ANALISIS MORFOLOGI DALAM KEHIDUPAN
SEHARI-HARI
(Sub-CPMK 9:
Mampu Menganalisis Proses Morfologi dalam Penggunaan Bahasa Sehari-hari)
Pendahuluan
Kajian morfologi tidak hanya berhenti pada
tataran teori tentang morfem, afiksasi, reduplikasi, atau komposisi. Dalam
praktiknya, morfologi hadir dan bekerja secara aktif dalam kehidupan
sehari-hari melalui berbagai bentuk penggunaan bahasa, baik dalam media massa,
media sosial, percakapan lisan, maupun dalam interaksi antarbahasa, termasuk
bahasa daerah dan bahasa Indonesia.
Kemampuan menganalisis morfologi dalam konteks
nyata merupakan kompetensi penting bagi mahasiswa linguistik dan pendidikan
bahasa. Analisis morfologi membantu penutur memahami bagaimana kata dibentuk,
bagaimana makna dikonstruksi, serta bagaimana bahasa berkembang dan beradaptasi
dengan perubahan sosial. Bab ini membahas penerapan analisis morfologi dalam
kehidupan sehari-hari secara kontekstual dan aplikatif.
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
1.
Morfologi dalam Teks Media
Media massa—baik cetak, daring, maupun
audiovisual—merupakan sumber data yang kaya untuk analisis morfologi. Bahasa
media cenderung dinamis, kreatif, dan responsif terhadap perkembangan sosial.
Dalam teks berita, misalnya, proses morfologis
seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi sering digunakan untuk
menyampaikan informasi secara efektif dan ringkas. Contoh dapat ditemukan pada
kata-kata seperti pemerintah, pemberdayaan, nilai-nilai, dan rumah
sakit.
Selain itu, media daring dan media sosial
memperlihatkan penggunaan akronim,
singkatan, dan deviasi morfologis, seperti viral, netizen,
bansos, dan hoaks. Menurut Chaer (2010), bahasa media mencerminkan
interaksi antara kaidah bahasa baku dan kebutuhan komunikasi praktis.
Analisis morfologi dalam teks media membantu
pembaca memahami bagaimana pilihan bentuk kata memengaruhi makna, ideologi, dan
sikap penulis atau institusi media.
2. Morfologi dalam Bahasa Daerah dan Bahasa Indonesia
Indonesia merupakan negara multibahasa dengan
ratusan bahasa daerah. Setiap bahasa daerah memiliki sistem morfologi yang
khas, baik dalam pembentukan kata maupun dalam penggunaan afiks.
Interaksi antara bahasa daerah dan bahasa
Indonesia sering melahirkan fenomena interferensi
morfologis. Contohnya, penggunaan prefiks atau pola pembentukan kata
dari bahasa daerah yang terbawa ke dalam bahasa Indonesia, seperti penggunaan
bentuk ke- pada verba tertentu dalam
ragam lisan.
Di sisi lain, bahasa Indonesia juga
memengaruhi bahasa daerah melalui proses peminjaman kosakata dan adaptasi
morfologis. Kridalaksana (2008) menyebutkan bahwa kontak bahasa merupakan
faktor utama dalam perubahan dan perkembangan sistem morfologi.
Analisis morfologi dalam konteks ini penting
untuk memahami dinamika bilingualisme dan multibahasa, terutama dalam dunia
pendidikan dan pelestarian bahasa daerah.
3. Teknik
Identifikasi Proses Morfologis
Untuk melakukan analisis morfologi secara
sistematis, diperlukan teknik identifikasi yang tepat. Beberapa langkah dasar
dalam mengidentifikasi proses morfologis adalah sebagai berikut.
Pertama, mengidentifikasi kata dasar. Peneliti harus menentukan
bentuk dasar dari suatu kata, misalnya ajar
dari pengajaran.
Kedua, mengidentifikasi
afiks atau proses lain yang melekat pada kata dasar, seperti prefiks,
sufiks, reduplikasi, atau komposisi.
Ketiga, menentukan
jenis proses morfologis yang terjadi, apakah afiksasi, reduplikasi,
pemajemukan, abreviasi, atau deviasi.
Keempat, menganalisis makna gramatikal yang dihasilkan dari
proses tersebut.
Menurut Arifin dan Junaiyah (2009), analisis
morfologi yang baik harus memperhatikan hubungan antara bentuk, makna, dan
fungsi kata dalam konteks kalimat.
4.
Penyusunan Laporan Analisis Morfologi
Hasil analisis morfologi perlu disajikan dalam
bentuk laporan ilmiah yang sistematis. Laporan analisis morfologi umumnya
terdiri atas beberapa bagian utama.
Pertama, pendahuluan, yang berisi latar belakang, tujuan
analisis, dan sumber data.
Kedua, landasan
teori, yang memuat konsep-konsep morfologi yang relevan, seperti
definisi morfem, afiksasi, dan reduplikasi.
Ketiga, metode
analisis, yang menjelaskan teknik pengumpulan data dan langkah-langkah
analisis.
Keempat, hasil dan pembahasan, yang menyajikan data morfologis
dan analisisnya secara rinci.
Kelima, simpulan,
yang merangkum temuan utama dan implikasinya.
Penyusunan laporan analisis morfologi melatih
mahasiswa untuk berpikir kritis, sistematis, dan ilmiah dalam mengkaji bahasa.
5. Contoh
Laporan Ilmiah Sederhana
Berikut ini contoh ringkas laporan analisis
morfologi sederhana.
Judul
Analisis Proses Morfologis dalam Teks Berita
Daring
Pendahuluan
Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi proses morfologis yang terdapat dalam teks berita daring.
Data dan Metode
Data diambil dari satu artikel berita daring
nasional. Metode yang digunakan adalah analisis deskriptif kualitatif.
Hasil dan Pembahasan
Ditemukan beberapa proses morfologis, antara
lain afiksasi (pemerintah, penyaluran), reduplikasi (nilai-nilai), dan komposisi (rumah sakit). Afiksasi merupakan proses yang
paling dominan.
Simpulan
Teks berita daring memanfaatkan berbagai
proses morfologis untuk menyampaikan informasi secara efektif dan formal.
Contoh ini menunjukkan bahwa analisis
morfologi dapat dilakukan secara sederhana namun tetap ilmiah.
6.
Ringkasan Bab
Analisis morfologi dalam kehidupan sehari-hari
menunjukkan bahwa proses pembentukan kata tidak hanya bersifat teoretis, tetapi
juga praktis dan kontekstual. Morfologi hadir dalam teks media, interaksi
antarbahasa, dan komunikasi sehari-hari. Dengan teknik identifikasi yang tepat
dan penyusunan laporan yang sistematis, analisis morfologi dapat menjadi alat
penting untuk memahami dinamika bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
7. Tugas Akhir Mata Kuliah
Tugas Akhir (Proyek Mini Riset)
Mahasiswa diminta untuk:
1.
Memilih satu sumber data bahasa
(teks berita, media sosial, percakapan lisan, atau teks bahasa daerah).
2.
Mengumpulkan minimal 30 data kata
yang mengandung proses morfologis.
3.
Mengidentifikasi dan
mengklasifikasikan proses morfologis pada data tersebut.
4.
Menyusun laporan analisis
morfologi sederhana (10–15 halaman) sesuai kaidah penulisan ilmiah.
5.
Mempresentasikan hasil analisis di
kelas.
Tugas ini bertujuan untuk mengintegrasikan
seluruh kompetensi morfologi yang telah dipelajari selama perkuliahan.
Daftar
Pustaka
Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi.
Jakarta: Grasindo.
Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.
Chaer, A. (2010). Sosiolinguistik: Perkenalan awal. Jakarta: Rineka Cipta.
Kridalaksana, H. (2008). Pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar