Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik
7.1. Kalimat Kompleks
Dalam komunikasi sehari-hari, kita
jarang sekali hanya menggunakan kalimat-kalimat sederhana seperti "Ibu
pergi" atau "Hujan turun". Untuk menyampaikan gagasan yang lebih
rumit, menjelaskan hubungan sebab-akibat, menyatakan waktu, atau mengungkapkan
syarat, kita membutuhkan konstruksi kalimat yang lebih panjang dan terstruktur.
Inilah ranah kalimat
kompleks.
Secara definitif, kalimat kompleks
adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih, di mana terdapat satu
klausa independen (klausa utama) yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat,
dan satu atau lebih klausa dependen (klausa bawahan) yang tidak dapat berdiri
sendiri (Kridalaksana, 2008). Klausa bawahan ini "bergantung" pada
klausa utama untuk membentuk makna yang utuh. Misalnya, dalam kalimat "Saya akan pergi [jika hujan
reda]," bagian "Saya
akan pergi" adalah klausa independen, sedangkan "jika hujan reda" adalah
klausa dependen yang kehilangan makna lengkap jika diucapkan sendiri.
Penting untuk membedakan kalimat
kompleks dari kalimat majemuk setara. Kalimat majemuk setara (koordinatif)
menghubungkan dua atau lebih klausa independen yang statusnya setara, seperti
dalam "[Dia
belajar keras] dan [ia berhasil lulus ujian]." Kedua
klausa tersebut bisa berdiri sebagai kalimat terpisah. Sementara itu, esensi
dari kalimat kompleks adalah hubungan hierarkis antara klausa utama dan
klausa bawahan, menciptakan lapisan makna yang lebih dalam (Carnie, 2021).
Pemahaman tentang kalimat kompleks sangat krusial karena struktur inilah yang
memungkinkan kita untuk menyusun argumen yang logis, bercerita dengan alur
waktu yang jelas, dan menyampaikan nuansa makna dalam wacana tertulis maupun
lisan.
| Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) |
7.2. Struktur Kalimat Majemuk dan Kompleks
Untuk menganalisis kalimat kompleks
secara efektif, kita perlu memahaminya dari dua sudut pandang: pertama,
berdasarkan jenis
klausa bawahan yang digunakan, dan kedua,
berdasarkan cara
penggabungan klausa-klausa tersebut.
Jenis-Jenis Klausa
Bawahan dalam Kalimat Kompleks
Klausa bawahan diklasifikasikan
berdasarkan fungsi gramatikalnya dalam klausa utama. Secara umum, terdapat tiga
jenis utama:
1. Klausa Bawahan
Nomina (Complement Clause)
Klausa ini berfungsi seperti sebuah kata benda (nomina); ia dapat menjadi
subjek, objek, atau pelengkap dari verba dalam klausa utama. Klausa ini sering
diperkenalkan oleh kata penghubung bahwa atau untuk.
·
Sebagai Subjek: "[Bahwa
dia akan datang] sudah kami duga." (Klausa "Bahwa dia akan datang" berfungsi
sebagai subjek dari verba "duga").
·
Sebagai Objek: "Saya
mendengar [bahwa pertunjukan itu ditunda]." (Klausa "bahwa pertunjukan itu
ditunda" adalah objek dari verba "mendengar").
·
Sebagai Pelengkap: "Semua
berharap [agar keadaan segera membaik]."
Klausa nomina ini sangat umum setelah
verba yang menyatakan aktivitas kognitif (seperti berpikir, yakin, tahu),
persepsi (melihat,
mendengar), dan ucapan (berkata,
mengatakan).
2. Klausa Bawahan
Adjektiva (Relative Clause)
Klausa ini berfungsi seperti kata sifat (adjektiva); ia memodifikasi atau
menerangkan sebuah kata benda (nomina) dalam klausa utama. Klausa ini biasanya
diperkenalkan oleh kata penghubung relatif yang.
·
"Saya mengenal [orang [yang membantu kamu kemarin]]."
o Frasa Nomina: orang yang membantu kamu kemarin
o Inti: orang
o Klausa Relatif
(modifier): yang
membantu kamu kemarin (menerangkan orang yang mana).
·
"[Buku [yang kamu pinjam]] sangat menarik."
o Klausa "yang kamu pinjam" menerangkan
kata benda "buku".
Kehadiran klausa relatif memungkinkan
kita untuk memberikan informasi tambahan yang spesifik tentang suatu entitas
tanpa harus membuat kalimat baru, sehingga meningkatkan kerapatan informasi
dalam wacana.
3. Klausa Bawahan
Adverbial (Adverbial Clause)
Klausa ini berfungsi seperti kata keterangan (adverbia); ia memberikan
informasi tambahan tentang keadaan peristiwa dalam klausa utama, seperti waktu,
sebab, syarat, tujuan, dan konsesi. Jenis klausa inilah yang paling beragam.
·
Keterangan Waktu: "[Sebelum
matahari terbit], kami sudah harus berangkat." (Diperkenalkan
oleh sebelum,
ketika, setelah, saat).
·
Keterangan Sebab (Kausal): "Jalan itu ditutup [karena
terjadi longsor]." (Diperkenalkan oleh karena, sebab, oleh karena).
·
Keterangan Syarat (Kondisional): "[Jika cuaca cerah], kami akan
pergi mendaki." (Diperkenalkan oleh jika, seandainya, andaikata).
·
Keterangan Tujuan: "Dia
belajar dengan giat [agar dapat meraih beasiswa]." (Diperkenalkan
oleh agar, supaya,
untuk).
·
Keterangan Konsesi (Pertentangan): "[Meskipun hujan deras],
pertandingan tetap dilanjutkan." (Diperkenalkan
oleh meskipun,
walaupun, biarpun).
Struktur
Penggabungan: Tatabahasa Generatif dan Embedded Clause
Dalam kerangka teori tatabahasa
generatif-transformasi (Chomsky, 1957; Radford, 2009), kalimat kompleks
dianalisis sebagai struktur yang melibatkan penanaman (embedding). Klausa
bawahan (disebut embedded
clause atau subordinate
clause) ditanamkan ke dalam klausa utama.
Perhatikan kalimat: "Perempuan yang memenangi
lomba itu adalah adik saya."
Analisis struktural sederhananya adalah:
·
Klausa Utama: Perempuan
itu adalah adik saya.
·
Klausa Relatif (tertanam): yang memenangi lomba
Struktur pohon sintaksis akan
menunjukkan bahwa klausa relatif tersebut berada di dalam Frasa Nomina (FN)
yang berfungsi sebagai Subjek. Representasi yang sangat disederhanakan adalah:
Kalimat (S) / \ FN FV / \ | Inti (N) Klausa Relatif ... (sisanya) | |[Perempuan] [yang memenangi lomba itu] adalah adik saya.
Struktur ini mengilustrasikan konsep
hierarki dan penanaman. Klausa "yang
memenangi lomba itu" bukanlah entitas yang setara
dengan "Perempuan
adalah adik saya", melainkan bagian dari subjek itu sendiri.
Perbandingan dengan
Kalimat Majemuk Setara (Koordinasi)
Sementara kalimat kompleks bersifat
hierarkis, kalimat majemuk setara bersifat linear dan paralel. Konjungsi yang
digunakan (seperti dan,
atau, tetapi, lalu) menghubungkan dua klausa yang setara.
·
Kalimat Majemuk Setara: "[Dia
sudah siap], tetapi [teman-temannya belum datang]."
o Kedua klausa, "Dia sudah siap" dan "teman-temannya belum
datang", adalah independen dan setara. Konjungsi tetapi hanya
menyambungkan dua gagasan yang kontras.
·
Kalimat Kompleks (berbeda): "[Dia berangkat [sebelum
teman-temannya datang]]."
o Klausa "sebelum teman-temannya
datang" adalah bawahan yang secara hierarkis tertanam dan
bergantung pada klausa utama "Dia
berangkat".
Implikasi pada
Pemahaman dan Produksi Bahasa
Pemahaman tentang struktur kalimat
kompleks memiliki implikasi yang praktis dan teoretis.
1.
Kematangan Berbahasa: Kemampuan untuk menghasilkan dan
memahami kalimat kompleks merupakan indikator kematangan berbahasa, baik dalam
pemerolehan bahasa pertama pada anak (Ambridge & Lieven, 2011) maupun dalam
pembelajaran bahasa kedua. Seorang penutur yang mahir akan mampu merangkai
kalimat kompleks dengan variasi klausa bawahan yang tepat untuk menyampaikan
argumen yang kompleks.
2.
Analisis Wacana: Dalam wacana tulis, seperti karya ilmiah dan sastra,
kalimat kompleks mendominasi. Pengarang menggunakan berbagai jenis klausa
bawahan untuk mengatur alur informasi, menonjolkan ide utama, dan menciptakan
kohesi antar kalimat.
3.
Kejelasan Makna: Kesalahan dalam menyusun kalimat kompleks (misalnya,
kesalahan penempatan klausa relatif atau pemilihan konjungsi yang salah) dapat
menimbulkan ambiguitas. Contoh klasik adalah "Saya melihat pria dengan teropong." (Siapa
yang memegang teropong?). Versi yang lebih jelas adalah kalimat kompleks dengan
klausa relatif: "Saya
melihat pria [yang memegang teropong]."
Kesimpulan
Kalimat kompleks bukan sekadar kalimat
yang panjang, tetapi merupakan cerminan dari kemampuan kognitif manusia untuk
membangun pemikiran yang hierarkis, logis, dan penuh nuansa. Dengan memahami
struktur internalnya—melalui identifikasi jenis klausa bawahan (nomina,
adjektiva, adverbial) dan mekanisme penanamannya—kita mendapatkan alat yang
ampuh untuk menganalisis dan menghasilkan wacana yang koheren, efektif, dan
canggih. Penguasaan terhadap kalimat kompleks, oleh karena itu, adalah sebuah
pencapaian fundamental dalam penguasaan bahasa, baik sebagai penutur biasa,
pelajar, linguis, maupun sastrawan.
Daftar Pustaka
Ambridge, B., & Lieven, E. V. M.
(2011). Child
language acquisition: Contrasting theoretical approaches. Cambridge
University Press.
Carnie, A. (2021). Syntax: A generative introduction (4th
ed.). Wiley-Blackwell.
Chomsky, N. (1957). Syntactic structures.
Mouton de Gruyter.
Kridalaksana, H. (2008). Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Edisi
Kedua). Gramedia Pustaka Utama.
Radford, A. (2009). Analysing English sentences: A
minimalist approach. Cambridge University Press.
Tallerman, M.
(2014). Understanding
syntax (4th ed.). Routledge.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar