Selasa, 11 November 2025

Bahasa dan Identitas Sosial: Cermin Jati Diri dalam Interaksi Sosial (011)

Oleh: Pusat Referensi Linguistik

1. Pendahuluan

Bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga alat pembentuk identitas sosial. Melalui bahasa, seseorang dapat dikenali asal-usulnya, tingkat pendidikannya, status sosialnya, hingga kelompok budaya tempat ia bernaung. Dalam konteks sosiolinguistik, bahasa dan identitas sosial saling berkelindan: identitas memengaruhi pilihan bahasa, sementara bahasa membentuk persepsi terhadap identitas seseorang (Wardhaugh & Fuller, 2015).

Di Indonesia, masyarakat multikultural dengan lebih dari 700 bahasa daerah menunjukkan dengan jelas bagaimana bahasa berfungsi sebagai penanda identitas kolektif maupun individual. Dialek, logat, dan gaya berbicara menjadi simbol keanggotaan sosial yang tidak hanya membedakan “siapa kita”, tetapi juga “bagaimana kita ingin dilihat”.

 


Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing

2. Bahasa sebagai Penanda Identitas Sosial

Bahasa adalah penanda identitas yang paling kuat dan nyata. Ia mengandung simbol sosial, budaya, dan psikologis yang melekat pada penggunanya. Menurut Holmes (2013), bahasa mencerminkan keanggotaan seseorang dalam kelompok sosial tertentu dan membantu individu menegosiasikan posisi sosialnya dalam masyarakat.

a. Bahasa dan Keanggotaan Sosial

Ketika seseorang menggunakan bahasa tertentu, ia secara tidak langsung menyatakan afiliasi sosial dan budaya. Contohnya:

·         Penggunaan bahasa daerah di ranah informal menandakan kedekatan kultural dan keakraban.

·         Penggunaan bahasa Indonesia baku dalam forum resmi menunjukkan identitas profesional dan berpendidikan.

·         Penggunaan bahasa Inggris dalam konteks pekerjaan internasional memperlihatkan identitas global atau modern.

Bahasa, dengan demikian, berperan seperti “seragam sosial” — menandakan kelompok asal, profesi, bahkan orientasi ideologis seseorang. Dalam masyarakat yang beragam seperti Indonesia, seseorang dapat memiliki identitas linguistik ganda, tergantung pada konteks komunikasi dan audiensnya (Hudson, 1996).

b. Bahasa dan Representasi Diri

Bahasa juga digunakan untuk membangun citra diri (self-representation). Seorang pejabat, misalnya, akan memilih bahasa yang formal, sopan, dan sistematis untuk menunjukkan wibawa dan otoritas. Sebaliknya, remaja di media sosial cenderung menggunakan bahasa gaul, singkatan, dan emoji untuk menegaskan identitas kekinian serta kedekatan sosial dengan komunitasnya.

Contoh ilustrasi:

·         “Selamat pagi, rekan-rekan sekalian. Mari kita mulai rapat dengan doa.” (Identitas formal-profesional)

·         “Bro, gas nongkrong sore ini? Gue boring banget.” (Identitas remaja urban)

·         “Assalamu’alaikum, Nak. Sudah makan?” (Identitas keluarga, penuh kehangatan dan tradisi)

Bahasa bukan hanya cara berbicara, tetapi juga cara memposisikan diri di hadapan orang lain.

 

3. Dialek sebagai Simbol Kelompok Sosial

Dialek merupakan variasi bahasa yang mencerminkan asal-usul geografis atau sosial penuturnya. Menurut Chambers dan Trudgill (1998), dialek tidak hanya perbedaan bunyi dan struktur, tetapi juga identitas sosial yang melekat pada komunitas.

a. Dialek dan Identitas Regional

Di Indonesia, logat daerah sering menjadi penanda kebanggaan lokal. Misalnya:

·         Logat Makassar yang tegas dan cepat menggambarkan karakter masyarakat yang lugas.

·         Logat Jawa yang lembut mencerminkan kesantunan dan tata krama.

·         Logat Batak yang keras menunjukkan ketegasan dan keberanian.

·         Logat Mandar yang khas dengan intonasi datar melambangkan kejujuran dan keterbukaan.

Ketika seseorang berbicara dengan dialek tertentu, ia membawa serta nilai-nilai budaya daerahnya. Dialek berfungsi sebagai “bendera identitas” yang menandai asal, rasa memiliki, dan solidaritas kelompok (Fasold, 1984).

b. Dialek dan Stratifikasi Sosial

Selain geografis, dialek juga dapat mencerminkan stratifikasi sosial. Dalam masyarakat urban, perbedaan dialek sering dikaitkan dengan tingkat pendidikan, pekerjaan, atau kelas sosial. Misalnya, di Jakarta:

·         Dialek “Jakarta Utara” sering diasosiasikan dengan masyarakat pekerja.

·         Dialek “Jakarta Selatan” lebih diidentikkan dengan kaum menengah atas.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa dialek tidak hanya berkaitan dengan asal daerah, tetapi juga dengan status sosial dan gaya hidup.

c. Ilustrasi Perbedaan Dialek

·         “Kamu mau ke mana?” (Bahasa Indonesia baku)

·         “Kowe arep menyang endi?” (Jawa)

·         “Ko mo pi mana?” (Makassar)

·         “Iko mo ka mana?” (Mandar)

Setiap bentuk memiliki nuansa sosial dan emosional berbeda, dan penggunaannya menandai identitas serta keanggotaan sosial tertentu.

 

4. Studi Kasus: Logat Daerah dalam Dunia Kerja

Dalam dunia kerja modern, fenomena penggunaan logat daerah menjadi isu menarik dalam konteks bahasa dan identitas. Di satu sisi, logat daerah dianggap sebagai warisan identitas budaya; di sisi lain, ada anggapan bahwa logat tertentu bisa memengaruhi persepsi profesionalisme.

a. Tantangan Sosial di Dunia Profesional

Beberapa penelitian (misalnya, Rahmawati, 2019) menunjukkan bahwa pegawai dengan logat daerah kuat kadang menghadapi stereotip negatif, seperti dianggap kurang “modern” atau “kurang berpendidikan”. Hal ini terutama terjadi dalam lingkungan kerja yang menuntut komunikasi standar, seperti perusahaan nasional atau multinasional.

Contoh:

·         Seorang pegawai dari Sulawesi yang berbicara dengan logat Mandar mungkin dianggap “kurang halus” oleh rekan kerja dari Jawa.

·         Sebaliknya, pegawai dengan logat Jakarta atau bahasa Indonesia netral dianggap lebih profesional, meski kompetensi sama.

Stereotip seperti ini memperlihatkan bagaimana logat menjadi faktor sosial yang memengaruhi persepsi identitas profesional.

b. Identitas yang Dipertahankan

Namun, tidak semua logat daerah dianggap “menghambat.” Banyak tokoh publik yang justru bangga mempertahankan logatnya sebagai simbol keaslian dan keterbukaan, misalnya:

·         Najwa Shihab yang tetap mempertahankan intonasi Makassar dalam gaya bicaranya.

·         Ridwan Kamil yang menggunakan gaya Sunda logis dan santai untuk menunjukkan kedekatan dengan masyarakat.

·         Para YouTuber lokal yang menonjolkan logat daerah untuk membangun identitas digital yang autentik.

Dengan demikian, dalam dunia kerja modern, logat daerah dapat menjadi kekuatan identitas, bukan kelemahan, selama digunakan dengan percaya diri dan komunikatif.

c. Ilustrasi Kasus

Situasi 1 – Rapat Formal:
Manajer (asal Jawa): “Bapak-Ibu, kita bahas dulu agenda utama rapat hari ini.”
Staf (asal Mandar): “Iye, Pak. Jadi, kita fokus di bagian laporan, iya?”
→ Penggunaan “iye” menandakan identitas Mandar, namun tetap komunikatif dan sopan.

Situasi 2 – Presentasi di Perusahaan Multinasional:
Karyawan: “Good morning everyone. Hari ini saya mau presentasikan progress tim marketing di Makassar branch.”
→ Campuran logat lokal dan bahasa Inggris menunjukkan identitas profesional sekaligus kebanggaan terhadap daerah asal.

 

5. Bahasa, Identitas, dan Globalisasi

Dalam era globalisasi, hubungan antara bahasa dan identitas menjadi semakin kompleks. Bahasa Inggris, misalnya, digunakan untuk menunjukkan identitas global, sementara bahasa daerah menegaskan identitas lokal. Banyak orang Indonesia kini mempraktikkan identitas linguistik ganda:

·         Menggunakan bahasa Indonesia formal di dunia kerja,

·         Menggunakan bahasa daerah saat berinteraksi keluarga,

·         Menggunakan bahasa Inggris di media sosial atau konteks akademik.

Fenomena ini menggambarkan fleksibilitas identitas sosial — kemampuan seseorang menyesuaikan diri dengan berbagai komunitas tanpa kehilangan akar budaya. Menurut Blommaert (2010), identitas bahasa di era global bukanlah sesuatu yang statis, melainkan “portabel”, bisa berpindah mengikuti konteks sosial.

 

6. Kesimpulan

Bahasa dan identitas sosial memiliki hubungan yang sangat erat. Bahasa tidak hanya mengungkapkan pikiran, tetapi juga menyatakan siapa kita dan di mana kita berdiri dalam masyarakat. Dialek dan logat menjadi simbol kuat yang menandai keanggotaan sosial, kebanggaan daerah, dan solidaritas kelompok.

Dalam dunia kerja modern, logat daerah kadang menghadapi stereotip, tetapi sekaligus dapat menjadi sumber keaslian dan daya tarik identitas personal. Tantangannya adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara profesionalisme dan keotentikan identitas linguistik.

Bahasa Indonesia, dengan keragamannya, mencerminkan semboyan nasional “Bhinneka Tunggal Ika” — berbeda-beda namun tetap satu. Melalui bahasa, kita bukan hanya berkomunikasi, tetapi juga merayakan keberagaman identitas sosial yang memperkaya bangsa.

 

7. Daftar Pustaka

Blommaert, J. (2010). The Sociolinguistics of Globalization. Cambridge University Press.
Chambers, J. K., & Trudgill, P. (1998). Dialectology (2nd ed.). Cambridge University Press.
Fasold, R. (1984). The Sociolinguistics of Society. Oxford: Blackwell.
Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th ed.). London: Routledge.
Hudson, R. A. (1996). Sociolinguistics (2nd ed.). Cambridge University Press.
Rahmawati, D. (2019). Sikap terhadap Logat Daerah di Dunia Profesional. Jurnal Bahasa dan Sosial, 4(2), 75–88.
Wardhaugh, R., & Fuller, J. M. (2015). An Introduction to Sociolinguistics (7th ed.). Wiley-Blackwell.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...