Senin, 17 November 2025

Bahasa Manusia: Menyelami Hakikat, Ciri-Ciri, dan Proses Pemerolehan yang Unik (Bagian 3 )

Bahasa adalah mahkota peradaban manusia, sebuah sistem yang begitu akrab dalam kehidupan sehari-hari sehingga kita sering lupa betapa kompleks dan ajaibnya fenomena ini. Dari sekadar obrolan ringan di warung kopi hingga pidato yang menggetarkan jiwa, dari puisi yang menyentuh kalbu hingga rumus matematika yang rumit, semuanya dimungkinkan oleh bahasa. Namun, apa sebenarnya hakikat bahasa? Apa yang membedakannya dari sistem komunikasi hewan? Dan bagaimanakah proses manusia, khususnya anak-anak, menguasai kemampuan yang luar biasa ini? Artikel ini akan membahas ketiga pilar tersebut—hakikat, ciri, dan proses pemerolehan bahasa—dengan memperkaya pemahaman melalui berbagai contoh ilustrasi.

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing


Hakikat Bahasa: Lebih dari Sekadar Ucapan

Pada intinya, bahasa dapat dipahami sebagai sistem simbol yang arbitrer dan konvensional yang digunakan untuk komunikasi dan pemikiran oleh suatu komunitas penutur. Definisi ini mengandung beberapa elemen kunci.

Pertama, bahasa adalah sebuah sistem. Ia tidak terdiri dari kata-kata yang acak, melainkan dari seperangkat aturan yang terstruktur dan saling berhubungan. Aturan-aturan ini mencakup tata bunyi (fonologi), tata kata (morfologi), tata kalimat (sintaksis), dan tata makna (semantik). Seorang penutur bahasa Indonesia secara intuitif tahu bahwa urutan "Saya pergi ke pasar" bermakna, sementara "Pergi saya pasar ke" tidak bermakna. Pengetahuan intuitif tentang sistem inilah yang memungkinkan komunikasi yang teratur.

Kedua, bahasa bersifat simbolis. Kata-kata yang kita ucapkan hanyalah simbol yang mewakili objek, gagasan, atau peristiwa di dunia nyata. Tidak ada hubungan inherent atau alamiah antara simbol (bunyi atau tulisan "kuda") dengan referennya (hewan berkaki empat yang bisa ditunggangi). Sifat arbitrer ini terbukti dari berbedanya kata untuk objek yang sama dalam bahasa yang berbeda (misalnya, "horse" dalam bahasa Inggris, "cheval" dalam bahasa Prancis).

Ketiga, bahasa adalah konvensional. Meski arbitrer, makna sebuah simbol disepakati bersama oleh komunitas penuturnya. Seorang anak yang belajar bahasa ibunya pada dasarnya sedang mempelajari konvensi-konvensi ini. Tanpa kesepakatan bersama, bahasa tidak akan berfungsi sebagai alat komunikasi yang efektif.

Terakhir, dan yang paling penting, bahasa bukan sekadar alat untuk komunikasi eksternal, tetapi juga untuk pemikiran internal. Kita menggunakan bahasa untuk bernalar, menyusun rencana, mengingat, dan bahkan berbicara kepada diri sendiri (Vygotsky, 2012). Dalam hal ini, bahasa membentuk sekaligus merepresentasikan cara kita memandang dunia.

Ciri-Ciri Hakiki Bahasa Manusia: Pembedanya dari Sistem Komunikasi Lain

Untuk membedakan bahasa manusia dari sistem komunikasi hewan atau sistem tanda buatan, para linguis seperti Charles Hockett (1960) mengidentifikasi sejumlah ciri desain (design features). Beberapa yang paling fundamental adalah:

1. Arbitrariness (Kesemenaan)
Seperti telah disinggung, tidak ada hubungan logis antara simbol dan yang disimbolkan. Kata "air" tidak memiliki sifat basah, sebagaimana kata "api" tidak terasa panas.

·         Ilustrasi: Bayangkan seorang alien yang pertama kali datang ke Bumi. Tanpa mempelajari konvensi bahasa Indonesia, ia tidak akan bisa menebak bahwa rangkaian bunyi /a-i-r/ merujuk pada zat cair yang transparan. Ia mungkin saja mengira itu merujuk pada batu atau pohon.

2. Productivity (Produktivitas)
Bahasa memungkinkan penuturnya untuk menghasilkan dan memahami kalimat-kalimat yang sama sekali baru, yang belum pernah diucapkan atau didengar sebelumnya. Sifat ini bersifat tak terbatas (infinite).

·         Ilustrasi: Kalimat "Astronot berkacamata itu sedang dengan saksama memetakan permukaan asteroid berwarna ungu di gugus bintang Andromeda" sangat mungkin adalah kalimat yang belum pernah Anda baca sebelumnya. Namun, Anda dapat memahaminya karena produktivitas bahasa memungkinkan kita menggabungkan kata dan aturan sintaksis secara kreatif.

3. Duality of Patterning (Dualitas Pola)
Bahasa bekerja pada dua tingkat: tingkat bunyi (unsur yang tidak bermakna) dan tingkat kata (unsur yang bermakna). Sejumlah bunyi yang terbatas (fonem) dapat dikombinasikan untuk membentuk jumlah kata yang hampir tak terbatas.

·         Ilustrasi: Dalam bahasa Indonesia, kita memiliki bunyi /p/, /a/, /n/, /t/, /i/. Bunyi-bunyi ini sendiri tidak bermakna. Namun, ketika dikombinasikan, mereka dapat membentuk kata "panti" (yang bermakna), "tipan" (surat), "patin" (jenis ikan), atau "nitip" (menitipkan). Dari unit tidak bermakna, terciptalah unit bermakna.

4. Displacement (Pergeseran)
Kita dapat berbicara tentang hal-hal yang tidak hadir secara fisik dalam ruang dan waktu. Kita bisa membicarakan masa lalu, berandai-andai tentang masa depan, atau mendiskusikan tempat yang sangat jauh.

·         Ilustrasi: Seorang peneliti dapat mempresentasikan temuannya tentang kehidupan di Mars 2 miliar tahun yang lalu. Meskipun Mars dan masa 2 miliar tahun lalu tidak hadir di ruang konferensi, bahasa memungkinkan kita untuk "membawanya" ke dalam pembicaraan.

5. Cultural Transmission (Transmisi Budaya)
Bahasa tidak diwariskan secara genetik, melainkan dipelajari melalui paparan dan interaksi dalam lingkungan budaya. Seorang bayi yang dibesarkan oleh keluarga berbahasa Korea akan fasih berbahasa Korea, terlepas dari latar belakang etnis genetiknya.

·         Ilustrasi: Kasus "anak liar" seperti Genie, seorang gadis yang diisolasi dan tidak terpapar bahasa hingga usia 13 tahun, menunjukkan betapa kritisnya periode awal kehidupan untuk memperoleh bahasa secara alami. Meskipun kemudian diajari, Genie tidak pernah menguasai tata bahasa seperti penutur normal (Curtiss, 1977).

Ciri-ciri inilah, terutama produktivitas dan displacement, yang membedakan bahasa manusia secara kualitatif dari sistem komunikasi hewan yang umumnya terbatas pada sinyal-sinyal untuk situasi "di sini dan saat ini" (seperti peringatan bahaya, panggilan kawin).

Proses Pemerolehan Bahasa: Dari Ocehan hingga Kalimat Kompleks

Pemerolehan bahasa pertama (bahasa ibu) adalah salah satu pencapaian kognitif terhebat manusia. Proses ini terjadi dengan kecepatan dan keseragaman yang menakjubkan di seluruh dunia, menunjukkan adanya fondasi biologis yang kuat, yang sering disebut sebagai "Piranti Pemerolehan Bahasa" (Language Acquisition Device - LAD) oleh Noam Chomsky (1965).

Tahap-Tahap Perkembangan Bahasa:

1.    Tahap Prakemampuan (0-1 tahun): Bayak baru lahir mampu menangis dan membuat suara refleksif. Pada usia sekitar 6 minggu, mereka memasuki tahap cooing (mengeluarkan suara vokal seperti "aaa", "uuu"). Sekitar 6 bulan, muncul babbling (mengoceh), yaitu pengulangan suara konsonan-vokal seperti "mama", "dada", "gaga". Ocehan ini mulai menyerupai fonem bahasa yang didengar bayi di sekitarnya.

2.    Tahap Satu Kata (Holofrastik) (12-18 bulan): Anak mulai mengucapkan kata pertama mereka yang bermakna, seperti "mamam", "papa", "itu". Kata tunggal ini seringkali mewakili maksud keseluruhan kalimat. Misalnya, "minum" bisa berarti "Aku mau minum", "Ini minumannya," atau "Dia sedang minum."

3.    Tahap Dua Kata (18-24 bulan): Anak mulai menggabungkan dua kata, menandai awal sintaksis. Kalimatnya sederhana dan sering menghilangkan kata fungsi (grammatical morphemes). Contoh: "Mama datang", "Susu habis", "Buka pintu". Urutan kata biasanya sudah mengikuti tata bahasa bahasa ibunya.

4.    Tahap Ujaran Telegrafik (2-3 tahun): Anak mulai menghasilkan kalimat yang lebih panjang (tiga kata atau lebih), tetapi masih menghilangkan kata-kata fungsi seperti preposisi, kata sambung, dan artikel. Ujarannya menyerupai telegram. Contoh: "Aku mau main bola" (bukan "Aku ingin main bola"), "Itu mobil papa" (bukan "Itu adalah mobil nya papa").

5.    Tahap Tata Bahasa Awal (3-5 tahun): Pada tahap ini, morfem gramatikal mulai muncul. Anak mulai menggunakan awalan/akhiran, preposisi, kata ganti, dan bentuk tanya serta negasi. Tahap ini juga ditandai dengan fenomena overregularization (penggerakan berlebihan), di mana anak menerapkan aturan tata bahasa secara umum pada kata-kata yang seharusnya tidak teratur. Contoh klasik dalam bahasa Indonesia adalah penggunaan kata "kupu-kupu" menjadi "kupi-kupi" karena analogi dari kata seperti "lari-lari", atau dalam bahasa Inggris "I go-ed" instead of "I went". Kesalahan ini justru membuktikan bahwa anak telah memahami aturan, bukan sekadar meniru (Pinker, 1994).

Peran Bawaan vs. Lingkungan (Nature vs. Nurture):

Proses ini tidak terjadi dalam vakum. Teori interaksionis, seperti yang dikemukakan Lev Vygotsky (2012), menekankan pentingnya interaksi sosial. Orang tua dan pengasuh sering menggunakan bahasa pengasuhan (child-directed speech) atau "bahasa bayi" yang karakteristiknya lebih lambat, bernada tinggi, dan strukturnya disederhanakan. Interaksi dalam Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development)—di mana orang dewasa memberikan dukungan (scaffolding) untuk membantu anak menghasilkan ujaran yang lebih kompleks—sangat penting.

·         Ilustrasi: Seorang anak melihat bola dan berkata, "Itu bola!" Ibunya merespons dengan memperluas ujaran tersebut, "Iya, betul! Itu bola merah yang besar, ya?" Dalam interaksi ini, anak tidak hanya mendapat konfirmasi, tetapi juga masukan linguistik yang lebih kaya yang akan diserapnya untuk perkembangan selanjutnya.

Kesimpulan

Bahasa manusia adalah sebuah fenomena yang menakjubkan. Hakikatnya sebagai sistem simbolis yang arbitrer dan konvensional memungkinkannya menjadi alat yang fleksibel dan ampuh untuk komunikasi dan kognisi. Ciri-ciri unik seperti produktivitas, displacement, dan dualitas pola membedakannya secara mendasar dari semua bentuk komunikasi lain di alam. Sementara itu, proses pemerolehan bahasa pada anak, yang dipandu oleh predisposisi biologis sekaligus ditempa oleh interaksi sosial yang kaya, menunjukkan betapa mendalamnya kemampuan ini tertanam dalam kodrat manusia. Memahami hakikat, ciri, dan proses bahasa bukan hanya urusan akademis, tetapi juga penghargaan terhadap salah satu keajaiban paling fundamental yang mempersatukan dan mendefinisikan kita sebagai manusia.

 

Daftar Pustaka

Chomsky, N. (1965). Aspects of the Theory of Syntax. MIT Press.

Curtiss, S. (1977). Genie: A Psycholinguistic Study of a Modern-Day "Wild Child". Academic Press.

Hockett, C. F. (1960). The origin of speech. Scientific American, *203*(3), 88–96.

Pinker, S. (1994). The Language Instinct: How the Mind Creates Language. William Morrow and Company.

Vygotsky, L. S. (2012). Thought and Language (A. Kozulin, Ed.). MIT Press. (Karya asli diterbitkan 1934).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...