Pendahuluan
Bahasa tidak
hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan struktur
sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Dalam konteks sosiolinguistik, sering
kali satu masyarakat menggunakan dua ragam bahasa atau lebih untuk
tujuan yang berbeda. Fenomena ini disebut diglosia.
Di
Indonesia, fenomena diglosia terlihat jelas dalam pemilihan antara bahasa
daerah dan Bahasa Indonesia, serta antara ragam resmi (baku) dan ragam
sehari-hari (nonbaku). Masyarakat dengan tingkat pendidikan, situasi, dan
konteks sosial yang beragam cenderung menyesuaikan pemakaian bahasa mereka
sesuai tempat dan lawan bicara.
Artikel ini
membahas secara mendalam tentang pengertian diglosia, perbedaan
antara bahasa tinggi (High Variety) dan bahasa rendah (Low Variety), serta contoh-contoh
nyata dalam masyarakat Indonesia, dengan dukungan teori sosiolinguistik dan
referensi akademik.
![]() |
| Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing |
Pengertian
Diglosia
Istilah diglosia
pertama kali diperkenalkan oleh Charles A. Ferguson (1959) dalam
artikelnya yang berjudul Diglossia di jurnal Word. Ia
mendefinisikan diglosia sebagai:
“A
relatively stable language situation in which, in addition to the primary
dialects of the language, there is a very divergent, highly codified (often
grammatically more complex) superposed variety, the vehicle of a large and
respected body of written literature, either of an earlier period or in another
speech community, which is learned largely by formal education and is used for
most written and formal spoken purposes.”
(Ferguson, 1959, p. 336)
Dengan kata
lain, diglosia adalah situasi ketika dua bentuk bahasa (atau dua variasi
dari bahasa yang sama) digunakan secara berdampingan dalam masyarakat,
masing-masing memiliki fungsi sosial yang berbeda.
Varietas “tinggi”
(H) biasanya digunakan dalam konteks resmi seperti pendidikan,
pemerintahan, dan keagamaan. Sedangkan varietas “rendah” (L) digunakan
dalam percakapan sehari-hari, di lingkungan keluarga, atau pergaulan santai.
Joshua
Fishman (1967) memperluas konsep ini dengan menyatakan bahwa diglosia tidak hanya
terbatas pada dua varietas dari satu bahasa, tetapi juga bisa terjadi antara dua
bahasa yang berbeda. Misalnya, penggunaan Bahasa Indonesia (H) dan Bahasa
Jawa (L) dalam masyarakat Jawa.
Bahasa
Tinggi (High Variety) dan Bahasa Rendah (Low Variety)
Fenomena
diglosia selalu melibatkan dua tingkat bahasa yang memiliki peran sosial
berbeda:
1. Bahasa
Tinggi (High Variety / H)
Bahasa
tinggi digunakan dalam konteks resmi, formal, dan prestisius.
Ciri-cirinya antara lain:
- Dipelajari secara formal di sekolah.
- Digunakan dalam pidato resmi, surat dinas,
peraturan pemerintah, dan karya ilmiah.
- Tata bahasa dan kosakatanya dianggap “lebih baik”
atau “lebih benar”.
- Tidak selalu menjadi bahasa ibu.
Contoh di
Indonesia:
- Bahasa Indonesia baku dalam surat resmi, kuliah,
berita televisi, atau dokumen hukum.
- Dalam masyarakat Arab, bahasa tinggi adalah Arabic
FusḼa (bahasa Arab standar) yang digunakan di media dan Al-Qur’an.
2. Bahasa
Rendah (Low Variety / L)
Bahasa
rendah digunakan dalam komunikasi informal dan akrab. Ciri-cirinya:
- Dipelajari secara alami di rumah atau lingkungan
sekitar.
- Digunakan dalam percakapan sehari-hari, humor,
dan ekspresi spontan.
- Struktur gramatikalnya lebih sederhana.
- Mengandung unsur lokal atau dialek.
Contoh di
Indonesia:
- Bahasa Jawa Ngoko, Bahasa Sunda Loma, Bahasa
Indonesia nonbaku, atau bahasa daerah lain yang digunakan antaranggota
keluarga.
- Dalam konteks dunia Arab, bahasa sehari-hari
seperti Arabic Egyptian Dialect adalah varietas L.
Karakteristik
Diglosia Menurut Ferguson (1959)
Ferguson
(1959) mengidentifikasi empat contoh klasik masyarakat diglosik: Arab,
Yunani, Swiss Jerman, dan Haiti. Dari penelitian tersebut, ia merumuskan
delapan ciri utama diglosia, yang juga dapat diterapkan dalam konteks
Indonesia:
- Fungsi: H untuk situasi formal; L untuk situasi
informal.
- Prestise: H dianggap lebih bergengsi; L lebih rendah
nilainya.
- Warisan Sastra: H biasanya memiliki tradisi tulisan yang kuat.
- Perolehan: L diperoleh secara alami sejak kecil; H
dipelajari di sekolah.
- Standarisasi: H memiliki aturan tata bahasa yang baku.
- Stabilitas: Situasi diglosia cenderung stabil dalam waktu
lama.
- Gramatika dan kosakata: H
lebih kompleks dan resmi; L lebih fleksibel.
- Tata nilai sosial:
Penggunaan H menandakan status sosial tinggi dan pendidikan formal.
Contoh
Diglosia dalam Masyarakat Indonesia
1. Bahasa
Indonesia vs Bahasa Daerah
Indonesia
merupakan contoh nyata masyarakat diglosik. Sebagian besar penduduk Indonesia
menguasai dua bahasa: bahasa daerah dan Bahasa Indonesia.
Dalam
konteks ini:
- Bahasa Indonesia → berfungsi sebagai bahasa
tinggi (H).
- Bahasa daerah (misalnya Bahasa Jawa, Bugis,
Mandar, atau Sunda) → berfungsi sebagai bahasa rendah (L).
Contoh
situasi:
- Di rumah, orang berbicara dalam bahasa daerah.
- Di kantor, sekolah, atau instansi resmi, mereka
menggunakan Bahasa Indonesia baku.
Misalnya,
masyarakat Mandar di Sulawesi Barat:
“Nak,
ambilkan piring di dapur, cepatto!” (Bahasa Mandar – L)
“Tolong ambilkan piring di dapur.” (Bahasa Indonesia – H)
2. Bahasa
Indonesia Baku vs Nonbaku
Selain
antarbahasa, diglosia juga terjadi di dalam satu bahasa — yakni antara
Bahasa Indonesia baku (H) dan nonbaku (L).
Contoh:
- Ragam H (baku): “Saya tidak dapat menghadiri rapat karena ada
urusan penting.”
- Ragam L (nonbaku): “Aku
nggak bisa ikut rapat, soalnya ada urusan.”
Ragam H
digunakan dalam konteks akademik, pemerintahan, atau pidato resmi, sedangkan
ragam L digunakan dalam percakapan sehari-hari atau media sosial.
3. Bahasa
Santri dan Bahasa Umum di Pesantren
Dalam
lingkungan pesantren, sering terjadi diglosia antara bahasa Arab klasik (H)
dengan bahasa Indonesia atau daerah (L). Bahasa Arab digunakan dalam
pembelajaran kitab dan kegiatan keagamaan, sedangkan bahasa daerah digunakan
dalam percakapan antar santri.
Contoh:
Bahasa
tinggi (H): “Mari kita
bahas makna fi’il madhi dalam ayat ini.”
Bahasa rendah (L): “Ayo, bahas dulu arti katanya, nanti lanjut
tafsirnya.”
4. Bahasa
Gaul dan Bahasa Formal di Media Sosial
Di dunia
digital, terutama di kalangan remaja, terjadi fenomena diglosia modern. Mereka
menggunakan bahasa gaul (L) di media sosial dan bahasa formal (H)
di konteks akademik.
Contoh:
- Bahasa tinggi (H):
“Terima kasih atas perhatiannya, sampai jumpa di kesempatan berikutnya.”
- Bahasa rendah (L):
“Makasih ya guys, see u next time!”
Faktor yang
Menyebabkan Diglosia
Menurut
Holmes (2013) dan Wardhaugh (2006), beberapa faktor yang menyebabkan munculnya
diglosia antara lain:
- Fungsi sosial bahasa:
Perbedaan peran bahasa dalam situasi formal dan informal.
- Pendidikan: Bahasa tinggi sering diajarkan secara resmi di
sekolah.
- Sejarah kolonial dan nasionalisme: Bahasa
nasional dijadikan simbol persatuan, sementara bahasa lokal tetap bertahan
di tingkat komunitas.
- Mobilitas sosial:
Penguasaan bahasa tinggi sering menjadi penanda status sosial atau
pendidikan yang lebih tinggi.
- Media dan teknologi: Bahasa
tinggi digunakan di berita atau dokumen resmi, sedangkan bahasa rendah
berkembang di media sosial.
Diglosia dan
Perubahan Sosial
Fenomena
diglosia bersifat dinamis, artinya peran H dan L dapat berubah seiring
waktu. Dalam masyarakat modern, batas antara bahasa tinggi dan rendah semakin
kabur.
Misalnya, bahasa
gaul Jakarta yang awalnya dianggap bahasa rendah kini sering digunakan di
televisi dan media digital, sehingga mendapatkan status sosial yang lebih
tinggi. Sebaliknya, bahasa daerah bisa mengalami penurunan fungsi karena kurang
digunakan oleh generasi muda.
Fishman
(1972) menyebut fenomena ini sebagai “extended diglossia”, di mana
bentuk H dan L bisa bergeser karena pengaruh modernisasi, pendidikan, dan
globalisasi.
Kesimpulan
Diglosia
merupakan fenomena yang memperlihatkan bagaimana bahasa mencerminkan
struktur sosial dan nilai budaya suatu masyarakat. Perbedaan antara bahasa
tinggi (H) dan bahasa rendah (L) tidak hanya soal tata bahasa,
tetapi juga tentang siapa yang berbicara, kepada siapa, dan dalam situasi
apa.
Dalam
konteks Indonesia, fenomena diglosia terlihat dalam penggunaan Bahasa Indonesia
dan bahasa daerah, serta ragam baku dan nonbaku. Masyarakat Mandar, Jawa, dan
Sunda adalah contoh nyata komunitas diglosik yang mampu menyeimbangkan
identitas lokal dan nasional.
Di era
globalisasi, tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan fungsi sosial
kedua ragam bahasa agar tetap hidup berdampingan. Dengan memahami diglosia,
kita tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga memahami hubungan antara
bahasa, kekuasaan, dan budaya dalam masyarakat yang multibahasa seperti
Indonesia.
Daftar
Pustaka
- Baker, C. (2011). Foundations of Bilingual
Education and Bilingualism (5th ed.). Multilingual Matters.
- Ferguson, C. A. (1959). Diglossia. Word,
15(2), 325–340.
- Fishman, J. A. (1967). Bilingualism with and
without diglossia; diglossia with and without bilingualism. Journal of
Social Issues, 23(2), 29–38.
- Fishman, J. A. (1972). The Sociology of
Language. Rowley, MA: Newbury House.
- Holmes, J. (2013). An Introduction to
Sociolinguistics (4th ed.). Routledge.
- Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to
Sociolinguistics (5th ed.). Blackwell Publishing.
- Suwito. (1985). Sosiolinguistik: Teori dan
Problema. Surakarta: Henary Offset.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar