Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik
1.1. Pendahuluan
Sintaksis
Dalam khazanah ilmu linguistik, telaah tentang bahasa
tidak hanya berhenti pada bunyi (fonologi) atau bentuk kata (morfologi). Ada
sebuah tingkatan yang lebih kompleks dan fundamental dalam komunikasi manusia:
bagaimana kata-kata disusun menjadi unit yang bermakna, yaitu frasa, klausa,
dan kalimat. Ilmu yang mempelajari hal inilah yang disebut sintaksis.
Bayangkan Anda memiliki kumpulan kata: kucing, itu, mengejar, tikus,
di, kebun. Tanpa aturan sintaksis, kata-kata ini hanyalah sebuah daftar.
Namun, dengan penerapan aturan sintaksis bahasa Indonesia, kita dapat
menyusunnya menjadi kalimat yang bermakna: "Kucing itu mengejar
tikus di kebun." Susunan ini tidak arbitrer; ia mengikuti pola
dan prinsip tertentu yang dipahami bersama oleh penutur bahasa Indonesia.
Sintaksis, dengan demikian, adalah jantung dari tata
bahasa. Ia adalah mesin yang menggerakkan pembentukan kalimat, memastikan bahwa
pesan yang kita sampaikan tidak hanya dapat dipahami tetapi juga terdengar
alami dan gramatikal bagi penutur asli. Memahami sintaksis berarti mengungkap
logika tersembunyi di balik cara kita merangkai pikiran menjadi ujaran. Artikel
ini akan membahas pengertian, ruang lingkup, dan peran sentral sintaksis dalam
linguistik secara mendalam.
| Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) |
1.2. Definisi dan
Ruang Lingkup Sintaksis
Definisi Sintaksis
Kata "sintaksis" berasal dari bahasa
Yunani syn- (bersama-sama) dan tassein (menempatkan),
yang secara harfiah berarti "menempatkan bersama-sama". Dalam
linguistik modern, sintaksis didefinisikan sebagai cabang ilmu yang mempelajari
prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang mengatur cara kata-kata dikombinasikan
untuk membentuk frasa, klausa, dan kalimat dalam suatu bahasa (Fromkin, Rodman,
& Hyams, 2018). Sintaksis tidak hanya peduli pada urutan kata, tetapi juga
pada hubungan hierarkis antar unsur dalam sebuah konstruksi.
Sebagai contoh, perhatikan dua kalimat berikut:
1. Polisi menangkap pencuri itu.
2. Pencuri itu menangkap polisi.
Kedua kalimat menggunakan kata-kata yang sama, tetapi
urutan yang berbeda menghasilkan makna yang sangat bertolak belakang. Ini
menunjukkan betapa urutan sintaksis bersifat krusial. Lebih dari itu, sintaksis
juga menjelaskan mengapa susunan kata tertentu dianggap tidak gramatikal,
seperti "menangkap polisi pencuri itu". Struktur
ini melanggar aturan sintaksis bahasa Indonesia yang mengharuskan adanya pola
Subjek-Predikat-Objek (SPO) dalam kalimat deklaratif transitif.
Ruang Lingkup Kajian Sintaksis
Ruang lingkup sintaksis sangatlah luas, mencakup
berbagai unit dan konsep analisis. Berikut adalah beberapa elemen kunci yang
menjadi fokus kajian sintaksis:
1. Kategori Leksikal dan Kategori Fungsional: Analisis sintaksis dimulai dengan
mengidentifikasi kelas kata (kategori leksikal) seperti kata benda (nomina),
kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), dan kata keterangan (adverbia).
Selain itu, sintaksis juga mempelajari kategori fungsional seperti kata tugas
(preposisi, konjungsi), serta determiner (kata sandang seperti si, sang, ini, itu)
yang berperan dalam menunjukkan hubungan gramatikal.
2. Frasa: Kata-kata
tidak berdiri sendiri; mereka bergabung membentuk frasa. Sintaksis menganalisis
struktur internal dari berbagai jenis frasa, seperti:
o
Frasa Nomina (FN): buku baru yang sangat menarik itu
o
Frasa Verba (FV): sedang membaca dengan sungguh-sungguh
o
Frasa Adjektiva
(FA): pintar sekali
o
Frasa Preposisional
(FP): di dalam ruangan yang ber-AC
Setiap frasa memiliki sebuah unsur inti (head) yang menentukan sifat frasa
tersebut.
3. Fungsi Gramatikal: Selain
kategori, sintaksis mengkaji fungsi yang diemban oleh suatu unsur dalam
kalimat. Fungsi-fungsi ini antara lain:
o
Subjek (S): Pelaku atau pokok kalimat.
o
Predikat (P): Bagian yang menerangkan subjek.
o
Objek (O): Penderita atau sasaran tindakan.
o
Pelengkap (Pel): Unsur yang melengkapi makna verba.
o
Keterangan (Ket): Informasi tambahan tentang waktu, tempat, cara,
dll.
Penting untuk dicatat bahwa kategori leksikal dan fungsi gramatikal adalah dua
hal yang berbeda. Sebuah kata benda (kategori) bisa berfungsi sebagai subjek
dalam satu kalimat, tetapi sebagai objek dalam kalimat lain.
4. Klausa dan Kalimat: Klausa adalah
satuan gramatikal yang terdiri dari subjek dan predikat, dan dapat berdiri
sendiri sebagai kalimat tunggal atau menjadi bagian dari kalimat majemuk.
Sintaksis mempelajari berbagai jenis klausa (bebas, terikat) dan bagaimana
klausa-klausa tersebut digabungkan menggunakan konjungsi untuk membentuk
kalimat majemuk.
5. Teori-Teori Sintaksis: Untuk menganalisis data linguistik secara
sistematis, para ahli mengembangkan berbagai teori. Dua teori yang paling
berpengaruh adalah:
o
Tata Bahasa
Struktural: Teori ini, yang dipelopori oleh Leonard
Bloomfield, berfokus pada mengidentifikasi dan menganalisis konstituen
(bagian-bagian penyusun kalimat) melalui tes substitusi, perpindahan, dan
pelesapan (Bloomfield, 1933).
o
Tata Bahasa
Generatif-Transformasi: Dicetuskan
oleh Noam Chomsky, teori revolusioner ini berpendapat bahwa manusia memiliki
kemampuan bawaan (language acquisition device) untuk bahasa. Tata bahasa
generatif berusaha menemukan aturan universal yang mendasari semua bahasa
manusia, yang dikenal sebagai "Universal Grammar". Teori ini
memperkenalkan konsep seperti Struktur-Dalam (deep
structure—representasi abstrak makna) dan Struktur-Luar (surface
structure—bentuk kalimat yang sebenarnya diucapkan), yang dihubungkan oleh
aturan transformasi (Chomsky, 1957; Carnie, 2021).
1.3. Peran
Sintaksis dalam Linguistik
Sintaksis bukanlah sebuah bidang yang terisolasi. Ia
memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi dengan cabang-cabang
linguistik lainnya, serta memainkan peran kunci dalam memahami hakikat bahasa.
1. Sintaksis dan Semantik (Ilmu Makna): Hubungan antara sintaksis dan semantik sangatlah
erat. Struktur sintaksis membatasi dan memandu interpretasi semantik. Seperti
contoh "polisi menangkap pencuri" sebelumnya, struktur sintaksislah
yang menentukan siapa yang melakukan penangkapan dan siapa yang ditangkap.
Namun, sintaksis dan semantik tidak selalu berjalan seiring. Kalimat
seperti "Ide-ide yang berwarna hijau itu tidur dengan garang" secara
sintaksis mungkin benar (memiliki S-P-Ket), tetapi secara semantik tidak masuk
akal. Ini menunjukkan bahwa meskipun berhubungan dekat, sintaksis dan semantik
adalah level analisis yang independen.
2. Sintaksis dan Morfologi (Ilmu Bentuk Kata): Morfologi menciptakan kata, sementara sintaksis
merangkainya. Batas antara keduanya seringkali kabur. Misalnya, dalam bahasa
Indonesia, afiksasi seperti meN- dan *di-* dalam menulis dan ditulis tidak
hanya mengubah bentuk kata tetapi juga memberi sinyal tentang fungsi
sintaksisnya (verba aktif vs. pasif), yang pada akhirnya mempengaruhi struktur
kalimat.
3. Sintaksis dan Fonologi (Ilmu Bunyi): Aspek fonologis seperti intonasi, tekanan, dan
jeda sering kali merefleksikan struktur sintaksis. Dalam kalimat "Murid
yang rajin membaca buku," jeda setelah rajin (Murid
yang rajin, membaca buku) versus jeda setelah membaca (Murid
yang rajin membaca, buku) menghasilkan pengelompokan konstituen dan makna yang
berbeda. Fonologi bekerja berdasarkan batasan yang ditetapkan oleh sintaksis.
4. Sintaksis dan Psikolinguistik: Kajian sintaksis sangat penting dalam
psikolinguistik untuk memahami bagaimana manusia memproses dan memproduksi
kalimat secara real-time. Teori sintaksis membantu memprediksi kalimat mana
yang lebih mudah atau lebih sulit diproses oleh otak. Selain itu, studi tentang
pemerolehan bahasa anak menunjukkan bahwa anak-anak menginternalisasi aturan
sintaksis yang sangat rumit dengan sangat cepat, sebuah fakta yang menjadi
bukti pendukung kuat bagi teori generatif Chomsky tentang kemampuan bahasa
bawaan (Ambridge & Lieven, 2011).
5. Sintaksis dan Analisis Wacana: Sintaksis memberikan alat-alat untuk
menganalisis bagaimana kalimat-kalimat dihubungkan dalam sebuah wacana yang
lebih besar. Pilihan struktur sintaksis (misalnya, kalimat aktif vs. pasif)
dapat digunakan untuk mengatur aliran informasi, menonjolkan topik tertentu,
atau menciptakan kohesi antar kalimat dalam sebuah paragraf.
Kesimpulan
Sintaksis merupakan pilar fundamental dalam linguistik
yang mempelajari sistem aturan untuk membangun kalimat. Ruang lingkupnya
mencakup analisis terhadap kategori kata, frasa, fungsi gramatikal, klausa, dan
kalimat, baik melalui pendekatan struktural maupun generatif. Perannya tidak
terbatas pada analisis kalimat secara isolasi, tetapi juga menjalin hubungan
simbiosis dengan cabang linguistik lain seperti semantik, morfologi, dan
fonologi, serta memberikan kontribusi vital bagi pemahaman kita tentang proses
kognitif di balik pemahaman dan produksi bahasa. Dengan menguasai sintaksis,
kita tidak hanya memahami tata bahasa suatu bahasa, tetapi juga mengungkap
logika dan keindahan sistem yang mengatur salah satu kemampuan paling unik
manusia: berbahasa.
Daftar Pustaka
Ambridge, B., & Lieven, E. V. M. (2011). Child
language acquisition: Contrasting theoretical approaches. Cambridge
University Press.
Bloomfield, L. (1933). Language. Henry
Holt and Company.
Carnie, A. (2021). Syntax: A generative
introduction (4th ed.). Wiley-Blackwell.
Chomsky, N. (1957). Syntactic structures.
Mouton de Gruyter.
Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N. (2018). An
introduction to language (11th ed.). Cengage Learning.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar