Senin, 10 November 2025

Interferensi & Integrasi Bahasa: Dinamika Kontak Bahasa dalam Masyarakat Multilingual (010)

Oleh: Pusat Referensi Linguistik

1. Pendahuluan

Bahasa tidak pernah hidup dalam ruang yang tertutup. Dalam masyarakat modern yang multibahasa, kontak antarbahasa menjadi hal yang tidak dapat dihindari. Fenomena interferensi dan integrasi bahasa menjadi dua bentuk nyata dari interaksi tersebut.
Kedua fenomena ini tidak hanya memperkaya khazanah linguistik suatu bangsa, tetapi juga menjadi cermin bagaimana bahasa beradaptasi dengan perubahan sosial, budaya, dan teknologi (Chaer & Agustina, 2010).

Tulisan ini akan mengulas secara mendalam mengenai definisi interferensi dan integrasi bahasa, faktor-faktor penyebabnya, serta contoh konkret penggunaan kosakata bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia, yang semakin marak seiring globalisasi dan perkembangan media digital.

 


Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing


2. Definisi Interferensi Bahasa

Interferensi merupakan gejala terjadinya pengaruh bahasa satu terhadap bahasa lain yang digunakan oleh penutur bilingual atau multilingual. Menurut Weinreich (1953), interferensi adalah “penyimpangan dari norma suatu bahasa akibat adanya kontak dengan bahasa lain”.
Dalam konteks ini, penutur bilingual cenderung “tercampur” dalam struktur atau kosakata saat berkomunikasi, sehingga unsur-unsur dari bahasa pertama (B1) muncul ketika ia menggunakan bahasa kedua (B2), atau sebaliknya.

Chaer dan Agustina (2010) menjelaskan bahwa interferensi dapat terjadi pada berbagai tataran bahasa, yaitu:

·         Interferensi fonologis: percampuran bunyi, misalnya penutur bahasa daerah sulit mengucapkan bunyi /f/ sehingga diganti menjadi /p/ (“foto” menjadi poto).

·         Interferensi morfologis: pengaruh dalam pembentukan kata, seperti “diantar oleh dia” yang diucapkan “dia mengantar oleh”.

·         Interferensi sintaktis: percampuran struktur kalimat, seperti “saya sudah makan nasi tadi” (pengaruh struktur bahasa daerah).

·         Interferensi leksikal: penggunaan kata dari bahasa lain, seperti “saya nge-print tugas dulu, ya.”

Dalam konteks modern, interferensi leksikal dari bahasa Inggris menjadi bentuk yang paling menonjol dalam bahasa Indonesia, terutama di kalangan remaja dan profesional.

 

3. Definisi Integrasi Bahasa

Berbeda dengan interferensi yang bersifat sementara atau individual, integrasi bahasa adalah proses penerimaan unsur bahasa asing secara mantap ke dalam sistem bahasa penerima. Unsur yang diintegrasikan mengalami penyesuaian bentuk, ejaan, dan makna agar sesuai dengan kaidah bahasa penerima (Kridalaksana, 2008).

Contohnya, kata computer (Inggris) yang diserap menjadi komputer, television menjadi televisi, dan internet tetap digunakan dengan penyesuaian pelafalan Indonesia.

Menurut Suwito (1983), integrasi bahasa merupakan hasil akhir dari proses interferensi yang telah mantap dan diterima oleh masyarakat luas. Artinya, jika interferensi terjadi pada tataran penutur individu, maka integrasi terjadi pada tataran sistem bahasa nasional yang sudah distandardisasi oleh lembaga bahasa.

 

4. Faktor Penyebab Interferensi dan Integrasi Bahasa

Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya interferensi dan integrasi antara lain:

1.      Kontak antarpenutur multibahasa
Dalam masyarakat seperti Indonesia, di mana bilingualisme sangat umum (misalnya bahasa Indonesia dan bahasa daerah), kontak bahasa menjadi sumber utama terjadinya interferensi.

2.      Kemajuan teknologi dan media massa
Media sosial, internet, dan hiburan digital memperkenalkan banyak istilah bahasa Inggris yang kemudian diadopsi secara luas (Misnadin, 2020).

3.      Prestise sosial dan profesional
Penggunaan bahasa Inggris sering dianggap bergengsi, sehingga banyak orang memilih menggunakan istilah asing untuk menunjukkan status sosial atau profesionalisme, seperti “meeting”, “deadline”, “update”, dan “networking”.

4.      Ketiadaan padanan dalam bahasa Indonesia
Banyak istilah ilmiah atau teknologi yang belum memiliki padanan resmi dalam bahasa Indonesia, sehingga kosakata asing langsung diintegrasikan.

5.      Sikap bahasa penutur
Penutur yang lebih terbuka terhadap bahasa asing lebih mudah melakukan interferensi dan integrasi, terutama jika mereka merasa bahasa asing tersebut lebih ekspresif atau efisien.

 

5. Contoh Interferensi dan Integrasi Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia

Untuk memperjelas perbedaan antara interferensi dan integrasi, berikut beberapa contoh ilustratif dari kehidupan sehari-hari:

a. Interferensi dalam Percakapan Sehari-hari

1.      Di kantor:

o    “Aku udah submit laporan ke atasan.”

o    “Besok ada meeting jam 9, jangan telat.”
Di sini, penutur menggunakan kata submit dan meeting secara spontan, meskipun tersedia padanan mengirimkan dan rapat dalam bahasa Indonesia.

2.      Di media sosial:

o    “Mood-ku lagi bad day, sumpah!”

o    “Aduh, aku lagi stress banget.”
Penggunaan kata bad day dan stress mencerminkan interferensi leksikal karena bercampurnya unsur bahasa Inggris dengan struktur kalimat Indonesia.

3.      Di sekolah atau kampus:

o    “Tugasnya belum di-print, Bu.”

o    “Kita discuss dulu sebelum presentasi.”
Ini menunjukkan adanya pergantian kode di tingkat kata yang bersifat sementara dan belum resmi menjadi bagian dari sistem bahasa Indonesia.

b. Integrasi Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia

Berikut kata-kata yang telah diintegrasikan dan disesuaikan ejaannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia (KBBI, 2024):

Bahasa Inggris

Bentuk Terintegrasi

Keterangan

Computer

Komputer

Penyesuaian ejaan

Television

Televisi

Penyesuaian fonologi

Internet

Internet

Diterima tanpa perubahan besar

Manager

Manajer

Perubahan fonem “g” menjadi “j”

Program

Program

Tidak berubah

Office

Ofis

Bentuk tidak baku tetapi sering dipakai

Stress

Stres

Penyesuaian ejaan

Contact

Kontak

Penyesuaian fonem

Disk

Diska / Disket

Penyesuaian dan inovasi bentuk baru

Integrasi seperti ini membuktikan bahwa bahasa Indonesia terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan perkembangan global tanpa kehilangan identitas dasarnya.

 

6. Dampak Interferensi dan Integrasi terhadap Bahasa Indonesia

a. Dampak Positif

1.      Memperkaya kosakata bahasa Indonesia.
Proses integrasi memperluas daya ungkap bahasa Indonesia, terutama dalam bidang sains, teknologi, dan ekonomi.

2.      Meningkatkan kemampuan komunikasi global.
Penguasaan istilah asing membantu masyarakat berinteraksi di tingkat internasional.

3.      Menunjukkan adaptabilitas bahasa.
Bahasa yang mampu berintegrasi dengan unsur asing menunjukkan vitalitas dan kemampuan bertahan dalam dinamika global (Fishman, 1972).

b. Dampak Negatif

1.      Mengaburkan batas kaidah bahasa.
Penggunaan bahasa campuran secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan penutur dalam menggunakan bahasa Indonesia baku.

2.      Menimbulkan kesenjangan sosial linguistik.
Penutur dengan kemampuan bahasa asing tinggi dianggap lebih modern atau berpendidikan, sementara yang lain tertinggal.

3.      Ancaman terhadap kemurnian bahasa.
Jika tidak dikontrol, integrasi dapat berujung pada dominasi bahasa asing yang menggeser identitas nasional (Misnadin, 2020).

 

7. Ilustrasi Percakapan Interferensi & Integrasi

Ilustrasi 1 – Interferensi (Percakapan di Kampus):

Rina: Aku udah submit tugas skripsi ke dosen pembimbing.
Dewi: Wah cepat banget! Aku baru draft bab tiga.
Rina: Iya, tadi sekalian print di kampus.

→ Dalam percakapan ini, terjadi interferensi leksikal karena kata-kata submit, draft, dan print digunakan dalam kalimat berbahasa Indonesia tanpa penyesuaian.

 

Ilustrasi 2 – Integrasi (Percakapan di Kantor):

Manajer: Tolong kirim laporan lewat email, ya.
Staf: Baik, Pak. Nanti saya lampirkan juga file PDF-nya.

→ Kata email dan file telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia dan diakui dalam KBBI, menunjukkan proses integrasi yang telah mantap.

 

8. Kesimpulan

Interferensi dan integrasi bahasa adalah dua fenomena yang tidak dapat dihindari dalam masyarakat bilingual atau multilingual seperti Indonesia. Interferensi mencerminkan pengaruh spontan antarbahasa pada tingkat individu, sedangkan integrasi menunjukkan penerimaan resmi unsur bahasa asing ke dalam sistem bahasa nasional.

Kedua proses ini berkontribusi terhadap dinamika perkembangan bahasa Indonesia. Namun, keseimbangan antara penerimaan unsur asing dan pelestarian bahasa nasional perlu dijaga agar bahasa Indonesia tetap modern tanpa kehilangan jati diri.

 

9. Daftar Pustaka

Chaer, A., & Agustina, L. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Fishman, J. A. (1972). The Sociology of Language: An Interdisciplinary Social Science Approach to Language in Society. Rowley, MA: Newbury House.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik (Edisi Keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Misnadin. (2020). Dinamika Interferensi Bahasa Inggris dalam Bahasa Indonesia di Era Digital. Jurnal Linguistik Terapan, 7(2), 89–101.
Suwito. (1983). Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: UNS Press.
Weinreich, U. (1953). Languages in Contact: Findings and Problems. The Hague: Mouton.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...