Minggu, 09 November 2025

Alih Kode dan Campur Kode dalam Komunikasi Sehari-hari: Dinamika Bahasa di Masyarakat Multilingual (09)

Pendahuluan

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia sering menggunakan lebih dari satu bahasa dalam berinteraksi. Fenomena ini mencerminkan kekayaan linguistik bangsa yang multibahasa, tetapi juga menghadirkan dinamika komunikasi yang kompleks. Di pasar, di sekolah, bahkan di media sosial, kita kerap mendengar seseorang berbicara dalam bahasa Indonesia, lalu beralih ke bahasa daerah, atau menyisipkan kata-kata bahasa Inggris di tengah percakapan.

Fenomena ini dikenal dalam linguistik sebagai alih kode (code-switching) dan campur kode (code-mixing) — dua konsep penting dalam kajian sosiolinguistik yang membahas bagaimana penutur berpindah atau mencampur dua bahasa dalam komunikasi.

Artikel ini membahas secara mendalam pengertian, perbedaan, dan faktor penyebab alih kode dan campur kode, dilengkapi dengan contoh ilustratif percakapan nyata yang menggambarkan praktik kebahasaan masyarakat Indonesia.

Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing

 


Definisi Alih Kode

Alih kode (code-switching) adalah peristiwa pergantian bahasa atau ragam bahasa dari satu kode ke kode lain dalam situasi komunikasi tertentu (Wardhaugh, 2006). Pergantian ini dapat terjadi antarbahasa (misalnya Indonesia ↔ Inggris), antardialek, atau antarragam (formal ↔ informal).

Menurut Hymes (1974), alih kode merupakan fenomena yang terjadi karena penutur menyesuaikan diri dengan konteks sosial, misalnya siapa lawan bicaranya, tempat berbicara, dan tujuan komunikasi.

Hudson (1996) juga menegaskan bahwa alih kode bukan sekadar kebiasaan spontan, tetapi mencerminkan kompetensi sosiolinguistik penutur—kemampuan memilih bahasa yang tepat dalam konteks yang sesuai.

Contoh Alih Kode

Ilustrasi 1: Percakapan di sekolah

Guru: “Anak-anak, besok kita ulangan ya.”
Siswa: “Oke Bu, tapi kalau bisa jangan too early ya, masih ngantuk jam segitu.”
Guru: “Haha, ya sudah jam sembilan saja.”

Penjelasan:
Siswa berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris (“too early”) untuk menekankan makna tertentu dan menunjukkan pengaruh gaya remaja yang modern.

Ilustrasi 2: Percakapan di rumah

Ibu: “Nak, ambilkan air di dapur.”
Anak: “Okay, Ma. Wait a second.”

Penjelasan:
Anak beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris karena kebiasaan bilingual di rumah.

 

Definisi Campur Kode

Berbeda dengan alih kode, campur kode (code-mixing) adalah penyisipan unsur bahasa lain ke dalam bahasa utama tanpa berpindah sepenuhnya ke bahasa tersebut (Nababan, 1993).

Campur kode biasanya terjadi ketika penutur mencampurkan kata, frasa, atau klausa dari bahasa lain dalam satu kalimat. Fenomena ini sering kali tidak disadari dan mencerminkan identitas sosial dan budaya penutur.

Menurut Muysken (2000), campur kode dapat berupa:

1.      Insertion (penyisipan kata) – menambahkan kata atau istilah asing ke dalam struktur bahasa utama.

2.      Alternation (pergantian struktur) – berpindah sebagian struktur kalimat ke bahasa lain.

3.      Congruent lexicalization (pencampuran leksikal serentak) – kedua bahasa digunakan bersamaan dalam satu pola sintaksis.

Contoh Campur Kode

Ilustrasi 3: Percakapan di kafe

A: “Tadi aku order latte satu, tapi belum datang juga.”
B: “Maybe they’re too busy, sabar aja.”

Penjelasan:
Kata order dan latte disisipkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian dari campur kode jenis insertion.

Ilustrasi 4: Percakapan di media sosial

“Hari ini mood-ku lagi down banget, need some me time!”

Penjelasan:
Kalimat ini menunjukkan campur kode di mana penutur mencampurkan kosakata bahasa Inggris (mood, need some me time) ke dalam bahasa Indonesia untuk ekspresi emosional.

 

Perbedaan Antara Alih Kode dan Campur Kode

Meskipun sekilas mirip, alih kode dan campur kode memiliki perbedaan mendasar dalam fungsi, bentuk, dan konteks penggunaannya.

Aspek

Alih Kode

Campur Kode

Definisi

Pergantian bahasa secara utuh dari satu kode ke kode lain.

Penyisipan unsur bahasa lain ke dalam bahasa utama.

Fungsi

Menyesuaikan situasi atau lawan bicara.

Menambah variasi, gaya, atau ekspresi.

Cakupan

Pergantian antarkalimat atau antarwacana.

Terjadi di dalam satu kalimat.

Kesadaran Penutur

Umumnya disadari dan disengaja.

Sering kali tidak disadari.

Contoh

“Besok saya ujian. Wish me luck, ya!”

“Aku lagi deadline tugas nih.”

Perbedaan ini menunjukkan bahwa alih kode lebih bersifat fungsional, sedangkan campur kode lebih bersifat ekspresif atau gaya bicara (Suwito, 1985).

 

Faktor Penyebab Alih Kode dan Campur Kode

Berbagai faktor dapat menyebabkan seseorang melakukan alih kode dan campur kode. Menurut Holmes (2013), Nababan (1993), dan Wardhaugh (2006), faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi faktor sosial, situasional, dan psikologis.

1. Faktor Sosial

·         Latar belakang sosial penutur: Pendidikan, pekerjaan, dan kelas sosial memengaruhi pilihan bahasa.

·         Usia dan gaya hidup: Remaja sering menggunakan campur kode untuk menandakan identitas modern.

·         Identitas kelompok: Komunitas tertentu menggunakan campur kode sebagai tanda solidaritas.

Contoh:

“Guys, kita meeting di co-working space aja, biar vibes-nya enak.”
Campur kode digunakan untuk menunjukkan gaya hidup urban dan profesional.

2. Faktor Situasional

·         Lawan bicara: Penutur menyesuaikan bahasa dengan siapa dia berbicara.

·         Topik pembicaraan: Topik teknis atau akademik sering memunculkan istilah asing.

·         Tempat dan konteks: Di ruang formal, penutur lebih berhati-hati memilih kode bahasa.

Contoh:

Dosen: “Silakan presentasinya dimulai.”
Mahasiswa: “Yes, Sir. So, today I will explain about sociolinguistics in daily life.”
Alih kode terjadi karena konteks akademik dan penggunaan istilah ilmiah.

3. Faktor Psikologis

·         Kebiasaan linguistik: Penutur bilingual sering berpindah bahasa tanpa disadari.

·         Prestise bahasa: Bahasa asing seperti Inggris sering diasosiasikan dengan status sosial tinggi.

·         Keinginan ekspresif: Penutur menggunakan campur kode untuk menambah nuansa emosi atau gaya.

Contoh:

“Duh, capek banget deh, my brain is totally tired!”
Penutur mencampur bahasa Inggris untuk memperkuat ekspresi emosional.

 

Alih Kode dan Campur Kode dalam Konteks Indonesia

Indonesia adalah negara multibahasa dan multikultural, sehingga alih kode dan campur kode menjadi hal wajar dalam komunikasi sehari-hari.

Alih Kode Antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah

Di banyak daerah, masyarakat beralih antara bahasa daerah (kode lokal) dan Bahasa Indonesia (kode nasional) tergantung situasi.

Contoh (Masyarakat Mandar, Sulawesi Barat):

A: “Iye, di mana buku ta?”
B: “Oh, di meja, tapi nanti kubawa ke kampus.”
(Campuran Bahasa Mandar dan Bahasa Indonesia)

Dalam contoh tersebut, kedua penutur berpindah dari bahasa Mandar ke Bahasa Indonesia untuk memperjelas maksud dan menyesuaikan konteks akademik.

Campur Kode dalam Media Sosial

Di media sosial, bahasa campuran menjadi gaya komunikasi populer.
Remaja sering mencampurkan bahasa Indonesia, Inggris, dan slang digital.

Contoh:

“Finally weekend! Waktunya chill dan binge-watch drama Korea 😍.”
“Bestie, kamu tuh too much deh, but I still love you!”

Fenomena ini menunjukkan identitas sosial baru di dunia digital, di mana campur kode menjadi simbol kedekatan, ekspresi, dan modernitas (Androutsopoulos, 2015).

 

Dampak Sosial dan Budaya

Fenomena alih kode dan campur kode tidak hanya berdampak pada linguistik, tetapi juga pada budaya dan identitas sosial.

·         Di satu sisi, hal ini memperkaya ekspresi komunikasi dan menunjukkan fleksibilitas penutur.

·         Namun di sisi lain, terlalu sering mencampur bahasa dapat mengancam kemurnian bahasa nasional jika tidak diimbangi dengan kesadaran kebahasaan.

Oleh karena itu, penting bagi masyarakat bilingual dan multilingual untuk menyadari fungsi sosial tiap bahasa, agar variasi bahasa menjadi kekuatan, bukan sumber pergeseran identitas linguistik.

 

Kesimpulan

Alih kode dan campur kode adalah dua fenomena penting yang mencerminkan realitas multibahasa masyarakat Indonesia.

·         Alih kode terjadi ketika penutur berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain untuk menyesuaikan konteks sosial.

·         Campur kode terjadi ketika penutur mencampurkan unsur bahasa lain ke dalam satu kalimat untuk tujuan ekspresif.

Keduanya dipengaruhi oleh faktor sosial, situasional, dan psikologis, serta mencerminkan identitas, solidaritas, dan prestise bahasa dalam masyarakat.

Di era globalisasi dan digitalisasi, fenomena ini semakin berkembang, terutama di kalangan muda dan media sosial. Tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara kebebasan berbahasa dan pelestarian bahasa nasional.

 

Daftar Pustaka

·         Androutsopoulos, J. (2015). Networked multilingualism: Some language practices on Facebook and their implications. International Journal of Bilingualism, 19(2), 185–205.

·         Hymes, D. (1974). Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic Approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.

·         Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th ed.). Routledge.

·         Hudson, R. A. (1996). Sociolinguistics (2nd ed.). Cambridge University Press.

·         Muysken, P. (2000). Bilingual Speech: A Typology of Code-Mixing. Cambridge University Press.

·         Nababan, P. W. J. (1993). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta: Gramedia.

·         Suwito. (1985). Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset.

·         Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics (5th ed.). Blackwell Publishing.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...