Senin, 17 November 2025

Tinjauan Psikolinguistik terhadap Ungkapan “Sebaiknya Tak Dilakukan di Depan Umum”

 

🔎 Tinjauan Psikolinguistik terhadap Ungkapan “Sebaiknya Tak Dilakukan di Depan Umum”

Dalam psikolinguistik, bahasa dipahami bukan hanya sebagai rangkaian kata, tetapi sebagai produk kognisi, alat komunikasi sosial, serta pemicu persepsi dan interpretasi dalam masyarakat. Pernyataan PBNU ini dapat dianalisis melalui beberapa aspek:

 

Sumber : hypeakbar instagram

1. Pragmatik: Makna Tersirat (Implicature)

Secara literal, kalimat tersebut hanya menyarankan lokasi perilaku—“tidak di depan umum”.

Tetapi dari sudut pragmatik, ada makna tersirat:

Mitigated criticism (kritik yang diperhalus)

PBNU tidak menyatakan langsung bahwa tindakan itu salah, tetapi menggunakan strategi mitigasi agar:

  • tidak menyinggung keras,
  • tetap menjaga wibawa tokoh,
  • meredam gejolak publik.

Ungkapan “sebaiknya” = softener → meredakan efek ancaman muka (face-threatening act).

Imbauan moral tanpa konfrontasi

Secara implisit PBNU berkata:

Perilaku itu tidak pantas dilakukan, terutama di ruang publik, karena menimbulkan persepsi negatif.

Ini adalah bentuk indirect speech act—pesan larangan disampaikan lewat saran.

 

2. Psikologi Persepsi: Efek di Hadapan Publik

Dalam psikolinguistik sosial, tindakan berbahasa dapat membentuk persepsi kolektif.

Dengan menekankan “di depan umum”, PBNU memberi sinyal bahwa:

  • lingkungan publik menambah beban interpretatif,
  • penonton dapat salah menafsirkan,
  • perilaku sama dapat dinilai berbeda bila dilakukan di ruang privat.

Pernyataan ini sejalan dengan teori perceptual framing:

Konteks situasional memengaruhi bagaimana tindakan dipahami oleh otak dan sosial publik.

 

3. Politeness Theory (Brown & Levinson)

Pernyataan PBNU mengikuti prinsip kesantunan:

Positive face saving

Berusaha menjaga citra Gus Elham dan jamaahnya.

Negative face saving

Tidak ingin memaksakan larangan langsung, jadi digunakan bentuk saran:

  • “sebaiknya”
  • bukan “harus” atau “tidak boleh”.

Bahasa yang lebih halus membantu menghindari konflik antar kelompok.

 

4. Psikolinguistik Emosi: Pengendalian Reaksi Publik

Bahasa PBNU punya fungsi meredakan emosi sosial (public appeasement).

Ungkapan itu:

  • menurunkan tensi publik,
  • menghindari polarisasi,
  • menyampaikan penolakan secara terkendali.

Dalam psikologi komunikasi, ini adalah strategi emotional regulation melalui bahasa.

 

5. Cognitive Framing & Damage Control

PBNU mencoba mengarahkan frame berpikir masyarakat:

Framing inti:

Masalah utama bukan sekadar tindakan mencium anak →
tapi konteksnya: dilakukan di depan umum sehingga memicu fitnah.

Dengan framing ini:

  • fokus publik digeser dari “niat” ke “situasi”.
  • mengurangi pembacaan moral terhadap pelaku.
  • menekankan pentingnya kehati-hatian sosial.

 

6. Pilihan Diksi: Menghindari Kata Berkonotasi Keras

PBNU tidak menggunakan kata:

  • “haram”
  • “tidak bermoral”
  • “melanggar”

Sebaliknya digunakan:

  • “sebaiknya”
  • “tidak dilakukan”
    → pilihan diksi yang lebih netral, kurang emosional, dan tidak menstigma.

Dari sudut psikolinguistik, ini adalah pilihan untuk:

  • menurunkan efek kognitif negatif,
  • mencegah reaksi defensif,
  • membuat pesan lebih diterima.

 

📌 Kesimpulan Psikolinguistik

Pernyataan “sebaiknya tak dilakukan di depan umum” adalah contoh bahasa yang:

  1. Mengandung makna tersirat (kritik yang diperhalus).
  2. Menggunakan strategi kesantunan untuk mencegah konflik.
  3. Membingkai persepsi masyarakat agar fokus pada konteks, bukan pada penilaian moral personal.
  4. Mengatur emosi publik lewat pilihan kata yang menenangkan.
  5. Merefleksikan proses kognitif sosial, bahwa perilaku sama dapat dinilai berbeda karena konteks publik.

Secara psikolinguistik, PBNU tidak hanya menyampaikan penilaian hukum atau moral, tetapi juga mengelola persepsi, interpretasi sosial, dan dinamika emosi masyarakat melalui bentuk bahasa yang dipilih.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...