Oleh: Tim Pusat Referensi Linguistik
3.1. Struktur Frasa
Dalam
hierarki gramatikal, frasa menempati posisi yang strategis—ia merupakan satuan
yang lebih besar dari kata, namun lebih kecil dari klausa. Memahami frasa
ibaratnya memahami blok penyusun utama sebuah bangunan kalimat. Sebuah kalimat
yang kompleks tidak dibentuk dari kata-kata yang berdiri sendiri, melainkan
dari frasa-frasa yang disusun secara teratur. Misalnya, dalam kalimat "Guru
baru yang sangat bersemangat itu sedang menjelaskan materi pelajaran dengan
metode yang inovatif di depan kelas," kita tidak
memprosesnya kata demi kata, tetapi dalam kelompok-kelompok makna seperti "guru
baru yang sangat bersemangat itu" (sebuah frasa nomina)
atau "sedang menjelaskan materi pelajaran" (sebuah
frasa verba).
Secara
definitif, frasa dapat dipahami
sebagai satuan gramatikal yang terdiri atas dua kata atau lebih yang tidak
melebihi batas fungsi klausa (Subjek, Predikat, Objek, dll.) dan mengandung
satu unsur inti (*head). Frasa bersifat
non-predikatif, artinya ia tidak dapat berdiri sendiri sebagai sebuah kalimat
lengkap (Kridalaksana, 2008). Kajian mendalam tentang frasa terbagi menjadi dua
aspek fundamental: struktur internal, yang memeriksa anatomi di dalam frasa itu
sendiri, dan struktur eksternal, yang menganalisis peran frasa tersebut dalam
kalimat yang lebih besar. Pemahaman terhadap kedua struktur ini merupakan kunci
untuk menguasai analisis sintaksis.
| Sintaksis Pengantar Linguistik dan Struktur Kalimat | CV. Cemerlang Publishing (cvcemerlangpublishing.com) |
3.2. Struktur Internal Frasa:
Hierarki dan Konstituen
Struktur
internal frasa merujuk pada susunan hierarkis dan hubungan gramatikal antara
unsur-unsur pembentuknya. Untuk menganalisisnya, para linguis menggunakan
konsep struktur frasa dan uji konstituen.
Sebuah konstituen adalah sebuah kelompok kata yang berperilaku sebagai satu
unit dalam suatu struktur hierarkis (Carnie, 2021).
Unsur-Unsur Pembentuk Frasa
Setiap
frasa memiliki sebuah inti (head),
yaitu unsur yang menentukan kategori dan sifat gramatikal frasa tersebut.
Unsur-unsur lain berfungsi sebagai modifier (penerang) yang
membatasi, memerinci, atau mendeskripsikan inti tersebut.
1. Inti (Head): Ini adalah elemen wajib
dalam sebuah frasa. Frasa Nomina (FN) memiliki nomina sebagai inti, Frasa Verba
(FV) memiliki verba, dan seterusnya. Misalnya, dalam frasa "rumah
besar yang berwarna putih itu," kata rumah adalah
intinya. Jika inti dihilangkan, frasa tersebut akan runtuh atau berubah
maknanya secara drastis.
2. Penerang (Modifier): Modifier bersifat opsional
dan dapat dibagi lagi menjadi:
o Penerang di Depan Inti (Pre-Modifier): Biasanya berupa adjektiva, numeralia, atau determiner.
Contoh: [tiga buah] [meja] kayu. Kata tiga
buah adalah pre-modifier untuk inti meja.
o Penerang di Belakang Inti (Post-Modifier): Dapat berupa adjektiva, frasa preposisional, atau klausa
relatif. Contoh: [buku] [yang sangat tebal].
Klausa yang sangat tebal adalah post-modifier untuk
inti buku.
Jenis-Jenis Frasa Berdasarkan Intinya
1. Frasa Nomina (FN): Berintikan kata benda.
Dapat berfungsi sebagai Subjek, Objek, atau Pelengkap.
o Contoh: [FN Kucing hitam] [FV sedang mengejar] [FN
seekor tikus kecil].
o Analisis: Kucing (inti) + hitam (modifier).
2. Frasa Verba (FV): Berintikan kata kerja.
Selalu berfungsi sebagai Predikat.
o Contoh: [FN Mereka] [FV telah menyelesaikan proyek itu
dengan sukses].
o Analisis: menyelesaikan (inti) + telah (modifier
aspek) + dengan sukses (modifier cara).
3. Frasa Adjektiva (FA): Berintikan
kata sifat. Sering berfungsi sebagai Predikat atau Modifier.
o Contoh: [FN Gadis itu] [FA cantik sekali].
o Analisis: cantik (inti) + sekali (modifier
tingkat).
4. Frasa Preposisional (FP): Berintikan
preposisi, diikuti oleh sebuah Komplemen (biasanya FN).
o Contoh: [FN Buku itu] berada [FP di atas meja kayu].
o Analisis: di (inti/preposisi) + atas
meja kayu (komplemen).
Teori X-Bar dan Penyajian Struktur Internal
Untuk
merepresentasikan struktur internal frasa secara visual dan formal, teori
sintaksis modern menggunakan Teori X-Bar (dibaca
"X-Bar"), yang merupakan bagian dari Tata Bahasa Generatif (Chomsky,
1970; Radford, 2009). Teori ini menyatakan bahwa struktur semua frasa bersifat
universal, mengikuti pola hierarkis yang sama.
Dalam
Teori X-Bar:
·
X melambangkan inti frasa (N untuk Nomina, V untuk Verba,
dll.).
·
X' (X-Bar) adalah tingkat intermediate antara inti dan frasa
penuh.
·
XP (X Phrase) adalah proyeksi maksimal, yaitu frasa utuh.
Ilustrasi
struktur untuk Frasa Nomina "tiga buah meja kayu yang kokoh":
FNP (Frasa Nomina Penuh)
/ \
Specifier N'
(Penentu)
/ \
N' Modifier
/ \ (klausa relatif)
Modifier N'
(Numeralia) / \
N Modifier
(Inti) (Adjektiva)
Penjelasan:
·
N (Inti): meja
·
Modifier pertama (adjektiva): kokoh → membentuk N'
·
Modifier kedua (numeralia): tiga buah → membentuk N' yang
lebih tinggi
·
Specifier: (dalam bahasa Indonesia, posisi ini sering kosong atau diisi
oleh determiner seperti si, sang)
·
Modifier akhir (klausa relatif): yang kokoh → melengkapi FNP
Teori
X-Bar membantu menjelaskan mengapa urutan kata dalam frasa bersifat tetap dan
bagaimana hubungan gramatikal antara inti dan modifiernya bekerja.
3.3. Struktur Eksternal Frasa:
Peran dan Fungsi dalam Kalimat
Struktur
eksternal frasa merujuk pada fungsi gramatikal yang
dilakukan oleh sebuah frasa utuh (XP) dalam klausa atau kalimat yang lebih
besar. Di sini, kita tidak lagi mempersoalkan apa yang ada di dalam frasa,
tetapi bagaimana frasa tersebut berinteraksi dengan unsur lain di luarnya
(Tallerman, 2014).
Fungsi Gramatikal Frasa
Sebuah
frasa, terlepas dari kompleksitas internalnya, dapat menduduki berbagai posisi
fungsional:
1. Subjek (S): Biasanya diisi oleh Frasa
Nomina (FN).
o Contoh: [FN Pembangunan gedung bertingkat itu] memakan
biaya yang besar.
2. Predikat (P): Hampir selalu diisi oleh
Frasa Verba (FV) atau Frasa Adjektiva (FA).
o Contoh (FV): [FN Dia] [FV sedang membaca koran pagi ini].
o Contoh (FA): [FN Udara] [FA sangat sejuk di sini].
3. Objek (O): Diisi oleh Frasa Nomina
(FN).
o Contoh: Pemerintah akan membangun [FN sebuah rumah
sakit baru].
4. Keterangan (Ket): Sering diisi oleh Frasa
Preposisional (FP) atau Frasa Adverbial.
o Contoh: [FN Pertemuan] akan diadakan [FP pada hari
Jumat].
5. Pelengkap (Pel): Diisi oleh Frasa Nomina
atau Frasa Adjektiva yang melengkapi makna verba tertentu.
o Contoh: Dia menganggap [FN saya] [FA sebagai sahabat].
Interaksi antara Struktur Internal dan Eksternal
Hubungan
antara struktur internal dan eksternal bersifat sistematis. Kategori internal
frasa (apakah ia FN, FV, FA, atau FP) sangat mempengaruhi fungsi eksternal apa
yang dapat diisinya.
·
Sebuah Frasa
Verba (FV) dengan struktur internal yang kompleks
sekalipun (misalnya, "sedang dengan giat mengerjakan tugas
yang sulit") tetaplah hanya dapat berfungsi sebagai Predikat.
·
Sebuah Frasa
Nomina (FN) seperti "buku lama tentang
sejarah yang ditemukan di loteng" dapat berfungsi sebagai
Subjek, Objek, atau Pelengkap, tetapi tidak akan pernah menjadi Predikat.
Pemahaman
ini memungkinkan kita untuk melakukan analisis kalimat secara metodis.
Perhatikan kalimat berikut:
"[FN Semua mahasiswa linguistik tahun pertama] [FV telah
menyelesaikan] [FN tugas analisis frasa yang rumit] [FP dengan sangat baik] [FP
pada minggu lalu]."
Analisis
fungsi eksternal:
·
Subjek: Semua mahasiswa linguistik tahun pertama (FN)
·
Predikat: telah menyelesaikan (FV)
·
Objek: tugas analisis frasa yang rumit (FN)
·
Keterangan Cara: dengan sangat baik (FP)
·
Keterangan Waktu: pada minggu lalu (FP)
Dengan
memisahkan analisis internal (apa yang ada di dalam setiap frasa) dan eksternal
(bagaimana frasa-frasa itu berkaitan), kita mendapatkan peta yang komprehensif
dan mendalam tentang arsitektur kalimat tersebut.
Kesimpulan
Kajian
tentang struktur frasa, baik internal maupun eksternal, merupakan fondasi yang
indispensable dalam sintaksis. Struktur internal dengan hierarki X-Bar-nya
mengungkapkan keteraturan dan prinsip universal dalam pembentukan unit
gramatikal. Sementara itu, struktur eksternal menunjukkan fleksibilitas dan
fungsi frasa sebagai aktor dalam panggung kalimat. Keduanya bagai dua sisi mata
uang yang tidak terpisahkan. Dengan menguasai konsep-konsep ini, kita tidak hanya
mampu membedah kalimat dengan presisi, tetapi juga lebih menghargai kerumitan
dan keindahan sistem yang mendasari bahasa kita sehari-hari.
Daftar Pustaka
Carnie,
A. (2021). Syntax: A generative introduction (4th ed.).
Wiley-Blackwell.
Chomsky,
N. (1970). Remarks on nominalization. In R. Jacobs & P. Rosenbaum
(Eds.), Readings in English transformational grammar (pp.
184–221). Ginn.
Kridalaksana,
H. (2008). Kelas kata dalam bahasa Indonesia (Edisi Kedua).
Gramedia Pustaka Utama.
Radford,
A. (2009). Analysing English sentences: A minimalist approach.
Cambridge University Press.
Tallerman, M. (2014). Understanding syntax (4th
ed.). Routledge.