1. Tujuan utama linguistik terapan
Bidang Linguistik Terapan
(applied linguistics) memiliki sejumlah tujuan utama yang berkaitan dengan
pemecahan masalah bahasa nyata, pengembangan teori yang relevan praktik, dan
penghubung antara teori dan aplikasi. Beberapa tujuan utama tersebut antara
lain:
- Menginvestigasi secara teoritis dan empiris berbagai situasi nyata di
mana bahasa adalah unsur sentral, seperti pengajaran bahasa,
kebijakan bahasa, teknologi bahasa, dan interaksi sosial bahasa. (Brumfit,
1995; sebagaimana dikutip di Open University) pustaka.ut.ac.id+4The Open
University+4Taal+4
- Menggunakan pengetahuan linguistik (baik teori bahasa, pembelajaran
bahasa, penggunaan bahasa) untuk merancang, mengimplementasikan, dan
mengevaluasi intervensi atau aplikasi praktis—misalnya kurikulum,
pengajaran bahasa kedua, alat tes, perencanaan bahasa. Punjab State Open University+1
- Menjalin hubungan antara teori bahasa dan praktik sosial: bukan hanya
menerapkan teori, tetapi juga menumbuhkan pengetahuan baru yang relevan
dengan konteks sosial, budaya, teknologi dan institusi. Sebagai definisi
dari Thai Association for Applied Linguistics: “theoretical and empirical
investigation of real world problems in which language is a central
issue.” Taal
- Membuka ruang bagi interdisipliner: menggabungkan wawasan dari
linguistik, psikologi, sosiologi, antropologi, pendidikan, teknologi
informasi, kebijakan publik, dan bidang lain guna menangani masalah-bahasa
kompleks. (Richards & Schmidt, 2002 dikutip) prosiding.stkippacitan.ac.id
Dengan demikian, tujuan utama
linguistik terapan mencakup baik pemahaman bahasa dalam konteks nyata maupun
tindakan/intervensi berdasarkan pemahaman tersebut—dan bukan hanya analisis
bahasa murni.
2. Bidang ilmu
apa saja yang berkontribusi terhadap linguistik terapan selain linguistik itu
sendiri?
Linguistik terapan adalah
disiplin yang interdisipliner dan mengintegrasikan kontribusi dari
banyak bidang ilmu selain linguistik murni. Beberapa bidang yang berkontribusi
secara signifikan:
- Psikologi (terutama psikologi kognitif, psikologi pembelajaran bahasa): misalnya studi tentang bagaimana manusia belajar bahasa kedua,
bagaimana proses kognitif menyusun pembelajaran bahasa, dan bagaimana
faktor afektif/emosional mempengaruhi pembelajaran bahasa. prosiding.stkippacitan.ac.id+1
- Pendidikan (teori dan metodologi pengajaran, kurikulum, asesmen,
pengembangan materi): banyak penelitian
linguistik terapan berfokus pada pengajaran bahasa, pengembangan bahan
ajar, pelatihan guru, evaluasi program. Punjab State Open University+1
- Sosiologi & antropologi (sosiolinguistik, antropologi linguistik,
kebijakan bahasa, identitas bahasa, multilingualisme): misalnya analisis bagaimana bahasa digunakan dalam konteks sosial,
kebijakan bahasa, hak bahasa minoritas, dan dampaknya terhadap masyarakat.
The Open University+1
- Teknologi informasi / ilmu komputer (pengolahan bahasa alami, korpus
linguistik, aplikasi teknologi bahasa): bidang seperti
pengembangan sistem terjemahan mesin, pengenalan suara, dan analisis
korpus memanfaatkan pengetahuan linguistik terapan. EBSCO
- Kesehatan / patologi wicara & bahasa / forensik linguistik: intervensi untuk gangguan bahasa, terapi wicara, serta aplikasi
linguistik dalam investigasi forensik. Word Gate+1
- Kebijakan publik / perencanaan bahasa / pendidikan multilingual: bagaimana bahasa dipilih, dikelola, dan digunakan dalam institusi
dan masyarakat, termasuk tantangan globalisasi, migrasi, dan warisan
bahasa. Vaia
Karena itu, linguistik terapan
sering dianggap sebagai titik pertemuan banyak disiplin ilmu—sebuah “wilayah
transdisipliner” yang menghubungkan teori bahasa dengan praktik sosial,
pendidikan, teknologi, dan kebijakan.
3. Bagaimana
analogi teater yang digunakan oleh George Jean Nathan diterapkan dalam
linguistik terapan?
Meskipun tidak secara eksplisit
banyak literatur linguistik terapan yang mengutip analogi teater dari George
Jean Nathan, namun analisis Nathan tentang teater—termasuk gagasan tentang
representasi, aktor, penonton, dan bagaimana “teater” bukan sekadar realitas
tetapi sebuah konstruksi—dapat dipinjam secara analogis untuk memahami metode
dan posisi linguistik terapan.
Nathan, dalam karyanya The
Critic and the Drama (1922) menggambarkan teater sebagai “theatre stands in
relation to drama much as the art gallery stands in relation to painting … the
theatre is the drama’s orchestra … it is a place to which one goes in repeated
search of the familiar corners of one’s imagination.” Project Gutenberg+1
Analogi ini dapat diterapkan ke
linguistik terapan sebagai berikut:
- Dalam teater, ada aktor (pemeran), penonton, setting, naskah, dan
interaksi; dalam linguistik terapan ada peneliti, pengguna bahasa, konteks
sosial/pendidikan, materi/metode, dan intervensi.
- Sama seperti teater tidak selalu “mere-mirror” realitas secara
langsung tetapi memformulasi dan menata pengalaman agar bisa ditampilkan,
linguistik terapan tidak sekadar mengambil teori linguistik dan
menerapkannya secara langsung: intervensi harus disesuaikan dengan konteks
pengguna, budaya, masyarakat—artinya “pertunjukan” akademik harus
dirancang agar relevan bagi “penonton” (praktek) dan bukan hanya untuk
teori. Contoh: peneliti tidak hanya menerapkan model bahasa secara literal
tetapi memodifikasi sesuai konteks pembelajaran, identitas, dan teknologi.
- Dalam teater, kritik Nathan menunjukkan bahwa teater memungkinkan
“penonton” melihat sesuatu dari pencahayaan, arah, pemilihan aktor yang
berbeda—demikian pula linguistik terapan memungkinkan “penonton/praktisi”
(guru, pembuat kebijakan, pelajar) melihat bahasa dalam kerangka yang
terkonseptualisasi, bukan sebagai fenomena alamiah yang langsung hadir.
Dengan demikian, metode linguistik terapan harus mempertimbangkan peran
‘setting’, ‘aktor’, ‘penonton’ dan ‘naskah’ dalam intervensi bahasa.
- Dengan analogi ini, metode linguistik terapan menjadi “pertunjukan” di
mana peneliti sebagai “sutradara” atau “aktor utama” merancang setting
(konteks pendidikan, komunitas), materi/method, dan interaksi bahasa untuk
menghasilkan efek (efikasi aplikasi, perubahan pembelajaran, kebijakan).
- Analogi ini juga mengingatkan bahwa konteks sangat penting: seperti
teater dengan ruang panggung yang berbeda akan memberikan pengalaman yang
berbeda, intervensi linguistik terapan harus menyesuaikan konteks budaya,
bahasa, institusi agar “pertunjukan” berjalan sukses.
Walaupun literatur tidak selalu
menggunakan Nathan secara eksplisit, analogi teater sangat berguna sebagai
metafora untuk memahami bagaimana metodologi linguistik terapan dirancang dan
dievaluasi—bahwa ia bukan sekadar penerapan teori tetapi juga pengaturan
konteks, aktor, media, dan interaksi untuk mencapai tujuan.
4. Mengapa
linguistik terapan disebut sebagai titik di mana berbagai ilmu sosial dan
humaniora bertemu?
Beberapa alasan mengapa
linguistik terapan sering disebut sebagai “persimpangan” atau titik temu antara
berbagai ilmu sosial dan humaniora:
- Karena fokusnya pada bahasa dalam konteks nyata sosial,
kultural, institusional, edukasional dan teknologi, maka ia harus
melibatkan perspektif sosial (sosiologi, antropologi), edukasional (teori
pembelajaran, pedagogi), psikologis (preferensi pembelajar, motivasi),
teknologi (pengolahan bahasa, korpus), kebijakan publik (perencanaan bahasa)
dan tentunya linguistik. Dengan demikian, linguistik terapan mengandalkan
kerangka dari berbagai bidang ilmu untuk memahami kompleksitas masalah
bahasa. (AAAL) aaal.org+1
- Kerangka “masalah bahasa nyata” yang digunakan menjembatani antara
teori dan praktik: misalnya satu intervensi pengajaran bahasa melibatkan
psikologi pembelajaran, linguistik, desain kurikulum, dan evaluasi
pendidikan—ini menunjukkan bahwa untuk melakukan penelitian atau praktik
linguistik terapan, peneliti harus menguasai atau berkolaborasi dengan
ahli dari berbagai bidang.
- Metodologi penelitian dalam linguistik terapan sering inklusif: bisa
bersifat eksperimen, kualitatif, kuantitatif, kajian wacana, analisis
kebijakan—yang semuanya merupakan metode yang digunakan dalam ilmu
sosial/humaniora.
- Karena kebutuhan untuk menjawab pertanyaan nyata (rather than purely
teoritis) maka linguistik terapan berfungsi sebagai jembatan antara ilmu
bahasa (yang sering dianggap humanistik atau deskriptif) dengan aplikasi
praktis di masyarakat (yang lebih sosial, institusional). Ini
menjadikannya forum di mana teori humaniora dan penelitian sosial bertemu
dan saling memengaruhi.
- Organisasi profesional seperti American Association for Applied
Linguistics (AAAL) menegaskan bahwa bidang ini “draws on a wide range of
theoretical and methodological approaches from various disciplines — from
the humanities to the social and natural sciences” (AAAL) aaal.org
Dengan demikian, linguistik
terapan disebut titik temu karena ia menggabungkan berbagai sudut pandang dan
metode dari ilmu sosial, humaniora, dan bahkan ilmu terapan atau
teknologi—membentuk sebuah disiplin yang transdisipliner.
5. Apa saja dua
pertanyaan besar yang perlu dijawab untuk mendefinisikan linguistik terapan?
Dalam literatur tentang definisi
linguistik terapan, dua pertanyaan besar sering diajukan sebagai kunci untuk
memahami dan membatasi disiplin ini:
- “Apa yang dimaksud dengan ‘terapan’ dalam linguistik terapan?” – Apakah “terapan” berarti hanya penerapan langsung teori linguistik
ke praktik pengajaran layanan bahasa atau masalah bahasa nyata, atau
apakah bidang tersebut juga mencakup kontribusi teori baru, integrasi
dengan disiplin lain, dan rekonstuksi teori berdasarkan konteks aplikasi?
(Open University) The Open University+1
- “Konteks ‘bahasa terkait’ mana yang termasuk dalam linguistik
terapan?” – Apakah hanya pengajaran
bahasa asing/keluar (L2), atau apakah juga penggunaan bahasa dalam
masyarakat (multilingualisme, kebijakan bahasa, forensik, teknologi)?
Dengan kata lain: “Garis pemisah antara linguistik murni dan linguistik
terapan di mana?” (Schmitt & Celce-Murcia dalam Modul MPBI) pustaka.ut.ac.id
Jawaban atas kedua pertanyaan
besar ini sangat memengaruhi cakupan bidang, metodologi, identitas keilmuan,
dan apa yang dianggap sebagai “masalah linguistik terapan”. Karena itu, siapa
pun yang hendak mendalami linguistik terapan perlu mempertimbangkan kedua
pertanyaan fundamental tersebut.
Penutup
Melalui pembahasan di atas dapat
ditarik sejumlah kesimpulan penting:
- Linguistik terapan memiliki tujuan yang jelas: menghubungkan
pengetahuan linguistik dengan aplikasi nyata masalah bahasa di masyarakat,
pendidikan, teknologi dan kebijakan.
- Karena cakupan real-world tersebut, linguistik terapan merupakan
disiplin yang interdisipliner—menggabungkan bidang seperti psikologi,
pendidikan, sosiologi, teknologi, dan kebijakan publik selain linguistik
itu sendiri.
- Analogi teater - yang dikemukakan oleh George Jean Nathan dalam ranah
kritik teater - dapat digunakan sebagai metafora untuk memahami metodologi
linguistik terapan: bahwa penelitian dan intervensi dalam linguistik
terapan bukan sekadar “menerapkan teori” tetapi mempertimbangkan setting,
aktor, penonton, dan interaksi seperti dalam “panggung” pengajaran atau
aplikasi bahasa.
- Linguistik terapan disebut sebagai titik temu ilmu sosial dan
humaniora karena sifatnya yang masalah-berorientasi, transdisipliner, dan
praktik-terhubung, memungkinkan kolaborasi dan integrasi perspektif ilmu
sosial/humaniora dan teknologi.
- Dua pertanyaan besar — “apa arti terapan?” dan “konteks bahasa mana
yang termasuk?” — menjadi kunci definisi bidang ini dan menuntut refleksi
bagi peneliti, praktisi, dan pembaca.
Bagi blog Pusat Referensi
Linguistik, bab ini sangat penting karena membantu pembaca memahami tidak
hanya apa metode linguistik terapan, tetapi bagaimana bidang ini bekerja
sebagai jembatan teori-praktik, bagaimana metodologinya terbentuk, dan kenapa
pendekatan interdisipliner menjadi sangat sentral.
Daftar Pustaka
American Association for Applied
Linguistics. (n.d.). About Applied Linguistics. Retrieved from https://www.aaal.org/about-applied-linguistics
aaal.org
British Association for Applied Linguistics. (2019, February 15). What is
applied linguistics? Retrieved from https://www.baal.org.uk/british-association-for-applied-linguistics/what-applied-linguistics-is-and-does/
BAAL
Brumfit, C. (1995). Applied linguistics: Theoretical and empirical
investigation of real-world problems in which language is a central issue.
In Open University: Language in the Real World. Retrieved from https://www.open.edu/openlearn/languages/english-language/language-the-real-world/content-section-2
The Open University
Collins English Dictionary. (n.d.). Applied linguistics. Retrieved from https://www.collinsdictionary.com/us/dictionary/english/applied-linguistics
Collins Dictionary
“Definition of Applied Linguistics (AL) – Thai Association for Applied
Linguistics.” (n.d.). Retrieved from https://taal.or.th/definition-of-applied-linguisticsal/
Taal
Module 1: MPBI5104. (n.d.). Applied linguistics. Universitas Terbuka.
Retrieved from https://pustaka.ut.ac.id/lib/wp-content/uploads/pdfmk/MPBI5104-M1.pdf
pustaka.ut.ac.id
Richards, J. C., & Schmidt, R. (2002). Longman dictionary of language
teaching and applied linguistics (3rd ed.). Routledge. (Discussed in Module
MPBI) pustaka.ut.ac.id+1
Tidak ada komentar:
Posting Komentar