Pendahuluan
Bahasa merupakan cermin identitas, budaya, dan
cara berpikir manusia. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk,
penggunaan lebih dari satu bahasa bukanlah hal yang luar biasa. Fenomena ini
dikenal dengan istilah bilingualisme
(penggunaan dua bahasa) dan multilingualisme
(penggunaan lebih dari dua bahasa).
Kedua fenomena ini tidak hanya mencerminkan
kemampuan linguistik, tetapi juga menggambarkan dynamics sosial, budaya, dan ekonomi suatu
masyarakat. Artikel ini akan membahas pengertian bilingualisme dan
multilingualisme, dampak positif dan negatifnya, serta studi kasus masyarakat Mandar di Sulawesi Barat
yang dikenal sebagai komunitas bilingual (Bahasa Indonesia–Bahasa Mandar).
| Sosiolinguistik oleh Aco Nasir - Buku Terbaru 2025 | CV. Cemerlang Publishing |
Definisi Bilingualisme dan Multilingualisme
Istilah bilingualisme
berasal dari kata bi- yang berarti “dua”
dan lingua yang berarti “bahasa.” Dengan
demikian, bilingualisme mengacu pada kemampuan seseorang untuk menggunakan dua bahasa secara bergantian
dalam berbagai konteks komunikasi.
Menurut Bloomfield
(1933), bilingualisme adalah kemampuan seseorang untuk
menguasai dua bahasa dengan tingkat kefasihan yang sama baiknya, seperti
penutur asli. Namun, Haugen
(1953) memberikan definisi yang lebih longgar, yakni seseorang
disebut bilingual apabila mampu memahami dan menggunakan bahasa kedua dalam
konteks komunikasi tertentu, meskipun tidak sempurna.
Sementara itu, multilingualisme mencakup
penggunaan lebih dari dua bahasa.
Dalam konteks global, banyak masyarakat menggunakan tiga atau lebih bahasa —
misalnya bahasa ibu, bahasa nasional, dan bahasa internasional.
Dalam perspektif sosiolinguistik,
bilingualisme dan multilingualisme bukan sekadar persoalan kemampuan berbahasa,
melainkan juga strategi sosial
dalam beradaptasi dengan lingkungan, memperluas interaksi, dan mempertahankan
identitas (Fishman, 1972).
Dampak Positif Bilingualisme dan Multilingualisme
1.
Peningkatan Kapasitas Kognitif
Penelitian
menunjukkan bahwa individu bilingual memiliki kemampuan berpikir lebih
fleksibel, daya konsentrasi tinggi, serta keterampilan memecahkan masalah yang
lebih baik dibandingkan monolingual (Bialystok, 2001). Hal ini terjadi karena
otak mereka terbiasa berpindah antara dua sistem linguistik.
2.
Keuntungan Sosial dan Profesional
Dalam dunia kerja,
bilingualisme menjadi nilai tambah. Seseorang yang mampu menggunakan dua bahasa
dapat menjembatani komunikasi antarbudaya, bekerja di bidang diplomasi, pendidikan,
atau perusahaan multinasional (Grosjean, 1982).
3.
Pelestarian dan Kebanggaan Budaya
Bilingualisme
sering menjadi bentuk resistensi
budaya. Masyarakat yang mampu menyeimbangkan penggunaan bahasa
nasional dan daerah memperlihatkan kebanggaan terhadap warisan linguistik
mereka.
4.
Meningkatkan Toleransi Antarbudaya
Orang bilingual
umumnya memiliki tingkat empati dan keterbukaan lebih tinggi terhadap budaya
lain karena terbiasa memahami makna sosial di balik bahasa yang berbeda (Baker,
2011).
Dampak Negatif Bilingualisme dan Multilingualisme
1.
Interferensi Bahasa
Salah satu dampak
yang sering muncul adalah interferensi,
yaitu pengaruh satu bahasa terhadap bahasa lain. Misalnya, penutur Bahasa
Mandar yang berbicara Bahasa Indonesia sering membawa pola intonasi atau
kosakata khas daerah, seperti:
“Saya mau mappasiri dulu.”
(Kata “mappasiri” berarti ‘bersiap-siap’
dalam Bahasa Mandar.)
2.
Campur Kode dan Alih Kode
Campur kode
(mixing) dan alih kode (switching) sering terjadi ketika seseorang menggunakan
dua bahasa dalam satu percakapan. Fenomena ini wajar, tetapi jika terlalu
sering, bisa membuat komunikasi kurang efektif (Suwito, 1985).
3.
Dominasi Salah Satu Bahasa
Dalam banyak kasus,
salah satu bahasa menjadi dominan dan menyebabkan language shift
(pergeseran bahasa). Contohnya, generasi muda lebih sering menggunakan Bahasa
Indonesia dibandingkan bahasa daerahnya.
4.
Hilangnya Bahasa Ibu
Jika tidak
digunakan secara aktif, bahasa daerah bisa hilang dalam satu atau dua generasi.
Fenomena ini kini menjadi kekhawatiran banyak daerah di Indonesia, termasuk di
Mandar.
Studi Kasus: Masyarakat Mandar sebagai Komunitas
Bilingual
Konteks
Sosial dan Linguistik
Masyarakat Mandar di Sulawesi Barat merupakan
contoh nyata dari komunitas bilingual
alami. Mereka menggunakan dua bahasa utama:
·
Bahasa Mandar, sebagai
bahasa daerah dan identitas etnis, serta
·
Bahasa Indonesia, sebagai
bahasa resmi dan media pendidikan.
Bahasa Mandar digunakan dalam konteks informal, seperti
percakapan keluarga, kegiatan adat, atau komunikasi sehari-hari. Sementara
Bahasa Indonesia digunakan dalam konteks
formal, seperti di sekolah, pemerintahan, atau media massa.
Fenomena
Alih Kode dan Campur Kode
Alih kode sering terjadi di masyarakat Mandar
ketika penutur berpindah dari Bahasa Mandar ke Bahasa Indonesia (atau
sebaliknya) sesuai situasi dan lawan bicara.
Contoh Ilustrasi Percakapan
Bilingual (Indonesia–Mandar)
1.
Percakapan di rumah antara ibu dan anak:
Ibu: Nak, ambilkan piring
di dapur, cepatto.
(Nak, ambilkan piring di dapur, cepat ya!)
Anak: Iyo, bu, tapi habis
ini saya ke rumah Nanda dulu.
(Ya, Bu, tapi setelah ini saya mau ke rumah
Nanda dulu.)
👉
Campur kode terjadi pada kata “cepatto” yang
merupakan imbuhan -to dalam Bahasa Mandar sebagai bentuk ajakan halus.
2.
Percakapan di pasar antara penjual dan
pembeli:
Penjual: Tommi, beli ikanna?
Masih freshmi ini, baru ditangkap subuh tadi.
(Ayo beli ikannya, masih segar, baru
ditangkap tadi subuh.)
Pembeli: Berapa harganya, bu?
Penjual: Lima ribu saja,
murahto.
(Hanya lima ribu, murah loh!)
👉
Terjadi alih kode antara Bahasa
Indonesia dan Mandar, tetapi tetap saling dipahami oleh kedua pihak.
3.
Percakapan di sekolah:
Guru: Anak-anak, hari ini
kita belajar tentang tata surya. Sudah siap semua?
Siswa: Siapmi, Bu!
(Sudah siap, Bu!)
👉
Kata “-mi” adalah penanda kesopanan dalam Bahasa Mandar yang tetap digunakan
walau konteksnya Bahasa Indonesia.
Faktor
Sosial yang Mempengaruhi Pilihan Bahasa
1.
Usia:
Generasi tua lebih sering menggunakan Bahasa Mandar, sementara generasi muda
lebih dominan menggunakan Bahasa Indonesia.
2.
Pendidikan:
Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi pula intensitas
penggunaan Bahasa Indonesia, terutama dalam konteks profesional.
3.
Lingkungan Sosial:
Mereka yang tinggal di daerah perkotaan atau berinteraksi dengan masyarakat
luar cenderung lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia.
4.
Pekerjaan:
Pekerja pemerintahan, guru, dan profesional sering beralih ke Bahasa Indonesia
untuk keperluan formal, sementara nelayan dan pedagang tetap mempertahankan
Bahasa Mandar dalam kegiatan sehari-hari.
Upaya Pelestarian Bahasa Mandar
Untuk menjaga eksistensi Bahasa Mandar,
berbagai langkah dilakukan oleh masyarakat dan pemerintah daerah, antara lain:
·
Program muatan lokal bahasa daerah di
sekolah.
·
Festival bahasa dan sastra Mandar.
·
Dokumentasi digital kosakata, cerita
rakyat, dan lagu Mandar.
·
Kolaborasi akademik antara
universitas dan komunitas lokal untuk penelitian linguistik.
Upaya ini penting untuk memastikan Bahasa
Mandar tetap hidup dan berkembang, sekaligus menjadi bagian dari warisan budaya
nasional Indonesia.
Penutup
Fenomena bilingualisme dan multilingualisme
merupakan kekayaan sekaligus tantangan dalam kehidupan berbahasa. Keberagaman
linguistik memperkaya interaksi sosial dan memperkuat identitas budaya, namun
juga berpotensi menimbulkan masalah seperti interferensi dan pergeseran bahasa.
Kasus masyarakat
Mandar menunjukkan bagaimana bilingualisme dapat menjadi bentuk
adaptasi sosial yang seimbang antara modernitas dan tradisi. Bahasa Indonesia
digunakan untuk komunikasi formal, sementara Bahasa Mandar tetap menjadi simbol
keakraban, identitas, dan kebanggaan lokal.
Menjaga keseimbangan ini bukan sekadar soal
kebahasaan, tetapi juga tentang menjaga jati
diri dan keberagaman budaya Indonesia.
Daftar
Pustaka
·
Baker, C. (2011). Foundations of Bilingual Education and
Bilingualism (5th ed.). Multilingual Matters.
·
Bialystok, E. (2001). Bilingualism in Development: Language, Literacy,
and Cognition. Cambridge University Press.
·
Bloomfield, L. (1933). Language. New York: Holt, Rinehart &
Winston.
·
Fishman, J. A. (1972). The Sociology of Language. Rowley, MA:
Newbury House.
·
Grosjean, F. (1982). Life with Two Languages: An Introduction to
Bilingualism. Harvard University Press.
·
Haugen, E. (1953). The Norwegian Language in America: A Study in
Bilingual Behavior. University of Pennsylvania Press.
·
Holmes, J. (2013). An Introduction to Sociolinguistics (4th
ed.). Routledge.
·
Suwito. (1985). Sosiolinguistik: Teori dan Problema.
Surakarta: Henary Offset.
·
Weinreich, U. (1953). Languages in Contact: Findings and Problems.
New York: Linguistic Circle of New York.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar