ABREVIASI, AKRONIMISASI,
DAN DEVIASI DALAM BAHASA INDONESIA
(Sub-CPMK 8:
Memahami Abreviasi, Akronimisasi, dan Deviasi dalam Pembentukan Kata)
Pendahuluan
Perkembangan bahasa Indonesia tidak dapat
dilepaskan dari dinamika sosial, budaya, dan teknologi. Dalam konteks ini,
muncul berbagai bentuk pembentukan kata yang bersifat praktis, efisien, dan
kreatif. Tiga fenomena yang sangat menonjol dalam bahasa Indonesia modern
adalah abreviasi, akronimisasi, dan deviasi.
Abreviasi dan akronimisasi menunjukkan
kecenderungan bahasa untuk menyingkat bentuk ujaran demi kehematan dan
kecepatan komunikasi. Sementara itu, deviasi mencerminkan penyimpangan dari
kaidah baku bahasa yang sering muncul dalam konteks tertentu, seperti media
sosial, iklan, dan bahasa anak muda. Bab ini membahas secara komprehensif
ketiga fenomena tersebut dalam perspektif morfologi bahasa Indonesia.
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
1.
Abreviasi
1.1 Pengertian Abreviasi
Abreviasi
adalah proses pemendekan bentuk bahasa dengan cara menghilangkan satu atau
beberapa bagian dari suatu bentuk lingual tanpa menghilangkan makna pokoknya.
Chaer (2007) menyatakan bahwa abreviasi merupakan proses morfologis yang
menghasilkan bentuk singkat dari kata atau kelompok kata.
Abreviasi banyak digunakan dalam bahasa tulis
dan lisan, terutama dalam konteks administrasi, akademik, teknologi, dan
komunikasi modern. Tujuan utama abreviasi adalah efisiensi dan kepraktisan.
Secara umum, abreviasi dalam bahasa Indonesia
dapat dibedakan menjadi singkatan
dan akronim.
1.2 Singkatan
Singkatan
adalah bentuk pemendekan yang terdiri atas huruf-huruf awal dari rangkaian kata
dan biasanya dilafalkan per huruf. Singkatan banyak digunakan dalam bahasa
resmi dan administratif.
Contoh singkatan:
·
SMA (Sekolah Menengah Atas)
·
DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
·
UU (Undang-Undang)
·
dsb. (dan sebagainya)
Menurut Arifin dan Junaiyah (2009), singkatan
cenderung bersifat formal dan penggunaannya diatur secara ketat dalam Pedoman
Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dalam penulisan ilmiah, penggunaan
singkatan harus konsisten dan dijelaskan pada kemunculan pertama.
1.3 Akronim
Akronim
adalah bentuk abreviasi yang dibentuk dari huruf atau suku kata dari rangkaian
kata dan dilafalkan sebagai satu kata utuh. Berbeda dengan singkatan, akronim
dibaca seperti kata biasa.
Contoh akronim:
·
LAN (Lembaga Administrasi Negara)
·
Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
·
Pemilu (Pemilihan Umum)
·
Radar (Radio Detection and Ranging)
Akronim sering kali lebih mudah diterima oleh
penutur karena mengikuti pola fonologis bahasa Indonesia.
2.
Akronimisasi dalam Bahasa Modern
Akronimisasi
adalah proses pembentukan akronim sebagai hasil dari abreviasi. Dalam bahasa
Indonesia modern, akronimisasi berkembang sangat pesat, terutama dalam bidang
teknologi, media, dan budaya populer.
Contoh akronimisasi modern:
·
Ojek Online → Ojol
·
Bukti Transfer → Bukti TF
·
Baper (bawa perasaan)
·
Mager (malas gerak)
Fenomena ini menunjukkan bahwa akronimisasi
tidak hanya terjadi pada istilah resmi, tetapi juga pada bahasa informal dan
slang. Menurut Kridalaksana (2008), akronimisasi modern sering kali bersifat
kreatif dan mengikuti selera generasi penutur.
Dalam konteks morfologi, akronimisasi
menunjukkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam menyerap dan menyesuaikan
bentuk baru sesuai kebutuhan komunikasi.
3. Deviasi dalam Bahasa Indonesia
3.1 Pengertian Deviasi
Deviasi
adalah penyimpangan dari kaidah bahasa baku, baik dalam aspek fonologi,
morfologi, sintaksis, maupun semantik. Deviasi tidak selalu bermakna negatif,
karena dalam konteks tertentu justru memiliki fungsi ekspresif dan komunikatif.
Chaer (2010) menyatakan bahwa deviasi sering
muncul dalam bahasa sastra, iklan, dan bahasa gaul sebagai bentuk kreativitas
linguistik. Deviasi juga dapat muncul karena pengaruh bahasa asing, dialek
daerah, atau perkembangan teknologi.
3.2 Bentuk-Bentuk Deviasi
Beberapa bentuk deviasi dalam bahasa Indonesia
antara lain:
1.
Deviasi fonologis
Contoh: nggak (tidak), aja (saja)
2.
Deviasi morfologis
Contoh: kepikiran (terpikir), ketabrak (tertabrak)
3.
Deviasi sintaktis
Contoh: Aku lagi makan nasi (pengaruh
struktur bahasa asing)
4.
Deviasi leksikal
Contoh: curhat, flexing, healing
Deviasi sering kali bersifat kontekstual dan
dapat diterima dalam situasi tertentu, tetapi tidak dianjurkan dalam bahasa
akademik dan resmi.
4. Fenomena Deviasi dalam Media Sosial
Media sosial menjadi ruang paling subur bagi
munculnya deviasi bahasa. Kecepatan komunikasi, keterbatasan karakter, dan
keinginan tampil ekspresif mendorong pengguna bahasa untuk menyimpang dari
kaidah baku.
Contoh deviasi dalam media sosial:
·
Penggunaan angka dan huruf:
4pa k4b4r
·
Pemendekan ekstrem: gws (get well soon)
·
Campur kode: lagi healing di pantai
·
Penghilangan afiks: aku udah makan
Menurut penelitian linguistik sosiokultural, deviasi
dalam media sosial mencerminkan identitas, solidaritas kelompok, dan
kreativitas generasi muda. Namun, jika tidak disikapi dengan bijak, deviasi
dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berbahasa baku di kalangan pelajar.
Oleh karena itu, peran pendidikan bahasa
sangat penting dalam menanamkan kesadaran konteks penggunaan bahasa.
5. Ringkasan
Abreviasi, akronimisasi, dan deviasi merupakan
fenomena penting dalam perkembangan bahasa Indonesia modern. Abreviasi mencakup
singkatan dan akronim yang berfungsi memendekkan bentuk bahasa. Akronimisasi
berkembang pesat dalam bahasa modern dan media sosial. Deviasi merupakan
penyimpangan dari kaidah baku yang sering muncul dalam konteks informal dan
kreatif. Pemahaman ketiga fenomena ini penting agar penutur mampu menggunakan
bahasa secara tepat sesuai konteks.
6. Latihan dan Diskusi
1.
Jelaskan pengertian abreviasi
menurut para ahli linguistik!
2.
Bedakan singkatan dan akronim
disertai contoh masing-masing!
3.
Identifikasilah lima contoh
akronim modern yang sering digunakan di media sosial!
4.
Diskusikan dampak deviasi bahasa
terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah!
5.
Menurut Anda, apakah deviasi
bahasa harus ditolak sepenuhnya? Jelaskan pendapat Anda secara argumentatif!
Daftar
Pustaka
Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi.
Jakarta: Grasindo.
Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, A. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.