Tampilkan postingan dengan label Linguistik Terapan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Linguistik Terapan. Tampilkan semua postingan

Senin, 15 Desember 2025

Studi Empiris dalam Linguistik Terapan

Pendahuluan

Dalam perkembangan linguistik terapan sebagai disiplin ilmiah, studi empiris memiliki peran yang amat penting. Bidang ini tidak hanya mengandalkan teori atau spekulasi konseptual, tetapi menuntut bukti nyata dari penelitian yang bersumber pada data bahasa, praktik sosial, dan proses pembelajaran. Salah satu tokoh penting dalam upaya mendefinisikan dan mengarahkan ruang lingkup linguistik terapan adalah Paul Angelis. Ia berupaya memahami bagaimana bidang ini bekerja secara empiris dengan meninjau data yang dihasilkan oleh publikasi akademik dan penelitian terdahulu. Melalui pendekatan tersebut, Angelis memperlihatkan bagaimana linguistik terapan berkembang sebagai disiplin yang berakar pada penelitian bahasa dalam konteks dunia nyata.

Bab ini membahas tiga aspek utama:

1.      Cara Paul Angelis mendefinisikan ruang lingkup linguistik terapan.

2.      Sumber data yang digunakan Angelis dalam analisisnya.

3.      Peran jurnal-jurnal seperti Applied Linguistics dan TESOL Quarterly dalam memahami tren empiris bidang ini.

 

Linguistik Terapan Jilid Pertama - Aco Nasir | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)

1. Upaya Paul Angelis dalam Mendefinisikan Ruang Lingkup Linguistik Terapan

Pada tahun 1980-an, Paul Angelis menerbitkan serangkaian tulisan yang mencoba merumuskan secara empiris apa yang sebenarnya dimaksud dengan linguistik terapan. Berbeda dengan pandangan teoretis yang sering bersifat normatif, Angelis (1987) berargumen bahwa definisi linguistik terapan sebaiknya didasarkan pada apa yang benar-benar dilakukan oleh para peneliti dan praktisi dalam bidang tersebut, bukan sekadar apa yang mereka katakan tentang bidang itu.

Menurut Angelis (1987), linguistik terapan dapat dipahami melalui analisis isi (content analysis) terhadap penelitian yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal utama bidang ini. Dengan kata lain, untuk memahami apa itu linguistik terapan, kita perlu meninjau secara empiris: topik apa yang diteliti, metode apa yang digunakan, serta konteks apa yang menjadi fokus penelitian para ahli. Pendekatan ini memposisikan linguistik terapan bukan sebagai “produk definisi” tetapi sebagai “produk praktik akademik”.

Angelis menolak pandangan bahwa linguistik terapan hanyalah “penerapan teori linguistik” dalam konteks praktis. Menurutnya, ruang lingkup linguistik terapan jauh lebih luas dan mencakup penelitian tentang penggunaan bahasa dalam situasi nyata, kebijakan bahasa, pengajaran bahasa kedua, penerjemahan, analisis wacana, hingga teknologi bahasa (Angelis, 1987; 1990). Ia juga menekankan bahwa sifat utama linguistik terapan adalah empiris dan problem-oriented — berfokus pada pemecahan masalah bahasa yang konkret di masyarakat.

Dengan demikian, bagi Angelis, ruang lingkup linguistik terapan tidak dapat ditetapkan secara apriori. Ia harus ditemukan melalui penelitian terhadap karya nyata para ilmuwan linguistik terapan. Pendekatan ini menjadi tonggak penting karena mengubah cara pandang terhadap definisi disiplin ini — dari sesuatu yang “filosofis” menjadi sesuatu yang “empiris dan deskriptif”.

 

2. Sumber Data yang Digunakan oleh Paul Angelis dalam Analisisnya

Untuk mendukung definisi empirisnya, Paul Angelis menggunakan data publikasi akademik sebagai sumber utama. Ia melakukan analisis terhadap artikel-artikel yang diterbitkan dalam jurnal-jurnal besar linguistik terapan, seperti Applied Linguistics dan TESOL Quarterly. Dengan meninjau isi publikasi tersebut, Angelis mencoba menemukan pola-pola penelitian yang dapat menggambarkan arah dan fokus disiplin ini.

a. Jurnal Ilmiah sebagai Data Utama

Jurnal Applied Linguistics (Oxford University Press) dan TESOL Quarterly (Teachers of English to Speakers of Other Languages) dipilih karena keduanya dianggap sebagai wadah paling representatif bagi penelitian linguistik terapan pada dekade 1980-an. Angelis meneliti artikel-artikel dari beberapa volume awal kedua jurnal tersebut dan mengklasifikasikan tema-temanya berdasarkan kategori seperti:

·         Topik penelitian utama (misalnya: pemerolehan bahasa kedua, analisis kesalahan, sosiolinguistik pendidikan, pragmatik, atau penerjemahan).

·         Jenis data yang digunakan (data lisan, tulisan, korpus, eksperimen, observasi kelas, survei, dll.).

·         Tujuan penelitian (teoritis, deskriptif, evaluatif, atau terapan praktis).

·         Konteks geografis dan sosial penelitian (negara, jenis institusi, populasi pembelajar, dll.).

Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa sebagian besar penelitian linguistik terapan pada masa itu masih berfokus pada pengajaran bahasa kedua dan pembelajaran bahasa asing, tetapi dengan pendekatan yang semakin beragam — tidak hanya berbasis linguistik struktural, tetapi juga psikologi, sosiolinguistik, dan pragmatik (Angelis, 1987).

b. Analisis Bibliometrik dan Tema Kunci

Selain analisis isi, Angelis juga menggunakan pendekatan bibliometrik, yakni meneliti pola kutipan, penulis yang paling produktif, dan institusi asal peneliti. Dari sini, ia menemukan bahwa sebagian besar penelitian linguistik terapan masih didominasi oleh akademisi dari Amerika Serikat, Inggris, dan Kanada. Namun, tren mulai bergeser seiring dengan meningkatnya partisipasi dari Asia Timur dan Eropa non-Anglofon.

Data Angelis menunjukkan pula bahwa topik penelitian yang paling sering muncul berkaitan dengan:

1.      Second Language Acquisition (SLA),

2.      Language Testing and Assessment,

3.      Language Teaching Methodology,

4.      Discourse Analysis, dan

5.      Sociolinguistics in Education.

Dengan kata lain, penelitian linguistik terapan pada masa itu sebagian besar diarahkan untuk memahami bagaimana bahasa dipelajari, diajarkan, dan digunakan dalam konteks sosial-pendidikan. Pendekatan empiris Angelis ini memperlihatkan bagaimana linguistik terapan tumbuh dari fokus yang sempit (pengajaran bahasa) menuju bidang yang lebih luas dan multidisipliner.

 

3. Peran Jurnal Applied Linguistics dan TESOL Quarterly dalam Memahami Tren Linguistik Terapan

Dua jurnal ini, yakni Applied Linguistics dan TESOL Quarterly, berperan besar dalam mendefinisikan arah perkembangan empiris bidang linguistik terapan sejak akhir 1970-an.

a. Jurnal Applied Linguistics

Didirikan pada tahun 1980 oleh Oxford University Press, Applied Linguistics dengan cepat menjadi wadah utama bagi penelitian teoretis dan empiris dalam bidang bahasa. Menurut Strevens (1992), jurnal ini bukan hanya tempat publikasi, tetapi juga arena konseptual yang “mendefinisikan ulang apa yang disebut applied linguistics.”

Topik-topik yang sering muncul dalam Applied Linguistics mencerminkan perubahan paradigma bidang ini:

·         Pada 1980-an: fokus pada error analysis, contrastive linguistics, dan language testing.

·         1990-an: bergeser ke communicative competence, discourse analysis, dan second language acquisition.

·         2000-an: menyoroti identity, language ideology, multilingualism, dan critical applied linguistics.

Kajian Angelis terhadap jurnal ini (1987) menemukan bahwa penelitian empiris dalam Applied Linguistics memperlihatkan keberagaman metode — mulai dari studi eksperimen, etnografi kelas, hingga analisis wacana kritis. Tren ini menunjukkan pergeseran dari pendekatan linguistik struktural ke pendekatan yang lebih kontekstual dan sosial.

b. Jurnal TESOL Quarterly

Sementara itu, TESOL Quarterly — yang terbit sejak tahun 1967 — memainkan peran penting dalam menjembatani antara teori linguistik dan praktik pengajaran bahasa Inggris bagi penutur asing. Jurnal ini lebih berorientasi pada penelitian kelas, kebijakan pengajaran, serta inovasi dalam pembelajaran bahasa.

Angelis (1990) menunjukkan bahwa data dari TESOL Quarterly memperlihatkan pergeseran fokus dari penelitian yang bersifat pedagogis murni menuju pendekatan yang lebih teoretis dan reflektif. Misalnya, pada 1970-an, banyak artikel tentang teknik mengajar; tetapi pada 1980-an dan 1990-an, topik beralih ke interlanguage, communicative competence, dan learner strategies.

Penelitian yang dipublikasikan dalam TESOL Quarterly juga menunjukkan peningkatan kesadaran terhadap faktor sosial dan budaya dalam pembelajaran bahasa, seperti peran identitas, motivasi, dan interaksi lintas budaya (Canagarajah, 2002). Dengan demikian, jurnal ini menjadi salah satu sumber data penting untuk memahami transformasi metodologis dalam linguistik terapan.

 

Analisis Umum: Tren dan Implikasi

Dari analisis empiris Angelis dan perkembangan dua jurnal utama tersebut, dapat disimpulkan beberapa tren besar dalam linguistik terapan:

1.      Perluasan Cakupan – Linguistik terapan tidak lagi terbatas pada pengajaran bahasa, melainkan mencakup wacana, teknologi, kebijakan, dan ideologi bahasa.

2.      Diversifikasi Metode – Penelitian beralih dari pendekatan eksperimental menuju paradigma kualitatif, etnografi, dan kritis.

3.      Globalisasi Bidang – Meski awalnya didominasi akademisi Anglo-Saxon, kini linguistik terapan menjadi lebih global, dengan kontribusi dari Asia, Amerika Latin, dan Afrika.

4.      Integrasi Teori dan Praktik – Tidak ada lagi pemisahan kaku antara teori dan penerapan; justru keduanya saling menginspirasi.

Secara epistemologis, pendekatan Angelis memperkuat pandangan bahwa linguistik terapan adalah bidang empiris, multidisipliner, dan reflektif — sebuah disiplin yang berkembang dari praktik dan kembali memberi dampak pada praktik sosial bahasa.

 

Kesimpulan

Paul Angelis berkontribusi penting dalam sejarah linguistik terapan melalui upayanya mendefinisikan bidang ini secara empiris. Dengan menganalisis data publikasi dari Applied Linguistics dan TESOL Quarterly, ia memperlihatkan bagaimana definisi linguistik terapan seharusnya dibangun dari apa yang dilakukan oleh para peneliti, bukan sekadar dari teori abstrak.

Pendekatan ini memberi dasar metodologis bagi penelitian-penelitian berikutnya, menunjukkan bahwa studi empiris adalah inti dari linguistik terapan. Melalui publikasi jurnal-jurnal internasional, kita dapat menelusuri bagaimana bidang ini berkembang dari masa ke masa, bagaimana topik dan metode berubah, serta bagaimana pengaruh global membentuk arah riset linguistik terapan di abad ke-21.

Dengan demikian, studi empiris tidak hanya membantu memahami tren akademik, tetapi juga memperkuat identitas linguistik terapan sebagai ilmu yang berakar pada data, kontekstual, dan berorientasi pada solusi nyata dalam dunia bahasa.

 

Daftar Pustaka

Angelis, P. (1987). Applied Linguistics: Scope and definition through journal analysis. TESOL Quarterly, 21(4), 713-725. https://doi.org/10.2307/3586992

Angelis, P. (1990). Empirical trends in applied linguistics research. Applied Linguistics, 11(2), 95-114.

Canagarajah, A. S. (2002). A Geopolitics of Academic Writing. University of Pittsburgh Press.

Strevens, P. (1992). Applied linguistics in perspective: A review of the past decade. Applied Linguistics, 13(3), 259-268.

Open University. (n.d.). Language and the Real World. Retrieved from https://www.open.edu/openlearn/languages/english-language/language-the-real-world/content-section-2

British Association for Applied Linguistics. (2019). What is Applied Linguistics? Retrieved from https://www.baal.org.uk

 

Minggu, 14 Desember 2025

Metode Linguistik Terapan

1. Tujuan utama linguistik terapan

Bidang Linguistik Terapan (applied linguistics) memiliki sejumlah tujuan utama yang berkaitan dengan pemecahan masalah bahasa nyata, pengembangan teori yang relevan praktik, dan penghubung antara teori dan aplikasi. Beberapa tujuan utama tersebut antara lain:

  • Menginvestigasi secara teoritis dan empiris berbagai situasi nyata di mana bahasa adalah unsur sentral, seperti pengajaran bahasa, kebijakan bahasa, teknologi bahasa, dan interaksi sosial bahasa. (Brumfit, 1995; sebagaimana dikutip di Open University) pustaka.ut.ac.id+4The Open University+4Taal+4
  • Menggunakan pengetahuan linguistik (baik teori bahasa, pembelajaran bahasa, penggunaan bahasa) untuk merancang, mengimplementasikan, dan mengevaluasi intervensi atau aplikasi praktis—misalnya kurikulum, pengajaran bahasa kedua, alat tes, perencanaan bahasa. Punjab State Open University+1
  • Menjalin hubungan antara teori bahasa dan praktik sosial: bukan hanya menerapkan teori, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan baru yang relevan dengan konteks sosial, budaya, teknologi dan institusi. Sebagai definisi dari Thai Association for Applied Linguistics: “theoretical and empirical investigation of real world problems in which language is a central issue.” Taal
  • Membuka ruang bagi interdisipliner: menggabungkan wawasan dari linguistik, psikologi, sosiologi, antropologi, pendidikan, teknologi informasi, kebijakan publik, dan bidang lain guna menangani masalah-bahasa kompleks. (Richards & Schmidt, 2002 dikutip) prosiding.stkippacitan.ac.id

Dengan demikian, tujuan utama linguistik terapan mencakup baik pemahaman bahasa dalam konteks nyata maupun tindakan/intervensi berdasarkan pemahaman tersebut—dan bukan hanya analisis bahasa murni.

2. Bidang ilmu apa saja yang berkontribusi terhadap linguistik terapan selain linguistik itu sendiri?

Linguistik terapan adalah disiplin yang interdisipliner dan mengintegrasikan kontribusi dari banyak bidang ilmu selain linguistik murni. Beberapa bidang yang berkontribusi secara signifikan:

  • Psikologi (terutama psikologi kognitif, psikologi pembelajaran bahasa): misalnya studi tentang bagaimana manusia belajar bahasa kedua, bagaimana proses kognitif menyusun pembelajaran bahasa, dan bagaimana faktor afektif/emosional mempengaruhi pembelajaran bahasa. prosiding.stkippacitan.ac.id+1
  • Pendidikan (teori dan metodologi pengajaran, kurikulum, asesmen, pengembangan materi): banyak penelitian linguistik terapan berfokus pada pengajaran bahasa, pengembangan bahan ajar, pelatihan guru, evaluasi program. Punjab State Open University+1
  • Sosiologi & antropologi (sosiolinguistik, antropologi linguistik, kebijakan bahasa, identitas bahasa, multilingualisme): misalnya analisis bagaimana bahasa digunakan dalam konteks sosial, kebijakan bahasa, hak bahasa minoritas, dan dampaknya terhadap masyarakat. The Open University+1
  • Teknologi informasi / ilmu komputer (pengolahan bahasa alami, korpus linguistik, aplikasi teknologi bahasa): bidang seperti pengembangan sistem terjemahan mesin, pengenalan suara, dan analisis korpus memanfaatkan pengetahuan linguistik terapan. EBSCO
  • Kesehatan / patologi wicara & bahasa / forensik linguistik: intervensi untuk gangguan bahasa, terapi wicara, serta aplikasi linguistik dalam investigasi forensik. Word Gate+1
  • Kebijakan publik / perencanaan bahasa / pendidikan multilingual: bagaimana bahasa dipilih, dikelola, dan digunakan dalam institusi dan masyarakat, termasuk tantangan globalisasi, migrasi, dan warisan bahasa. Vaia

Karena itu, linguistik terapan sering dianggap sebagai titik pertemuan banyak disiplin ilmu—sebuah “wilayah transdisipliner” yang menghubungkan teori bahasa dengan praktik sosial, pendidikan, teknologi, dan kebijakan.

3. Bagaimana analogi teater yang digunakan oleh George Jean Nathan diterapkan dalam linguistik terapan?

Meskipun tidak secara eksplisit banyak literatur linguistik terapan yang mengutip analogi teater dari George Jean Nathan, namun analisis Nathan tentang teater—termasuk gagasan tentang representasi, aktor, penonton, dan bagaimana “teater” bukan sekadar realitas tetapi sebuah konstruksi—dapat dipinjam secara analogis untuk memahami metode dan posisi linguistik terapan.

Nathan, dalam karyanya The Critic and the Drama (1922) menggambarkan teater sebagai “theatre stands in relation to drama much as the art gallery stands in relation to painting … the theatre is the drama’s orchestra … it is a place to which one goes in repeated search of the familiar corners of one’s imagination.” Project Gutenberg+1

Analogi ini dapat diterapkan ke linguistik terapan sebagai berikut:

  • Dalam teater, ada aktor (pemeran), penonton, setting, naskah, dan interaksi; dalam linguistik terapan ada peneliti, pengguna bahasa, konteks sosial/pendidikan, materi/metode, dan intervensi.
  • Sama seperti teater tidak selalu “mere-mirror” realitas secara langsung tetapi memformulasi dan menata pengalaman agar bisa ditampilkan, linguistik terapan tidak sekadar mengambil teori linguistik dan menerapkannya secara langsung: intervensi harus disesuaikan dengan konteks pengguna, budaya, masyarakat—artinya “pertunjukan” akademik harus dirancang agar relevan bagi “penonton” (praktek) dan bukan hanya untuk teori. Contoh: peneliti tidak hanya menerapkan model bahasa secara literal tetapi memodifikasi sesuai konteks pembelajaran, identitas, dan teknologi.
  • Dalam teater, kritik Nathan menunjukkan bahwa teater memungkinkan “penonton” melihat sesuatu dari pencahayaan, arah, pemilihan aktor yang berbeda—demikian pula linguistik terapan memungkinkan “penonton/praktisi” (guru, pembuat kebijakan, pelajar) melihat bahasa dalam kerangka yang terkonseptualisasi, bukan sebagai fenomena alamiah yang langsung hadir. Dengan demikian, metode linguistik terapan harus mempertimbangkan peran ‘setting’, ‘aktor’, ‘penonton’ dan ‘naskah’ dalam intervensi bahasa.
  • Dengan analogi ini, metode linguistik terapan menjadi “pertunjukan” di mana peneliti sebagai “sutradara” atau “aktor utama” merancang setting (konteks pendidikan, komunitas), materi/method, dan interaksi bahasa untuk menghasilkan efek (efikasi aplikasi, perubahan pembelajaran, kebijakan).
  • Analogi ini juga mengingatkan bahwa konteks sangat penting: seperti teater dengan ruang panggung yang berbeda akan memberikan pengalaman yang berbeda, intervensi linguistik terapan harus menyesuaikan konteks budaya, bahasa, institusi agar “pertunjukan” berjalan sukses.

Walaupun literatur tidak selalu menggunakan Nathan secara eksplisit, analogi teater sangat berguna sebagai metafora untuk memahami bagaimana metodologi linguistik terapan dirancang dan dievaluasi—bahwa ia bukan sekadar penerapan teori tetapi juga pengaturan konteks, aktor, media, dan interaksi untuk mencapai tujuan.

4. Mengapa linguistik terapan disebut sebagai titik di mana berbagai ilmu sosial dan humaniora bertemu?

Beberapa alasan mengapa linguistik terapan sering disebut sebagai “persimpangan” atau titik temu antara berbagai ilmu sosial dan humaniora:

  • Karena fokusnya pada bahasa dalam konteks nyata sosial, kultural, institusional, edukasional dan teknologi, maka ia harus melibatkan perspektif sosial (sosiologi, antropologi), edukasional (teori pembelajaran, pedagogi), psikologis (preferensi pembelajar, motivasi), teknologi (pengolahan bahasa, korpus), kebijakan publik (perencanaan bahasa) dan tentunya linguistik. Dengan demikian, linguistik terapan mengandalkan kerangka dari berbagai bidang ilmu untuk memahami kompleksitas masalah bahasa. (AAAL) aaal.org+1
  • Kerangka “masalah bahasa nyata” yang digunakan menjembatani antara teori dan praktik: misalnya satu intervensi pengajaran bahasa melibatkan psikologi pembelajaran, linguistik, desain kurikulum, dan evaluasi pendidikan—ini menunjukkan bahwa untuk melakukan penelitian atau praktik linguistik terapan, peneliti harus menguasai atau berkolaborasi dengan ahli dari berbagai bidang.
  • Metodologi penelitian dalam linguistik terapan sering inklusif: bisa bersifat eksperimen, kualitatif, kuantitatif, kajian wacana, analisis kebijakan—yang semuanya merupakan metode yang digunakan dalam ilmu sosial/humaniora.
  • Karena kebutuhan untuk menjawab pertanyaan nyata (rather than purely teoritis) maka linguistik terapan berfungsi sebagai jembatan antara ilmu bahasa (yang sering dianggap humanistik atau deskriptif) dengan aplikasi praktis di masyarakat (yang lebih sosial, institusional). Ini menjadikannya forum di mana teori humaniora dan penelitian sosial bertemu dan saling memengaruhi.
  • Organisasi profesional seperti American Association for Applied Linguistics (AAAL) menegaskan bahwa bidang ini “draws on a wide range of theoretical and methodological approaches from various disciplines — from the humanities to the social and natural sciences” (AAAL) aaal.org

Dengan demikian, linguistik terapan disebut titik temu karena ia menggabungkan berbagai sudut pandang dan metode dari ilmu sosial, humaniora, dan bahkan ilmu terapan atau teknologi—membentuk sebuah disiplin yang transdisipliner.

5. Apa saja dua pertanyaan besar yang perlu dijawab untuk mendefinisikan linguistik terapan?

Dalam literatur tentang definisi linguistik terapan, dua pertanyaan besar sering diajukan sebagai kunci untuk memahami dan membatasi disiplin ini:

  • “Apa yang dimaksud dengan ‘terapan’ dalam linguistik terapan?” – Apakah “terapan” berarti hanya penerapan langsung teori linguistik ke praktik pengajaran layanan bahasa atau masalah bahasa nyata, atau apakah bidang tersebut juga mencakup kontribusi teori baru, integrasi dengan disiplin lain, dan rekonstuksi teori berdasarkan konteks aplikasi? (Open University) The Open University+1
  • “Konteks ‘bahasa terkait’ mana yang termasuk dalam linguistik terapan?” – Apakah hanya pengajaran bahasa asing/keluar (L2), atau apakah juga penggunaan bahasa dalam masyarakat (multilingualisme, kebijakan bahasa, forensik, teknologi)? Dengan kata lain: “Garis pemisah antara linguistik murni dan linguistik terapan di mana?” (Schmitt & Celce-Murcia dalam Modul MPBI) pustaka.ut.ac.id

Jawaban atas kedua pertanyaan besar ini sangat memengaruhi cakupan bidang, metodologi, identitas keilmuan, dan apa yang dianggap sebagai “masalah linguistik terapan”. Karena itu, siapa pun yang hendak mendalami linguistik terapan perlu mempertimbangkan kedua pertanyaan fundamental tersebut.

 

Penutup

Melalui pembahasan di atas dapat ditarik sejumlah kesimpulan penting:

  • Linguistik terapan memiliki tujuan yang jelas: menghubungkan pengetahuan linguistik dengan aplikasi nyata masalah bahasa di masyarakat, pendidikan, teknologi dan kebijakan.
  • Karena cakupan real-world tersebut, linguistik terapan merupakan disiplin yang interdisipliner—menggabungkan bidang seperti psikologi, pendidikan, sosiologi, teknologi, dan kebijakan publik selain linguistik itu sendiri.
  • Analogi teater - yang dikemukakan oleh George Jean Nathan dalam ranah kritik teater - dapat digunakan sebagai metafora untuk memahami metodologi linguistik terapan: bahwa penelitian dan intervensi dalam linguistik terapan bukan sekadar “menerapkan teori” tetapi mempertimbangkan setting, aktor, penonton, dan interaksi seperti dalam “panggung” pengajaran atau aplikasi bahasa.
  • Linguistik terapan disebut sebagai titik temu ilmu sosial dan humaniora karena sifatnya yang masalah-berorientasi, transdisipliner, dan praktik-terhubung, memungkinkan kolaborasi dan integrasi perspektif ilmu sosial/humaniora dan teknologi.
  • Dua pertanyaan besar — “apa arti terapan?” dan “konteks bahasa mana yang termasuk?” — menjadi kunci definisi bidang ini dan menuntut refleksi bagi peneliti, praktisi, dan pembaca.

Bagi blog Pusat Referensi Linguistik, bab ini sangat penting karena membantu pembaca memahami tidak hanya apa metode linguistik terapan, tetapi bagaimana bidang ini bekerja sebagai jembatan teori-praktik, bagaimana metodologinya terbentuk, dan kenapa pendekatan interdisipliner menjadi sangat sentral.

 

Daftar Pustaka

American Association for Applied Linguistics. (n.d.). About Applied Linguistics. Retrieved from https://www.aaal.org/about-applied-linguistics aaal.org
British Association for Applied Linguistics. (2019, February 15). What is applied linguistics? Retrieved from https://www.baal.org.uk/british-association-for-applied-linguistics/what-applied-linguistics-is-and-does/ BAAL
Brumfit, C. (1995). Applied linguistics: Theoretical and empirical investigation of real-world problems in which language is a central issue. In Open University: Language in the Real World. Retrieved from https://www.open.edu/openlearn/languages/english-language/language-the-real-world/content-section-2 The Open University
Collins English Dictionary. (n.d.). Applied linguistics. Retrieved from https://www.collinsdictionary.com/us/dictionary/english/applied-linguistics Collins Dictionary
“Definition of Applied Linguistics (AL) – Thai Association for Applied Linguistics.” (n.d.). Retrieved from https://taal.or.th/definition-of-applied-linguisticsal/ Taal
Module 1: MPBI5104. (n.d.). Applied linguistics. Universitas Terbuka. Retrieved from https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/MPBI5104-M1.pdf pustaka.ut.ac.id
Richards, J. C., & Schmidt, R. (2002). Longman dictionary of language teaching and applied linguistics (3rd ed.). Routledge. (Discussed in Module MPBI) pustaka.ut.ac.id+1

 

Sabtu, 13 Desember 2025

Paradigma Linguistik Terapan

1. Perdebatan mengenai definisi linguistik terapan

Bidang Linguistik Terapan (applied linguistics) telah lama mengalami perdebatan internal mengenai definisinya: apakah ia sekadar “linguistik yang diterapkan” (linguistics-applied) atau “linguistik terapan” dalam arti “pemecahan masalah bahasa dimana bahasa adalah isu sentral”. Sebagai misal, dalam bab “Applied Linguistics” karya De Bot & Thomas (2023) disebut tiga definisi utama: (1) pengajaran bahasa asing (L2) dan pembelajaran bahasa, (2) penggunaan pengetahuan linguistik untuk memecahkan masalah di mana bahasa adalah isu utama, dan (3) “apa saja” yang berkaitan dengan bahasa kecuali linguistik teoretis. Cambridge University Press & Assessment
Lebih lanjut, situs Open University menyatakan bahwa definisi yang sering dikutip adalah: “The theoretical and empirical investigation of real
world problems in which language is a central issue.” The Open University


Linguistik Terapan Jilid Pertama - Aco Nasir | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)


 Namun perdebatan muncul karena:

  • Apakah definisi yang lebih sempit (misalnya pengajaran bahasa) cukup untuk mencakup seluruh bidang?
  • Apakah definisi yang lebih luas (semua konteks dimana bahasa berperan) terlalu longgar sehingga kehilangan batas disiplin?
  • Apakah istilah “applied” (terapan) menunjukkan prioritas penerapan praktis, ataukah tetap mencakup penelitian teoritis yang diarahkan ke aplikasi?
    Dengan demikian, definisi linguistik terapan tetap “tidak stabil”, dan para sarjana terus mencoba merumuskan batas
    batasnya agar disiplin ini dapat dikenali secara konsisten namun tetap fleksibel.

2. Paradigma dominan menentukan pertanyaanpertanyaan yang dapat diajukan dalam suatu disiplin ilmu

Dalam ilmu sosial dan humaniora, paradigma dominan—yakni sistem asumsi, fokus, metodologi, dan nilai yang diterima secara luas dalam disiplin—memengaruhi: (a) pertanyaan riset yang dianggap sahih, (b) metode yang digunakan, (c) publikasi yang diterima, dan (d) batasapa yang dianggap “masalah” dalam bidang tersebut. Dalam konteks linguistik terapan:

  • Ketika paradigma strukturalistik dan behavioristik mendominasi (masa pasca­Perang Dunia II hingga 1960an), fokus linguistik terapan sangat terkait dengan pengajaran bahasa asing, analisis kesalahan (error analysis), metode audiooral, serta pembelajaran terstruktur. Hal ini tercatat dalam literatur bahwa awal applied linguistics identik dengan pengajaran L2. Kyoto Sangyo University+1
  • Ketika paradigma kompetensi komunikatif (communicative competence) muncul di 1970an/1980an, maka fokus linguistik terapan mulai meluas: bukan hanya pengajaran bahasa, tetapi penggunaan bahasa dalam interaksi sosial, kebijakan bahasa (language policy), bilinguisme/multilingualisme, wacana (discourse), dan teknologi bahasa. Taylor & Francis+1
  • Karena paradigma dominan “applied linguistics = teaching foreign languages”, banyak penelitian awal di bidang ini diarahkan ke aspek pengajaran/ pembelajaran. Namun begitu paradigma bergeser, pertanyaan riset menyentuh isu yang lebih luas seperti literasi bahasa ibu, perencanaan bahasa, interpretasi, penerjemahan, komunikasi di tempat kerja.
    Dengan demikian, paradigma dominan dalam linguistik terapan menentukan apa yang dipertanyakan, bagaimana dipertanyakan, dan konteks mana yang dianggap valid. Jika paradigma berubah, maka ruang lingkup dan definisi bidang pun meluas atau bergeser.

3. Anggapan bahwa istilah “linguistik terapan” merupakan sebuah kontradiksi?

Sebagian pengamat bidang mengemukakan bahwa istilah “linguistik terapan” (applied linguistics) mengandung kontradiksi inheren. Alasan utama anggapan ini adalah bahwa istilah “applied” mengandaikan bahwa ada suatu “linguistik teoretis” yang sudah mapan yang kemudian diterapkan ke praktik. Namun dalam kenyataannya, banyak kegiatannya sangat praktis, multidisipliner, dan bukan sekadar penerapan teori linguistik. Beberapa poin terkait:

  • Jika bidang ini hanya “linguistik yang diterapkan”, maka ia tampak sebagai turunan dari linguistik teoretis, tetapi kenyataannya banyak permasalahan yang muncul dalam linguistik terapan adalah praktis (realworld) dan memerlukan teori baru atau integrasi dengan disiplin lain.
  • Sebaliknya, jika fokusnya adalah “pemecahan masalah bahasa” (languagerelated problems) maka istilah “linguistik terapan” bisa dianggap menekankan “terapan” sedemikian rupa sehingga linguistik (ilmu bahasa) menjadi alat saja, bukan sebagai inti.
  • Oleh karena itu, istilah itu kadang dianggap kontradiktif atau setidaknya menimbulkan ketegangan konsep: antara teori dan praktik, antara linguistik dan aplikasi, antara ilmu bahasa dan intervensi sosial.

Beberapa literatur menyebut bahwa definisi (3) dalam De Bot & Thomas—“apa saja yang berkaitan dengan bahasa kecuali linguistik teoretis”—pencitraannya terlalu lebar sehingga membuat istilah “applied linguistics” hampir berarti “semua hal yang bukan linguistik teoretis” dan oleh karenanya terasa tidak koheren. Cambridge University Press & Assessment
Dengan demikian, anggapan bahwa istilah “linguistik terapan” mengandung kontradiksi cukup terbukti dalam literatur bidang ini.

4. Alasan yang dikemukakan oleh penulis mengenai kontradiksi dalam istilah “linguistik terapan”

Literatur mencatat sejumlah alasan mengapa istilah “linguistik terapan” dianggap mengandung kontradiksi, sebagai berikut:

  • Bahasa “terapan” mengandaikan adanya teori atau ilmu dasar yang kemudian diterapkan. Namun banyak dari apa yang dilakukan dalam linguistik terapan bukan penerapan teori linguistik sederhana, melainkan pengembangan teori baru atau intervensi praktis yang bersifat problemdriven. Sebagai contoh, menurut Open University, “applied linguistics … investigates situations where people are simply using language in particular ways… sometimes models can help with problems but sometimes they simply allow us to better understand what is actually going on.” The Open University
  • Istilah “linguistik terapan” sering mengasosiasikan pengajaran bahasa asing, tetapi bidang ini telah meluas ke area seperti kebijakan bahasa, penerjemahan, teknologi bahasa, forensik linguistik – yang tidak selalu didasarkan pada teori linguistik yang “murni”. De Bot & Thomas menunjukkan bahwa definisi (2) “use of linguistic knowledge to solve problems where language is a central issue” mencerminkan bahwa bidang ini lebih problemoriented daripada “linguistik” dalam arti tradisional. Cambridge University Press & Assessment+1
  • Karena ruang lingkupnya yang luas dan berubahubah, istilah “applied linguistics” kadang kehilangan identitas yang jelas: apakah ia sub-bidang linguistik atau disiplin tersendiri? Hal ini menyumbang kepada kontradiksi pengertian.
  • Selain itu, istilah “applied” bisa menurunkan posisi teori linguistik (“theoretical linguistics”) sebagai basis utama, sehingga menimbulkan pertanyaan apakah bidang ini cukup “ilmiah” atau hanya praktis. Dalam pengantar The Oxford Handbook of Applied Linguistics dikatakan bahwa “Applied linguistics is a difficult notion to define; indeed, it should not be assumed that this volume will provide a definitive definition of the field.” OUP Academic
    Dengan demikian, penulis dan editor bidang ini secara sadar mengakui bahwa istilah “linguistik terapan” membawa ketegangan konsep dan bahwa pengertian disiplin ini harus dilihat sebagai hidup, berkembang, dan terbuka.

5. Apa saja buku dan artikel yang telah membahas masalah definisi linguistik terapan?

Beberapa buku dan artikel utama yang membahas definisi linguistik terapan antara lain:

  • De Bot, K., & Thomas, M. (2023). Applied Linguistics (Chapter 29 in The Cambridge History of Linguistics). Mereka menampilkan tinjauan definisi yang berbeda dan sejarah definisi bidang ini. Cambridge University Press & Assessment
  • De Bot, K. (2015). A History of Applied Linguistics: From 1980 to the present. Routledge. Buku ini mengkaji bagaimana definisi dan cakupan linguistik terapan telah berubah selama dekade-terakhir. Routledge+1
  • LiWei, J., Zhu Hua, & Simpson, J. (2024?). The Routledge Handbook of Applied Linguistics. Pengantar babnya menyebut bahwa “Applied linguistics is a transdisciplinary field …” dan membahas definisi serta paradigma. Taylor & Francis
  • “Definition of Applied Linguistics” oleh Thai Association for Applied Linguistics (TAAL). Situs ini merangkum definisi yang menekankan penelitian teoretis dan empiris terhadap masalah di mana bahasa adalah sentral. Taal
  • Artikel pengantar dalam The Oxford Handbook of Applied Linguistics (ed. Kaplan, 2010) juga menyentuh tentang kesulitan mendefinisikan bidang ini. OUP Academic+1
    Buku
    artikel ini sangat cocok sebagai bacaan lanjutan bagi pembaca yang ingin memahami bagaimana definisi linguistik terapan telah dirumuskan, diperdebatkan, dan direvisi selama waktu.

6. Bukti yang menunjukkan bahwa linguistik terapan telah berkembang menjadi disiplin ilmu yang diakui secara luas

Beberapa bukti konkret menunjukkan bahwa linguistik terapan telah menjadi disiplin yang diakui secara luas, bukan hanya cabang pengajaran bahasa saja:

  • Institusiakademik: Banyak universitas di berbagai negara memiliki program “Applied Linguistics”, “Linguistik Terapan”, atau nama sejenis yang diakui secara resmi sebagai program pascasarjana atau departemen. Misalnya jurnal Language Learning yang sejak 1948 mencantumkan subjudul “A Quarterly Journal of Applied Linguistics”. Wikipedia+1
  • Bukureferensi besar: Contohnya The Oxford Handbook of Applied Linguistics (Kaplan, 2010) yang menyediakan koleksi artikel berbagai subbidang dalam linguistik terapan. OUP Academic
  • Asosiasi profesional: Organisasi seperti Association Internationale de Linguistique Appliquée (AILA) yang didirikan 1964 dan memiliki anggota dari banyak negara menunjukkan legitimasi internasional disiplin ini. OUP Academic+1
  • Perluasan cakupan riset: Dari awal yang sangat terkait pengajaran bahasa asing, bidang ini telah meluas ke kebijakan bahasa, teknologi bahasa, bilingualisme/multilingualisme, wacana, dan banyak lagi. Situs Open University menyebut bahwa sekarang konteksnya termasuk “law, institutions, workplace, medical communication, media discourse, translation…” The Open University
  • Interdisipliner dan problemdriven: Disebut bahwa linguistik terapan kini merupakan bidang transdisipliner yang menghubungkan pengetahuan bahasa dan penggunaan dalam konteks nyata—ini menunjukkan bahwa ia bukan sekadar cabang linguistik teoretis tetapi disiplin tersendiri. Taylor & Francis
    Dengan demikian, bukti
    bukti tersebut menunjukkan bahwa linguistik terapan telah memperoleh status yang mapan sebagai disiplin ilmiah dengan jaringan institusional, publikasi, asosiasi, dan pengakuan internasional.

 

Penutup

Melalui pembahasan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

  • Definisi linguistik terapan terus menjadi objek debat karena ruang lingkupnya yang luas dan karakter praktisnya yang kuat.
  • Paradigma dominan dalam disiplin memengaruhi pertanyaan riset, metode, dan cakupan bidang—sehingga perubahan paradigma sama artinya dengan perubahan dalam lingkup linguistik terapan.
  • Istilah “linguistik terapan” mengandung ketegangan atau kontradiksi konseptual karena menggabungkan unsur “linguistik” dan “terapan” yang masing-masing membawa implikasi tertentu.
  • Penulis dan editor bidang ini telah secara terbuka membahas kontradiksi ini dan menyadari bahwa definisi bidang harus terus direfleksikan dan diperbarui.
  • Terdapat sejumlah buku dan artikel kunci yang membahas masalah definisi dan perkembangan linguistik terapan, cocok sebagai bacaan lanjutan.
  • Dan bukti nyata (program studi, asosiasi, buku referensi, perluasan riset) menunjukkan bahwa linguistik terapan kini diakui sebagai disiplin ilmiah global.
    Bagi blog Pusat Referensi Linguistik, bab ini sangat penting karena membantu pembaca memahami bahwa linguistik terapan bukan hanya istilah teknis, tetapi disiplin yang dibentuk oleh paradigma, definisi yang bergerak, dan jaringan institusi global—sedangkan bagi peneliti atau praktisi linguistik di Indonesia atau Asia-Pasifik, menyadari konteks tersebut adalah langkah awal untuk berkontribusi secara konteks
    sensitif dan reflektif.

 

Daftar Pustaka

De Bot, K., & Thomas, M. (2023). Applied Linguistics (Chapter 29). In L. R. Waugh, M. Monville-Burston, & J. E. Joseph (Eds.), The Cambridge History of Linguistics (pp. --). Cambridge University Press. Cambridge University Press & Assessment
De Bot, K. (2015). A History of Applied Linguistics: From 1980 to the present. Routledge. Routledge+1
Li-Wei, J., Zhu Hua, & Simpson, J. (Eds.). (2024). The Routledge Handbook of Applied Linguistics. Routledge. Taylor & Francis
Oxford University Press. (2010). The Oxford Handbook of Applied Linguistics (R. B. Kaplan, Ed.). Oxford University Press. OUP Academic+1
Thai Association for Applied Linguistics. (n.d.). Definition of applied linguistics (AL). Retrieve from https://taal.or.th/definition-of-applied-linguisticsal/ Taal
“Applied linguistics”. (n.d.). In Cambridge English Dictionary. Retrieved from https://dictionary.cambridge.org/us/dictionary/english/applied-linguistics Cambridge Dictionary

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...