Kamis, 25 Desember 2025

ABREVIASI, AKRONIMISASI, DAN DEVIASI DALAM BAHASA INDONESIA

 

ABREVIASI, AKRONIMISASI, DAN DEVIASI DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 8: Memahami Abreviasi, Akronimisasi, dan Deviasi dalam Pembentukan Kata)

Pendahuluan

Perkembangan bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari dinamika sosial, budaya, dan teknologi. Dalam konteks ini, muncul berbagai bentuk pembentukan kata yang bersifat praktis, efisien, dan kreatif. Tiga fenomena yang sangat menonjol dalam bahasa Indonesia modern adalah abreviasi, akronimisasi, dan deviasi.

Abreviasi dan akronimisasi menunjukkan kecenderungan bahasa untuk menyingkat bentuk ujaran demi kehematan dan kecepatan komunikasi. Sementara itu, deviasi mencerminkan penyimpangan dari kaidah baku bahasa yang sering muncul dalam konteks tertentu, seperti media sosial, iklan, dan bahasa anak muda. Bab ini membahas secara komprehensif ketiga fenomena tersebut dalam perspektif morfologi bahasa Indonesia.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Abreviasi

1.1 Pengertian Abreviasi

Abreviasi adalah proses pemendekan bentuk bahasa dengan cara menghilangkan satu atau beberapa bagian dari suatu bentuk lingual tanpa menghilangkan makna pokoknya. Chaer (2007) menyatakan bahwa abreviasi merupakan proses morfologis yang menghasilkan bentuk singkat dari kata atau kelompok kata.

Abreviasi banyak digunakan dalam bahasa tulis dan lisan, terutama dalam konteks administrasi, akademik, teknologi, dan komunikasi modern. Tujuan utama abreviasi adalah efisiensi dan kepraktisan.

Secara umum, abreviasi dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi singkatan dan akronim.

 

1.2 Singkatan

Singkatan adalah bentuk pemendekan yang terdiri atas huruf-huruf awal dari rangkaian kata dan biasanya dilafalkan per huruf. Singkatan banyak digunakan dalam bahasa resmi dan administratif.

Contoh singkatan:

·         SMA (Sekolah Menengah Atas)

·         DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)

·         UU (Undang-Undang)

·         dsb. (dan sebagainya)

Menurut Arifin dan Junaiyah (2009), singkatan cenderung bersifat formal dan penggunaannya diatur secara ketat dalam Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI). Dalam penulisan ilmiah, penggunaan singkatan harus konsisten dan dijelaskan pada kemunculan pertama.

 

1.3 Akronim

Akronim adalah bentuk abreviasi yang dibentuk dari huruf atau suku kata dari rangkaian kata dan dilafalkan sebagai satu kata utuh. Berbeda dengan singkatan, akronim dibaca seperti kata biasa.

Contoh akronim:

·         LAN (Lembaga Administrasi Negara)

·         Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)

·         Pemilu (Pemilihan Umum)

·         Radar (Radio Detection and Ranging)

Akronim sering kali lebih mudah diterima oleh penutur karena mengikuti pola fonologis bahasa Indonesia.

 

2. Akronimisasi dalam Bahasa Modern

Akronimisasi adalah proses pembentukan akronim sebagai hasil dari abreviasi. Dalam bahasa Indonesia modern, akronimisasi berkembang sangat pesat, terutama dalam bidang teknologi, media, dan budaya populer.

Contoh akronimisasi modern:

·         Ojek Online → Ojol

·         Bukti Transfer → Bukti TF

·         Baper (bawa perasaan)

·         Mager (malas gerak)

Fenomena ini menunjukkan bahwa akronimisasi tidak hanya terjadi pada istilah resmi, tetapi juga pada bahasa informal dan slang. Menurut Kridalaksana (2008), akronimisasi modern sering kali bersifat kreatif dan mengikuti selera generasi penutur.

Dalam konteks morfologi, akronimisasi menunjukkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam menyerap dan menyesuaikan bentuk baru sesuai kebutuhan komunikasi.

 

3. Deviasi dalam Bahasa Indonesia

3.1 Pengertian Deviasi

Deviasi adalah penyimpangan dari kaidah bahasa baku, baik dalam aspek fonologi, morfologi, sintaksis, maupun semantik. Deviasi tidak selalu bermakna negatif, karena dalam konteks tertentu justru memiliki fungsi ekspresif dan komunikatif.

Chaer (2010) menyatakan bahwa deviasi sering muncul dalam bahasa sastra, iklan, dan bahasa gaul sebagai bentuk kreativitas linguistik. Deviasi juga dapat muncul karena pengaruh bahasa asing, dialek daerah, atau perkembangan teknologi.

 

3.2 Bentuk-Bentuk Deviasi

Beberapa bentuk deviasi dalam bahasa Indonesia antara lain:

1.      Deviasi fonologis
Contoh: nggak (tidak), aja (saja)

2.      Deviasi morfologis
Contoh: kepikiran (terpikir), ketabrak (tertabrak)

3.      Deviasi sintaktis
Contoh: Aku lagi makan nasi (pengaruh struktur bahasa asing)

4.      Deviasi leksikal
Contoh: curhat, flexing, healing

Deviasi sering kali bersifat kontekstual dan dapat diterima dalam situasi tertentu, tetapi tidak dianjurkan dalam bahasa akademik dan resmi.

 

4. Fenomena Deviasi dalam Media Sosial

Media sosial menjadi ruang paling subur bagi munculnya deviasi bahasa. Kecepatan komunikasi, keterbatasan karakter, dan keinginan tampil ekspresif mendorong pengguna bahasa untuk menyimpang dari kaidah baku.

Contoh deviasi dalam media sosial:

·         Penggunaan angka dan huruf: 4pa k4b4r

·         Pemendekan ekstrem: gws (get well soon)

·         Campur kode: lagi healing di pantai

·         Penghilangan afiks: aku udah makan

Menurut penelitian linguistik sosiokultural, deviasi dalam media sosial mencerminkan identitas, solidaritas kelompok, dan kreativitas generasi muda. Namun, jika tidak disikapi dengan bijak, deviasi dapat berdampak pada menurunnya kemampuan berbahasa baku di kalangan pelajar.

Oleh karena itu, peran pendidikan bahasa sangat penting dalam menanamkan kesadaran konteks penggunaan bahasa.

 

5. Ringkasan

Abreviasi, akronimisasi, dan deviasi merupakan fenomena penting dalam perkembangan bahasa Indonesia modern. Abreviasi mencakup singkatan dan akronim yang berfungsi memendekkan bentuk bahasa. Akronimisasi berkembang pesat dalam bahasa modern dan media sosial. Deviasi merupakan penyimpangan dari kaidah baku yang sering muncul dalam konteks informal dan kreatif. Pemahaman ketiga fenomena ini penting agar penutur mampu menggunakan bahasa secara tepat sesuai konteks.

 

6. Latihan dan Diskusi

1.      Jelaskan pengertian abreviasi menurut para ahli linguistik!

2.      Bedakan singkatan dan akronim disertai contoh masing-masing!

3.      Identifikasilah lima contoh akronim modern yang sering digunakan di media sosial!

4.      Diskusikan dampak deviasi bahasa terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah!

5.      Menurut Anda, apakah deviasi bahasa harus ditolak sepenuhnya? Jelaskan pendapat Anda secara argumentatif!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta.

Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

 

Selasa, 23 Desember 2025

KOMPOSISI (PEMAJEMUKAN) DALAM BAHASA INDONESIA


KOMPOSISI (PEMAJEMUKAN) DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 7: Memahami Proses Komposisi pada Kata Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Bahasa Indonesia memiliki berbagai cara dalam membentuk kata, salah satunya melalui komposisi atau pemajemukan. Proses ini dilakukan dengan menggabungkan dua kata dasar atau lebih sehingga membentuk satuan baru dengan makna tertentu. Komposisi merupakan proses morfologis yang penting karena menghasilkan kosakata baru yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam ragam formal maupun informal.

Pemahaman komposisi sangat diperlukan dalam kajian morfologi dan sintaksis karena sering kali muncul kebingungan dalam membedakan antara kata majemuk dan frasa. Oleh karena itu, bab ini membahas secara komprehensif pengertian komposisi, ciri-ciri kata majemuk, jenis-jenis komposisi, perbedaan frasa dan kata majemuk, serta makna yang dihasilkan melalui proses pemajemukan.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Komposisi

Komposisi adalah proses morfologis yang dilakukan dengan cara menggabungkan dua atau lebih morfem bebas (kata dasar) untuk membentuk satu kata baru yang memiliki makna tertentu. Kata hasil proses komposisi disebut kata majemuk.

Chaer (2007) mendefinisikan komposisi sebagai proses penggabungan dua bentuk dasar yang masing-masing dapat berdiri sendiri menjadi satu bentuk baru yang maknanya tidak selalu sama dengan gabungan makna unsur-unsurnya. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menjelaskan bahwa komposisi merupakan salah satu proses morfologis yang produktif dalam bahasa Indonesia dan sering digunakan untuk membentuk istilah baru.

Dengan demikian, komposisi tidak sekadar penggabungan kata secara sintaktis, tetapi merupakan proses morfologis yang menghasilkan satu kesatuan makna dan fungsi gramatikal.

 

2. Ciri-Ciri Kata Majemuk

Untuk membedakan kata majemuk dari frasa, diperlukan pemahaman terhadap ciri-ciri kata majemuk. Beberapa ciri utama kata majemuk dalam bahasa Indonesia antara lain sebagai berikut.

Pertama, bersifat padu. Unsur-unsur pembentuk kata majemuk membentuk satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Misalnya, kata rumah sakit tidak dapat disisipi unsur lain di antara kedua katanya tanpa mengubah makna.

Kedua, makna bersifat idiomatis atau khusus. Makna kata majemuk sering kali tidak dapat ditafsirkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya. Contohnya, kambing hitam tidak bermakna ‘kambing yang berwarna hitam’, melainkan ‘orang yang dipersalahkan’.

Ketiga, tekanan atau intonasi tertentu. Dalam pengucapan, kata majemuk memiliki tekanan yang relatif merata dan diucapkan sebagai satu kesatuan.

Keempat, ketaktersisipan unsur lain. Unsur lain tidak dapat disisipkan di antara komponen kata majemuk tanpa merusak makna.

Ciri-ciri ini membantu penutur bahasa mengidentifikasi apakah suatu gabungan kata merupakan kata majemuk atau hanya frasa biasa.

 

3. Jenis Komposisi

Berdasarkan hubungan makna antarunsurnya, komposisi dalam bahasa Indonesia dapat dibedakan menjadi beberapa jenis.

a. Komposisi Endosentris

Komposisi endosentris adalah komposisi yang salah satu unsurnya berfungsi sebagai inti (head), sedangkan unsur lainnya berfungsi sebagai pewatas. Makna keseluruhan masih berkaitan dengan inti.

Contoh:

·         rumah makan

·         meja tulis

·         baju sekolah

Dalam contoh tersebut, unsur rumah, meja, dan baju merupakan inti, sedangkan unsur lainnya berfungsi sebagai penjelas.

 

b. Komposisi Eksosentris

Komposisi eksosentris adalah komposisi yang maknanya tidak berpusat pada salah satu unsur pembentuknya. Makna keseluruhan tidak dapat diturunkan dari unsur-unsurnya.

Contoh:

·         kambing hitam

·         kepala batu

·         meja hijau

Jenis komposisi ini bersifat idiomatis dan maknanya harus dipahami secara konvensional.

 

c. Komposisi Koordinatif

Komposisi koordinatif adalah komposisi yang unsur-unsurnya memiliki kedudukan setara dan biasanya menyatakan makna gabungan atau kolektif.

Contoh:

·         jual beli

·         keluar masuk

·         laki-laki perempuan

Komposisi koordinatif sering digunakan untuk menyatakan aktivitas atau keadaan yang melibatkan dua unsur secara bersamaan.

 

4. Perbedaan Frasa dan Kata Majemuk

Salah satu persoalan penting dalam kajian komposisi adalah membedakan antara frasa dan kata majemuk. Meskipun secara bentuk tampak serupa, keduanya memiliki perbedaan mendasar.

Frasa merupakan satuan sintaktis yang tersusun dari dua kata atau lebih, tetapi tidak membentuk makna baru secara idiomatis. Makna frasa masih dapat ditafsirkan dari makna unsur-unsurnya. Contoh frasa adalah rumah besar dan buku baru.

Sebaliknya, kata majemuk merupakan satuan morfologis yang menghasilkan makna baru dan bersifat padu. Unsur-unsurnya tidak dapat dipisahkan atau disisipi. Contoh kata majemuk adalah rumah sakit dan meja hijau.

Dengan demikian, perbedaan utama frasa dan kata majemuk terletak pada tingkat kepaduan bentuk dan makna.

 

5. Makna Komposisi

Komposisi dalam bahasa Indonesia menghasilkan berbagai makna gramatikal dan leksikal. Beberapa makna utama yang dihasilkan melalui komposisi antara lain:

1.      Makna tempat atau institusi (rumah sakit, kantor pos)

2.      Makna profesi atau jabatan (kepala sekolah, wakil rakyat)

3.      Makna idiomatis (kambing hitam, panjang tangan)

4.      Makna kolektif atau aktivitas (jual beli, keluar masuk)

Makna komposisi sangat dipengaruhi oleh konvensi bahasa dan konteks penggunaan. Oleh karena itu, analisis makna komposisi harus mempertimbangkan aspek semantik dan pragmatik.

 

6. Ringkasan Bab

Komposisi atau pemajemukan merupakan proses morfologis yang dilakukan dengan menggabungkan dua atau lebih kata dasar menjadi satu kata majemuk. Kata majemuk memiliki ciri khas berupa kepaduan bentuk dan makna. Berdasarkan hubungan antarunsurnya, komposisi dapat dibedakan menjadi endosentris, eksosentris, dan koordinatif. Pemahaman komposisi sangat penting untuk membedakan kata majemuk dari frasa serta untuk memahami pembentukan makna dalam bahasa Indonesia.

 

7. Latihan

1.      Jelaskan pengertian komposisi menurut para ahli linguistik!

2.      Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri kata majemuk!

3.      Tentukan jenis komposisi pada kata-kata berikut:
a. rumah makan
b. kambing hitam
c. jual beli

4.      Ambillah satu paragraf dari teks berita atau buku pelajaran. Identifikasilah minimal lima kata majemuk dan jelaskan jenis serta maknanya!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...