KOMPOSISI (PEMAJEMUKAN)
DALAM BAHASA INDONESIA
(Sub-CPMK 7: Memahami Proses Komposisi pada Kata Bahasa Indonesia)
Pendahuluan
Bahasa Indonesia memiliki berbagai cara dalam membentuk kata, salah satunya
melalui komposisi atau pemajemukan.
Proses ini dilakukan dengan menggabungkan dua kata dasar atau lebih sehingga
membentuk satuan baru dengan makna tertentu. Komposisi merupakan proses
morfologis yang penting karena menghasilkan kosakata baru yang banyak digunakan
dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ragam formal maupun informal.
Pemahaman komposisi sangat diperlukan dalam kajian morfologi dan sintaksis
karena sering kali muncul kebingungan dalam membedakan antara kata
majemuk dan frasa. Oleh karena itu,
bab ini membahas secara komprehensif pengertian komposisi, ciri-ciri kata
majemuk, jenis-jenis komposisi, perbedaan frasa dan kata majemuk, serta makna
yang dihasilkan melalui proses pemajemukan.
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
1. Pengertian Komposisi
Komposisi adalah proses morfologis yang
dilakukan dengan cara menggabungkan dua atau lebih morfem bebas (kata dasar)
untuk membentuk satu kata baru yang memiliki makna tertentu. Kata hasil proses
komposisi disebut kata majemuk.
Chaer (2007) mendefinisikan komposisi sebagai proses penggabungan dua bentuk
dasar yang masing-masing dapat berdiri sendiri menjadi satu bentuk baru yang
maknanya tidak selalu sama dengan gabungan makna unsur-unsurnya. Sementara itu,
Arifin dan Junaiyah (2009) menjelaskan bahwa komposisi merupakan salah satu
proses morfologis yang produktif dalam bahasa Indonesia dan sering digunakan
untuk membentuk istilah baru.
Dengan demikian, komposisi tidak sekadar penggabungan kata secara sintaktis,
tetapi merupakan proses morfologis yang menghasilkan satu kesatuan makna dan
fungsi gramatikal.
2. Ciri-Ciri Kata Majemuk
Untuk membedakan kata majemuk dari frasa, diperlukan pemahaman terhadap ciri-ciri
kata majemuk. Beberapa ciri utama kata majemuk dalam bahasa
Indonesia antara lain sebagai berikut.
Pertama, bersifat padu.
Unsur-unsur pembentuk kata majemuk membentuk satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan. Misalnya, kata rumah sakit tidak dapat disisipi unsur lain
di antara kedua katanya tanpa mengubah makna.
Kedua, makna bersifat idiomatis atau khusus.
Makna kata majemuk sering kali tidak dapat ditafsirkan secara langsung dari
makna unsur-unsurnya. Contohnya, kambing hitam tidak bermakna ‘kambing
yang berwarna hitam’, melainkan ‘orang yang dipersalahkan’.
Ketiga, tekanan atau intonasi tertentu.
Dalam pengucapan, kata majemuk memiliki tekanan yang relatif merata dan
diucapkan sebagai satu kesatuan.
Keempat, ketaktersisipan unsur lain.
Unsur lain tidak dapat disisipkan di antara komponen kata majemuk tanpa merusak
makna.
Ciri-ciri ini membantu penutur bahasa mengidentifikasi apakah suatu gabungan
kata merupakan kata majemuk atau hanya frasa biasa.
3. Jenis Komposisi
Berdasarkan hubungan makna antarunsurnya, komposisi dalam bahasa Indonesia
dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.
a. Komposisi Endosentris
Komposisi endosentris adalah komposisi yang
salah satu unsurnya berfungsi sebagai inti (head), sedangkan unsur lainnya
berfungsi sebagai pewatas. Makna keseluruhan masih berkaitan dengan inti.
Contoh:
·
rumah makan
·
meja tulis
·
baju sekolah
Dalam contoh tersebut, unsur rumah, meja, dan baju
merupakan inti, sedangkan unsur lainnya berfungsi sebagai penjelas.
b. Komposisi Eksosentris
Komposisi eksosentris adalah komposisi yang
maknanya tidak berpusat pada salah satu unsur pembentuknya. Makna keseluruhan
tidak dapat diturunkan dari unsur-unsurnya.
Contoh:
·
kambing hitam
·
kepala batu
·
meja hijau
Jenis komposisi ini bersifat idiomatis dan maknanya harus dipahami secara
konvensional.
c. Komposisi Koordinatif
Komposisi koordinatif adalah komposisi yang
unsur-unsurnya memiliki kedudukan setara dan biasanya menyatakan makna gabungan
atau kolektif.
Contoh:
·
jual beli
·
keluar masuk
·
laki-laki perempuan
Komposisi koordinatif sering digunakan untuk menyatakan aktivitas atau
keadaan yang melibatkan dua unsur secara bersamaan.
4. Perbedaan Frasa dan
Kata Majemuk
Salah satu persoalan penting dalam kajian komposisi adalah membedakan antara
frasa dan kata majemuk.
Meskipun secara bentuk tampak serupa, keduanya memiliki perbedaan mendasar.
Frasa merupakan satuan sintaktis yang tersusun dari dua kata atau lebih,
tetapi tidak membentuk makna baru secara idiomatis. Makna frasa masih dapat
ditafsirkan dari makna unsur-unsurnya. Contoh frasa adalah rumah besar
dan buku baru.
Sebaliknya, kata majemuk merupakan satuan morfologis yang menghasilkan makna
baru dan bersifat padu. Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan atau disisipi.
Contoh kata majemuk adalah rumah sakit dan meja hijau.
Dengan demikian, perbedaan utama frasa dan kata majemuk terletak pada
tingkat kepaduan bentuk dan makna.
5. Makna Komposisi
Komposisi dalam bahasa Indonesia menghasilkan berbagai makna gramatikal dan
leksikal. Beberapa makna utama yang dihasilkan melalui komposisi antara lain:
1. Makna tempat atau institusi (rumah sakit, kantor
pos)
2. Makna profesi atau jabatan (kepala sekolah, wakil
rakyat)
3. Makna idiomatis (kambing hitam, panjang tangan)
4. Makna kolektif atau aktivitas (jual beli, keluar
masuk)
Makna komposisi sangat dipengaruhi oleh konvensi bahasa dan konteks
penggunaan. Oleh karena itu, analisis makna komposisi harus mempertimbangkan
aspek semantik dan pragmatik.
6. Ringkasan Bab
Komposisi atau pemajemukan merupakan proses morfologis yang dilakukan dengan
menggabungkan dua atau lebih kata dasar menjadi satu kata majemuk. Kata majemuk
memiliki ciri khas berupa kepaduan bentuk dan makna. Berdasarkan hubungan
antarunsurnya, komposisi dapat dibedakan menjadi endosentris, eksosentris, dan
koordinatif. Pemahaman komposisi sangat penting untuk membedakan kata majemuk
dari frasa serta untuk memahami pembentukan makna dalam bahasa Indonesia.
7. Latihan
1. Jelaskan pengertian komposisi menurut para ahli linguistik!
2. Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri kata majemuk!
3. Tentukan jenis komposisi pada kata-kata berikut:
a. rumah makan
b. kambing hitam
c. jual beli
4. Ambillah satu paragraf dari teks berita atau buku pelajaran.
Identifikasilah minimal lima kata majemuk dan jelaskan jenis serta maknanya!
Daftar Pustaka
Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna,
dan fungsi. Jakarta: Grasindo.
Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar