Minggu, 21 Desember 2025

AFIKSASI DALAM BAHASA INDONESIA

 

AFIKSASI DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 5: Memahami Proses Afiksasi pada Kata Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Dalam kajian morfologi bahasa Indonesia, afiksasi merupakan proses morfologis yang paling produktif dan paling sering digunakan dalam pembentukan kata. Melalui afiksasi, sebuah kata dasar dapat melahirkan berbagai bentuk turunan dengan makna dan fungsi gramatikal yang berbeda. Proses ini menjadikan bahasa Indonesia kaya akan variasi kosakata serta fleksibel dalam memenuhi kebutuhan komunikasi.

Pemahaman afiksasi sangat penting bagi mahasiswa, guru, dan pemerhati bahasa karena berkaitan langsung dengan pembentukan makna, perubahan kelas kata, serta ketepatan penggunaan bahasa dalam konteks akademik maupun nonakademik. Bab ini membahas secara komprehensif pengertian afiksasi, jenis-jenis afiks dalam bahasa Indonesia, fungsi dan makna afiks, serta peran afiksasi dalam perubahan kelas kata.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Afiksasi

Afiksasi adalah proses morfologis yang terjadi melalui penambahan afiks pada kata dasar atau bentuk dasar. Afiks merupakan morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus dilekatkan pada morfem lain untuk membentuk kata yang bermakna.

Chaer (2007) mendefinisikan afiksasi sebagai proses pembubuhan afiks pada bentuk dasar sehingga menghasilkan bentuk kata baru dengan makna gramatikal tertentu. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menegaskan bahwa afiksasi tidak hanya berfungsi membentuk kata baru, tetapi juga berperan dalam menentukan kelas kata dan hubungan sintaktis dalam kalimat.

Dengan demikian, afiksasi merupakan proses yang melibatkan aspek bentuk, makna, dan fungsi secara simultan. Afiksasi juga menjadi ciri khas morfologi bahasa Indonesia yang bersifat aglutinatif, yakni membentuk kata dengan cara menambahkan unsur-unsur terikat secara berurutan.

 

2. Prefiks Bahasa Indonesia

Prefiks atau awalan adalah afiks yang dilekatkan di awal kata dasar. Prefiks dalam bahasa Indonesia memiliki jumlah yang cukup banyak dan fungsi gramatikal yang beragam.

Beberapa prefiks utama dalam bahasa Indonesia antara lain:

1.      me-
Prefiks me- membentuk verba aktif transitif atau intransitif.
Contoh: membaca, menulis, mengajar.

2.      ber-
Prefiks ber- menyatakan keadaan, kepemilikan, atau aktivitas.
Contoh: berjalan, berbaju, berpikir.

3.      di-
Prefiks di- membentuk verba pasif.
Contoh: dibaca, ditulis, dipelajari.

4.      ter-
Prefiks ter- dapat menyatakan keadaan, kemampuan, atau ketidaksengajaan.
Contoh: terbuka, terlihat, terjatuh.

5.      ke- dan se-
Prefiks ini sering digunakan untuk membentuk numeralia atau menyatakan keadaan tertentu.
Contoh: kedua, sebuah, sebesar.

Prefiks memiliki peran penting dalam pembentukan struktur kalimat karena menentukan hubungan subjek dan predikat.

 

3. Sufiks Bahasa Indonesia

Sufiks atau akhiran adalah afiks yang dilekatkan di akhir kata dasar. Sufiks bahasa Indonesia umumnya berfungsi membentuk verba, nomina, atau memberikan nuansa makna tertentu.

Beberapa sufiks yang produktif dalam bahasa Indonesia meliputi:

1.      -kan
Sufiks -kan berfungsi membentuk verba kausatif atau benefaktif.
Contoh: membacakan, menuliskan.

2.      -i
Sufiks -i sering membentuk verba dengan makna lokatif atau repetitif.
Contoh: mengisi, menghiasi.

3.      -an
Sufiks -an membentuk nomina hasil atau tempat.
Contoh: tulisan, makanan.

4.      -nya
Sufiks -nya berfungsi sebagai penanda kepemilikan atau penegasan.
Contoh: bukunya, hasilnya.

Sufiks memperkaya fungsi gramatikal kata dan sering digunakan dalam ragam bahasa formal maupun informal.

 

4. Infiks Bahasa Indonesia

Infiks atau sisipan adalah afiks yang disisipkan di tengah kata dasar. Dalam bahasa Indonesia, infiks tergolong tidak produktif, tetapi masih penting secara teoretis.

Infiks yang dikenal dalam bahasa Indonesia antara lain:

·         -el- (contoh: telunjuk)

·         -em- (contoh: gemetar)

·         -er- (contoh: gerigi)

Menurut Putrayasa (2003), infiks umumnya ditemukan pada kosakata lama dan jarang digunakan untuk membentuk kata baru dalam bahasa Indonesia modern. Namun, keberadaan infiks menunjukkan kekayaan sistem morfologi bahasa Indonesia.

 

5. Konfiks Bahasa Indonesia

Konfiks adalah afiks gabungan yang terdiri atas prefiks dan sufiks yang melekat secara bersamaan pada kata dasar. Konfiks harus dipandang sebagai satu kesatuan makna.

Contoh konfiks dalam bahasa Indonesia antara lain:

·         ke- -ankeindahan, kebersihan

·         per- -anpertemuan, perjuangan

·         pe- -anpelayanan, pendidikan

Konfiks berfungsi membentuk nomina abstrak dan sering digunakan dalam bahasa akademik dan administrasi.

 

6. Fungsi dan Makna Afiks

Afiks dalam bahasa Indonesia memiliki fungsi dan makna gramatikal yang beragam. Fungsi utama afiks meliputi:

1.      Membentuk kata baru

2.      Menentukan kelas kata

3.      Menyatakan hubungan sintaktis

4.      Memberikan makna gramatikal tertentu

Makna afiks dapat berupa makna aktif, pasif, kausatif, refleksif, kolektif, atau abstrak. Makna ini tidak berdiri sendiri, tetapi selalu bergantung pada konteks kata dasar dan struktur kalimat.

 

7. Afiksasi dan Perubahan Kelas Kata

Salah satu dampak penting afiksasi adalah perubahan kelas kata. Afiksasi dapat mengubah verba menjadi nomina, adjektiva menjadi nomina, atau bentuk lainnya.

Contoh:

·         ajar (verba) → pengajar (nomina)

·         bersih (adjektiva) → kebersihan (nomina)

·         tulis (verba) → tulisan (nomina)

Perubahan kelas kata ini menunjukkan bahwa afiksasi berperan besar dalam pembentukan struktur gramatikal bahasa Indonesia.

 

8. Ringkasan Bab

Afiksasi merupakan proses morfologis utama dalam bahasa Indonesia yang dilakukan melalui penambahan afiks pada kata dasar. Afiks terdiri atas prefiks, sufiks, infiks, dan konfiks, masing-masing dengan fungsi dan makna yang berbeda. Afiksasi tidak hanya membentuk kata baru, tetapi juga menentukan kelas kata dan fungsi gramatikal. Oleh karena itu, pemahaman afiksasi sangat penting dalam kajian morfologi dan pembelajaran bahasa Indonesia.

 

9. Latihan Pilihan Ganda dan Esai

A. Pilihan Ganda

1.      Afiks yang dilekatkan di awal kata dasar disebut …
a. Sufiks
b. Infiks
c. Prefiks
d. Konfiks

2.      Kata pengajaran terbentuk melalui proses …
a. Reduplikasi
b. Afiksasi
c. Komposisi
d. Abreviasi

B. Esai

1.      Jelaskan pengertian afiksasi menurut para ahli linguistik!

2.      Uraikan perbedaan prefiks dan sufiks disertai contoh!

3.      Jelaskan peran afiksasi dalam perubahan kelas kata bahasa Indonesia!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

 

Sabtu, 20 Desember 2025

MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA


MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA

(Sub-CPMK 4: Memahami Proses Morfofonemik Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi, pembentukan kata tidak selalu berlangsung secara sederhana melalui penambahan afiks atau penggabungan morfem. Sering kali, proses morfologis diiringi oleh perubahan bunyi tertentu yang bersifat sistematis. Fenomena inilah yang dikaji dalam morfofonemik. Morfofonemik menjadi bidang kajian penting karena memperlihatkan hubungan erat antara struktur kata (morfologi) dan sistem bunyi (fonologi).

Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik tampak jelas terutama pada proses afiksasi, seperti perubahan prefiks me- menjadi mem-, men-, meng-, atau meny- sesuai dengan bunyi awal kata dasar. Pemahaman morfofonemik membantu pembelajar bahasa memahami bahwa perubahan bunyi tersebut bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari kaidah kebahasaan yang sah.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Morfofonemik

Secara terminologis, morfofonemik merupakan gabungan dari dua istilah, yaitu morfologi dan fonemik (bagian dari fonologi). Morfofonemik mengkaji perubahan bunyi yang terjadi akibat proses morfologis.

Chaer (2007) mendefinisikan morfofonemik sebagai kajian tentang perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan morfem dalam proses pembentukan kata. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menyatakan bahwa morfofonemik berfokus pada hubungan antara bentuk morfem dan variasi bunyi yang muncul dalam konteks tertentu.

Dengan demikian, morfofonemik tidak berdiri sendiri sebagai cabang linguistik, melainkan berada di wilayah pertemuan antara morfologi dan fonologi. Kajian ini menekankan bahwa perubahan bunyi dalam kata memiliki dasar sistematis dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

 

2. Hubungan Morfologi dan Fonologi

Morfologi dan fonologi merupakan dua subsistem bahasa yang saling berkaitan erat. Morfologi mengkaji struktur dan pembentukan kata, sedangkan fonologi mengkaji sistem bunyi bahasa. Dalam praktik berbahasa, pembentukan kata sering kali memengaruhi realisasi bunyi, sehingga perubahan fonologis tidak dapat dilepaskan dari proses morfologis.

Hubungan ini tampak jelas pada proses afiksasi dalam bahasa Indonesia. Ketika prefiks me- dilekatkan pada kata dasar, bentuk fonologis prefiks tersebut dapat berubah menyesuaikan bunyi awal kata dasar. Misalnya, prefiks me- berubah menjadi mem- pada kata membaca dan menjadi menulis pada kata menulis.

Perubahan ini menunjukkan bahwa fonologi berperan dalam menentukan bentuk akhir suatu morfem dalam kata. Oleh karena itu, analisis morfologis yang mengabaikan aspek fonologis akan menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap.

 

3. Jenis Proses Morfofonemik

Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis utama, yaitu peluluhan bunyi, perubahan bunyi, pergeseran bunyi, penambahan bunyi, dan penanggalan bunyi.

a. Peluluhan Bunyi

Peluluhan bunyi adalah proses hilangnya bunyi tertentu pada kata dasar akibat pertemuan dengan afiks. Peluluhan bunyi paling sering terjadi pada konsonan /p/, /t/, /k/, dan /s/ ketika bertemu dengan prefiks me-.

Contoh:

·         me- + pukulmemukul (bunyi /p/ luluh)

·         me- + tulismenulis (bunyi /t/ luluh)

·         me- + kirimmengirim (bunyi /k/ luluh)

·         me- + sapumenyapu (bunyi /s/ luluh)

Peluluhan bunyi ini bertujuan mempermudah pengucapan dan menciptakan keharmonisan bunyi.

 

b. Perubahan Bunyi

Perubahan bunyi terjadi ketika suatu fonem berubah menjadi fonem lain akibat proses morfologis. Perubahan ini tidak selalu menyebabkan hilangnya bunyi, tetapi menggantinya dengan bunyi lain yang lebih sesuai secara fonologis.

Contoh:

·         me- + bacamembaca

·         me- + dengarmendengar

Pada contoh tersebut, prefiks me- berubah bentuk menjadi mem- atau men- menyesuaikan bunyi awal kata dasar.

 

c. Pergeseran Bunyi

Pergeseran bunyi adalah perubahan posisi bunyi tertentu dalam struktur kata akibat proses morfologis. Fenomena ini relatif jarang dibahas secara eksplisit, tetapi dapat ditemukan dalam variasi bentuk kata tertentu, terutama pada bahasa lisan dan ragam nonbaku.

Pergeseran bunyi menunjukkan bahwa morfofonemik juga dapat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan berbahasa dan efisiensi artikulasi.

 

d. Penambahan Bunyi

Penambahan bunyi adalah proses munculnya bunyi baru yang sebelumnya tidak ada pada kata dasar. Penambahan bunyi ini biasanya terjadi untuk mempermudah pengucapan atau menjaga pola fonotaktik bahasa.

Contoh:

·         me- + ajarmengajar (penambahan bunyi /ŋ/)

·         pe- + ajarpengajar

Bunyi /ŋ/ ditambahkan untuk menciptakan transisi bunyi yang lebih mudah diucapkan.

 

e. Penanggalan Bunyi

Penanggalan bunyi merupakan kebalikan dari penambahan bunyi, yaitu penghilangan bunyi tertentu dalam proses pembentukan kata. Penanggalan bunyi dapat terjadi pada bunyi awal, tengah, atau akhir kata.

Contoh:

·         ber- + kerjabekerja (bunyi /r/ pada prefiks mengalami penyesuaian)

·         per- + rasaperasa

Penanggalan bunyi ini terjadi karena pertimbangan fonologis dan kemudahan artikulasi.

 

4. Contoh Kasus Morfofonemik Bahasa Indonesia

Fenomena morfofonemik sangat mudah ditemukan dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Kata-kata seperti menyanyi, memasak, mengajar, dan menulis merupakan contoh nyata proses morfofonemik yang melibatkan perubahan dan peluluhan bunyi.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa bentuk kata yang kita gunakan sehari-hari merupakan hasil interaksi kompleks antara morfologi dan fonologi. Tanpa pemahaman morfofonemik, penutur bahasa mungkin menganggap bentuk-bentuk tersebut sebagai bentuk yang “tidak konsisten”, padahal justru sangat sistematis.

 

5. Analisis Morfofonemik dalam Teks

Analisis morfofonemik dalam teks dapat dilakukan dengan mengidentifikasi kata-kata yang mengalami proses afiksasi, kemudian menelusuri perubahan bunyi yang terjadi. Misalnya, dalam kalimat:

Mahasiswa sedang menulis laporan penelitian.

Kata menulis berasal dari me- + tulis. Dalam proses ini, bunyi /t/ pada kata dasar tulis luluh dan prefiks me- berubah menjadi men-.

Analisis semacam ini sangat penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena membantu mahasiswa memahami alasan di balik bentuk kata yang digunakan.

 

6. Ringkasan

Morfofonemik merupakan kajian yang membahas perubahan bunyi akibat proses morfologis. Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik meliputi peluluhan bunyi, perubahan bunyi, pergeseran bunyi, penambahan bunyi, dan penanggalan bunyi. Proses ini menunjukkan hubungan erat antara morfologi dan fonologi serta mencerminkan sistem kebahasaan yang teratur dan produktif.

 

7. Latihan

1.      Jelaskan pengertian morfofonemik menurut para ahli!

2.      Mengapa morfofonemik dianggap sebagai penghubung antara morfologi dan fonologi?

3.      Identifikasilah proses morfofonemik pada kata-kata berikut: mengirim, menyapu, membaca, dan bekerja!

4.      Ambillah satu paragraf dari teks berita dan temukan minimal lima contoh proses morfofonemik. Jelaskan jenis proses yang terjadi pada masing-masing kata!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

 

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...