Jumat, 07 November 2025

Bilingualisme dan Multilingualisme: Dinamika, Dampak, dan Studi Kasus Masyarakat Mandar (07 )

Pendahuluan

Bahasa merupakan cermin identitas, budaya, dan cara berpikir manusia. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk, penggunaan lebih dari satu bahasa bukanlah hal yang luar biasa. Fenomena ini dikenal dengan istilah bilingualisme (penggunaan dua bahasa) dan multilingualisme (penggunaan lebih dari dua bahasa).

Kedua fenomena ini tidak hanya mencerminkan kemampuan linguistik, tetapi juga menggambarkan dynamics sosial, budaya, dan ekonomi suatu masyarakat. Artikel ini akan membahas pengertian bilingualisme dan multilingualisme, dampak positif dan negatifnya, serta studi kasus masyarakat Mandar di Sulawesi Barat yang dikenal sebagai komunitas bilingual (Bahasa Indonesia–Bahasa Mandar).

 

Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing

Definisi Bilingualisme dan Multilingualisme

Istilah bilingualisme berasal dari kata bi- yang berarti “dua” dan lingua yang berarti “bahasa.” Dengan demikian, bilingualisme mengacu pada kemampuan seseorang untuk menggunakan dua bahasa secara bergantian dalam berbagai konteks komunikasi.

Menurut Bloomfield (1933), bilingualisme adalah kemampuan seseorang untuk menguasai dua bahasa dengan tingkat kefasihan yang sama baiknya, seperti penutur asli. Namun, Haugen (1953) memberikan definisi yang lebih longgar, yakni seseorang disebut bilingual apabila mampu memahami dan menggunakan bahasa kedua dalam konteks komunikasi tertentu, meskipun tidak sempurna.

Sementara itu, multilingualisme mencakup penggunaan lebih dari dua bahasa. Dalam konteks global, banyak masyarakat menggunakan tiga atau lebih bahasa — misalnya bahasa ibu, bahasa nasional, dan bahasa internasional.

Dalam perspektif sosiolinguistik, bilingualisme dan multilingualisme bukan sekadar persoalan kemampuan berbahasa, melainkan juga strategi sosial dalam beradaptasi dengan lingkungan, memperluas interaksi, dan mempertahankan identitas (Fishman, 1972).

 


Dampak Positif Bilingualisme dan Multilingualisme

1.     Peningkatan Kapasitas Kognitif

Penelitian menunjukkan bahwa individu bilingual memiliki kemampuan berpikir lebih fleksibel, daya konsentrasi tinggi, serta keterampilan memecahkan masalah yang lebih baik dibandingkan monolingual (Bialystok, 2001). Hal ini terjadi karena otak mereka terbiasa berpindah antara dua sistem linguistik.

2.     Keuntungan Sosial dan Profesional

Dalam dunia kerja, bilingualisme menjadi nilai tambah. Seseorang yang mampu menggunakan dua bahasa dapat menjembatani komunikasi antarbudaya, bekerja di bidang diplomasi, pendidikan, atau perusahaan multinasional (Grosjean, 1982).

3.     Pelestarian dan Kebanggaan Budaya

Bilingualisme sering menjadi bentuk resistensi budaya. Masyarakat yang mampu menyeimbangkan penggunaan bahasa nasional dan daerah memperlihatkan kebanggaan terhadap warisan linguistik mereka.

4.     Meningkatkan Toleransi Antarbudaya

Orang bilingual umumnya memiliki tingkat empati dan keterbukaan lebih tinggi terhadap budaya lain karena terbiasa memahami makna sosial di balik bahasa yang berbeda (Baker, 2011).

 

Dampak Negatif Bilingualisme dan Multilingualisme

1.     Interferensi Bahasa

Salah satu dampak yang sering muncul adalah interferensi, yaitu pengaruh satu bahasa terhadap bahasa lain. Misalnya, penutur Bahasa Mandar yang berbicara Bahasa Indonesia sering membawa pola intonasi atau kosakata khas daerah, seperti:

“Saya mau mappasiri dulu.”
(Kata “mappasiri” berarti ‘bersiap-siap’ dalam Bahasa Mandar.)

2.     Campur Kode dan Alih Kode

Campur kode (mixing) dan alih kode (switching) sering terjadi ketika seseorang menggunakan dua bahasa dalam satu percakapan. Fenomena ini wajar, tetapi jika terlalu sering, bisa membuat komunikasi kurang efektif (Suwito, 1985).

3.     Dominasi Salah Satu Bahasa

Dalam banyak kasus, salah satu bahasa menjadi dominan dan menyebabkan language shift (pergeseran bahasa). Contohnya, generasi muda lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia dibandingkan bahasa daerahnya.

4.     Hilangnya Bahasa Ibu

Jika tidak digunakan secara aktif, bahasa daerah bisa hilang dalam satu atau dua generasi. Fenomena ini kini menjadi kekhawatiran banyak daerah di Indonesia, termasuk di Mandar.

 

Studi Kasus: Masyarakat Mandar sebagai Komunitas Bilingual

Konteks Sosial dan Linguistik

Masyarakat Mandar di Sulawesi Barat merupakan contoh nyata dari komunitas bilingual alami. Mereka menggunakan dua bahasa utama:

·         Bahasa Mandar, sebagai bahasa daerah dan identitas etnis, serta

·         Bahasa Indonesia, sebagai bahasa resmi dan media pendidikan.

Bahasa Mandar digunakan dalam konteks informal, seperti percakapan keluarga, kegiatan adat, atau komunikasi sehari-hari. Sementara Bahasa Indonesia digunakan dalam konteks formal, seperti di sekolah, pemerintahan, atau media massa.

Fenomena Alih Kode dan Campur Kode

Alih kode sering terjadi di masyarakat Mandar ketika penutur berpindah dari Bahasa Mandar ke Bahasa Indonesia (atau sebaliknya) sesuai situasi dan lawan bicara.

Contoh Ilustrasi Percakapan Bilingual (Indonesia–Mandar)

1.      Percakapan di rumah antara ibu dan anak:

Ibu: Nak, ambilkan piring di dapur, cepatto.
(Nak, ambilkan piring di dapur, cepat ya!)
Anak: Iyo, bu, tapi habis ini saya ke rumah Nanda dulu.
(Ya, Bu, tapi setelah ini saya mau ke rumah Nanda dulu.)

👉 Campur kode terjadi pada kata “cepatto” yang merupakan imbuhan -to dalam Bahasa Mandar sebagai bentuk ajakan halus.

2.      Percakapan di pasar antara penjual dan pembeli:

Penjual: Tommi, beli ikanna? Masih freshmi ini, baru ditangkap subuh tadi.
(Ayo beli ikannya, masih segar, baru ditangkap tadi subuh.)
Pembeli: Berapa harganya, bu?
Penjual: Lima ribu saja, murahto.
(Hanya lima ribu, murah loh!)

👉 Terjadi alih kode antara Bahasa Indonesia dan Mandar, tetapi tetap saling dipahami oleh kedua pihak.

3.      Percakapan di sekolah:

Guru: Anak-anak, hari ini kita belajar tentang tata surya. Sudah siap semua?
Siswa: Siapmi, Bu!
(Sudah siap, Bu!)

👉 Kata “-mi” adalah penanda kesopanan dalam Bahasa Mandar yang tetap digunakan walau konteksnya Bahasa Indonesia.

Faktor Sosial yang Mempengaruhi Pilihan Bahasa

1.      Usia:
Generasi tua lebih sering menggunakan Bahasa Mandar, sementara generasi muda lebih dominan menggunakan Bahasa Indonesia.

2.      Pendidikan:
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula intensitas penggunaan Bahasa Indonesia, terutama dalam konteks profesional.

3.      Lingkungan Sosial:
Mereka yang tinggal di daerah perkotaan atau berinteraksi dengan masyarakat luar cenderung lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia.

4.      Pekerjaan:
Pekerja pemerintahan, guru, dan profesional sering beralih ke Bahasa Indonesia untuk keperluan formal, sementara nelayan dan pedagang tetap mempertahankan Bahasa Mandar dalam kegiatan sehari-hari.

 

Upaya Pelestarian Bahasa Mandar

Untuk menjaga eksistensi Bahasa Mandar, berbagai langkah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah, antara lain:

·         Program muatan lokal bahasa daerah di sekolah.

·         Festival bahasa dan sastra Mandar.

·         Dokumentasi digital kosakata, cerita rakyat, dan lagu Mandar.

·         Kolaborasi akademik antara universitas dan komunitas lokal untuk penelitian linguistik.

Upaya ini penting untuk memastikan Bahasa Mandar tetap hidup dan berkembang, sekaligus menjadi bagian dari warisan budaya nasional Indonesia.

 

Penutup

Fenomena bilingualisme dan multilingualisme merupakan kekayaan sekaligus tantangan dalam kehidupan berbahasa. Keberagaman linguistik memperkaya interaksi sosial dan memperkuat identitas budaya, namun juga berpotensi menimbulkan masalah seperti interferensi dan pergeseran bahasa.

Kasus masyarakat Mandar menunjukkan bagaimana bilingualisme dapat menjadi bentuk adaptasi sosial yang seimbang antara modernitas dan tradisi. Bahasa Indonesia digunakan untuk komunikasi formal, sementara Bahasa Mandar tetap menjadi simbol keakraban, identitas, dan kebanggaan lokal.

Menjaga keseimbangan ini bukan sekadar soal kebahasaan, tetapi juga tentang menjaga jati diri dan keberagaman budaya Indonesia.

 

Daftar Pustaka

·         Baker, C. (2011). Foundations of Bilingual Education and Bilingualism (5th ed.). Multilingual Matters.

·         Bialystok, E. (2001). Bilingualism in Development: Language, Literacy, and Cognition. Cambridge University Press.

·         Bloomfield, L. (1933). Language. New York: Holt, Rinehart & Winston.

·         Fishman, J. A. (1972). The Sociology of Language. Rowley, MA: Newbury House.

·         Grosjean, F. (1982). Life with Two Languages: An Introduction to Bilingualism. Harvard University Press.

·         Haugen, E. (1953). The Norwegian Language in America: A Study in Bilingual Behavior. University of Pennsylvania Press.

·         Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th ed.). Routledge.

·         Suwito. (1985). Sosiolinguistik: Teori dan Problema. Surakarta: Henary Offset.

·         Weinreich, U. (1953). Languages in Contact: Findings and Problems. New York: Linguistic Circle of New York.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...