Selasa, 09 Desember 2025

Penyebaran dan Pengaruh Linguistik Terapan

1. Perkembangan Penggunaan Istilah “Linguistik Terapan” di Luar Amerika Utara dan Inggris

Istilah “linguistik terapan” (applied linguistics) pada mulanya berkembang kuat dalam tradisi Anglo-Amerika, tetapi kemudian secara bertahap menyebar ke wilayah lain. Sebagai contoh, di Jepang, asosiasi nasional ­— Japan Association of Applied Linguistics (JAAL) — didirikan pada tahun 1982 dan kemudian menjadi afiliasi dari Association Internationale de Linguistique Appliquée (AILA). Wikipedia+3Liquisearch+3NoZDR+3
Demikian pula di Eropa kontinental muncul tradisi yang sedikit berbeda di mana istilah “linguistique appliquée” atau “Angewandte Linguistik” digunakan, misalnya di Prancis dan Jerman. Sebagai contoh, artikel Léon (2015) menunjukkan bahwa di Prancis tradisi “linguistique appliquée” memiliki keterkaitan kuat dengan pengolahan bahasa otomatis (TAL) daripada orientasi pengajaran bahasa asing yang klasik. OpenEdition Journals
Di Australia dan Selandia Baru pun mulai terjadi penggunaan istilah dan praktik linguistik terapan yang berbeda dari model Anglo-Amerika (lihat bagian 2). Sehingga dapat dikatakan bahwa penggunaan istilah “linguistik terapan” di luar AS/Inggris berlangsung secara kompleks dan terdiversifikasi.

Linguistik Terapan Jilid Pertama - Aco Nasir | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com)


2. Mengapa Istilah “Linguistik Terapan” Kurang Umum Digunakan di Australia dan Selandia Baru pada Awalnya?

Dalam tradisi Australia dan Selandia Baru terdapat sejumlah faktor yang menyebabkan istilah “linguistik terapan” tidak langsung dominan atau digunakan dengan cara yang sama seperti di Britania/AS:

  • Fokus awal di Australia adalah pada pengajaran bahasa ibu (mother-tongue) dan pengajaran bahasa Inggris bagi para imigran, bukan semata pengajaran bahasa asing (EFL). NoZDR+1
  • Tradisi riset linguistik terapan di Australia menunjukkan pengaruh kuat dari Eropa kontinental dan AS, namun bukan dari Britania dalam hal EFL klasik. Hal ini menyebabkan label dan orientasi berbeda. NoZDR+1
  • Di Selandia Baru, misalnya, organisasi nasional baru terbentuk relatif belakangan: Applied Linguistics in Aotearoa New Zealand (ALANZ) dibentuk pada 1993, dan sehingga tradisi “linguistik terapan” formal memerlukan waktu. ALANZ
  • Sebagian pakar menyatakan bahwa konsep “applied linguistics” dalam konteks Australia/Selandia Baru terkandung dalam disiplin lain (misalnya TESOL, language policy, bilingual education) sehingga istilah “linguistik terapan” sebagai label tidak menjadi satu-satunya pilihan terminologi. NoZDR

Karena faktor-faktor di atas, penggunaan istilah “linguistik terapan” di Australia & Selandia Baru pada tahap awal berlangsung dengan karakteristik yang berbeda—baik dalam soal fokus penelitian, orientasi praktis, maupun pilihan terminologi.

3. Di Mana Saja Linguistik Terapan Dipraktikkan di Luar Dunia Anglo-Amerika?

Linguistik terapan telah dilaksanakan di banyak wilayah non-Anglo-Amerika, antara lain:

  • Eropa kontinental: Tradisi di Prancis, Jerman, Belanda, Skandinavia melibatkan “linguistique appliquée” atau “Angewandte Linguistik” yang memfokuskan pada pengajaran bahasa, perencanaan bahasa dan pengolahan bahasa otomatis (TAL). Contoh: asosiasi nasional seperti Association Française de Linguistique Appliquée (AFLA) dan Gesellschaft für Angewandte Linguistik (Jerman) bekerja aktif. Afla Association+1
  • Asia-Pasifik: Di Jepang melalui JAAL (lihat di atas) dan di Australia/Selandia Baru melalui ALAA dan ALANZ. ALAA+1
  • Amerika Latin, Afrika, Timur Tengah: Aktivitas internasional melalui AILA menunjukkan jaringan afiliasi dari berbagai wilayah seperti Asia, Afrika, Latin Amerika. Sebagai contoh, AILA menyebut bahwa sekarang afiliasi dari Asia, Afrika dan Amerika Latin ada dalam jaringannya. Aila+1
  • Penggunaan dalam kebijakan bahasa dan perencanaan bahasa: Banyak negara non-barat menggunakan kerangka linguistik terapan untuk merancang kebijakan bahasa, pembakuan bahasa minoritas, alfabetisasi dan bahasa ibu. Sebagai contoh, artikel Léon (2015) menyebut bahwa di Perancis relasi linguistik terapan dengan otomatisasi bahasa dan pengolahan komputer muncul kuat. OpenEdition Journals

Dengan demikian, bidang linguistik terapan bukan monopoli Anglo-Amerika, melainkan telah berkembang di banyak konteks global—meskipun dengan adaptasi lokal yang khas.

4. Peran Association Internationale de Linguistique Appliquée (AILA) dalam Perkembangan Linguistik Terapan

AILA memainkan peranan kunci dalam perkembangan dan penyebaran linguistik terapan di tingkat internasional, dengan beberapa kontribusi utama sebagai berikut:

  • AILA didirikan di Universitas Nancy, Prancis, pada 1964 sebagai hasil kolokium internasional tentang linguistik terapan. Aila+2Wikipedia+2
  • AILA menjadi federasi asosiasi nasional/regional yang bekerja dalam bidang linguistik terapan. Saat ini memiliki lebih dari 8.000 anggota di banyak negara dan lebih dari 35 asosiasi afiliasi. Wikipedia+1
  • AILA rutin menyelenggarakan kongres dunia setiap tiga tahun, memfasilitasi pertukaran pengetahuan, jaringan riset, dan publikasi bidang linguistik terapan. Aila+1
  • AILA juga memfasilitasi pengembangan riset di wilayah-tertentu, membantu integrasi perspektif dari Global South, dan mendukung inklusi ilmuwan dari negara berkembang. Wikipedia
  • Melalui publikasi seperti AILA Review dan seri buku “AILA Applied Linguistics Series”, AILA menyebarkan temuan riset linguistik terapan ke seluruh dunia. Aila

Dengan demikian, AILA bukan hanya simbol institusional tetapi juga sebagai mekanisme prakarsa global yang mendorong penyebaran dan pendalaman disiplin linguistik terapan di seluruh dunia.

5. Kontribusi Gerhard Nickel dalam Linguistik Terapan

Gerhard Nickel adalah seorang linguist Jerman yang memberikan kontribusi penting dalam pengembangan linguistik terapan di Eropa kontinental, khususnya di Jerman, dan dalam kerangka internasional melalui AILA. Beberapa hal yang dapat dicatat:

  • Nickel adalah “pionier der Angewandten Linguistik” di Jerman. Wikipedia
  • Ia mengorganisir atau terlibat dalam kongres AILA, termasuk sebagai redaktor atau editor untuk prosiding kongres seperti Association Internationale de Linguistique Appliquée: Third Congress (Copenhagen, 1972) (eds. Nickel, Verdoodt, Qvistgaard). Google Books+1
  • Sebagai ilmuwan yang bekerja di Universitas Stuttgart dari 1969 hingga emeritus 1996, ia membantu memperkuat tradisi linguistik terapan di Jerman dan lingkup Eropa, serta menjadi penasihat linguistik untuk badan seperti UNESCO dan Council of Europe. Wikipedia
  • Melalui penerbitan buku seperti Deutsch als Fremdsprache (ed. Nickel, 1978) yang berada dalam seri “Angewandte Sprachwissenschaft / Applied Linguistics” ia memperlihatkan bagaimana linguistik terapan dapat diposisikan dalam penerapan pembelajaran bahasa asing. Google Books

Kontribusi Nickel penting karena memberikan perspektif non-Anglo-Amerika terhadap linguistik terapan, dan memfasilitasi dialog internasional dalam kerangka AILA di mana tradisi Eropa kontinental turut aktif dan berbeda dari model Anglo-Amerika.

6. Referensi Bacaan Pendukung

Untuk memperdalam pemahaman tentang sejarah, perkembangan dan konteks internasional linguistik terapan, berikut beberapa referensi utama:

  • Léon, J. (2015). Linguistique appliquée et traitement automatique des langues : étude historique et comparative. Recherches en didactique des langues et des cultures, 12-3. https://doi.org/10.4000/rdlc.949 OpenEdition Journals
  • Davies, A., & Elder, C. (Eds.). (2004). The Handbook of Applied Linguistics. Wiley-Blackwell. (termasuk bahasan mengenai tradisi Australia) NoZDR
  • AILA. (n.d.). About / History. https://aila.info/about/history/ Aila
  • Nickel, G. (Ed.). (1978). Deutsch als Fremdsprache. Hochschulverlag. Google Books
  • Applied Linguistics Association of Australia (ALAA). (n.d.). About ALAA. https://alaa.net.au/AboutUs/AboutALAA ALAA

 

Penutup

Bab ini memaparkan bagaimana istilah dan disiplin linguistik terapan berkembang dari pusat Anglo-Amerika ke berbagai belahan dunia, dengan adaptasi lokal yang khas; bagaimana organisasi internasional seperti AILA memainkan peranan penting dalam menyebarkan dan memfasilitasi bidang ini; dan bagaimana tokoh seperti Gerhard Nickel memberikan kontribusi substansial dari perspektif Eropa. Dengan memahami penyebaran global ini, pembaca akan memiliki pijakan yang kuat untuk mengeksplorasi praktik linguistik terapan di konteks Indonesia atau Asia-Pasifik, dengan kesadaran terhadap keragaman tradisi dan struktur disipliner.

Isu-Isu Kontemporer dalam Sintaksis: Menjelajahi Teori Minimalis dan Masa Depan Studi Gramatikal

Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik

13.1. Isu-Isu Kontemporer dalam Sintaksis

Lanskap studi sintaksis modern telah mengalami transformasi signifikan sejak kemunculan kerangka generatif. Saat ini, bidang ini tidak hanya berkutat pada deskripsi struktur kalimat, tetapi telah merambah ke pertanyaan-pertanyaan mendasar tentang sifat dasar kemampuan berbahasa manusia. Isu-isu kontemporer dalam sintaksis berkisar pada upaya untuk memahami hakekat fakultas bahasa—sistem kognitif yang diduga bawaan (innate) yang memungkinkan akuisisi dan penggunaan bahasa (Chomsky, 1995). Pergeseran ini ditandai dengan transisi dari model-model yang kaya aturan dan representasi, seperti Government and Binding Theory, menuju kerangka yang lebih sederhana dan elegan, yaitu Teori Minimalis (Minimalist Program). Program minimalis tidak hanya mendominasi wacana sintaksis teoritis tetapi juga memicu debat yang produktif mengenai batas-batas antara sintaksis dengan modul kognitif lainnya, seperti semantik, fonologi, dan sistem sensorimotor.

Isu-isu utama yang dihadapi sintaksis kontemporer meliputi: (1) Tingkat abstraksi mana yang diperlukan untuk menjelaskan fakta linguistik? (2) Sejauh mana properti sintaksis dapat dijelaskan oleh prinsip-prinsip komputasi yang efisien yang bukan khusus untuk bahasa (prinsip-prinsip eksternal)? dan (3) Bagaimana sintaksis berinteraksi secara tepat waktu (online) dengan sistem performansi lainnya selama produksi dan pemahaman ujaran? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadikan sintaksis kontemporer sebagai bidang yang dinamis, yang terus-menerus menyempurnakan model-modelnya berdasarkan bukti empiris yang baru dan tantangan teoretis internal.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 


13.2. Prinsip-Prinsip Dasar dalam Teori Minimalis

Dicetuskan oleh Noam Chomsky pada awal 1990-an, Teori Minimalis merupakan sebuah "program" penelitian yang bertujuan untuk menyederhanakan aparatus teoretis tata bahasa generatif. Alih-alih sekumpulan aturan yang kaku, Minimalis adalah sebuah pendekatan yang didorong oleh pertanyaan mendasar: Seberapa sederhana dan optimal sistem bahasa manusia itu? (Chomsky, 1995). Pertanyaan ini memunculkan beberapa prinsip dasar:

1.      Tata Bahasa sebagai Sistem yang Optimal: Minimalis beranggapan bahwa fakultas bahasa adalah solusi optimal terhadap kondisi yang dipaksakan oleh sistem antarmuka (interface)—yakni, sistem pemikiran-konseptual (semantik) dan sistem sensorimotor (fonologi). Sintaksis bertugas membangun struktur yang dapat "dibaca" atau ditafsirkan secara sempurna oleh kedua sistem ini.

2.      Pendekuran Ekonomi (Economy): Prinsip ini menyatakan bahwa derivasi sintaksis (proses pembentukan struktur) dan representasi struktural harus sesederhana dan sehemat mungkin. Operasi sintaksis hanya boleh berlaku jika diperlukan, dan di antara beberapa derivasi yang mungkin, yang terpilih adalah yang paling efisien (yang menggunakan langkah paling sedikit atau sumber daya komputasi paling kecil).

3.      Pemerolehan Fitur (Feature Valuation) dan Keutuhan Interpretif: Unit dasar dalam komputasi sintaksis adalah fitur. Kata-kata masuk ke dalam derivasi dengan membawa seperangkat fitur (misalnya, fitur [±Tunggal], [±Lampau], [±Nominatif]). Komputasi sintaksis didorong oleh kebutuhan untuk "memeriksa" atau "menilai" fitur-fitur ini agar struktur yang dihasilkan dapat ditafsirkan secara sempurna di antarmuka. Fitur yang tidak terinterpretasi (uninterpretable features) harus dihilangkan selama derivasi, jika tidak, derivasi akan gagal (crash).

13.3. Struktur Frasa Minimalis

Teori Minimalis merepresentasikan struktur frasa dengan cara yang lebih sederhana dan universal dibandingkan model X-Bar yang lebih lama. Meskipun mempertahankan gagasan tentang inti (head) dan proyeksi, representasinya sering kali disederhanakan.

1.      Struktur Merge: Operasi sintaksis paling dasar adalah Merge (Penggabungan). Operasi ini mengambil dua objek sintaksis (α dan β) dan menggabungkannya untuk membentuk objek baru {α, β}. Ini adalah operasi rekursif yang membangun struktur biner dari bawah ke atas (bottom-up). Sebagai contoh, menggabungkan baca (V) dengan buku (N) menghasilkan Frasa Verba (VP) {baca, buku}.

2.      Tata Bahasa Universal dan Struktur Frasa: Minimalis berhipotesis bahwa perbedaan struktur frasa antar bahasa tidaklah mendasar. Perbedaan urutan kata, seperti urutan Verba-Objek (VO) dalam bahasa Indonesia versus Objek-Verba (OV) dalam bahasa Jepang, dijelaskan melalui properti fitur dari inti frasa dan operasi tambahan seperti Move (Pergerakan), bukan melalui perbedaan dalam aturan struktur frasa itu sendiri (Carnie, 2021).

3.      Fase (Phase): Untuk membatasi kompleksitas komputasi, Chomsky (2001) memperkenalkan konsep fase. Fase adalah unit sintaksis seperti Frasa Kerja (vP) dan Frasa Penanda Waktu-Tense (CP) yang dikirim atau "dibekukan" dan dikirim ke antarmuka semantik dan fonologis secara bertahap, bukan menunggu seluruh kalimat selesai. Ini menjelaskan mengapa proses sintaksis tertentu tampaknya terbatas dalam domain tertentu di dalam kalimat.

13.4. Fitur dan Operasi dalam Teori Minimalis

Komputasi sintaksis dalam Minimalis digerakkan oleh fitur dan serangkaian operasi yang terbatas.

1.      Jenis-Jenis Fitur: Fitur diklasifikasikan menjadi:

o    Fitur Interpretabel vs. Tak-Terinterpretabel: Fitur interpretabel (misalnya, fitur semantik pada nomina seperti [±Manusia]) berkontribusi pada makna. Fitur tak-terinterpretabel (misalnya, fitur kasus pada nomina atau fitur φ-[person, number, gender] pada verba) hanya berfungsi sebagai pemicu sintaksis dan harus dihilangkan.

o    Fitur Pribadi (Privative) vs. Fitur Biner: Beberapa fitur ada atau tidak ada (pribadi), sementara yang lain memiliki nilai [+ atau -].

2.      Operasi-Operasi Kunci:

o    External Merge: Penggabungan dua elemen yang independen, misalnya menggabungkan verba dengan objeknya.

o    Internal Merge (Move): Penggabungan ulang sebuah elemen yang sudah menjadi bagian dari struktur. Inilah yang menghasilkan fenomena seperti pertanyaan (Buku apa yang __ kamu baca?) di mana buku apa berpindah dari posisi objek).

o    Agree (Persetujuan): Operasi di mana sebuah probe (pemeriksa) dengan fitur tak-terinterpretasi mencari goal (sasaran) dalam domainnya yang memiliki fitur interpretabel yang cocok untuk memeriksa dan menghapus fitur tak-terinterpretasi tersebut. Misalnya, Tense (Probe) mencari Subjek (Goal) untuk memeriksa fitur person dan number.

13.5. Kritik dan Tantangan dalam Teori Minimalis

Meskipun berpengaruh besar, Teori Minimalis menghadapi berbagai kritik dan tantangan, baik dari luar maupun dalam linguistik generatif.

1.      Tingkat Abstraksi yang Tinggi: Banyak analisis Minimalis yang sangat abstrak dan sulit diverifikasi melalui data linguistik yang diamati. Kritik dari linguistik fungsional dan kognitif menilai bahwa Minimalis mengabaikan fungsi komunikatif dan basis penggunaan bahasa (usage-based) dalam membentuk gramatikalitas (Goldberg, 2006).

2.      Kecukupan Penjelas (Explanatory Adequacy): Sementara Minimalis bertujuan untuk menjelaskan akuisisi bahasa, beberapa ahli mempertanyakan apakah model yang sangat abstrak dan mengandalkan fitur biner yang halus benar-benar dapat dipelajari oleh anak-anak tanpa pengetahuan bawaan yang sangat spesifik.

3.      Variasi dan Universalitas: Menjelaskan variasi yang luas di antara bahasa-bahasa dunia dengan alat teoretis yang minimal tetap menjadi tantangan besar. Hipotesis bahwa variasi dapat direduksi menjadi perbedaan dalam leksikon (kumpulan kata dan fiturnya) dianggap oleh sebagian orang sebagai penyederhanaan yang berlebihan (Newmeyer, 2005).

4.      Integrasi dengan Bukti Empiris Lain: Tantangan besar bagi Minimalis dan sintaksis teoritis pada umumnya adalah mengintegrasikan temuan dari bidang lain, seperti psikolinguistik dan neurolinguistik. Bukti tentang pemrosesan bahasa secara real-time atau lokalisasi neural untuk fungsi gramatikal belum selalu selaras dengan klaim teoretis Minimalis (Embick & Poeppel, 2015).

5.      Keterjangkauan Komputasi (Computational Tractability): Meski bertujuan untuk efisiensi, model Minimalis sering kali menghasilkan ruang hipotesis yang sangat besar selama proses derivasi, yang menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana otak manusia dapat mengelola komputasi semacam itu dengan begitu cepat dan lancar.

Kesimpulan

Teori Minimalis telah mendefinisikan ulang agenda penelitian dalam sintaksis teoritis selama tiga dekade terakhir. Dengan fokusnya pada kesederhanaan, optimalitas, dan interaksi sistem, program ini telah memicu investigasi mendalam tentang sifat dasar fakultas bahasa. Meskipun menghadapi kritik yang sah mengenai tingkat abstraksinya dan keterkaitannya dengan bukti empiris dari disiplin ilmu lain, kerangka ini terus menjadi kekuatan pendorong yang produktif dalam linguistik.

Masa depan sintaksis kemungkinan akan melibatkan upaya untuk menjembatani kesenjangan antara elegansi teoretis model Minimalis dan kompleksitas kekayaan data linguistik serta temuan dari ilmu kognitif. Integrasi yang lebih dalam dengan psikolinguistik, neurolinguistik, dan linguistik korpus bukanlah pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk mengembangkan teori sintaksis yang tidak hanya elegan secara internal tetapi juga dapat dipertahankan secara empiris dan komputasi. Dengan demikian, isu-isu kontemporer dalam sintaksis mencerminkan kedewasaan bidang ini, yang terus-menerus melakukan introspeksi dan perbaikan diri dalam upayanya untuk mengungkap salah satu misteri terbesar manusia: bahasa.

 

Daftar Pustaka

Carnie, A. (2021). Syntax: A generative introduction (4th ed.). Wiley-Blackwell.

Chomsky, N. (1995). The Minimalist Program. MIT Press.

Chomsky, N. (2001). Derivation by phase. In M. Kenstowicz (Ed.), Ken Hale: A life in language (pp. 1–52). MIT Press.

Embick, D., & Poeppel, D. (2015). Towards a computational(ist) neurobiology of language: Correlational, integrated and explanatory neurolinguistics. Language, Cognition and Neuroscience, 30(4), 357–366.

Goldberg, A. E. (2006). Constructions at work: The nature of generalization in language. Oxford University Press.

Newmeyer, F. J. (2005). Possible and probable languages: A generative perspective on linguistic typology. Oxford University Press.

Adger, D. (2003). Core syntax: A minimalist approach. Oxford University Press.

Bošković, Ž. (2016). What is sent to the sensory-motor interface? The Linguistic Review, 33(4), 535–559.

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...