Sabtu, 08 November 2025

Diglosia: Dinamika Bahasa Tinggi dan Bahasa Rendah dalam Masyarakat Indonesia (08)

Pendahuluan

Bahasa tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga mencerminkan struktur sosial dan budaya masyarakat penuturnya. Dalam konteks sosiolinguistik, sering kali satu masyarakat menggunakan dua ragam bahasa atau lebih untuk tujuan yang berbeda. Fenomena ini disebut diglosia.

Di Indonesia, fenomena diglosia terlihat jelas dalam pemilihan antara bahasa daerah dan Bahasa Indonesia, serta antara ragam resmi (baku) dan ragam sehari-hari (nonbaku). Masyarakat dengan tingkat pendidikan, situasi, dan konteks sosial yang beragam cenderung menyesuaikan pemakaian bahasa mereka sesuai tempat dan lawan bicara.

Artikel ini membahas secara mendalam tentang pengertian diglosia, perbedaan antara bahasa tinggi (High Variety) dan bahasa rendah (Low Variety), serta contoh-contoh nyata dalam masyarakat Indonesia, dengan dukungan teori sosiolinguistik dan referensi akademik.

 

Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing


Pengertian Diglosia

Istilah diglosia pertama kali diperkenalkan oleh Charles A. Ferguson (1959) dalam artikelnya yang berjudul Diglossia di jurnal Word. Ia mendefinisikan diglosia sebagai:

“A relatively stable language situation in which, in addition to the primary dialects of the language, there is a very divergent, highly codified (often grammatically more complex) superposed variety, the vehicle of a large and respected body of written literature, either of an earlier period or in another speech community, which is learned largely by formal education and is used for most written and formal spoken purposes.”
(Ferguson, 1959, p. 336)

Dengan kata lain, diglosia adalah situasi ketika dua bentuk bahasa (atau dua variasi dari bahasa yang sama) digunakan secara berdampingan dalam masyarakat, masing-masing memiliki fungsi sosial yang berbeda.

Varietas “tinggi” (H) biasanya digunakan dalam konteks resmi seperti pendidikan, pemerintahan, dan keagamaan. Sedangkan varietas “rendah” (L) digunakan dalam percakapan sehari-hari, di lingkungan keluarga, atau pergaulan santai.

Joshua Fishman (1967) memperluas konsep ini dengan menyatakan bahwa diglosia tidak hanya terbatas pada dua varietas dari satu bahasa, tetapi juga bisa terjadi antara dua bahasa yang berbeda. Misalnya, penggunaan Bahasa Indonesia (H) dan Bahasa Jawa (L) dalam masyarakat Jawa.

 

Bahasa Tinggi (High Variety) dan Bahasa Rendah (Low Variety)

Fenomena diglosia selalu melibatkan dua tingkat bahasa yang memiliki peran sosial berbeda:

1. Bahasa Tinggi (High Variety / H)

Bahasa tinggi digunakan dalam konteks resmi, formal, dan prestisius. Ciri-cirinya antara lain:

  • Dipelajari secara formal di sekolah.
  • Digunakan dalam pidato resmi, surat dinas, peraturan pemerintah, dan karya ilmiah.
  • Tata bahasa dan kosakatanya dianggap “lebih baik” atau “lebih benar”.
  • Tidak selalu menjadi bahasa ibu.

Contoh di Indonesia:

  • Bahasa Indonesia baku dalam surat resmi, kuliah, berita televisi, atau dokumen hukum.
  • Dalam masyarakat Arab, bahasa tinggi adalah Arabic FusḼa (bahasa Arab standar) yang digunakan di media dan Al-Qur’an.

2. Bahasa Rendah (Low Variety / L)

Bahasa rendah digunakan dalam komunikasi informal dan akrab. Ciri-cirinya:

  • Dipelajari secara alami di rumah atau lingkungan sekitar.
  • Digunakan dalam percakapan sehari-hari, humor, dan ekspresi spontan.
  • Struktur gramatikalnya lebih sederhana.
  • Mengandung unsur lokal atau dialek.

Contoh di Indonesia:

  • Bahasa Jawa Ngoko, Bahasa Sunda Loma, Bahasa Indonesia nonbaku, atau bahasa daerah lain yang digunakan antaranggota keluarga.
  • Dalam konteks dunia Arab, bahasa sehari-hari seperti Arabic Egyptian Dialect adalah varietas L.

 

Karakteristik Diglosia Menurut Ferguson (1959)

Ferguson (1959) mengidentifikasi empat contoh klasik masyarakat diglosik: Arab, Yunani, Swiss Jerman, dan Haiti. Dari penelitian tersebut, ia merumuskan delapan ciri utama diglosia, yang juga dapat diterapkan dalam konteks Indonesia:

  1. Fungsi: H untuk situasi formal; L untuk situasi informal.
  2. Prestise: H dianggap lebih bergengsi; L lebih rendah nilainya.
  3. Warisan Sastra: H biasanya memiliki tradisi tulisan yang kuat.
  4. Perolehan: L diperoleh secara alami sejak kecil; H dipelajari di sekolah.
  5. Standarisasi: H memiliki aturan tata bahasa yang baku.
  6. Stabilitas: Situasi diglosia cenderung stabil dalam waktu lama.
  7. Gramatika dan kosakata: H lebih kompleks dan resmi; L lebih fleksibel.
  8. Tata nilai sosial: Penggunaan H menandakan status sosial tinggi dan pendidikan formal.

 

Contoh Diglosia dalam Masyarakat Indonesia

1. Bahasa Indonesia vs Bahasa Daerah

Indonesia merupakan contoh nyata masyarakat diglosik. Sebagian besar penduduk Indonesia menguasai dua bahasa: bahasa daerah dan Bahasa Indonesia.

Dalam konteks ini:

  • Bahasa Indonesia → berfungsi sebagai bahasa tinggi (H).
  • Bahasa daerah (misalnya Bahasa Jawa, Bugis, Mandar, atau Sunda) → berfungsi sebagai bahasa rendah (L).

Contoh situasi:

  • Di rumah, orang berbicara dalam bahasa daerah.
  • Di kantor, sekolah, atau instansi resmi, mereka menggunakan Bahasa Indonesia baku.

Misalnya, masyarakat Mandar di Sulawesi Barat:

“Nak, ambilkan piring di dapur, cepatto!” (Bahasa Mandar – L)
“Tolong ambilkan piring di dapur.” (Bahasa Indonesia – H)

2. Bahasa Indonesia Baku vs Nonbaku

Selain antarbahasa, diglosia juga terjadi di dalam satu bahasa — yakni antara Bahasa Indonesia baku (H) dan nonbaku (L).

Contoh:

  • Ragam H (baku): “Saya tidak dapat menghadiri rapat karena ada urusan penting.”
  • Ragam L (nonbaku): “Aku nggak bisa ikut rapat, soalnya ada urusan.”

Ragam H digunakan dalam konteks akademik, pemerintahan, atau pidato resmi, sedangkan ragam L digunakan dalam percakapan sehari-hari atau media sosial.

3. Bahasa Santri dan Bahasa Umum di Pesantren

Dalam lingkungan pesantren, sering terjadi diglosia antara bahasa Arab klasik (H) dengan bahasa Indonesia atau daerah (L). Bahasa Arab digunakan dalam pembelajaran kitab dan kegiatan keagamaan, sedangkan bahasa daerah digunakan dalam percakapan antar santri.

Contoh:

Bahasa tinggi (H): “Mari kita bahas makna fi’il madhi dalam ayat ini.”
Bahasa rendah (L): “Ayo, bahas dulu arti katanya, nanti lanjut tafsirnya.”

4. Bahasa Gaul dan Bahasa Formal di Media Sosial

Di dunia digital, terutama di kalangan remaja, terjadi fenomena diglosia modern. Mereka menggunakan bahasa gaul (L) di media sosial dan bahasa formal (H) di konteks akademik.

Contoh:

  • Bahasa tinggi (H): “Terima kasih atas perhatiannya, sampai jumpa di kesempatan berikutnya.”
  • Bahasa rendah (L): “Makasih ya guys, see u next time!”

 

Faktor yang Menyebabkan Diglosia

Menurut Holmes (2013) dan Wardhaugh (2006), beberapa faktor yang menyebabkan munculnya diglosia antara lain:

  1. Fungsi sosial bahasa: Perbedaan peran bahasa dalam situasi formal dan informal.
  2. Pendidikan: Bahasa tinggi sering diajarkan secara resmi di sekolah.
  3. Sejarah kolonial dan nasionalisme: Bahasa nasional dijadikan simbol persatuan, sementara bahasa lokal tetap bertahan di tingkat komunitas.
  4. Mobilitas sosial: Penguasaan bahasa tinggi sering menjadi penanda status sosial atau pendidikan yang lebih tinggi.
  5. Media dan teknologi: Bahasa tinggi digunakan di berita atau dokumen resmi, sedangkan bahasa rendah berkembang di media sosial.

 

Diglosia dan Perubahan Sosial

Fenomena diglosia bersifat dinamis, artinya peran H dan L dapat berubah seiring waktu. Dalam masyarakat modern, batas antara bahasa tinggi dan rendah semakin kabur.

Misalnya, bahasa gaul Jakarta yang awalnya dianggap bahasa rendah kini sering digunakan di televisi dan media digital, sehingga mendapatkan status sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya, bahasa daerah bisa mengalami penurunan fungsi karena kurang digunakan oleh generasi muda.

Fishman (1972) menyebut fenomena ini sebagai “extended diglossia”, di mana bentuk H dan L bisa bergeser karena pengaruh modernisasi, pendidikan, dan globalisasi.

 

Kesimpulan

Diglosia merupakan fenomena yang memperlihatkan bagaimana bahasa mencerminkan struktur sosial dan nilai budaya suatu masyarakat. Perbedaan antara bahasa tinggi (H) dan bahasa rendah (L) tidak hanya soal tata bahasa, tetapi juga tentang siapa yang berbicara, kepada siapa, dan dalam situasi apa.

Dalam konteks Indonesia, fenomena diglosia terlihat dalam penggunaan Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, serta ragam baku dan nonbaku. Masyarakat Mandar, Jawa, dan Sunda adalah contoh nyata komunitas diglosik yang mampu menyeimbangkan identitas lokal dan nasional.

Di era globalisasi, tantangan terbesar adalah bagaimana mempertahankan fungsi sosial kedua ragam bahasa agar tetap hidup berdampingan. Dengan memahami diglosia, kita tidak hanya mempelajari bahasa, tetapi juga memahami hubungan antara bahasa, kekuasaan, dan budaya dalam masyarakat yang multibahasa seperti Indonesia.

 


Daftar Pustaka

  • Baker, C. (2011). Foundations of Bilingual Education and Bilingualism (5th ed.). Multilingual Matters.
  • Ferguson, C. A. (1959). Diglossia. Word, 15(2), 325–340.
  • Fishman, J. A. (1967). Bilingualism with and without diglossia; diglossia with and without bilingualism. Journal of Social Issues, 23(2), 29–38.
  • Fishman, J. A. (1972). The Sociology of Language. Rowley, MA: Newbury House.
  • Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th ed.). Routledge.
  • Wardhaugh, R. (2006). An Introduction to Sociolinguistics (5th ed.). Blackwell Publishing.
  • Suwito. (1985). Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset.

 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...