Selasa, 02 Desember 2025

Mengurai Kalimat Kompleks: Struktur dan Makna dalam Wacana

Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik

7.1. Kalimat Kompleks

Dalam komunikasi sehari-hari, kita jarang sekali hanya menggunakan kalimat-kalimat sederhana seperti "Ibu pergi" atau "Hujan turun". Untuk menyampaikan gagasan yang lebih rumit, menjelaskan hubungan sebab-akibat, menyatakan waktu, atau mengungkapkan syarat, kita membutuhkan konstruksi kalimat yang lebih panjang dan terstruktur. Inilah ranah kalimat kompleks.

Secara definitif, kalimat kompleks adalah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih, di mana terdapat satu klausa independen (klausa utama) yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat, dan satu atau lebih klausa dependen (klausa bawahan) yang tidak dapat berdiri sendiri (Kridalaksana, 2008). Klausa bawahan ini "bergantung" pada klausa utama untuk membentuk makna yang utuh. Misalnya, dalam kalimat "Saya akan pergi [jika hujan reda]," bagian "Saya akan pergi" adalah klausa independen, sedangkan "jika hujan reda" adalah klausa dependen yang kehilangan makna lengkap jika diucapkan sendiri.

Penting untuk membedakan kalimat kompleks dari kalimat majemuk setara. Kalimat majemuk setara (koordinatif) menghubungkan dua atau lebih klausa independen yang statusnya setara, seperti dalam "[Dia belajar keras] dan [ia berhasil lulus ujian]." Kedua klausa tersebut bisa berdiri sebagai kalimat terpisah. Sementara itu, esensi dari kalimat kompleks adalah hubungan hierarkis antara klausa utama dan klausa bawahan, menciptakan lapisan makna yang lebih dalam (Carnie, 2021). Pemahaman tentang kalimat kompleks sangat krusial karena struktur inilah yang memungkinkan kita untuk menyusun argumen yang logis, bercerita dengan alur waktu yang jelas, dan menyampaikan nuansa makna dalam wacana tertulis maupun lisan.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 

7.2. Struktur Kalimat Majemuk dan Kompleks

Untuk menganalisis kalimat kompleks secara efektif, kita perlu memahaminya dari dua sudut pandang: pertama, berdasarkan jenis klausa bawahan yang digunakan, dan kedua, berdasarkan cara penggabungan klausa-klausa tersebut.

Jenis-Jenis Klausa Bawahan dalam Kalimat Kompleks

Klausa bawahan diklasifikasikan berdasarkan fungsi gramatikalnya dalam klausa utama. Secara umum, terdapat tiga jenis utama:

1. Klausa Bawahan Nomina (Complement Clause)
Klausa ini berfungsi seperti sebuah kata benda (nomina); ia dapat menjadi subjek, objek, atau pelengkap dari verba dalam klausa utama. Klausa ini sering diperkenalkan oleh kata penghubung bahwa atau untuk.

·         Sebagai Subjek: "[Bahwa dia akan datang] sudah kami duga." (Klausa "Bahwa dia akan datang" berfungsi sebagai subjek dari verba "duga").

·         Sebagai Objek: "Saya mendengar [bahwa pertunjukan itu ditunda]." (Klausa "bahwa pertunjukan itu ditunda" adalah objek dari verba "mendengar").

·         Sebagai Pelengkap: "Semua berharap [agar keadaan segera membaik]."

Klausa nomina ini sangat umum setelah verba yang menyatakan aktivitas kognitif (seperti berpikir, yakin, tahu), persepsi (melihat, mendengar), dan ucapan (berkata, mengatakan).

2. Klausa Bawahan Adjektiva (Relative Clause)
Klausa ini berfungsi seperti kata sifat (adjektiva); ia memodifikasi atau menerangkan sebuah kata benda (nomina) dalam klausa utama. Klausa ini biasanya diperkenalkan oleh kata penghubung relatif yang.

·         "Saya mengenal [orang [yang membantu kamu kemarin]]."

o    Frasa Nomina: orang yang membantu kamu kemarin

o    Inti: orang

o    Klausa Relatif (modifier): yang membantu kamu kemarin (menerangkan orang yang mana).

·         "[Buku [yang kamu pinjam]] sangat menarik."

o    Klausa "yang kamu pinjam" menerangkan kata benda "buku".

Kehadiran klausa relatif memungkinkan kita untuk memberikan informasi tambahan yang spesifik tentang suatu entitas tanpa harus membuat kalimat baru, sehingga meningkatkan kerapatan informasi dalam wacana.

3. Klausa Bawahan Adverbial (Adverbial Clause)
Klausa ini berfungsi seperti kata keterangan (adverbia); ia memberikan informasi tambahan tentang keadaan peristiwa dalam klausa utama, seperti waktu, sebab, syarat, tujuan, dan konsesi. Jenis klausa inilah yang paling beragam.

·         Keterangan Waktu: "[Sebelum matahari terbit], kami sudah harus berangkat." (Diperkenalkan oleh sebelum, ketika, setelah, saat).

·         Keterangan Sebab (Kausal): "Jalan itu ditutup [karena terjadi longsor]." (Diperkenalkan oleh karena, sebab, oleh karena).

·         Keterangan Syarat (Kondisional): "[Jika cuaca cerah], kami akan pergi mendaki." (Diperkenalkan oleh jika, seandainya, andaikata).

·         Keterangan Tujuan: "Dia belajar dengan giat [agar dapat meraih beasiswa]." (Diperkenalkan oleh agar, supaya, untuk).

·         Keterangan Konsesi (Pertentangan): "[Meskipun hujan deras], pertandingan tetap dilanjutkan." (Diperkenalkan oleh meskipun, walaupun, biarpun).

Struktur Penggabungan: Tatabahasa Generatif dan Embedded Clause

Dalam kerangka teori tatabahasa generatif-transformasi (Chomsky, 1957; Radford, 2009), kalimat kompleks dianalisis sebagai struktur yang melibatkan penanaman (embedding). Klausa bawahan (disebut embedded clause atau subordinate clause) ditanamkan ke dalam klausa utama.

Perhatikan kalimat: "Perempuan yang memenangi lomba itu adalah adik saya."

Analisis struktural sederhananya adalah:

·         Klausa Utama: Perempuan itu adalah adik saya.

·         Klausa Relatif (tertanam): yang memenangi lomba

Struktur pohon sintaksis akan menunjukkan bahwa klausa relatif tersebut berada di dalam Frasa Nomina (FN) yang berfungsi sebagai Subjek. Representasi yang sangat disederhanakan adalah:

          Kalimat (S)
         /          \
        FN            FV
       /  \           |
  Inti (N)  Klausa Relatif  ... (sisanya)
   |          |
[Perempuan] [yang memenangi lomba itu] adalah adik saya.

Struktur ini mengilustrasikan konsep hierarki dan penanaman. Klausa "yang memenangi lomba itu" bukanlah entitas yang setara dengan "Perempuan adalah adik saya", melainkan bagian dari subjek itu sendiri.

Perbandingan dengan Kalimat Majemuk Setara (Koordinasi)

Sementara kalimat kompleks bersifat hierarkis, kalimat majemuk setara bersifat linear dan paralel. Konjungsi yang digunakan (seperti dan, atau, tetapi, lalu) menghubungkan dua klausa yang setara.

·         Kalimat Majemuk Setara: "[Dia sudah siap], tetapi [teman-temannya belum datang]."

o    Kedua klausa, "Dia sudah siap" dan "teman-temannya belum datang", adalah independen dan setara. Konjungsi tetapi hanya menyambungkan dua gagasan yang kontras.

·         Kalimat Kompleks (berbeda): "[Dia berangkat [sebelum teman-temannya datang]]."

o    Klausa "sebelum teman-temannya datang" adalah bawahan yang secara hierarkis tertanam dan bergantung pada klausa utama "Dia berangkat".

Implikasi pada Pemahaman dan Produksi Bahasa

Pemahaman tentang struktur kalimat kompleks memiliki implikasi yang praktis dan teoretis.

1.      Kematangan Berbahasa: Kemampuan untuk menghasilkan dan memahami kalimat kompleks merupakan indikator kematangan berbahasa, baik dalam pemerolehan bahasa pertama pada anak (Ambridge & Lieven, 2011) maupun dalam pembelajaran bahasa kedua. Seorang penutur yang mahir akan mampu merangkai kalimat kompleks dengan variasi klausa bawahan yang tepat untuk menyampaikan argumen yang kompleks.

2.      Analisis Wacana: Dalam wacana tulis, seperti karya ilmiah dan sastra, kalimat kompleks mendominasi. Pengarang menggunakan berbagai jenis klausa bawahan untuk mengatur alur informasi, menonjolkan ide utama, dan menciptakan kohesi antar kalimat.

3.      Kejelasan Makna: Kesalahan dalam menyusun kalimat kompleks (misalnya, kesalahan penempatan klausa relatif atau pemilihan konjungsi yang salah) dapat menimbulkan ambiguitas. Contoh klasik adalah "Saya melihat pria dengan teropong." (Siapa yang memegang teropong?). Versi yang lebih jelas adalah kalimat kompleks dengan klausa relatif: "Saya melihat pria [yang memegang teropong]."

Kesimpulan

Kalimat kompleks bukan sekadar kalimat yang panjang, tetapi merupakan cerminan dari kemampuan kognitif manusia untuk membangun pemikiran yang hierarkis, logis, dan penuh nuansa. Dengan memahami struktur internalnya—melalui identifikasi jenis klausa bawahan (nomina, adjektiva, adverbial) dan mekanisme penanamannya—kita mendapatkan alat yang ampuh untuk menganalisis dan menghasilkan wacana yang koheren, efektif, dan canggih. Penguasaan terhadap kalimat kompleks, oleh karena itu, adalah sebuah pencapaian fundamental dalam penguasaan bahasa, baik sebagai penutur biasa, pelajar, linguis, maupun sastrawan.

 

Daftar Pustaka

Ambridge, B., & Lieven, E. V. M. (2011). Child language acquisition: Contrasting theoretical approaches. Cambridge University Press.

Carnie, A. (2021). Syntax: A generative introduction (4th ed.). Wiley-Blackwell.

Chomsky, N. (1957). Syntactic structures. Mouton de Gruyter.

Kridalaksana, H. (2008). Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Edisi Kedua). Gramedia Pustaka Utama.

Radford, A. (2009). Analysing English sentences: A minimalist approach. Cambridge University Press.

Tallerman, M. (2014). Understanding syntax (4th ed.). Routledge.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...