Sabtu, 08 November 2025

Pengantar Sintaksis: Memahami Struktur dan Aturan Kalimat (01)

Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik

1.1. Pendahuluan Sintaksis

Dalam khazanah ilmu linguistik, telaah tentang bahasa tidak hanya berhenti pada bunyi (fonologi) atau bentuk kata (morfologi). Ada sebuah tingkatan yang lebih kompleks dan fundamental dalam komunikasi manusia: bagaimana kata-kata disusun menjadi unit yang bermakna, yaitu frasa, klausa, dan kalimat. Ilmu yang mempelajari hal inilah yang disebut sintaksis. Bayangkan Anda memiliki kumpulan kata: kucing, itu, mengejar, tikus, di, kebun. Tanpa aturan sintaksis, kata-kata ini hanyalah sebuah daftar. Namun, dengan penerapan aturan sintaksis bahasa Indonesia, kita dapat menyusunnya menjadi kalimat yang bermakna: "Kucing itu mengejar tikus di kebun." Susunan ini tidak arbitrer; ia mengikuti pola dan prinsip tertentu yang dipahami bersama oleh penutur bahasa Indonesia.

Sintaksis, dengan demikian, adalah jantung dari tata bahasa. Ia adalah mesin yang menggerakkan pembentukan kalimat, memastikan bahwa pesan yang kita sampaikan tidak hanya dapat dipahami tetapi juga terdengar alami dan gramatikal bagi penutur asli. Memahami sintaksis berarti mengungkap logika tersembunyi di balik cara kita merangkai pikiran menjadi ujaran. Artikel ini akan membahas pengertian, ruang lingkup, dan peran sentral sintaksis dalam linguistik secara mendalam.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 

1.2. Definisi dan Ruang Lingkup Sintaksis

Definisi Sintaksis

Kata "sintaksis" berasal dari bahasa Yunani syn- (bersama-sama) dan tassein (menempatkan), yang secara harfiah berarti "menempatkan bersama-sama". Dalam linguistik modern, sintaksis didefinisikan sebagai cabang ilmu yang mempelajari prinsip-prinsip dan aturan-aturan yang mengatur cara kata-kata dikombinasikan untuk membentuk frasa, klausa, dan kalimat dalam suatu bahasa (Fromkin, Rodman, & Hyams, 2018). Sintaksis tidak hanya peduli pada urutan kata, tetapi juga pada hubungan hierarkis antar unsur dalam sebuah konstruksi.

Sebagai contoh, perhatikan dua kalimat berikut:

1.      Polisi menangkap pencuri itu.

2.      Pencuri itu menangkap polisi.

Kedua kalimat menggunakan kata-kata yang sama, tetapi urutan yang berbeda menghasilkan makna yang sangat bertolak belakang. Ini menunjukkan betapa urutan sintaksis bersifat krusial. Lebih dari itu, sintaksis juga menjelaskan mengapa susunan kata tertentu dianggap tidak gramatikal, seperti "menangkap polisi pencuri itu". Struktur ini melanggar aturan sintaksis bahasa Indonesia yang mengharuskan adanya pola Subjek-Predikat-Objek (SPO) dalam kalimat deklaratif transitif.

Ruang Lingkup Kajian Sintaksis

Ruang lingkup sintaksis sangatlah luas, mencakup berbagai unit dan konsep analisis. Berikut adalah beberapa elemen kunci yang menjadi fokus kajian sintaksis:

1.      Kategori Leksikal dan Kategori Fungsional: Analisis sintaksis dimulai dengan mengidentifikasi kelas kata (kategori leksikal) seperti kata benda (nomina), kata kerja (verba), kata sifat (adjektiva), dan kata keterangan (adverbia). Selain itu, sintaksis juga mempelajari kategori fungsional seperti kata tugas (preposisi, konjungsi), serta determiner (kata sandang seperti sisanginiitu) yang berperan dalam menunjukkan hubungan gramatikal.

2.      Frasa: Kata-kata tidak berdiri sendiri; mereka bergabung membentuk frasa. Sintaksis menganalisis struktur internal dari berbagai jenis frasa, seperti:

o    Frasa Nomina (FN): buku baru yang sangat menarik itu

o    Frasa Verba (FV): sedang membaca dengan sungguh-sungguh

o    Frasa Adjektiva (FA): pintar sekali

o    Frasa Preposisional (FP): di dalam ruangan yang ber-AC
Setiap frasa memiliki sebuah unsur inti (head) yang menentukan sifat frasa tersebut.

3.      Fungsi Gramatikal: Selain kategori, sintaksis mengkaji fungsi yang diemban oleh suatu unsur dalam kalimat. Fungsi-fungsi ini antara lain:

o    Subjek (S): Pelaku atau pokok kalimat.

o    Predikat (P): Bagian yang menerangkan subjek.

o    Objek (O): Penderita atau sasaran tindakan.

o    Pelengkap (Pel): Unsur yang melengkapi makna verba.

o    Keterangan (Ket): Informasi tambahan tentang waktu, tempat, cara, dll.
Penting untuk dicatat bahwa kategori leksikal dan fungsi gramatikal adalah dua hal yang berbeda. Sebuah kata benda (kategori) bisa berfungsi sebagai subjek dalam satu kalimat, tetapi sebagai objek dalam kalimat lain.

4.      Klausa dan Kalimat: Klausa adalah satuan gramatikal yang terdiri dari subjek dan predikat, dan dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tunggal atau menjadi bagian dari kalimat majemuk. Sintaksis mempelajari berbagai jenis klausa (bebas, terikat) dan bagaimana klausa-klausa tersebut digabungkan menggunakan konjungsi untuk membentuk kalimat majemuk.

5.      Teori-Teori Sintaksis: Untuk menganalisis data linguistik secara sistematis, para ahli mengembangkan berbagai teori. Dua teori yang paling berpengaruh adalah:

o    Tata Bahasa Struktural: Teori ini, yang dipelopori oleh Leonard Bloomfield, berfokus pada mengidentifikasi dan menganalisis konstituen (bagian-bagian penyusun kalimat) melalui tes substitusi, perpindahan, dan pelesapan (Bloomfield, 1933).

o    Tata Bahasa Generatif-Transformasi: Dicetuskan oleh Noam Chomsky, teori revolusioner ini berpendapat bahwa manusia memiliki kemampuan bawaan (language acquisition device) untuk bahasa. Tata bahasa generatif berusaha menemukan aturan universal yang mendasari semua bahasa manusia, yang dikenal sebagai "Universal Grammar". Teori ini memperkenalkan konsep seperti Struktur-Dalam (deep structure—representasi abstrak makna) dan Struktur-Luar (surface structure—bentuk kalimat yang sebenarnya diucapkan), yang dihubungkan oleh aturan transformasi (Chomsky, 1957; Carnie, 2021).

1.3. Peran Sintaksis dalam Linguistik

Sintaksis bukanlah sebuah bidang yang terisolasi. Ia memiliki hubungan yang erat dan saling melengkapi dengan cabang-cabang linguistik lainnya, serta memainkan peran kunci dalam memahami hakikat bahasa.

1.      Sintaksis dan Semantik (Ilmu Makna): Hubungan antara sintaksis dan semantik sangatlah erat. Struktur sintaksis membatasi dan memandu interpretasi semantik. Seperti contoh "polisi menangkap pencuri" sebelumnya, struktur sintaksislah yang menentukan siapa yang melakukan penangkapan dan siapa yang ditangkap. Namun, sintaksis dan semantik tidak selalu berjalan seiring. Kalimat seperti "Ide-ide yang berwarna hijau itu tidur dengan garang" secara sintaksis mungkin benar (memiliki S-P-Ket), tetapi secara semantik tidak masuk akal. Ini menunjukkan bahwa meskipun berhubungan dekat, sintaksis dan semantik adalah level analisis yang independen.

2.      Sintaksis dan Morfologi (Ilmu Bentuk Kata): Morfologi menciptakan kata, sementara sintaksis merangkainya. Batas antara keduanya seringkali kabur. Misalnya, dalam bahasa Indonesia, afiksasi seperti meN- dan *di-* dalam menulis dan ditulis tidak hanya mengubah bentuk kata tetapi juga memberi sinyal tentang fungsi sintaksisnya (verba aktif vs. pasif), yang pada akhirnya mempengaruhi struktur kalimat.

3.      Sintaksis dan Fonologi (Ilmu Bunyi): Aspek fonologis seperti intonasi, tekanan, dan jeda sering kali merefleksikan struktur sintaksis. Dalam kalimat "Murid yang rajin membaca buku," jeda setelah rajin (Murid yang rajin, membaca buku) versus jeda setelah membaca (Murid yang rajin membaca, buku) menghasilkan pengelompokan konstituen dan makna yang berbeda. Fonologi bekerja berdasarkan batasan yang ditetapkan oleh sintaksis.

4.      Sintaksis dan Psikolinguistik: Kajian sintaksis sangat penting dalam psikolinguistik untuk memahami bagaimana manusia memproses dan memproduksi kalimat secara real-time. Teori sintaksis membantu memprediksi kalimat mana yang lebih mudah atau lebih sulit diproses oleh otak. Selain itu, studi tentang pemerolehan bahasa anak menunjukkan bahwa anak-anak menginternalisasi aturan sintaksis yang sangat rumit dengan sangat cepat, sebuah fakta yang menjadi bukti pendukung kuat bagi teori generatif Chomsky tentang kemampuan bahasa bawaan (Ambridge & Lieven, 2011).

5.      Sintaksis dan Analisis Wacana: Sintaksis memberikan alat-alat untuk menganalisis bagaimana kalimat-kalimat dihubungkan dalam sebuah wacana yang lebih besar. Pilihan struktur sintaksis (misalnya, kalimat aktif vs. pasif) dapat digunakan untuk mengatur aliran informasi, menonjolkan topik tertentu, atau menciptakan kohesi antar kalimat dalam sebuah paragraf.

Kesimpulan

Sintaksis merupakan pilar fundamental dalam linguistik yang mempelajari sistem aturan untuk membangun kalimat. Ruang lingkupnya mencakup analisis terhadap kategori kata, frasa, fungsi gramatikal, klausa, dan kalimat, baik melalui pendekatan struktural maupun generatif. Perannya tidak terbatas pada analisis kalimat secara isolasi, tetapi juga menjalin hubungan simbiosis dengan cabang linguistik lain seperti semantik, morfologi, dan fonologi, serta memberikan kontribusi vital bagi pemahaman kita tentang proses kognitif di balik pemahaman dan produksi bahasa. Dengan menguasai sintaksis, kita tidak hanya memahami tata bahasa suatu bahasa, tetapi juga mengungkap logika dan keindahan sistem yang mengatur salah satu kemampuan paling unik manusia: berbahasa.

 

Daftar Pustaka

Ambridge, B., & Lieven, E. V. M. (2011). Child language acquisition: Contrasting theoretical approaches. Cambridge University Press.

Bloomfield, L. (1933). Language. Henry Holt and Company.

Carnie, A. (2021). Syntax: A generative introduction (4th ed.). Wiley-Blackwell.

Chomsky, N. (1957). Syntactic structures. Mouton de Gruyter.

Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N. (2018). An introduction to language (11th ed.). Cengage Learning.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...