Oleh: Pusat Referensi Linguistik
1. Pendahuluan
Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat pembentuk identitas sosial. Melalui
bahasa, seseorang dapat dikenali asal-usulnya, tingkat pendidikannya, status
sosialnya, hingga kelompok budaya tempat ia bernaung. Dalam konteks
sosiolinguistik, bahasa dan identitas
sosial saling berkelindan: identitas memengaruhi pilihan bahasa,
sementara bahasa membentuk persepsi terhadap identitas seseorang (Wardhaugh
& Fuller, 2015).
Di Indonesia, masyarakat multikultural dengan
lebih dari 700 bahasa daerah menunjukkan dengan jelas bagaimana bahasa
berfungsi sebagai penanda identitas
kolektif maupun individual. Dialek, logat, dan gaya berbicara menjadi
simbol keanggotaan sosial yang tidak hanya membedakan “siapa kita”, tetapi juga
“bagaimana kita ingin dilihat”.
| Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing |
2. Bahasa sebagai Penanda Identitas Sosial
Bahasa adalah penanda identitas yang paling kuat dan nyata. Ia
mengandung simbol sosial, budaya, dan psikologis yang melekat pada penggunanya.
Menurut Holmes (2013), bahasa mencerminkan keanggotaan seseorang dalam kelompok
sosial tertentu dan membantu individu menegosiasikan posisi sosialnya dalam
masyarakat.
a. Bahasa dan Keanggotaan Sosial
Ketika seseorang menggunakan bahasa tertentu,
ia secara tidak langsung menyatakan afiliasi
sosial dan budaya. Contohnya:
·
Penggunaan bahasa daerah di
ranah informal menandakan kedekatan kultural dan keakraban.
·
Penggunaan bahasa Indonesia
baku dalam forum resmi menunjukkan identitas profesional dan berpendidikan.
·
Penggunaan bahasa Inggris
dalam konteks pekerjaan internasional memperlihatkan identitas global atau
modern.
Bahasa, dengan demikian, berperan seperti “seragam sosial” — menandakan kelompok
asal, profesi, bahkan orientasi ideologis seseorang. Dalam masyarakat yang
beragam seperti Indonesia, seseorang dapat memiliki identitas linguistik ganda, tergantung pada konteks
komunikasi dan audiensnya (Hudson, 1996).
b. Bahasa dan Representasi Diri
Bahasa juga digunakan untuk membangun citra diri (self-representation).
Seorang pejabat, misalnya, akan memilih bahasa yang formal, sopan, dan
sistematis untuk menunjukkan wibawa dan otoritas. Sebaliknya, remaja di media
sosial cenderung menggunakan bahasa gaul, singkatan, dan emoji untuk menegaskan
identitas kekinian serta kedekatan sosial dengan komunitasnya.
Contoh
ilustrasi:
·
“Selamat
pagi, rekan-rekan sekalian. Mari kita mulai rapat dengan doa.” (Identitas
formal-profesional)
·
“Bro,
gas nongkrong sore ini? Gue boring banget.” (Identitas remaja urban)
·
“Assalamu’alaikum,
Nak. Sudah makan?” (Identitas keluarga, penuh kehangatan dan tradisi)
Bahasa bukan hanya cara berbicara, tetapi juga
cara memposisikan diri di hadapan orang
lain.
3. Dialek sebagai Simbol Kelompok Sosial
Dialek
merupakan variasi bahasa yang mencerminkan asal-usul geografis atau sosial
penuturnya. Menurut Chambers dan Trudgill (1998), dialek tidak hanya perbedaan
bunyi dan struktur, tetapi juga identitas
sosial yang melekat pada komunitas.
a. Dialek dan Identitas Regional
Di Indonesia, logat daerah sering menjadi
penanda kebanggaan lokal. Misalnya:
·
Logat Makassar yang tegas dan cepat
menggambarkan karakter masyarakat yang lugas.
·
Logat Jawa yang lembut mencerminkan kesantunan
dan tata krama.
·
Logat Batak yang keras menunjukkan ketegasan
dan keberanian.
·
Logat Mandar yang khas dengan intonasi datar
melambangkan kejujuran dan keterbukaan.
Ketika seseorang berbicara dengan dialek
tertentu, ia membawa serta nilai-nilai budaya daerahnya. Dialek berfungsi
sebagai “bendera identitas” yang
menandai asal, rasa memiliki, dan solidaritas kelompok (Fasold, 1984).
b. Dialek dan Stratifikasi Sosial
Selain geografis, dialek juga dapat
mencerminkan stratifikasi sosial.
Dalam masyarakat urban, perbedaan dialek sering dikaitkan dengan tingkat pendidikan,
pekerjaan, atau kelas sosial. Misalnya, di Jakarta:
·
Dialek
“Jakarta Utara” sering diasosiasikan dengan masyarakat pekerja.
·
Dialek
“Jakarta Selatan” lebih diidentikkan dengan kaum menengah atas.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa dialek tidak
hanya berkaitan dengan asal daerah, tetapi juga dengan status sosial dan gaya hidup.
c. Ilustrasi Perbedaan Dialek
·
“Kamu
mau ke mana?” (Bahasa Indonesia baku)
·
“Kowe
arep menyang endi?” (Jawa)
·
“Ko
mo pi mana?” (Makassar)
·
“Iko
mo ka mana?” (Mandar)
Setiap bentuk memiliki nuansa sosial dan
emosional berbeda, dan penggunaannya menandai identitas serta keanggotaan
sosial tertentu.
4. Studi Kasus: Logat Daerah dalam Dunia
Kerja
Dalam dunia kerja modern, fenomena penggunaan logat daerah menjadi isu menarik dalam
konteks bahasa dan identitas. Di satu sisi, logat daerah dianggap sebagai warisan identitas budaya; di sisi lain,
ada anggapan bahwa logat tertentu bisa memengaruhi persepsi profesionalisme.
a. Tantangan Sosial di Dunia Profesional
Beberapa penelitian (misalnya, Rahmawati,
2019) menunjukkan bahwa pegawai dengan logat daerah kuat kadang menghadapi
stereotip negatif, seperti dianggap kurang “modern” atau “kurang
berpendidikan”. Hal ini terutama terjadi dalam lingkungan kerja yang menuntut
komunikasi standar, seperti perusahaan nasional atau multinasional.
Contoh:
·
Seorang
pegawai dari Sulawesi yang berbicara dengan logat Mandar mungkin dianggap
“kurang halus” oleh rekan kerja dari Jawa.
·
Sebaliknya,
pegawai dengan logat Jakarta atau bahasa Indonesia netral dianggap lebih
profesional, meski kompetensi sama.
Stereotip seperti ini memperlihatkan bagaimana
logat menjadi faktor sosial yang
memengaruhi persepsi identitas profesional.
b. Identitas yang Dipertahankan
Namun, tidak semua logat daerah dianggap
“menghambat.” Banyak tokoh publik yang justru bangga mempertahankan logatnya sebagai simbol keaslian
dan keterbukaan, misalnya:
·
Najwa Shihab yang tetap
mempertahankan intonasi Makassar dalam gaya bicaranya.
·
Ridwan Kamil yang menggunakan
gaya Sunda logis dan santai untuk menunjukkan kedekatan dengan masyarakat.
·
Para YouTuber lokal yang
menonjolkan logat daerah untuk membangun identitas digital yang autentik.
Dengan demikian, dalam dunia kerja modern, logat daerah dapat menjadi kekuatan identitas,
bukan kelemahan, selama digunakan dengan percaya diri dan komunikatif.
c. Ilustrasi Kasus
Situasi
1 – Rapat Formal:
Manajer (asal Jawa): “Bapak-Ibu, kita bahas dulu
agenda utama rapat hari ini.”
Staf (asal Mandar): “Iye, Pak. Jadi, kita fokus di bagian laporan, iya?”
→ Penggunaan “iye” menandakan identitas Mandar, namun tetap komunikatif
dan sopan.
Situasi
2 – Presentasi di Perusahaan Multinasional:
Karyawan: “Good morning everyone. Hari ini saya mau
presentasikan progress tim marketing di Makassar branch.”
→ Campuran logat lokal dan bahasa Inggris menunjukkan identitas
profesional sekaligus kebanggaan terhadap daerah asal.
5. Bahasa, Identitas, dan Globalisasi
Dalam era globalisasi, hubungan antara bahasa
dan identitas menjadi semakin kompleks. Bahasa Inggris, misalnya, digunakan
untuk menunjukkan identitas global, sementara bahasa daerah menegaskan
identitas lokal. Banyak orang Indonesia kini mempraktikkan identitas linguistik ganda:
·
Menggunakan bahasa
Indonesia formal di dunia kerja,
·
Menggunakan bahasa daerah
saat berinteraksi keluarga,
·
Menggunakan bahasa Inggris
di media sosial atau konteks akademik.
Fenomena ini menggambarkan fleksibilitas identitas sosial —
kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan berbagai komunitas tanpa
kehilangan akar budaya. Menurut Blommaert (2010), identitas bahasa di era
global bukanlah sesuatu yang statis, melainkan “portabel”, bisa berpindah mengikuti konteks sosial.
6. Kesimpulan
Bahasa dan identitas sosial memiliki hubungan
yang sangat erat. Bahasa tidak hanya mengungkapkan pikiran, tetapi juga menyatakan siapa kita dan di mana kita berdiri
dalam masyarakat. Dialek dan logat menjadi simbol kuat yang menandai
keanggotaan sosial, kebanggaan daerah, dan solidaritas kelompok.
Dalam dunia kerja modern, logat daerah kadang
menghadapi stereotip, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber keaslian dan daya
tarik identitas personal. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara profesionalisme dan
keotentikan identitas linguistik.
Bahasa Indonesia, dengan keragamannya,
mencerminkan semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika” — berbeda-beda namun
tetap satu. Melalui bahasa, kita bukan hanya berkomunikasi, tetapi juga merayakan keberagaman identitas sosial
yang memperkaya bangsa.
7. Daftar Pustaka
Blommaert, J. (2010). The Sociolinguistics of Globalization. Cambridge University
Press.
Chambers, J. K., & Trudgill, P. (1998). Dialectology
(2nd ed.). Cambridge University Press.
Fasold, R. (1984). The Sociolinguistics of
Society. Oxford: Blackwell.
Holmes, J. (2013). An Introduction to
Sociolinguistics (4th ed.). London: Routledge.
Hudson, R. A. (1996). Sociolinguistics
(2nd ed.). Cambridge University Press.
Rahmawati, D. (2019). Sikap terhadap Logat
Daerah di Dunia Profesional. Jurnal Bahasa dan Sosial, 4(2), 75–88.
Wardhaugh, R., & Fuller, J. M. (2015). An
Introduction to Sociolinguistics (7th ed.). Wiley-Blackwell.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar