Selasa, 23 Desember 2025

KOMPOSISI (PEMAJEMUKAN) DALAM BAHASA INDONESIA


KOMPOSISI (PEMAJEMUKAN) DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 7: Memahami Proses Komposisi pada Kata Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Bahasa Indonesia memiliki berbagai cara dalam membentuk kata, salah satunya melalui komposisi atau pemajemukan. Proses ini dilakukan dengan menggabungkan dua kata dasar atau lebih sehingga membentuk satuan baru dengan makna tertentu. Komposisi merupakan proses morfologis yang penting karena menghasilkan kosakata baru yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ragam formal maupun informal.

Pemahaman komposisi sangat diperlukan dalam kajian morfologi dan sintaksis karena sering kali muncul kebingungan dalam membedakan antara kata majemuk dan frasa. Oleh karena itu, bab ini membahas secara komprehensif pengertian komposisi, ciri-ciri kata majemuk, jenis-jenis komposisi, perbedaan frasa dan kata majemuk, serta makna yang dihasilkan melalui proses pemajemukan.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Komposisi

Komposisi adalah proses morfologis yang dilakukan dengan cara menggabungkan dua atau lebih morfem bebas (kata dasar) untuk membentuk satu kata baru yang memiliki makna tertentu. Kata hasil proses komposisi disebut kata majemuk.

Chaer (2007) mendefinisikan komposisi sebagai proses penggabungan dua bentuk dasar yang masing-masing dapat berdiri sendiri menjadi satu bentuk baru yang maknanya tidak selalu sama dengan gabungan makna unsur-unsurnya. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menjelaskan bahwa komposisi merupakan salah satu proses morfologis yang produktif dalam bahasa Indonesia dan sering digunakan untuk membentuk istilah baru.

Dengan demikian, komposisi tidak sekadar penggabungan kata secara sintaktis, tetapi merupakan proses morfologis yang menghasilkan satu kesatuan makna dan fungsi gramatikal.

 

2. Ciri-Ciri Kata Majemuk

Untuk membedakan kata majemuk dari frasa, diperlukan pemahaman terhadap ciri-ciri kata majemuk. Beberapa ciri utama kata majemuk dalam bahasa Indonesia antara lain sebagai berikut.

Pertama, bersifat padu. Unsur-unsur pembentuk kata majemuk membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya, kata rumah sakit tidak dapat disisipi unsur lain di antara kedua katanya tanpa mengubah makna.

Kedua, makna bersifat idiomatis atau khusus. Makna kata majemuk sering kali tidak dapat ditafsirkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya. Contohnya, kambing hitam tidak bermakna ‘kambing yang berwarna hitam’, melainkan ‘orang yang dipersalahkan’.

Ketiga, tekanan atau intonasi tertentu. Dalam pengucapan, kata majemuk memiliki tekanan yang relatif merata dan diucapkan sebagai satu kesatuan.

Keempat, ketaktersisipan unsur lain. Unsur lain tidak dapat disisipkan di antara komponen kata majemuk tanpa merusak makna.

Ciri-ciri ini membantu penutur bahasa mengidentifikasi apakah suatu gabungan kata merupakan kata majemuk atau hanya frasa biasa.

 

3. Jenis Komposisi

Berdasarkan hubungan makna antarunsurnya, komposisi dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.

a. Komposisi Endosentris

Komposisi endosentris adalah komposisi yang salah satu unsurnya berfungsi sebagai inti (head), sedangkan unsur lainnya berfungsi sebagai pewatas. Makna keseluruhan masih berkaitan dengan inti.

Contoh:

·         rumah makan

·         meja tulis

·         baju sekolah

Dalam contoh tersebut, unsur rumah, meja, dan baju merupakan inti, sedangkan unsur lainnya berfungsi sebagai penjelas.

 

b. Komposisi Eksosentris

Komposisi eksosentris adalah komposisi yang maknanya tidak berpusat pada salah satu unsur pembentuknya. Makna keseluruhan tidak dapat diturunkan dari unsur-unsurnya.

Contoh:

·         kambing hitam

·         kepala batu

·         meja hijau

Jenis komposisi ini bersifat idiomatis dan maknanya harus dipahami secara konvensional.

 

c. Komposisi Koordinatif

Komposisi koordinatif adalah komposisi yang unsur-unsurnya memiliki kedudukan setara dan biasanya menyatakan makna gabungan atau kolektif.

Contoh:

·         jual beli

·         keluar masuk

·         laki-laki perempuan

Komposisi koordinatif sering digunakan untuk menyatakan aktivitas atau keadaan yang melibatkan dua unsur secara bersamaan.

 

4. Perbedaan Frasa dan Kata Majemuk

Salah satu persoalan penting dalam kajian komposisi adalah membedakan antara frasa dan kata majemuk. Meskipun secara bentuk tampak serupa, keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Frasa merupakan satuan sintaktis yang tersusun dari dua kata atau lebih, tetapi tidak membentuk makna baru secara idiomatis. Makna frasa masih dapat ditafsirkan dari makna unsur-unsurnya. Contoh frasa adalah rumah besar dan buku baru.

Sebaliknya, kata majemuk merupakan satuan morfologis yang menghasilkan makna baru dan bersifat padu. Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan atau disisipi. Contoh kata majemuk adalah rumah sakit dan meja hijau.

Dengan demikian, perbedaan utama frasa dan kata majemuk terletak pada tingkat kepaduan bentuk dan makna.

 

5. Makna Komposisi

Komposisi dalam bahasa Indonesia menghasilkan berbagai makna gramatikal dan leksikal. Beberapa makna utama yang dihasilkan melalui komposisi antara lain:

1.      Makna tempat atau institusi (rumah sakit, kantor pos)

2.      Makna profesi atau jabatan (kepala sekolah, wakil rakyat)

3.      Makna idiomatis (kambing hitam, panjang tangan)

4.      Makna kolektif atau aktivitas (jual beli, keluar masuk)

Makna komposisi sangat dipengaruhi oleh konvensi bahasa dan konteks penggunaan. Oleh karena itu, analisis makna komposisi harus mempertimbangkan aspek semantik dan pragmatik.

 

6. Ringkasan Bab

Komposisi atau pemajemukan merupakan proses morfologis yang dilakukan dengan menggabungkan dua atau lebih kata dasar menjadi satu kata majemuk. Kata majemuk memiliki ciri khas berupa kepaduan bentuk dan makna. Berdasarkan hubungan antarunsurnya, komposisi dapat dibedakan menjadi endosentris, eksosentris, dan koordinatif. Pemahaman komposisi sangat penting untuk membedakan kata majemuk dari frasa serta untuk memahami pembentukan makna dalam bahasa Indonesia.

 

7. Latihan

1.      Jelaskan pengertian komposisi menurut para ahli linguistik!

2.      Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri kata majemuk!

3.      Tentukan jenis komposisi pada kata-kata berikut:
a. rumah makan
b. kambing hitam
c. jual beli

4.      Ambillah satu paragraf dari teks berita atau buku pelajaran. Identifikasilah minimal lima kata majemuk dan jelaskan jenis serta maknanya!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

Senin, 22 Desember 2025

REDUPLIKASI DALAM BAHASA INDONESIA

 

REDUPLIKASI DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 6: Memahami Proses Reduplikasi pada Kata Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Bahasa Indonesia memiliki kekhasan dalam sistem morfologinya, salah satunya adalah reduplikasi. Reduplikasi merupakan proses pengulangan bentuk kata yang berfungsi untuk membentuk makna gramatikal tertentu. Proses ini sangat produktif dan sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari, baik dalam ragam lisan maupun tulisan.

Dalam kajian morfologi, reduplikasi menempati posisi penting karena menunjukkan bagaimana bahasa Indonesia memanfaatkan pengulangan sebagai strategi pembentukan kata. Tidak hanya membentuk makna jamak, reduplikasi juga dapat menyatakan makna intensitas, variasi, frekuensi, hingga nuansa pragmatis tertentu. Oleh karena itu, pemahaman reduplikasi sangat penting bagi mahasiswa, guru, dan pemerhati bahasa Indonesia.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfologis yang dilakukan dengan cara mengulang bentuk dasar suatu kata, baik secara keseluruhan maupun sebagian, dengan atau tanpa perubahan bunyi. Chaer (2007) mendefinisikan reduplikasi sebagai proses pengulangan satuan gramatikal yang menghasilkan makna gramatikal tertentu.

Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menyatakan bahwa reduplikasi merupakan salah satu proses pembentukan kata yang bersifat khas dalam bahasa Indonesia dan bahasa-bahasa Austronesia. Proses ini tidak sekadar pengulangan bentuk, melainkan memiliki fungsi sistematis dalam struktur bahasa.

Sebagai contoh, kata buku dapat direduplikasi menjadi buku-buku untuk menyatakan makna jamak. Namun, tidak semua reduplikasi bermakna jamak. Pada kata lari-lari, reduplikasi justru menyatakan makna aktivitas santai atau tidak serius. Hal ini menunjukkan bahwa reduplikasi memiliki fungsi semantik yang beragam.

 

2. Jenis-Jenis Reduplikasi

Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis berdasarkan bentuk dan proses pengulangannya.

a. Reduplikasi Penuh

Reduplikasi penuh adalah pengulangan seluruh bentuk dasar tanpa perubahan bunyi. Jenis reduplikasi ini merupakan yang paling umum dan mudah dikenali.

Contoh:

·         buku-buku

·         rumah-rumah

·         anak-anak

Reduplikasi penuh umumnya menyatakan makna jamak atau kolektif. Namun, dalam konteks tertentu, reduplikasi penuh juga dapat menyatakan makna lain, seperti intensitas atau keakraban.

 

b. Reduplikasi Sebagian

Reduplikasi sebagian adalah pengulangan sebagian bentuk dasar, biasanya pada suku kata pertama. Bentuk ini sering ditemukan pada kosakata lama dalam bahasa Indonesia.

Contoh:

·         lelaki (dari laki)

·         tetamu (dari tamu)

·         pepohonan (dari pohon)

Reduplikasi sebagian sering kali tidak lagi dirasakan sebagai bentuk ulang oleh penutur modern, karena telah membeku secara leksikal. Meskipun demikian, secara historis bentuk-bentuk tersebut berasal dari proses reduplikasi.

 

c. Reduplikasi Berimbuhan

Reduplikasi berimbuhan adalah reduplikasi yang disertai dengan afiks, baik prefiks, sufiks, maupun konfiks. Afiks dapat melekat pada bentuk dasar, bentuk ulang, atau keduanya.

Contoh:

·         berlari-lari

·         kejar-kejaran

·         sayur-mayur-an

Jenis reduplikasi ini sering menyatakan makna aktivitas berulang, saling melakukan, atau keadaan tertentu. Reduplikasi berimbuhan menunjukkan bahwa proses reduplikasi dapat berinteraksi dengan proses afiksasi dalam pembentukan kata.

 

d. Reduplikasi Perubahan Bunyi

Reduplikasi perubahan bunyi adalah pengulangan bentuk dasar dengan disertai perubahan bunyi pada salah satu unsur. Perubahan bunyi ini bersifat sistematis dan menghasilkan kesan estetis atau ekspresif.

Contoh:

·         bolak-balik

·         sayur-mayur

·         lauk-pauk

Pada jenis ini, makna yang dihasilkan tidak selalu dapat ditafsirkan secara langsung dari bentuk dasarnya. Reduplikasi perubahan bunyi sering membentuk kata majemuk yang bersifat idiomatis.

 

3. Makna Reduplikasi

Reduplikasi dalam bahasa Indonesia memiliki makna gramatikal yang beragam. Beberapa makna utama reduplikasi antara lain:

1.      Makna jamak
Contoh: buku-buku, mahasiswa-mahasiswa

2.      Makna kolektif atau keseluruhan
Contoh: pepohonan

3.      Makna intensitas atau penguatan
Contoh: besar-besar, cepat-cepat

4.      Makna aktivitas santai atau tidak serius
Contoh: jalan-jalan, lari-lari

5.      Makna frekuensi atau pengulangan tindakan
Contoh: pukul-pukul, ketuk-ketuk

Makna reduplikasi sangat bergantung pada konteks penggunaan dalam kalimat. Oleh karena itu, analisis reduplikasi harus selalu mempertimbangkan aspek semantik dan pragmatik.

 

4. Reduplikasi dalam Ragam Bahasa

Reduplikasi digunakan dalam berbagai ragam bahasa Indonesia, mulai dari ragam baku hingga ragam tidak baku. Dalam ragam formal dan akademik, reduplikasi sering digunakan untuk menyatakan konsep jamak atau kolektif secara tepat, misalnya data-data penelitian atau nilai-nilai pendidikan.

Dalam ragam lisan dan informal, reduplikasi sering digunakan untuk menciptakan kesan akrab, santai, atau ekspresif. Contoh penggunaan ini dapat ditemukan dalam percakapan sehari-hari, media sosial, dan karya sastra populer.

Dalam bahasa jurnalistik, reduplikasi digunakan secara selektif untuk menjaga kejelasan makna dan keefektifan bahasa. Hal ini menunjukkan bahwa reduplikasi memiliki fleksibilitas tinggi dalam berbagai konteks komunikasi.

 

5. Ringkasan

Reduplikasi merupakan proses morfologis yang dilakukan dengan cara mengulang bentuk dasar kata. Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi dibedakan menjadi reduplikasi penuh, reduplikasi sebagian, reduplikasi berimbuhan, dan reduplikasi perubahan bunyi. Reduplikasi memiliki makna gramatikal yang beragam, seperti jamak, intensitas, frekuensi, dan nuansa pragmatis tertentu. Penggunaan reduplikasi sangat luas dan mencerminkan kekayaan serta dinamika bahasa Indonesia.

 

6. Latihan

1.      Jelaskan pengertian reduplikasi menurut para ahli linguistik!

2.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis reduplikasi dalam bahasa Indonesia!

3.      Tentukan jenis dan makna reduplikasi pada kata-kata berikut:
a. anak-anak
b. bermain-main
c. bolak-balik

4.      Ambillah satu paragraf dari teks berita atau cerita pendek. Identifikasilah minimal lima contoh reduplikasi dan jelaskan jenis serta maknanya!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...