Sabtu, 06 Desember 2025

Sintaksis dan Semantik: Dua Pilar Utama dalam Analisis Bahasa

 Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik

10.1. Sintaksis dan Semantik

Dalam kajian linguistik, sintaksis dan semantik merupakan dua komponen fundamental yang saling terkait namun memiliki ranah kajian yang berbeda. Sintaksis membahas struktur gramatikal dan aturan penyusunan kata menjadi frasa, klausa, dan kalimat, sementara semantik mempelajari makna yang dihasilkan dari susunan tersebut (Fromkin, Rodman, & Hyams, 2018). Keduanya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan dalam memahami hakikat bahasa manusia.

Hubungan antara sintaksis dan semantik sering digambarkan sebagai hubungan antara bentuk dan makna. Sintaksis menyediakan kerangka struktural, sedangkan semantik mengisi kerangka tersebut dengan kandungan makna. Sebagai analogi, sintaksis adalah tulang punggung yang menyangga tubuh bahasa, sementara semantik adalah daging dan darah yang membuat bahasa hidup dan bermakna.

Landasan Teoretis

Dalam perkembangan linguistik modern, hubungan sintaksis-semantik telah melahirkan berbagai pendekatan teoretis. Chomsky (1965) dalam Aspects of the Theory of Syntax memperkenalkan konsep Struktur-Dalam (Deep Structure) dan Struktur-Luar (Surface Structure), di mana struktur-dalam merepresentasikan level abstrak yang berkaitan dengan interpretasi semantik. Sementara itu, teori Tata Bahasa Kasus (Case Grammar) yang dikembangkan oleh Fillmore (1968) berargumen bahwa struktur sintaksis diturunkan dari representasi semantik yang mendasari.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 

10.2. Perbedaan Antara Sintaksis dan Semantik

Aspek Gramatikal vs. Aspek Makna

Perbedaan mendasar antara sintaksis dan semantik terletak pada fokus kajiannya. Sintaksis berkaitan dengan kesahihan gramatikal (grammaticality), sedangkan semantik berkaitan dengan kebermaknaan (meaningfulness) (Cruse, 2011).

Contoh perbedaan ini dapat dilihat dari kalimat berikut:

·         "Warna-warna yang kehijau-hijauan itu tidur dengan garang."
Kalimat ini secara sintaksis sahih dalam bahasa Indonesia (mengikuti pola S-P-Ket), namun secara semantik tidak masuk akal.

Kriteria Kelengkapan Struktural vs. Kebutuhan Informasi

Sintaksis mensyaratkan kelengkapan struktural, sementara semantik memerlukan kelengkapan informasi. Sebuah kalimat mungkin secara sintaksis lengkap tetapi secara semantik tidak informatif.

Otonomi vs. Ketergantungan Kontekstual

Sintaksis cenderung lebih otonom dan terlepas dari konteks, sedangkan semantik sangat bergantung pada konteks penggunaan bahasa. Perhatikan kalimat:

·         "Dia sudah sampai."
Kalimat ini sintaksisnya lengkap, tetapi maknanya bergantung pada konteks: siapa 'dia', sampai di mana, kapan, dan sebagainya.

Universalitas vs. Kekhasan Budaya

Prinsip-prinsip sintaksis cenderung lebih universal across bahasa-bahasa dunia, sementara sistem semantik sering mencerminkan kekhasan budaya masyarakat penuturnya (Wierzbicka, 1996). Sebagai contoh, konsep "sungai" dalam bahasa Indonesia tidak membedakan arah aliran, sementara dalam bahasa Bali terdapat perbedaan leksikal untuk sungai yang mengalir ke laut (tukad) dan sungai yang mengalir ke danau (yeh).

Tes Linguistik yang Berbeda

Sintaksis dan semantik menggunakan alat analisis yang berbeda:

·         Tes Sintaksis: substitusi, perpindahan, pelesapan, koordinasi

·         Tes Semantik: hubungan sinonimi, antonimi, hiponimi, analisis komponensial

Hubungan Sebab-Akibat

Dalam banyak kasus, struktur sintaksis menentukan interpretasi semantik, namun sebaliknya, makna juga dapat mempengaruhi pilihan struktur sintaksis. Jackendoff (2002) dalam teori Semantic Syntax berargumen bahwa representasi semantik dan sintaksis saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan secara tegas.

10.3. Peranan Tema dan Rema dalam Kalimat

Konsep Tema dan Rema

Konsep tema (theme) dan rema (rheme) berasal dari teori Linguistik Fungsional Praha yang dikembangkan oleh VilĂ©m Mathesius pada tahun 1930-an. Tema mengacu pada unsur yang menjadi titik tolak pembicaraan (topic), sedangkan rema merupakan inti pesan yang disampaikan tentang tema tersebut (comment) (Firbas, 1992).

Dalam kalimat "[Buku yang kamu pinjam] [sudah harus dikembalikan besok]":

·         TemaBuku yang kamu pinjam

·         Remasudah harus dikembalikan besok

Fungsi Komunikatif Tema-Rema

Struktur tema-rema memainkan peran crucial dalam organisasi wacana karena:

1.       Menjaga Kohesi: Tema sering kali merujuk kembali pada informasi yang telah disebutkan sebelumnya

2.       Mengatur Aliran Informasi: Dari informasi yang sudah diketahui (given) menuju informasi baru (new)

3.       Memudahkan Pemrosesan: Memungkinkan pendengar/ pembaca mengikuti alur pembicaraan dengan lebih mudah

Realisasi Tema-Rema dalam Berbagai Bahasa

Setiap bahasa memiliki strategi berbeda untuk menandai struktur tema-rema:

Bahasa Indonesia:

·         Urutan kata: Tema biasanya mendahului rema

·         Partikel: Penggunaan partikel seperti -lah-pun

·         Konstruksi pasif: Buku itu sudah saya baca

·         Kalimat topikalisasi: Mengenai masalah itu, kita akan bahas nanti

Bahasa Jepang:

·         Partikel wa untuk menandai tema

·         Kore wa hon desu (Ini adalah buku)

Bahasa Rusia:

·         Fleksibilitas urutan kata untuk menandai fokus informasi

·         Intonasi sebagai penanda rema

Tema-Rema dan Sintaksis

Hubungan antara struktur tema-rema dan sintaksis kompleks dan saling mempengaruhi. Menurut Lambrecht (1994), struktur informasi (tema-rema) dapat mempengaruhi pilihan konstruksi sintaksis. Sebagai contoh, dalam bahasa Indonesia, konstruksi yang-cleft sering digunakan untuk memfokuskan pada rema:

·         "Yang memenangkan lomba adalah adik saya"

Struktur Informasi dalam Kalimat

Pengembangan konsep tema-rema melahirkan teori Struktur Informasi (Information Structure) yang mencakup:

1.       Topik-Komentar: Pembagian antara apa yang dibicarakan dan apa yang dikatakan tentangnya

2.       Given-New: Pembagian antara informasi yang sudah diketahui dan informasi baru

3.       Fokus-Latar: Pembagian antara unsur yang ditonjolkan dan unsur latar

Implikasi Pedagogis

Pemahaman struktur tema-rema memiliki implikasi penting dalam pengajaran bahasa, khususnya dalam:

1.       Pengajaran Menulis: Membantu siswa mengorganisasi paragraf secara kohesif

2.       Pengajaran Berbicara: Membantu pelajar menyusun presentasi yang efektif

3.       Terapi Wicara: Membantu individu dengan gangguan bahasa dalam mengorganisasi pesan

Aplikasi dalam Teknologi Bahasa

Dalam Pemrosesan Bahasa Alami (Natural Language Processing), pemahaman struktur tema-rema dapat meningkatkan kinerja:

1.       Sistem Tanya-Jawab: Mengidentifikasi fokus pertanyaan dan memberikan jawaban yang relevan

2.       Summarization Otomatis: Menentukan informasi penting yang harus dimasukkan dalam ringkasan

3.       Machine Translation: Mempertahankan struktur informasi dalam terjemahan

Penelitian Mutakhir

Penelitian terkini dalam neurolinguistik menunjukkan bahwa otak manusia memproses informasi tema dan rema secara berbeda. Studi fMRI oleh Bornkessel-Schlesewsky dan Schlesewsky (2009) menemukan bahwa pemrosesan struktur informasi mengaktifkan jaringan neural yang berbeda dengan pemrosesan sintaksis murni.

Kesimpulan

Sintaksis dan semantik, meskipun merupakan bidang kajian yang berbeda, saling melengkapi dalam memberikan pemahaman yang komprehensif tentang bahasa. Sintaksis memberikan kerangka formal yang memungkinkan komunikasi terstruktur, sementara semantik memberikan muatan makna yang membuat komunikasi tersebut bermakna.

Struktur tema-rema berperan sebagai jembatan antara sintaksis dan semantik dengan mengorganisasi informasi dalam konteks wacana yang lebih luas. Pemahaman tentang ketiga aspek ini—sintaksis, semantik, dan struktur informasi—sangat essential tidak hanya bagi linguis teoretis tetapi juga bagi praktisi pendidikan, terapis wicara, dan pengembang teknologi bahasa.

Dalam era digital ini, integrasi pengetahuan tentang sintaksis, semantik, dan struktur informasi menjadi semakin penting dalam pengembangan sistem kecerdasan buatan yang mampu memahami dan memproduksi bahasa manusia secara alami dan efektif.

 

Daftar Pustaka

Bornkessel-Schlesewsky, I., & Schlesewsky, M. (2009). Processing syntax and morphology: A neurocognitive perspective. Oxford University Press.

Chomsky, N. (1965). Aspects of the theory of syntax. MIT Press.

Cruse, A. (2011). Meaning in language: An introduction to semantics and pragmatics (3rd ed.). Oxford University Press.

Fillmore, C. J. (1968). The case for case. In E. Bach & R. T. Harms (Eds.), Universals in linguistic theory (pp. 1-88). Holt, Rinehart and Winston.

Firbas, J. (1992). Functional sentence perspective in written and spoken communication. Cambridge University Press.

Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N. (2018). An introduction to language (11th ed.). Cengage Learning.

Jackendoff, R. (2002). Foundations of language: Brain, meaning, grammar, evolution. Oxford University Press.

Lambrecht, K. (1994). Information structure and sentence form: Topic, focus, and the mental representations of discourse referents. Cambridge University Press.

Wierzbicka, A. (1996). Semantics: Primes and universals. Oxford University Press.

Kridalaksana, H. (2011). Kamus linguistik (Edisi Keempat). Gramedia Pustaka Utama.

Jumat, 05 Desember 2025

Analisis Sintaksis dalam Bahasa Indonesia

11.1. Analisis Sintaksis dalam Bahasa Indonesia

Pengertian dan Ruang Lingkup

Sintaksis adalah cabang linguistik yang mempelajari bagaimana unsur-unsur bahasa (kata, frasa, klausa) disusun menjadi satuan yang lebih besar seperti kalimat, serta bagaimana hubungan antarunsur tersebut membentuk struktur gramatikal (GivĂłn, 2001; di dalam Nainggolan, 2025). Dalam konteks bahasa Indonesia, analisis sintaksis mencakup identifikasi elemen-kalimat seperti subjek, predikat, objek, keterangan (SPOK), frasa dan klausa, serta hubungan antara klausa (koordinatif, subordinatif) yang membentuk kalimat kompleks (Harahap, et al., 2025).

Pola Kalimat dan Unsur SPOK

Salah satu ciri khas bahasa Indonesia baku adalah pola dasar Subjek–Predikat–Objek–Keterangan (SPOK). Penelitian terhadap esai mahasiswa menunjukkan bahwa penguasaan pola ini menjadi indikator kecakapan berbahasa Indonesia secara tertulis. Misalnya, studi oleh Pratami et al. (2025) menemukan bahwa esai mahasiswa sering mengabaikan unsur predikat atau keterangan sehingga struktur kalimat menjadi tidak optimal (Pratami et al., 2025). Journal Universitas Nurul Huda
Pola SPOK ini memberikan kerangka bagi pembaca atau pendengar untuk mengidentifikasi siapa melakukan apa, kepada siapa, dan dalam kondisi apa. Sebagai contoh:

“Ali membaca buku di perpustakaan kemarin.”
Subjek = Ali; Predikat = membaca; Objek = buku; Keterangan = di perpustakaan kemarin.

Pola ini memudahkan analisis karena unsur-unsurnya relatif jelas dan berurut secara linear.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 

Frasa, Klausa, dan Hubungan Antar-Klausa

Dalam analisis sintaksis, kita juga meninjau frasa (kelompok kata yang berfungsi sebagai satu unit, misalnya frasa nama, frasa kerja) dan klausa (unit yang memiliki predikat).
Penelitian mengenai kalimat kompleks dalam bahasa Indonesia menunjukkan bahwa hubungan antar-klausa sering berupa subordinasi daripada koordinasi atau korelasi—terutama dalam teks akademik dan formal. Harahap et al. (2025) menemukan bahwa konjungsi seperti karena, sehingga, meskipun, walaupun banyak digunakan untuk menghubungkan klausa utama dan klausa subordinatif. JPTAM
Contoh:

“Meskipun hujan lebat, mereka tetap melaksanakan upacara.”
Klausa subordinatif: “Meskipun hujan lebat”
Klausa utama: “mereka tetap melaksanakan upacara”

Analisis ini penting karena konstruksi subordinatif menunjukkan bagaimana ide-utama dan ide -tambahan saling berhubungan dalam satu kalimat.

Ciri dan Permasalahan Sintaksis dalam Bahasa Indonesia

Beberapa penelitian telah mengidentifikasi masalah umum pada tataran sintaksis bahasa Indonesia, misalnya dalam teks media massa atau tulisan akademik. Sebagai contoh, Susanto et al. (2024) menemukan kesalahan seperti interferensi, kalimat tidak padu, penambahan preposisi yang tidak diperlukan, atau struktur kalimat yang mubazir (redundan). Anufa Ikaprobsi
Analisis lain menyoroti bahwa dalam konteks digital (media sosial), pengguna bahasa Indonesia sering menggunakan kalimat eliptis, fragmentaris, atau tidak mengikuti pola SPOK yang baku — namun hal ini dapat dipahami sebagai adaptasi gaya komunikasi digital yang lebih ringkas dan ekspresif (Alwisa et al., 2025). J-Educa
Dalam kajian yang lebih terfokus, Astuti (2017) meneliti fungsi sintaksis kata tanya seperti apa dan mana dalam kalimat tanya maupun deklaratif — menunjukkan bahwa bahan sedikit tampak sederhana namun memiliki peran sintaksis yang penting dalam kalimat Indonesia. UNDIP E-Journal System

Metode Analisis Sintaksis

Analisis sintaksis dalam bahasa Indonesia umumnya menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif: mengumpulkan data (tulisan atau lisan), mengidentifikasi struktur kalimat, mengklasifikasi hubungan antar-unsur, dan mengevaluasi kesesuaian dengan kaidah baku (Harahap et al., 2025; Bebas, 2024) (Harahap et al., 2025) & (Susanto et al., 2024).
Sumber data bisa berupa teks tertulis (artikel, esai, media) maupun lisan (wawancara, rekaman percakapan). Analisis kemudian dapat mengeksplorasi pola pola sintaktis, frekuensi tipe klausa, kesalahan sintaksis, dan faktor-faktor yang memengaruhi.

Signifikansi dan Aplikasi

Menguasai analisis sintaksis bermanfaat dalam beberapa bidang, antara lain:

·         Pembelajaran bahasa Indonesia: guru dan pelajar dapat memahami struktur kalimat demi komunikasi yang efektif.

·         Penulisan akademik atau profesional: struktur kalimat yang baik meningkatkan kejelasan dan kredibilitas tulisan.

·         Pengembangan teknologi bahasa (NLP): struktur sintaksis menjadi dasar analisis bahasa otomatis dan pemrosesan bahasa alami.

·         Penerjemahan dan analisis linguistik kontrastif: mengetahui struktur kalimat Indonesia membantu dibandingkan dengan bahasa lain.

Dengan demikian, analisis sintaksis bukan sekadar teori, tetapi sangat relevan dalam praktik bahasa.

 

11.2. Perbandingan Sintaksis Bahasa Indonesia dengan Bahasa Lain

Pendekatan Sintaksis Kontrasting

Analisis kontrastif (contrastive analysis) antara bahasa Indonesia dan bahasa lain (misalnya bahasa Inggris, Jepang, Cina) memungkinkan kita melihat persamaan dan perbedaan struktur kalimat serta implikasinya terhadap pembelajaran bahasa maupun penerjemahan. Sebagai contoh, Adiantika (2024) membandingkan kalimat deklaratif antara bahasa Indonesia dan Inggris, menunjukkan bahwa meskipun pola dasar mungkin sama (misalnya transitive, intransitive), terdapat perbedaan dalam pengenalannya, penanda transitivitas, maupun relasi gramatikal. Journal Unsika

Contoh Perbandingan antara Bahasa Indonesia dan Inggris

Dalam penelitian Nugraha (2024) mengenai verba denominal (kata kerja yang dibentuk dari nomina) antara bahasa Indonesia dan Inggris ditemukan:

·         Kemiripan: kedua bahasa memiliki fitur transitif dan intransitif. Journal UIN Malang

·         Perbedaan: bahasa Indonesia mempunyai fitur bitransitif yang lebih produktif; berbeda juga dalam hal penanda transitivitas dan relasi gramatikal terhadap verba denominal (Nugraha, 2024).
Contoh sederhana:

Bahasa Indonesia: “Dia menjahitkan meja itu untuk saya.” (bitransitif: menjahit-kan)
Bahasa Inggris: “He had the table sewn for me.” (lebih kompleks dengan struktur had … for)
Perbedaan ini menunjukkan bahwa konstruksi dan tata penanda sintaksis tiap bahasa tidak selalu sepadan.

Perbandingan dengan Bahasa Jepang dan Cina

Dalam studi yang membandingkan bahasa Jepang dan Indonesia, ditemukan bahwa konstruksi kalimat potensi (ability/potential) memiliki kesamaan dan perbedaan. Misalnya, bahasa Jepang menggunakan “N-ga dekiru”, sementara bahasa Indonesia memakai “bisa + V” dalam konstruksi yang setara. Namun, aturan pembentukan terhadap verba intransitif dalam bahasa Jepang lebih kompleks dibanding bahasa Indonesia (Forum for Linguistic Studies, 2025). Bilbup Group
Dalam penelitian mengenai kalimat nominal antara bahasa Cina dan Indonesia — sebuah studi oleh Trihardini (2024) — ditemukan bahwa meskipun definisi kalimat nominal serupa, unsur-unsur pembentuk predikat berbeda antara kedua bahasa, sehingga pemahaman strukturalnya memerlukan kesadaran terhadap perbedaan (Trihardini, 2024). BINUS Journal

Perbandingan dalam Bahasa-Austronesia dan Fokus Transitivitas

Kajian Arka (2024) mengangkat struktur core-oblique dan sistem transitivitas dalam bahasa Austronesia termasuk Indonesia dan Bali. Dalam hal ini, bahasa Indonesia menunjukkan pola yang “gradien” antara inti (core) dan oblique arguments, yang agak berbeda dari klasifikasi kategori yang sangat diskret dalam beberapa teori universal. ojs.linguistik-indonesia.org
Hal ini menunjukkan bahwa perbandingan sintaksis tidak hanya melibatkan struktur kalimat dasar, tetapi juga relasi argumen, realisasi verba, dan sistem suara (voice system) dalam bahasa tersebut.

Implikasi Pembelajaran dan Penerjemahan

Perbandingan sintaksis memiliki implikasi nyata dalam beberapa bidang:

·         Dalam pembelajaran bahasa asing: memahami perbedaan struktural antara bahasa asal (misalnya Indonesia) dan bahasa target (misalnya Inggris/Jepang) membantu pengajar dan pelajar mengantisipasi kesalahan struktural (Adiantika, 2024).

·         Dalam penerjemahan: penerjemah harus peka terhadap perbedaan konstruk sintaksis agar hasil terjemahan tidak terasa kaku atau kurang natural.

·         Dalam pengembangan kurikulum bahasa Indonesia atau bahasa asing di Indonesia: materi bisa disesuaikan dengan perbedaan sintaksis yang sering menimbulkan kesalahan. Misalnya, kesalahan pada tataran sintaksis dalam teks-ilmiah atau media massa Indonesia menunjukkan bahwa pemahaman struktur kalimat masih perlu diperkuat. JPTAM+1

Tabel Ringkas: Beberapa Perbedaan Sintaksis Antar Bahasa

Aspek

Bahasa Indonesia

Bahasa Lain (Inggris/Jepang/Cina)

Pola kalimat dasar

S-P-O-K umum

S-V-O (Inggris) / SOV (Jepang) atau pola berbeda (Cina)

Sistem transitivitas

Transitif, intransitif, bitransitif lebih produktif (Nugraha, 2024) Journal UIN Malang

Inggris: bitransitif ada tapi berbeda penanda; Jepang: struktur potensi lebih kompleks

Hubungan antar-klausa

Banyak subordinatif dalam teks formal (Harahap et al., 2025) JPTAM

Struktur klausa bisa berbeda tergantung tipologi bahasa

Realisasi argumen inti & oblique

Gradien core-oblique (Arka, 2024) ojs.linguistik-indonesia.org

Beberapa bahasa memiliki kategorisasi yang lebih rigid

Tantangan dan Peluang

Meski analisis kontrastif telah menghasilkan berbagai temuan, ada tantangan yang perlu diperhatikan:

·         Data yang representatif: banyak penelitian menggunakan data terbatas (misalnya esai mahasiswa, teks berita) sehingga generalisasi perlu hati-hati.

·         Variasi dialektal dan gaya: bahasa Indonesia memiliki ragam dialek dan register (misalnya media sosial) yang memiliki pola sintaksis berbeda.

·         Interferensi dari bahasa sumber: khususnya dalam pembelajaran bahasa asing, struktur bahasa asal dapat memengaruhi pemahaman struktur target (Adiantika, 2024).

·         Perkembangan teknologi bahasa: dengan munculnya NLP untuk bahasa Indonesia, struktur sintaksis menjadi semakin penting dalam pemrosesan bahasa otomatis (Amien, 2023) arXiv

Namun demikian, peluang penelitian ke depan cukup besar, terutama dalam memperluas studi ke bahasa-bahasa lokal, variasi informal, dan aplikasi lintas bahasa dalam konteks global.

 

Penutup

Analisis sintaksis dalam bahasa Indonesia adalah bidang yang kaya dan relevan, baik untuk keperluan pembelajaran bahasa, penulisan, penerjemahan, maupun pengembangan teknologi bahasa. Pada bagian pertama (11.1), kita telah membahas bagaimana struktur kalimat bahasa Indonesia dibentuk, bagaimana polanya (seperti SPOK), dan beberapa isu dalam praktik penggunaannya. Di bagian kedua (11.2), kita melihat bagaimana bahasa Indonesia dibandingkan dengan bahasa lain — melalui analisis kontrastif yang mengungkap persamaan dan perbedaan dalam struktur sintaksis.

Bagi pembaca “Pusat Referensi Linguistik”, artikel ini diharapkan dapat menjadi fondasi yang kuat untuk memahami struktur kalimat dan relasi gramatikal dalam bahasa Indonesia serta memperluas wawasan lintas-bahasa. Dengan pemahaman tersebut, pengguna bahasa (pelajar, guru, peneliti) akan lebih mampu menyusun kalimat yang efektif, menganalisis struktur bahasa lain, dan menerapkan pengetahuan ini dalam konteks akademik maupun profesional.

 

Referensi

Adiantika, H. N. (2024). Contrastive Analysis between Indonesian and English Declarative Sentences. ELT in Focus, v3i1. https://doi.org/10.35706/eltinfc.v3i1.3695 Journal Unsika
Arka, I. W. (2024). The core-oblique distinction in some Austronesian languages of Indonesia and beyond. Linguistik Indonesia, 35(2), … https://doi.org/10.26499/li.v35i2.66 ojs.linguistik-indonesia.org
Astuti, S. P. (2017). Analisis fungsi sintaksis kata apa dan mana dalam bahasa Indonesia. Nusa: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. https://doi.org/10.14710/nusa.12.4.206-215 UNDIP E-Journal System
Harahap, H. J. P., Sababalat, C. V., Simanullang, R. W., Marwah, P. A., & Simanjuntak, G. I. (2025). Analisis sintaksis pada kalimat kompleks dalam bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(1), 10183-10187. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i1.26246 JPTAM
Nainggolan, K. (2025). Sintakmatik dalam analisis struktur kalimat bahasa Indonesia: syntax in Indonesian sentence structure analysis. JBSI: Jurnal Bahasa dan Sastra Indonesia, 5(01). https://doi.org/10.47709/jbsi.v5i01.6247 jurnal.itscience.org
Nugraha, D. S. (2024). The comparative analysis of syntactic features between Indonesian and English denominal verbs. LiNGUA: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra. https://doi.org/… Journal UIN Malang
Pratami, F., Widiono, A., Zahra, A. N., Suciati, L., & Lestari, M. W. (2025). Studi sintaksis: Analisis penggunaan kalimat SPOK dalam esai mahasiswa PBSI. Seulas Pinang: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra. https://doi.org/10.30599/n9mx2f87 Journal Universitas Nurul Huda
Susanto, R. N. V., Dwijayanti, R., & Putri, F. M. (2024). Analisis kesalahan sintaksis dalam bahasa Indonesia. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(1), 1360-1371. https://doi.org/10.31004/jptam.v8i1.12566 JPTAM

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...