Kamis, 04 Desember 2025

Peranan Kasus dalam Sintaksis: Memahami Relasi Gramatikal dalam Kalimat

Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik

9.1. Peranan Kasus dalam Sintaksis

Dalam kajian sintaksis, konsep kasus (case) memegang peranan fundamental sebagai sistem penanda gramatikal yang menunjukkan hubungan antara unsur-unsur dalam sebuah kalimat. Kasus menentukan fungsi gramatikal sebuah nomina atau pronomina dalam relasinya dengan verba atau dengan unsur nomina lainnya. Meskipun dalam bahasa Indonesia sistem kasus tidak sekompleks bahasa-bahasa infleksional seperti Latin atau Rusia, pemahaman tentang kasus tetap essential untuk menganalisis struktur kalimat secara mendalam.

Secara linguistik, kasus didefinisikan sebagai sistem morfologis atau sintaksis yang menandai hubungan dependensi gramatikal antara nomina dan unsur-unsur lain dalam klausa (Blake, 2001). Sistem kasus berfungsi sebagai "peta relasi" yang memandu penutur dan pendengar dalam mengidentifikasi siapa melakukan apa kepada siapa dalam sebuah kalimat. Dalam kalimat "Ibu memberikan hadiah kepada adik", sistem kasus (walaupun tidak tampak secara morfologis jelas) membantu kita memahami bahwa "Ibu" berfungsi sebagai agen, "hadiah" sebagai tema, dan "adik" sebagai penerima.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 

Teori Kasus dalam Linguistik Modern

Dalam kerangka teori Generatif Grammar, Noam Chomsky (1981) mengemukakan Theory of Case yang menjadi pilar penting dalam sintaksis modern. Teori ini menyatakan bahwa setiap frasa nomina (NP/DP) dalam posisi argumental harus mendapat Abstract Case (kasus abstrak) yang diberikan oleh elemen pemberi kasus (case assigner). Konsep ini menjelaskan mengapa dalam bahasa Inggris kita mengatakan "She loves him" bukan "*She loves he" - karena objek harus mendapat kasus akusatif.

Menurut Woolford (2006), terdapat beberapa pendekatan dalam menganalisis kasus:

1.      Pendekatan Struktural: Kasus ditentukan oleh posisi sintaksis

2.      Pendekatan Leksikal: Kasus ditentukan oleh properti leksikal verba

3.      Pendekatan Semantik: Kasus berkaitan dengan peran semantik

Jenis-Jenis Kasus dalam Bahasa-Bahasa Dunia

Blake (2001) mengklasifikasikan kasus menjadi beberapa jenis utama:

1.      Kasus Gramatikal: Menunjukkan fungsi sintaksis (nominatif, akusatif, genitif)

2.      Kasus Semantik: Menunjukkan peran semantik (instrumental, lokatif, benefaktif)

3.      Kasus Struktural: Ditetapkan berdasarkan konfigurasi struktural

4.      Kasus Inherent: Ditetapkan berdasarkan properti leksikal predikat

9.2. Peranan Kasus dalam Struktur Kalimat

Kasus dan Identifikasi Fungsi Gramatikal

Dalam bahasa-bahasa yang memiliki sistem kasus yang berkembang baik seperti bahasa Jerman atau Rusia, kasus berperan sebagai penanda utama fungsi gramatikal. Perhatikan contoh dalam bahasa Jerman:

·         Der Mann sieht den Jungen [Sang laki-laki melihat anak laki-laki itu]

o    Der Mann (nominatif) sebagai subjek

o    den Jungen (akusatif) sebagai objek

·         Den Mann sieht der Junge [Anak laki-laki itu melihat sang laki-laki]

o    Den Mann (akusatif) sebagai objek

o    der Junge (nominatif) sebagai subjek

Contoh ini menunjukkan bagaimana sistem kasus memungkinkan fleksibilitas urutan kata tanpa mengaburkan makna gramatikal.

Sistem Kasus dalam Bahasa Indonesia

Meskipun bahasa Indonesia tidak memiliki sistem kasus morfologis yang kompleks, terdapat beberapa manifestasi kasus yang penting:

1.      Kasus melalui Preposisi:

o    Ibu membelikan hadiah untuk adik (benefaktif)

o    Dia menulis dengan pena (instrumental)

o    Buku itu ditaruh di atas meja (lokatif)

2.      Kasus melalui Urutan Kata:

o    Polisi menangkap pencuri (S-V-O)

o    Pencuri ditangkap polisi (S-V-A)

3.      Kasus dalam Konstruksi Pasif:

o    Buku dibaca siswa (subjek mendapat kasus nominatif)

o    Siswa membaca buku (objek mendapat kasus akusatif)

Analisis Kasus dalam Teori Generatif

Dalam Principles and Parameters framework, Chomsky (1981) mengajukan Case Filter yang menyatakan bahwa setiap NP/DP yang terrealisasi secara fonologis harus mendapat kasus. Konsep ini menjelaskan berbagai fenomena sintaksis:

1.      ECM (Exceptional Case Marking):

o    They believe [him to be intelligent]

o    Verba believe memberikan kasus akusatif kepada him

2.      Konstruksi Pasif:

o    He was seen __

o    Posisi objek tidak mendapat kasus sehingga NP harus berpindah ke posisi subjek

Kasus dan Hierarki Theta

Berdasarkan penelitian Van Valin (2001), terdapat korelasi sistematis antara kasus gramatikal dan hierarki peran theta:

Hierarki Theta: Agen > Penerima > Pengalaman > Tema > Lokatif

Hubungan ini menjelaskan preferensi alokasi kasus nominatif kepada argumen dengan peran theta yang lebih tinggi dalam hierarki.

Kasus dalam Bahasa Bertipe Ergatif

Sistem kasus tidak selalu mengikuti pola nominatif-akusatif. Dalam bahasa bertipe ergatif seperti Basque atau Bahasa Samoa, sistem kasus beroperasi berbeda:

·         Pola Akusatif: Subjek transitif dan intransitif sama (nominatif), objek berbeda (akusatif)

·         Pola Ergatif: Subjek intransitif dan objek transitif sama (absolutif), subjek transitif berbeda (ergatif)

Fungsi Komunikatif Kasus

Menurut Comrie (1989), sistem kasus memiliki beberapa fungsi komunikatif penting:

1.      Fungsi Disambiguasi: Membedakan fungsi gramatikal dalam konteks urutan kata yang fleksibel

2.      Fungsi Koreferensial: Menandai hubungan koreferensial dalam konstruksi kompleks

3.      Fungsi Informasional: Mengatur aliran informasi dan topikalisasi

Perkembangan Historis Sistem Kasus

Penelitian oleh Harris dan Campbell (1995) menunjukkan bahwa sistem kasus mengalami evolusi historis yang menarik:

1.      Gramatikalisasi: Kata-kata leksikal berevolusi menjadi penanda kasus

2.      Erosi Morfologis: Sistem kasus morfologis dapat mengalami penyederhanaan

3.      Kompensasi Sintaksis: Bahasa mengembangkan strategi sintaksis untuk menggantikan kasus morfologis

Kasus dalam Pemerolehan Bahasa

Studi oleh Slobin (1985) tentang pemerolehan bahasa menunjukkan bahwa anak-anak mengembangkan pemahaman tentang sistem kasus melalui beberapa tahap:

1.      Tahap Prakasus: Tidak ada penanda kasus

2.      Tahap Kasus Diferensial: Penggunaan kasus terbatas pada konteks tertentu

3.      Tahap Kasus Dewasa: Penggunaan sistem kasus yang lengkap dan produktif

Implikasi Psikolinguistik

Penelitian psikolinguistik oleh Bornkessel-Schlesewsky dan Schlesewsky (2009) mengungkap bahwa pemrosesan kasus di otak melibatkan mekanisme yang kompleks:

1.      Pemrosesan Early: Deteksi cepat terhadap penanda kasus

2.      Integrasi Informasi: Integrasi informasi kasus dengan informasi leksikal

3.      Pemecahan Ambiguitas: Penyelesaian ambiguitas berbasis kasus

Aplikasi Analisis Kasus

Pemahaman tentang sistem kasus memiliki aplikasi praktis dalam:

1.      Pengajaran Bahasa Asing: Membantu pembelajar memahami struktur gramatikal bahasa target

2.      Terapi Bahasa: Membantu dalam diagnosis dan treatment gangguan bahasa

3.      Pengembangan Teknologi Bahasa: Meningkatkan kinerja parser sintaksis dalam NLP

Kesimpulan

Sistem kasus memainkan peran sentral dalam organisasi struktur kalimat across bahasa-bahasa dunia. Meskipun realisasi morfologis kasus bervariasi antar bahasa, prinsip-prinsip dasar yang mendasarinya menunjukkan universalitas dalam sistem bahasa manusia.

Dalam bahasa Indonesia, sistem kasus meskipun tidak tampak secara morfologis kaya, tetap beroperasi melalui mekanisme preposisi, urutan kata, dan konstruksi gramatikal lainnya. Pemahaman mendalam tentang kasus tidak hanya essential untuk analisis linguistik teoritis tetapi juga memiliki aplikasi praktis dalam pengajaran bahasa, terapi wicara, dan pengembangan teknologi pemrosesan bahasa alami.

Studi tentang kasus terus berkembang, dengan penelitian terbaru mengintegrasikan temuan dari neurolinguistik dan psikolinguistik untuk memahami lebih dalam tentang bagaimana otak manusia memproses dan merepresentasikan informasi gramatikal tentang relasi sintaksis.

 

Daftar Pustaka

Blake, B. J. (2001). Case (2nd ed.). Cambridge University Press.

Bornkessel-Schlesewsky, I., & Schlesewsky, M. (2009). Processing syntax and morphology: A neurocognitive perspective. Oxford University Press.

Chomsky, N. (1981). Lectures on government and binding. Foris Publications.

Comrie, B. (1989). Language universals and linguistic typology (2nd ed.). University of Chicago Press.

Harris, A. C., & Campbell, L. (1995). Historical syntax in cross-linguistic perspective. Cambridge University Press.

Slobin, D. I. (1985). The crosslinguistic study of language acquisition. Lawrence Erlbaum Associates.

Van Valin, R. D. (2001). An introduction to syntax. Cambridge University Press.

Woolford, E. (2006). Lexical case, inherent case, and argument structure. Linguistic Inquiry, 37(1), 111-130.

Kridalaksana, H. (2008). Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Edisi Kedua). Gramedia Pustaka Utama.

 


Rabu, 03 Desember 2025

Mekanisme Gramatikal: Memahami Perjanjian (Agreement) dan Kongruensi (Concord) dalam Bahasa

Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik

8.1. Perjanjian (Agreement) dan Kongruensi (Concord)

Dalam sistem bahasa manusia, terdapat mekanisme gramatikal yang memastikan bahwa unsur-unsur dalam sebuah frasa atau kalimat "selaras" atau "sepakat" satu sama lain. Mekanisme ini dikenal dengan dua istilah yang sering dipertukarkan namun memiliki nuansa perbedaan: perjanjian (agreement) dan kongruensi (concord). Pemahaman terhadap kedua konsep ini penting untuk menganalisis bagaimana bahasa menciptakan kohesi gramatikal dan menyampaikan informasi secara sistematis.

Secara umum, kongruensi (concord) mengacu pada keselarasan gramatikal antarunsur dalam satu frasa berdasarkan kategori-kategori seperti genus (gender), numerus (number), dan kasus (case). Sementara perjanjian (agreement) adalah hubungan gramatikal antara kata kerja (verba) dengan subjeknya dalam sebuah klausa (Corbett, 2006). Dalam pandangan yang lebih luas, kongruensi sering dipandang sebagai bagian dari sistem perjanjian yang lebih besar.

Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) 

Landasan Teoretis Agreement dan Concord

Dalam linguistik modern, sistem agreement dipahami sebagai hubungan ketergantungan gramatikal di mana sifat-sifat gramatikal dari satu konstituen (yang disebut target) ditentukan oleh sifat-sifat gramatikal dari konstituen lain (yang disebut controller) (Steele, 2016). Misalnya, dalam frasa "buku-buku itu", kata "buku-buku" sebagai controller menentukan bentuk kata "itu" sebagai target.

Sistem agreement beroperasi berdasarkan tiga komponen utama:

1.      Kategori yang disepakati (features): gender, number, person, case

2.      Unsur yang menentukan (controller): biasanya nomina atau pronomina

3.      Unsur yang disesuaikan (target): bisa berupa adjektiva, verba, determiner

Jenis-Jenis Kongruensi dalam Bahasa

Baker (2008) mengidentifikasi beberapa pola kongruensi yang universal dalam bahasa-bahasa dunia:

1.      Kongruensi Nomina-Adjektiva: Keselarasan antara nomina dan adjektiva yang memodifikasinya

2.      Kongruensi Subjek-Verba: Keselarasan antara subjek dan verba dalam klausa

3.      Kongruensi Objek-Verba: Keselarasan antara objek dan verba dalam beberapa bahasa

4.      Kongruensi dalam Frasa Nomina: Keselarasan antar semua unsur dalam frasa nomina

8.2. Kongruensi Kata Sifat dan Nomina

Mekanisme Kongruensi Nomina-Adjektiva

Kongruensi antara kata sifat (adjektiva) dan nomina merupakan salah satu bentuk kongruensi yang paling umum ditemui dalam bahasa-bahasa dunia. Mekanisme ini mensyaratkan bahwa adjektiva yang memodifikasi sebuah nomina harus menyesuaikan diri dengan kategori gramatikal nomina tersebut, terutama dalam hal gender, number, dan kasus.

Dalam bahasa Indonesia, kongruensi adjektiva-nomina relatif sederhana karena tidak melibatkan gender gramatikal dan kasus. Namun, sistem ini tetap menunjukkan pola yang sistematis:

Pola Kongruensi dalam Bahasa Indonesia

1.      Kongruensi Numerus:

o    buku bagus (tunggal)

o    buku-buku bagus (jamak)

Perhatikan bahwa adjektiva "bagus" tidak berubah bentuk meskipun nomina yang dimodifikasi berubah dari tunggal ke jamak. Ini menunjukkan bahwa dalam bahasa Indonesia, kongruensi numerus bersifat fakultatif dan tidak sepenuhnya diwajibkan oleh sistem gramatikal.

2.      Posisi Adjektiva:

o    rumah besar (posisi mengikuti)

o    yang besar (dengan partikel 'yang')

Perbandingan dengan Bahasa Lain

Untuk memahami kompleksitas kongruensi adjektiva-nomina, mari bandingkan dengan bahasa lainnya:

Bahasa Inggris:

·         a big house (tunggal)

·         big houses (jamak)

·         Adjektiva tidak berubah bentuk untuk number

Bahasa Spanyol:

·         casa blanca [feminin tunggal]

·         casas blancas [feminin jamak]

·         libro blanco [maskulin tunggal]

·         libros blancos [maskulin jamak]

Bahasa Rusia:

·         новый дом [novyj dom - maskulin tunggal nominatif]

·         нового дома [novovo doma - maskulin tunggal genitif]

·         новая книга [novaja kniga - feminin tunggal nominatif]

Analisis Teoretis Kongruensi Adjektiva-Nomina

Dalam kerangka Generatif Grammar, kongruensi adjektiva-nomina dianalisis sebagai hasil dari operasi sintaksis yang disebut feature checking (Chomsky, 1995). Adjektiva memperoleh fitur gramatikalnya melalui hubungan struktural dengan nomina dalam frasa determinan (DP).

Struktur hierarkis untuk frasa "buku-buku bagus itu" dapat direpresentasikan sebagai:

          DP
         /  \
        D    NP
       /    /   \
   [itu]   N     AP
          / \    |
   [buku-buku]  A
               |
            [bagus]

Dalam struktur ini, adjektiva "bagus" berada dalam posisi spesifier NP dan harus menyelaraskan fitur numerusnya dengan kepala N "buku-buku".

Variasi Cross-Linguistik dalam Kongruensi

Menurut Corbett (2006), terdapat beberapa tipe kongruensi adjektiva-nomina dalam bahasa-bahasa dunia:

1.      Kongruensi Penuh: Adjektiva menyelaraskan semua kategori dengan nomina

o    Contoh: bahasa Rusia, Jerman, Arab

2.      Kongruensi Parsial: Adjektiva hanya menyelaraskan sebagian kategori

o    Contoh: bahasa Prancis (hanya gender dan number)

3.      Kongruensi Terbatas: Adjektiva hanya menyelaraskan dalam konteks tertentu

o    Contoh: bahasa Indonesia (hanya melalui partikel 'yang')

4.      Tidak Ada Kongruensi: Adjektiva tidak pernah berubah bentuk

o    Contoh: bahasa Inggris, Mandarin

Fungsi Pragmatis Kongruensi

Beyond fungsi gramatikal, kongruensi adjektiva-nomina juga memiliki fungsi pragmatis dalam wacana:

1.      Fungsi Kohesif: Kongruensi menciptakan hubungan yang erat antara adjektiva dan nomina yang dimodifikasi, membantu pembaca/pendengar mengidentifikasi hubungan modifikasi dengan tepat.

2.      Fungsi Disambiguasi: Dalam bahasa dengan sistem kasus yang kompleks, kongruensi membantu mengidentifikasi fungsi gramatikal setiap unsur dalam kalimat.

3.      Fungsi Informasional: Kongruensi membantu dalam pengemasan informasi dengan menandai batas-batas frasa dan hubungan hierarkis antar konstituen.

Pemerolehan dan Pengajaran Kongruensi

Proses pemerolehan sistem kongruensi dalam bahasa pertama menunjukkan kompleksitas kognitif dari fenomena ini. Anak-anak melalui beberapa tahap dalam menguasai sistem kongruensi:

1.      Tahap Prakongruensi: Tidak ada penanda kongruensi

2.      Tahap Kongruensi Parsial: Penggunaan kongruensi yang tidak konsisten

3.      Tahap Kongruensi Dewasa: Penggunaan kongruensi yang tepat dan konsisten

Dalam pengajaran bahasa asing, sistem kongruensi sering menjadi tantangan utama bagi pembelajar, terutama ketika bahasa target memiliki sistem kongruensi yang lebih kompleks daripada bahasa pertama mereka.

Implikasi Teoretis

Studi tentang kongruensi adjektiva-nomina memiliki implikasi penting bagi teori linguistik:

1.      Arsitektur Gramatikal: Kongruensi mendukung pandangan bahwa gramatikal terdiri dari modul-modul yang saling berinteraksi.

2.      Antarmuka Sintaksis-Morfologi: Kongruensi menunjukkan hubungan erat antara struktur sintaksis dan realisasi morfologis.

3.      Universal Bahasa: Pola-pola kongruensi yang ditemukan dalam berbagai bahasa menunjukkan prinsip-prinsip universal dalam organisasi sistem linguistik.

Kesimpulan

Kongruensi antara kata sifat dan nomina merupakan mekanisme gramatikal yang fundamental dalam banyak bahasa dunia. Meskipun bahasa Indonesia memiliki sistem kongruensi yang relatif sederhana dibandingkan dengan bahasa-bahasa infleksional seperti Rusia atau Arab, pemahaman tentang fenomena ini tetap crucial untuk analisis linguistik yang komprehensif.

Studi tentang kongruensi tidak hanya relevan untuk deskripsi gramatikal, tetapi juga memberikan wawasan tentang cara kerja pikiran manusia dalam memproses dan menghasilkan bahasa. Mekanisme ini menunjukkan bagaimana bahasa menciptakan struktur yang sistematis dan dapat diprediksi melalui hubungan-hubungan gramatikal yang teratur.

 

Daftar Pustaka

Baker, M. C. (2008). The syntax of agreement and concord. Cambridge University Press.

Chomsky, N. (1995). The Minimalist Program. MIT Press.

Corbett, G. G. (2006). Agreement. Cambridge University Press.

Kridalaksana, H. (2008). Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Edisi Kedua). Gramedia Pustaka Utama.

Sneddon, J. N. (1996). Indonesian: A comprehensive grammar. Routledge.

Steele, S. (2016). Agreement and anti-agreement: A syntax-lexicon interface approach. Springer.

 

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...