Bahasa adalah mahkota peradaban manusia, sebuah sistem yang begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita sering lupa betapa kompleks dan ajaibnya fenomena ini. Dari sekadar obrolan ringan di warung kopi hingga pidato yang menggetarkan jiwa, dari puisi yang menyentuh kalbu hingga rumus matematika yang rumit, semuanya dimungkinkan oleh bahasa. Namun, apa sebenarnya hakikat bahasa? Apa yang membedakannya dari sistem komunikasi hewan? Dan bagaimanakah proses manusia, khususnya anak-anak, menguasai kemampuan yang luar biasa ini? Artikel ini akan membahas ketiga pilar tersebut—hakikat, ciri, dan proses pemerolehan bahasa—dengan memperkaya pemahaman melalui berbagai contoh ilustrasi.
![]() |
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
Hakikat Bahasa: Lebih dari Sekadar Ucapan
Pada
intinya, bahasa dapat dipahami sebagai sistem simbol yang arbitrer
dan konvensional yang digunakan untuk komunikasi dan pemikiran oleh suatu
komunitas penutur. Definisi ini mengandung beberapa elemen kunci.
Pertama,
bahasa adalah sebuah sistem. Ia tidak terdiri dari kata-kata yang acak, melainkan dari
seperangkat aturan yang terstruktur dan saling berhubungan. Aturan-aturan ini
mencakup tata bunyi (fonologi), tata kata (morfologi), tata kalimat
(sintaksis), dan tata makna (semantik). Seorang penutur bahasa Indonesia secara
intuitif tahu bahwa urutan "Saya pergi ke pasar" bermakna, sementara
"Pergi saya pasar ke" tidak bermakna. Pengetahuan intuitif tentang
sistem inilah yang memungkinkan komunikasi yang teratur.
Kedua,
bahasa bersifat simbolis. Kata-kata yang kita ucapkan hanyalah simbol yang mewakili
objek, gagasan, atau peristiwa di dunia nyata. Tidak ada hubungan inherent atau
alamiah antara simbol (bunyi atau tulisan "kuda") dengan referennya
(hewan berkaki empat yang bisa ditunggangi). Sifat arbitrer ini terbukti dari
berbedanya kata untuk objek yang sama dalam bahasa yang berbeda (misalnya,
"horse" dalam bahasa Inggris, "cheval" dalam bahasa
Prancis).
Ketiga,
bahasa adalah konvensional. Meski arbitrer, makna sebuah simbol disepakati bersama oleh
komunitas penuturnya. Seorang anak yang belajar bahasa ibunya pada dasarnya
sedang mempelajari konvensi-konvensi ini. Tanpa kesepakatan bersama, bahasa
tidak akan berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif.
Terakhir,
dan yang paling penting, bahasa bukan sekadar alat untuk komunikasi eksternal,
tetapi juga untuk pemikiran internal. Kita menggunakan bahasa untuk bernalar, menyusun rencana,
mengingat, dan bahkan berbicara kepada diri sendiri (Vygotsky, 2012). Dalam hal
ini, bahasa membentuk sekaligus merepresentasikan cara kita memandang dunia.
Ciri-Ciri Hakiki Bahasa Manusia: Pembedanya dari Sistem
Komunikasi Lain
Untuk
membedakan bahasa manusia dari sistem komunikasi hewan atau sistem tanda
buatan, para linguis seperti Charles Hockett (1960) mengidentifikasi sejumlah
ciri desain (design features). Beberapa yang paling fundamental adalah:
1. Arbitrariness (Kesemenaan)
Seperti telah disinggung, tidak ada hubungan logis antara simbol dan yang
disimbolkan. Kata "air" tidak memiliki sifat basah, sebagaimana kata "api"
tidak terasa panas.
·
Ilustrasi: Bayangkan seorang
alien yang pertama kali datang ke Bumi. Tanpa mempelajari konvensi bahasa
Indonesia, ia tidak akan bisa menebak bahwa rangkaian bunyi /a-i-r/ merujuk
pada zat cair yang transparan. Ia mungkin saja mengira itu merujuk pada batu
atau pohon.
2. Productivity (Produktivitas)
Bahasa memungkinkan penuturnya untuk menghasilkan dan memahami kalimat-kalimat
yang sama sekali baru, yang belum pernah diucapkan atau didengar sebelumnya.
Sifat ini bersifat tak terbatas (infinite).
·
Ilustrasi: Kalimat
"Astronot berkacamata itu sedang dengan saksama memetakan permukaan
asteroid berwarna ungu di gugus bintang Andromeda" sangat mungkin adalah
kalimat yang belum pernah Anda baca sebelumnya. Namun, Anda dapat memahaminya
karena produktivitas bahasa memungkinkan kita menggabungkan kata dan aturan
sintaksis secara kreatif.
3. Duality of Patterning (Dualitas Pola)
Bahasa bekerja pada dua tingkat: tingkat bunyi (unsur yang tidak bermakna) dan
tingkat kata (unsur yang bermakna). Sejumlah bunyi yang terbatas (fonem) dapat
dikombinasikan untuk membentuk jumlah kata yang hampir tak terbatas.
·
Ilustrasi: Dalam bahasa
Indonesia, kita memiliki bunyi /p/, /a/, /n/, /t/, /i/. Bunyi-bunyi ini sendiri
tidak bermakna. Namun, ketika dikombinasikan, mereka dapat membentuk kata
"panti" (yang bermakna), "tipan" (surat), "patin"
(jenis ikan), atau "nitip" (menitipkan). Dari unit tidak bermakna,
terciptalah unit bermakna.
4. Displacement (Pergeseran)
Kita dapat berbicara tentang hal-hal yang tidak hadir secara fisik dalam ruang
dan waktu. Kita bisa membicarakan masa lalu, berandai-andai tentang masa depan,
atau mendiskusikan tempat yang sangat jauh.
·
Ilustrasi: Seorang peneliti
dapat mempresentasikan temuannya tentang kehidupan di Mars 2 miliar tahun yang
lalu. Meskipun Mars dan masa 2 miliar tahun lalu tidak hadir di ruang
konferensi, bahasa memungkinkan kita untuk "membawanya" ke dalam
pembicaraan.
5. Cultural Transmission (Transmisi Budaya)
Bahasa tidak diwariskan secara genetik, melainkan dipelajari melalui paparan
dan interaksi dalam lingkungan budaya. Seorang bayi yang dibesarkan oleh
keluarga berbahasa Korea akan fasih berbahasa Korea, terlepas dari latar
belakang etnis genetiknya.
·
Ilustrasi: Kasus "anak
liar" seperti Genie, seorang gadis yang diisolasi dan tidak terpapar
bahasa hingga usia 13 tahun, menunjukkan betapa kritisnya periode awal
kehidupan untuk memperoleh bahasa secara alami. Meskipun kemudian diajari,
Genie tidak pernah menguasai tata bahasa seperti penutur normal (Curtiss,
1977).
Ciri-ciri
inilah, terutama produktivitas dan displacement, yang membedakan bahasa manusia
secara kualitatif dari sistem komunikasi hewan yang umumnya terbatas pada
sinyal-sinyal untuk situasi "di sini dan saat ini" (seperti
peringatan bahaya, panggilan kawin).
Proses Pemerolehan Bahasa: Dari Ocehan hingga Kalimat
Kompleks
Pemerolehan
bahasa pertama (bahasa ibu) adalah salah satu pencapaian kognitif terhebat
manusia. Proses ini terjadi dengan kecepatan dan keseragaman yang menakjubkan
di seluruh dunia, menunjukkan adanya fondasi biologis yang kuat, yang sering
disebut sebagai "Piranti Pemerolehan Bahasa" (Language Acquisition
Device - LAD) oleh Noam Chomsky (1965).
Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa:
1.
Tahap Prakemampuan (0-1
tahun): Bayak baru lahir mampu menangis dan membuat suara
refleksif. Pada usia sekitar 6 minggu, mereka memasuki tahap cooing (mengeluarkan
suara vokal seperti "aaa", "uuu"). Sekitar 6 bulan,
muncul babbling (mengoceh),
yaitu pengulangan suara konsonan-vokal seperti "mama",
"dada", "gaga". Ocehan ini mulai menyerupai fonem bahasa
yang didengar bayi di sekitarnya.
2.
Tahap Satu Kata
(Holofrastik) (12-18 bulan): Anak mulai mengucapkan kata pertama mereka yang bermakna,
seperti "mamam", "papa", "itu". Kata tunggal ini
seringkali mewakili maksud keseluruhan kalimat. Misalnya, "minum"
bisa berarti "Aku mau minum", "Ini minumannya," atau
"Dia sedang minum."
3.
Tahap Dua Kata (18-24
bulan): Anak mulai menggabungkan dua kata, menandai awal
sintaksis. Kalimatnya sederhana dan sering menghilangkan kata fungsi
(grammatical morphemes). Contoh: "Mama datang", "Susu
habis", "Buka pintu". Urutan kata biasanya sudah mengikuti tata
bahasa bahasa ibunya.
4.
Tahap Ujaran Telegrafik
(2-3 tahun): Anak mulai menghasilkan kalimat yang lebih panjang (tiga
kata atau lebih), tetapi masih menghilangkan kata-kata fungsi seperti
preposisi, kata sambung, dan artikel. Ujarannya menyerupai telegram. Contoh:
"Aku mau main bola" (bukan "Aku ingin main bola"), "Itu mobil
papa" (bukan "Itu adalah mobil nya papa").
5.
Tahap Tata Bahasa Awal (3-5
tahun): Pada tahap ini, morfem gramatikal mulai muncul. Anak mulai
menggunakan awalan/akhiran, preposisi, kata ganti, dan bentuk tanya serta
negasi. Tahap ini juga ditandai dengan fenomena overregularization (penggerakan
berlebihan), di mana anak menerapkan aturan tata bahasa secara umum pada
kata-kata yang seharusnya tidak teratur. Contoh klasik dalam bahasa Indonesia
adalah penggunaan kata "kupu-kupu" menjadi "kupi-kupi"
karena analogi dari kata seperti "lari-lari", atau dalam bahasa
Inggris "I go-ed" instead of "I went". Kesalahan ini justru
membuktikan bahwa anak telah memahami aturan, bukan sekadar meniru (Pinker,
1994).
Peran Bawaan vs. Lingkungan (Nature vs. Nurture):
Proses
ini tidak terjadi dalam vakum. Teori interaksionis, seperti yang dikemukakan
Lev Vygotsky (2012), menekankan pentingnya interaksi sosial. Orang tua dan
pengasuh sering menggunakan bahasa pengasuhan (child-directed speech) atau "bahasa
bayi" yang karakteristiknya lebih lambat, bernada tinggi, dan strukturnya
disederhanakan. Interaksi dalam Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal
Development)—di mana orang dewasa memberikan dukungan (scaffolding) untuk
membantu anak menghasilkan ujaran yang lebih kompleks—sangat penting.
·
Ilustrasi: Seorang anak
melihat bola dan berkata, "Itu bola!" Ibunya merespons dengan
memperluas ujaran tersebut, "Iya, betul! Itu bola merah yang besar,
ya?" Dalam interaksi ini, anak tidak hanya mendapat konfirmasi, tetapi
juga masukan linguistik yang lebih kaya yang akan diserapnya untuk perkembangan
selanjutnya.
Kesimpulan
Bahasa
manusia adalah sebuah fenomena yang menakjubkan. Hakikatnya sebagai sistem
simbolis yang arbitrer dan konvensional memungkinkannya menjadi alat yang
fleksibel dan ampuh untuk komunikasi dan kognisi. Ciri-ciri unik seperti
produktivitas, displacement, dan dualitas pola membedakannya secara mendasar
dari semua bentuk komunikasi lain di alam. Sementara itu, proses pemerolehan
bahasa pada anak, yang dipandu oleh predisposisi biologis sekaligus ditempa
oleh interaksi sosial yang kaya, menunjukkan betapa mendalamnya kemampuan ini
tertanam dalam kodrat manusia. Memahami hakikat, ciri, dan proses bahasa bukan
hanya urusan akademis, tetapi juga penghargaan terhadap salah satu keajaiban
paling fundamental yang mempersatukan dan mendefinisikan kita sebagai manusia.
Daftar Pustaka
Chomsky,
N. (1965). Aspects of
the Theory of Syntax. MIT Press.
Curtiss,
S. (1977). Genie: A
Psycholinguistic Study of a Modern-Day "Wild Child".
Academic Press.
Hockett,
C. F. (1960). The origin of speech. Scientific
American, *203*(3), 88–96.
Pinker,
S. (1994). The
Language Instinct: How the Mind Creates Language. William Morrow
and Company.
Vygotsky, L.
S. (2012). Thought and
Language (A. Kozulin, Ed.). MIT Press. (Karya asli diterbitkan
1934).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar