Oleh: Pusat Referensi Linguistik
1. Pendahuluan
Bahasa tidak pernah hidup dalam ruang yang
tertutup. Dalam masyarakat modern yang multibahasa, kontak antarbahasa menjadi
hal yang tidak dapat dihindari. Fenomena interferensi
dan integrasi bahasa
menjadi dua bentuk nyata dari interaksi tersebut.
Kedua fenomena ini tidak hanya memperkaya khazanah linguistik suatu bangsa,
tetapi juga menjadi cermin bagaimana bahasa beradaptasi dengan perubahan
sosial, budaya, dan teknologi (Chaer & Agustina, 2010).
Tulisan ini akan mengulas secara mendalam
mengenai definisi interferensi
dan integrasi bahasa, faktor-faktor
penyebabnya, serta contoh
konkret penggunaan kosakata bahasa Inggris dalam bahasa Indonesia,
yang semakin marak seiring globalisasi dan perkembangan media digital.
| Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing |
2. Definisi Interferensi Bahasa
Interferensi
merupakan gejala terjadinya pengaruh bahasa satu terhadap bahasa lain yang
digunakan oleh penutur bilingual atau multilingual. Menurut Weinreich (1953),
interferensi adalah “penyimpangan
dari norma suatu bahasa akibat adanya kontak dengan bahasa lain”.
Dalam konteks ini, penutur bilingual cenderung “tercampur” dalam struktur atau
kosakata saat berkomunikasi, sehingga unsur-unsur dari bahasa pertama (B1)
muncul ketika ia menggunakan bahasa kedua (B2), atau sebaliknya.
Chaer dan Agustina (2010) menjelaskan bahwa
interferensi dapat terjadi pada berbagai tataran bahasa, yaitu:
·
Interferensi fonologis:
percampuran bunyi, misalnya penutur bahasa daerah sulit mengucapkan bunyi /f/
sehingga diganti menjadi /p/ (“foto” menjadi poto).
·
Interferensi morfologis:
pengaruh dalam pembentukan kata, seperti “diantar oleh dia” yang diucapkan “dia
mengantar oleh”.
·
Interferensi sintaktis:
percampuran struktur kalimat, seperti “saya sudah makan nasi tadi” (pengaruh
struktur bahasa daerah).
·
Interferensi leksikal:
penggunaan kata dari bahasa lain, seperti “saya nge-print tugas dulu, ya.”
Dalam konteks modern, interferensi leksikal dari bahasa Inggris
menjadi bentuk yang paling menonjol dalam bahasa Indonesia, terutama di
kalangan remaja dan profesional.
3. Definisi Integrasi Bahasa
Berbeda dengan interferensi yang bersifat
sementara atau individual, integrasi
bahasa adalah proses penerimaan unsur bahasa asing secara
mantap ke dalam sistem bahasa penerima. Unsur yang diintegrasikan mengalami penyesuaian bentuk, ejaan, dan makna
agar sesuai dengan kaidah bahasa penerima (Kridalaksana, 2008).
Contohnya, kata computer (Inggris) yang diserap menjadi komputer, television menjadi televisi, dan internet tetap digunakan dengan penyesuaian
pelafalan Indonesia.
Menurut Suwito (1983), integrasi bahasa
merupakan hasil akhir dari proses
interferensi yang telah mantap dan diterima oleh masyarakat luas.
Artinya, jika interferensi terjadi pada tataran penutur individu, maka
integrasi terjadi pada tataran sistem bahasa nasional yang sudah
distandardisasi oleh lembaga bahasa.
4. Faktor Penyebab Interferensi dan Integrasi
Bahasa
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya
interferensi dan integrasi antara lain:
1.
Kontak antarpenutur multibahasa
Dalam masyarakat seperti Indonesia, di mana bilingualisme sangat umum (misalnya
bahasa Indonesia dan bahasa daerah), kontak bahasa menjadi sumber utama
terjadinya interferensi.
2.
Kemajuan teknologi dan media massa
Media sosial, internet, dan hiburan digital memperkenalkan banyak istilah
bahasa Inggris yang kemudian diadopsi secara luas (Misnadin, 2020).
3.
Prestise sosial dan profesional
Penggunaan bahasa Inggris sering dianggap bergengsi, sehingga banyak orang
memilih menggunakan istilah asing untuk menunjukkan status sosial atau
profesionalisme, seperti “meeting”, “deadline”, “update”, dan “networking”.
4.
Ketiadaan padanan dalam bahasa Indonesia
Banyak istilah ilmiah atau teknologi yang belum memiliki padanan resmi dalam
bahasa Indonesia, sehingga kosakata asing langsung diintegrasikan.
5.
Sikap bahasa penutur
Penutur yang lebih terbuka terhadap bahasa asing lebih mudah melakukan
interferensi dan integrasi, terutama jika mereka merasa bahasa asing tersebut
lebih ekspresif atau efisien.
5. Contoh Interferensi dan Integrasi Bahasa
Inggris dalam Bahasa Indonesia
Untuk memperjelas perbedaan antara
interferensi dan integrasi, berikut beberapa contoh ilustratif dari
kehidupan sehari-hari:
a. Interferensi dalam Percakapan Sehari-hari
1.
Di kantor:
o “Aku udah submit laporan ke atasan.”
o “Besok ada meeting jam 9, jangan telat.”
Di sini, penutur menggunakan kata submit
dan meeting secara spontan, meskipun
tersedia padanan mengirimkan dan rapat dalam bahasa Indonesia.
2.
Di media sosial:
o “Mood-ku lagi bad day, sumpah!”
o “Aduh, aku lagi stress banget.”
Penggunaan kata bad day dan stress mencerminkan interferensi leksikal
karena bercampurnya unsur bahasa Inggris dengan struktur kalimat Indonesia.
3.
Di sekolah atau kampus:
o “Tugasnya belum di-print, Bu.”
o “Kita discuss dulu sebelum presentasi.”
Ini menunjukkan adanya pergantian kode di tingkat kata yang bersifat
sementara dan belum resmi menjadi bagian dari sistem bahasa Indonesia.
b. Integrasi Bahasa Inggris ke Bahasa
Indonesia
Berikut kata-kata yang telah diintegrasikan
dan disesuaikan ejaannya sesuai kaidah Bahasa Indonesia (KBBI, 2024):
|
Bahasa Inggris |
Bentuk Terintegrasi |
Keterangan |
|
Computer |
Komputer |
Penyesuaian ejaan |
|
Television |
Televisi |
Penyesuaian fonologi |
|
Internet |
Internet |
Diterima tanpa perubahan besar |
|
Manager |
Manajer |
Perubahan fonem “g” menjadi “j” |
|
Program |
Program |
Tidak berubah |
|
Office |
Ofis |
Bentuk tidak baku tetapi sering dipakai |
|
Stress |
Stres |
Penyesuaian ejaan |
|
Contact |
Kontak |
Penyesuaian fonem |
|
Disk |
Diska / Disket |
Penyesuaian dan inovasi bentuk
baru |
Integrasi seperti ini membuktikan bahwa bahasa
Indonesia terus berkembang dan menyesuaikan diri dengan perkembangan global
tanpa kehilangan identitas dasarnya.
6. Dampak Interferensi dan Integrasi terhadap
Bahasa Indonesia
a. Dampak Positif
1.
Memperkaya kosakata bahasa Indonesia.
Proses integrasi memperluas daya ungkap bahasa Indonesia, terutama dalam bidang
sains, teknologi, dan ekonomi.
2.
Meningkatkan kemampuan komunikasi global.
Penguasaan istilah asing membantu masyarakat berinteraksi di tingkat
internasional.
3.
Menunjukkan adaptabilitas bahasa.
Bahasa yang mampu berintegrasi dengan unsur asing menunjukkan vitalitas dan
kemampuan bertahan dalam dinamika global (Fishman, 1972).
b. Dampak Negatif
1.
Mengaburkan batas kaidah bahasa.
Penggunaan bahasa campuran secara berlebihan dapat menurunkan kemampuan penutur
dalam menggunakan bahasa Indonesia baku.
2.
Menimbulkan kesenjangan sosial linguistik.
Penutur dengan kemampuan bahasa asing tinggi dianggap lebih modern atau
berpendidikan, sementara yang lain tertinggal.
3.
Ancaman terhadap kemurnian bahasa.
Jika tidak dikontrol, integrasi dapat berujung pada dominasi bahasa asing yang
menggeser identitas nasional (Misnadin, 2020).
7. Ilustrasi Percakapan Interferensi &
Integrasi
Ilustrasi
1 – Interferensi (Percakapan di Kampus):
Rina: Aku udah submit tugas skripsi ke dosen pembimbing.
Dewi: Wah cepat banget! Aku baru draft bab tiga.
Rina: Iya, tadi sekalian print
di kampus.
→ Dalam percakapan ini, terjadi interferensi
leksikal karena kata-kata submit, draft, dan print digunakan dalam kalimat berbahasa Indonesia tanpa
penyesuaian.
Ilustrasi
2 – Integrasi (Percakapan di Kantor):
Manajer: Tolong
kirim laporan lewat email, ya.
Staf: Baik, Pak. Nanti saya lampirkan juga file PDF-nya.
→ Kata email
dan file
telah menjadi bagian dari bahasa Indonesia dan diakui dalam KBBI, menunjukkan
proses integrasi yang telah mantap.
8. Kesimpulan
Interferensi dan integrasi bahasa adalah dua
fenomena yang tidak dapat dihindari dalam masyarakat bilingual atau
multilingual seperti Indonesia. Interferensi mencerminkan pengaruh spontan antarbahasa
pada tingkat individu, sedangkan integrasi menunjukkan penerimaan resmi unsur bahasa asing
ke dalam sistem bahasa nasional.
Kedua proses ini berkontribusi terhadap
dinamika perkembangan bahasa Indonesia. Namun, keseimbangan antara penerimaan
unsur asing dan pelestarian bahasa nasional perlu dijaga agar bahasa Indonesia
tetap modern tanpa kehilangan jati diri.
9. Daftar Pustaka
Chaer, A., & Agustina, L. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta:
Rineka Cipta.
Fishman, J. A. (1972). The Sociology of
Language: An Interdisciplinary Social Science Approach to Language in Society.
Rowley, MA: Newbury House.
Kridalaksana, H. (2008). Kamus Linguistik
(Edisi Keempat). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Misnadin. (2020). Dinamika Interferensi Bahasa
Inggris dalam Bahasa Indonesia di Era Digital. Jurnal Linguistik Terapan,
7(2), 89–101.
Suwito. (1983). Sosiolinguistik: Teori dan
Problema. Surakarta: UNS Press.
Weinreich, U. (1953). Languages in Contact:
Findings and Problems. The Hague: Mouton.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar