dukungan untuk anak bilingual.

 

Daftar Pustaka

Byers-Heinlein, K., Burns, T. C., & Werker, J. F. (2013). Bilingualism in the early years: What the science says. Annals of the New York Academy of Sciences, 1251(1), 1–16. https://doi.org/10.1111/nyas.12167 (Review article accessible via PMC).
Krashen, S. D. (1982). Principles and practice in second language acquisition. Pergamon. Retrieved from https://www.sdkrashen.com/content/books/principles_and_practice.pdf
Lenneberg, E. H. (1967). Biological foundations of language. Wiley.
Romeo, R. R., et al. (2018). Beyond the 30-million-word gap: Children's conversational exposure is associated with language-related brain function. PLOS Biology. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5945324/
Tomasello, M. (2003). Constructing a language: A usage-based theory of language acquisition. Harvard University Press.
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes (M. Cole, V. John-Steiner, S. Scribner, & E. Souberman, Eds.). Harvard University Press.

 





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...