Pendahuluan
Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Indonesia
sering menggunakan lebih dari satu bahasa
dalam berinteraksi. Fenomena ini mencerminkan kekayaan linguistik bangsa yang
multibahasa, tetapi juga menghadirkan dinamika komunikasi yang kompleks. Di
pasar, di sekolah, bahkan di media sosial, kita kerap mendengar seseorang
berbicara dalam bahasa Indonesia,
lalu beralih ke bahasa daerah,
atau menyisipkan kata-kata bahasa
Inggris di tengah percakapan.
Fenomena ini dikenal dalam linguistik sebagai alih kode (code-switching)
dan campur kode
(code-mixing) — dua konsep penting dalam kajian sosiolinguistik yang
membahas bagaimana penutur berpindah atau mencampur dua bahasa dalam
komunikasi.
Artikel ini membahas secara mendalam pengertian, perbedaan, dan faktor
penyebab alih kode dan campur kode, dilengkapi dengan contoh ilustratif percakapan nyata
yang menggambarkan praktik kebahasaan masyarakat Indonesia.
| Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing |
Definisi Alih Kode
Alih
kode (code-switching) adalah peristiwa pergantian bahasa atau ragam bahasa
dari satu kode ke kode lain dalam situasi komunikasi tertentu (Wardhaugh,
2006). Pergantian ini dapat terjadi antarbahasa (misalnya Indonesia ↔ Inggris),
antardialek, atau antarragam (formal ↔ informal).
Menurut Hymes
(1974), alih kode merupakan fenomena yang terjadi karena penutur menyesuaikan diri dengan konteks
sosial, misalnya siapa lawan bicaranya, tempat berbicara, dan
tujuan komunikasi.
Hudson
(1996) juga menegaskan bahwa alih kode bukan sekadar kebiasaan
spontan, tetapi mencerminkan kompetensi
sosiolinguistik penutur—kemampuan memilih bahasa yang tepat
dalam konteks yang sesuai.
Contoh
Alih Kode
Ilustrasi
1: Percakapan di sekolah
Guru: “Anak-anak,
besok kita ulangan ya.”
Siswa: “Oke Bu, tapi kalau bisa jangan too early ya, masih ngantuk jam segitu.”
Guru: “Haha, ya sudah jam sembilan saja.”
Penjelasan:
Siswa berpindah dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris (“too early”) untuk
menekankan makna tertentu dan menunjukkan pengaruh gaya remaja yang modern.
Ilustrasi
2: Percakapan di rumah
Ibu: “Nak, ambilkan
air di dapur.”
Anak: “Okay, Ma. Wait a second.”
Penjelasan:
Anak beralih dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris karena kebiasaan bilingual
di rumah.
Definisi Campur Kode
Berbeda dengan alih kode, campur kode (code-mixing)
adalah penyisipan unsur bahasa
lain ke dalam bahasa utama tanpa berpindah sepenuhnya ke bahasa
tersebut (Nababan, 1993).
Campur kode biasanya terjadi ketika penutur mencampurkan kata, frasa, atau klausa
dari bahasa lain dalam satu kalimat. Fenomena ini sering kali tidak disadari
dan mencerminkan identitas sosial dan
budaya penutur.
Menurut Muysken
(2000), campur kode dapat berupa:
1.
Insertion (penyisipan kata)
– menambahkan kata atau istilah asing ke dalam struktur bahasa utama.
2.
Alternation (pergantian struktur)
– berpindah sebagian struktur kalimat ke bahasa lain.
3.
Congruent lexicalization (pencampuran
leksikal serentak) – kedua bahasa digunakan bersamaan dalam
satu pola sintaksis.
Contoh
Campur Kode
Ilustrasi
3: Percakapan di kafe
A: “Tadi aku order
latte satu, tapi belum datang juga.”
B: “Maybe they’re too busy, sabar aja.”
Penjelasan:
Kata order dan latte disisipkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai bagian
dari campur kode jenis insertion.
Ilustrasi
4: Percakapan di media sosial
“Hari ini mood-ku
lagi down banget, need some me time!”
Penjelasan:
Kalimat ini menunjukkan campur kode di mana penutur mencampurkan kosakata
bahasa Inggris (mood, need some me time) ke dalam bahasa Indonesia
untuk ekspresi emosional.
Perbedaan Antara Alih Kode dan Campur Kode
Meskipun sekilas mirip, alih kode dan campur kode memiliki
perbedaan mendasar dalam fungsi,
bentuk, dan konteks penggunaannya.
|
Aspek |
Alih
Kode |
Campur
Kode |
|
Definisi |
Pergantian bahasa secara utuh dari satu kode ke kode lain. |
Penyisipan unsur bahasa lain ke dalam bahasa utama. |
|
Fungsi |
Menyesuaikan situasi atau lawan bicara. |
Menambah variasi, gaya, atau ekspresi. |
|
Cakupan |
Pergantian antarkalimat atau antarwacana. |
Terjadi di dalam satu kalimat. |
|
Kesadaran
Penutur |
Umumnya disadari dan disengaja. |
Sering kali tidak disadari. |
|
Contoh |
“Besok saya ujian. Wish me luck, ya!” |
“Aku lagi deadline tugas nih.” |
Perbedaan ini menunjukkan bahwa alih kode lebih bersifat fungsional,
sedangkan campur kode lebih
bersifat ekspresif atau gaya bicara (Suwito, 1985).
Faktor Penyebab Alih Kode dan Campur Kode
Berbagai faktor dapat menyebabkan seseorang
melakukan alih kode dan campur kode. Menurut Holmes (2013), Nababan (1993), dan
Wardhaugh (2006), faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi faktor sosial, situasional, dan
psikologis.
1.
Faktor Sosial
·
Latar belakang sosial penutur:
Pendidikan, pekerjaan, dan kelas sosial memengaruhi pilihan bahasa.
·
Usia dan gaya hidup:
Remaja sering menggunakan campur kode untuk menandakan identitas modern.
·
Identitas kelompok:
Komunitas tertentu menggunakan campur kode sebagai tanda solidaritas.
Contoh:
“Guys, kita
meeting di co-working space aja, biar vibes-nya enak.”
Campur kode digunakan untuk menunjukkan gaya hidup urban dan profesional.
2.
Faktor Situasional
·
Lawan bicara: Penutur
menyesuaikan bahasa dengan siapa dia berbicara.
·
Topik pembicaraan: Topik
teknis atau akademik sering memunculkan istilah asing.
·
Tempat dan konteks: Di
ruang formal, penutur lebih berhati-hati memilih kode bahasa.
Contoh:
Dosen: “Silakan
presentasinya dimulai.”
Mahasiswa: “Yes, Sir. So, today I will explain about sociolinguistics in daily
life.”
Alih kode terjadi karena konteks akademik dan penggunaan istilah ilmiah.
3.
Faktor Psikologis
·
Kebiasaan linguistik:
Penutur bilingual sering berpindah bahasa tanpa disadari.
·
Prestise bahasa: Bahasa
asing seperti Inggris sering diasosiasikan dengan status sosial tinggi.
·
Keinginan ekspresif:
Penutur menggunakan campur kode untuk menambah nuansa emosi atau gaya.
Contoh:
“Duh, capek banget
deh, my brain is totally tired!”
Penutur mencampur bahasa Inggris untuk memperkuat ekspresi emosional.
Alih Kode dan Campur Kode dalam Konteks Indonesia
Indonesia adalah negara multibahasa dan multikultural,
sehingga alih kode dan campur kode menjadi hal wajar dalam komunikasi
sehari-hari.
Alih
Kode Antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Daerah
Di banyak daerah, masyarakat beralih antara bahasa daerah (kode lokal)
dan Bahasa Indonesia (kode
nasional) tergantung situasi.
Contoh
(Masyarakat Mandar, Sulawesi Barat):
A: “Iye, di mana
buku ta?”
B: “Oh, di meja, tapi nanti kubawa ke kampus.”
(Campuran Bahasa Mandar dan Bahasa Indonesia)
Dalam contoh tersebut, kedua penutur berpindah
dari bahasa Mandar ke Bahasa Indonesia untuk memperjelas maksud dan
menyesuaikan konteks akademik.
Campur
Kode dalam Media Sosial
Di media sosial, bahasa campuran menjadi gaya
komunikasi populer.
Remaja sering mencampurkan bahasa Indonesia, Inggris, dan slang digital.
Contoh:
“Finally weekend!
Waktunya chill dan binge-watch drama Korea 😍.”
“Bestie, kamu tuh too much deh, but I still love you!”
Fenomena ini menunjukkan identitas sosial baru di
dunia digital, di mana campur kode menjadi simbol kedekatan, ekspresi, dan
modernitas (Androutsopoulos, 2015).
Dampak Sosial dan Budaya
Fenomena alih kode dan campur kode tidak hanya
berdampak pada linguistik, tetapi juga pada
budaya dan identitas sosial.
·
Di satu sisi, hal ini
memperkaya ekspresi komunikasi dan menunjukkan fleksibilitas penutur.
·
Namun di sisi lain, terlalu
sering mencampur bahasa dapat mengancam kemurnian
bahasa nasional jika tidak diimbangi dengan kesadaran
kebahasaan.
Oleh karena itu, penting bagi masyarakat
bilingual dan multilingual untuk menyadari
fungsi sosial tiap bahasa, agar variasi bahasa menjadi
kekuatan, bukan sumber pergeseran identitas linguistik.
Kesimpulan
Alih kode dan campur kode adalah dua fenomena
penting yang mencerminkan realitas
multibahasa masyarakat Indonesia.
·
Alih kode terjadi ketika
penutur berpindah dari satu bahasa ke bahasa lain untuk menyesuaikan konteks
sosial.
·
Campur kode terjadi
ketika penutur mencampurkan unsur bahasa lain ke dalam satu kalimat untuk
tujuan ekspresif.
Keduanya dipengaruhi oleh faktor sosial, situasional, dan
psikologis, serta mencerminkan identitas, solidaritas, dan prestise
bahasa dalam masyarakat.
Di era globalisasi dan digitalisasi, fenomena
ini semakin berkembang, terutama di kalangan muda dan media sosial. Tantangan
ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan
antara kebebasan berbahasa dan pelestarian bahasa nasional.
Daftar
Pustaka
·
Androutsopoulos, J. (2015).
Networked multilingualism: Some language practices on Facebook and their
implications. International Journal of
Bilingualism, 19(2), 185–205.
·
Hymes, D. (1974). Foundations in Sociolinguistics: An Ethnographic
Approach. Philadelphia: University of Pennsylvania Press.
·
Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th
ed.). Routledge.
·
Hudson, R. A. (1996). Sociolinguistics (2nd ed.). Cambridge
University Press.
·
Muysken, P. (2000). Bilingual Speech: A Typology of Code-Mixing.
Cambridge University Press.
·
Nababan, P. W. J. (1993). Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. Jakarta:
Gramedia.
·
Suwito. (1985). Sosiolinguistik: Teori dan Problema.
Surakarta: Henary Offset.
·
Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics (5th
ed.). Blackwell Publishing.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar