Penyebab Terjadinya Kelainan Bahasa pada Anak: Kajian Psikolinguistik dan Implikasinya terhadap Pendidikan (Bagian 12)
Abstrak
Bahasa
merupakan kemampuan manusia yang paling kompleks dan fundamental dalam
berkomunikasi, berpikir, serta membangun hubungan sosial. Namun, tidak semua
individu, khususnya anak-anak, mengembangkan kemampuan bahasa dengan normal.
Beberapa mengalami kelainan bahasa yang berdampak pada komunikasi, prestasi
akademik, dan perkembangan sosial-emosional. Artikel ini bertujuan untuk
menguraikan penyebab terjadinya kelainan bahasa dari perspektif
psikolinguistik, meliputi faktor neurologis, genetik, kognitif, afektif,
lingkungan, serta sosial-budaya. Dengan meninjau teori dari Chomsky, Vygotsky,
Lenneberg, dan penelitian kontemporer, tulisan ini menegaskan bahwa gangguan
bahasa merupakan hasil interaksi antara faktor internal (biologis dan
psikologis) dan eksternal (lingkungan dan sosial). Contoh ilustrasi kasus
disajikan untuk memberikan pemahaman praktis bagi guru, terapis, dan orang tua
dalam menangani anak-anak dengan kelainan bahasa.
Kata kunci: kelainan
bahasa, psikolinguistik, faktor penyebab, anak-anak, pembelajaran bahasa
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
Pendahuluan
Bahasa
berfungsi sebagai alat utama komunikasi dan berpikir manusia. Melalui bahasa,
anak mengekspresikan gagasan, membangun konsep, dan berinteraksi sosial. Namun,
tidak semua anak memiliki kemampuan berbahasa yang berkembang normal. Beberapa
menunjukkan keterlambatan atau penyimpangan yang dikenal sebagai language
disorder atau kelainan bahasa.
Psikolinguistik,
sebagai bidang interdisipliner yang menghubungkan linguistik dan psikologi,
memberikan pemahaman mengenai bagaimana bahasa diproses, diperoleh, dan
dihasilkan oleh manusia. Ketika proses ini mengalami gangguan, muncullah
kelainan bahasa (Fromkin, Rodman, & Hyams, 2018).
Gangguan
bahasa bukan hanya masalah komunikasi, melainkan berpengaruh terhadap
perkembangan kognitif dan sosial anak. Anak yang mengalami hambatan berbahasa
sering kesulitan mengikuti pelajaran, menjalin pertemanan, dan mengelola emosi.
Oleh karena itu, memahami penyebab kelainan bahasa sangat penting agar
pendidik dan terapis dapat merancang intervensi yang efektif dan berbasis
ilmiah (Owens, 2016).
Hakikat
Kelainan Bahasa
Menurut
American Speech-Language-Hearing Association (ASHA, 2022), kelainan bahasa
adalah gangguan dalam pemahaman atau penggunaan sistem bahasa, baik lisan,
tulisan, maupun simbolik lainnya. Gangguan ini dapat memengaruhi aspek fonologi
(bunyi), morfologi (bentuk kata), sintaksis (struktur kalimat), semantik
(makna), atau pragmatik (penggunaan sosial bahasa).
Bishop
(2014) membedakan dua tipe utama kelainan bahasa:
- Gangguan Bahasa Primer (Specific Language
Impairment / SLI) – muncul tanpa penyebab neurologis yang jelas.
- Gangguan Bahasa Sekunder –
akibat dari kondisi lain seperti autisme, gangguan pendengaran, atau cedera
otak.
Dalam
konteks psikolinguistik, kelainan bahasa menunjukkan adanya gangguan pada
mekanisme mental dan neurologis yang mengatur pemrosesan bahasa di otak
(Levelt, 1989).
Faktor-Faktor
Penyebab Kelainan Bahasa
1. Faktor
Neurologis dan Biologis
Faktor
neurologis merupakan penyebab utama gangguan bahasa, terutama yang berkaitan
dengan kerusakan atau kelainan fungsi otak.
a. Gangguan pada Area Broca dan Wernicke
Dua area
penting otak dalam pemrosesan bahasa adalah area Broca (berkaitan dengan
produksi bahasa) dan Wernicke (berkaitan dengan pemahaman bahasa).
Kerusakan pada area ini dapat menyebabkan afasia, yaitu kehilangan kemampuan
berbahasa sebagian atau seluruhnya (Gleason & Ratner, 2017).
Ilustrasi:
Seorang anak yang mengalami cedera otak sebelah kiri akibat kecelakaan
menunjukkan kesulitan merangkai kalimat meskipun memahami pembicaraan orang
lain. Ini menunjukkan gangguan pada area Broca yang mengatur kemampuan
ekspresif.
b. Faktor Genetik dan Keturunan
Penelitian
oleh Vargha-Khadem et al. (2005) menunjukkan keterlibatan gen FOXP2 yang
berperan dalam kemampuan berbicara dan memproses bahasa. Anak-anak yang
memiliki mutasi gen FOXP2 cenderung mengalami kesulitan dalam artikulasi dan
tata bahasa.
c. Gangguan Perkembangan Otak
Kelainan
seperti cerebral palsy, autisme, atau sindrom Down dapat menghambat
fungsi otak dalam memproses dan menghasilkan bahasa (Tager-Flusberg, 2007).
2. Faktor
Kognitif dan Psikologis
Faktor
kognitif mencakup kemampuan berpikir, mengingat, memperhatikan, dan memahami
simbol linguistik. Anak dengan gangguan kognitif sering mengalami kesulitan
dalam memproses input bahasa atau mengorganisasi tuturan.
Menurut
Piaget (1959), perkembangan bahasa sangat erat dengan perkembangan kognitif.
Anak yang belum mencapai tahap operasi konkret belum mampu menggunakan struktur
bahasa yang kompleks.
Ilustrasi:
Anak dengan gangguan atensi (Attention Deficit Hyperactivity Disorder / ADHD)
sering kehilangan fokus ketika berbicara, menyebabkan kalimatnya tidak lengkap
atau melompat-lompat. Ini bukan karena tidak tahu kata, tetapi karena defisit
dalam memori kerja (working memory) dan kontrol perhatian (Baddeley,
2003).
Selain itu,
gangguan emosional seperti kecemasan ekstrem atau trauma juga dapat menyebabkan
mutisme selektif — kondisi di mana anak enggan berbicara di situasi
sosial tertentu meskipun memiliki kemampuan bahasa normal di rumah.
3. Faktor
Lingkungan dan Sosial
Lingkungan
sosial memiliki peran penting dalam pemerolehan bahasa. Anak yang tumbuh dalam
lingkungan miskin bahasa—minim percakapan, interaksi, dan stimulasi
verbal—cenderung mengalami keterlambatan bahasa (Vygotsky, 1978).
a. Kurangnya Stimulasi Verbal
Anak yang
jarang diajak berbicara atau dibacakan cerita akan kesulitan memperkaya
kosakata dan struktur kalimat. Dalam konteks ini, teori scaffolding
Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial antara anak dan orang dewasa
dalam membangun kemampuan bahasa.
Ilustrasi:
Dua anak usia 4 tahun dibandingkan: anak pertama sering dibacakan dongeng oleh
orang tuanya setiap malam, sedangkan anak kedua lebih sering menonton televisi
sendirian. Hasil evaluasi menunjukkan anak pertama memiliki kosakata dua kali
lebih banyak dan mampu membentuk kalimat lebih kompleks.
b. Kemiskinan dan Akses Pendidikan Rendah
Faktor
sosio-ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa. Penelitian Hart
dan Risley (1995) menemukan bahwa anak dari keluarga miskin mendengar sekitar
30 juta kata lebih sedikit selama 4 tahun pertama dibanding anak dari keluarga
berpendidikan tinggi. Perbedaan paparan bahasa ini berdampak langsung pada
kemampuan linguistik dan akademik anak.
c. Dua Bahasa (Bilingualisme) yang Tidak Seimbang
Anak yang
tumbuh dalam lingkungan bilingual kadang mengalami keterlambatan sementara
dalam berbicara, terutama jika kedua bahasa digunakan secara tidak konsisten.
Namun, keterlambatan ini bersifat sementara dan bukan kelainan (Bialystok,
2001).
4. Faktor
Fisiologis dan Sensorik
Gangguan
pada organ bicara (mulut, lidah, pita suara) dan pendengaran juga memengaruhi
perkembangan bahasa.
- Anak dengan gangguan pendengaran sejak lahir
sulit memperoleh bahasa secara alami karena keterbatasan input auditori.
- Gangguan anatomi seperti cleft palate
(sumbing) dapat menghambat artikulasi yang jelas.
Ilustrasi:
Lina, anak usia 7 tahun, memiliki gangguan pendengaran ringan. Ia mampu
berbicara tetapi kesulitan membedakan bunyi “p” dan “b”. Dengan penggunaan alat
bantu dengar dan latihan fonetik intensif, kemampuan artikulasi Lina meningkat
secara bertahap.
5. Faktor Afektif
dan Emosional
Menurut
Krashen (1982), faktor afektif seperti motivasi, kepercayaan diri, dan
kecemasan berperan penting dalam pemerolehan bahasa. Affective filter
hypothesis menjelaskan bahwa emosi negatif dapat menjadi penghalang
masuknya input bahasa ke dalam sistem kognitif.
Anak yang
mengalami stres, depresi, atau tekanan sosial sering menunjukkan penurunan
kemampuan berbicara. Dalam kasus ekstrem, mereka bisa mengalami selective
mutism, yaitu tidak mau berbicara dalam situasi tertentu meskipun mampu
(Stevick, 1980).
Implikasi
Psikolinguistik terhadap Pendidikan Anak dengan Kelainan Bahasa
- Pentingnya Diagnosis Dini
Deteksi dini oleh guru dan orang tua membantu menentukan bentuk intervensi yang tepat, apakah melalui terapi wicara, pelatihan kognitif, atau dukungan sosial. - Pendekatan Multisensori dan Kontekstual
Guru dapat menggunakan pendekatan visual-auditif-kinestetik untuk menstimulasi jalur bahasa berbeda di otak. Misalnya, anak belajar kata “apel” melalui gambar, suara, dan pengalaman nyata memegang buah apel. - Lingkungan Belajar yang Kaya Bahasa
Sekolah dan keluarga perlu menyediakan lingkungan komunikatif yang hangat dan suportif. Pembelajaran berbasis cerita, dialog, dan kegiatan sosial sangat efektif meningkatkan kemampuan berbahasa anak. - Kolaborasi Interdisipliner
Penanganan anak dengan kelainan bahasa harus melibatkan guru, terapis wicara, psikolog, dan dokter anak. Kolaborasi ini memungkinkan pendekatan yang holistik dan konsisten.
Kesimpulan
Kelainan
bahasa pada anak merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor: biologis,
neurologis, kognitif, lingkungan, sosial, dan emosional. Psikolinguistik
memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana setiap faktor tersebut
memengaruhi mekanisme pemerolehan, pemrosesan, dan produksi bahasa.
Guru dan
terapis perlu memahami aspek psikolinguistik ini agar mampu merancang
intervensi yang sesuai dengan karakteristik anak. Dengan demikian, kelainan
bahasa tidak dipandang sebagai hambatan permanen, melainkan tantangan
perkembangan yang dapat ditangani melalui dukungan ilmiah, empati, dan
pendidikan yang inklusif.
Daftar
Pustaka
American
Speech-Language-Hearing Association. (2022). Language disorders in children.
ASHA. https://www.asha.org
Baddeley, A.
D. (2003). Working memory and language: An overview. Journal of
Communication Disorders, 36(3), 189–208.
https://doi.org/10.1016/S0021-9924(03)00019-4
Bialystok,
E. (2001). Bilingualism in development: Language, literacy, and cognition.
Cambridge University Press.
Bishop, D.
V. M. (2014). Ten questions about terminology for children with unexplained
language problems. International Journal of Language & Communication
Disorders, 49(4), 381–415.
Fromkin, V.,
Rodman, R., & Hyams, N. (2018). An introduction to language (11th
ed.). Cengage Learning.
Gleason, J.
B., & Ratner, N. B. (2017). The development of language (9th ed.).
Pearson.
Hart, B.,
& Risley, T. R. (1995). Meaningful differences in the everyday
experience of young American children. Paul H. Brookes Publishing.
Krashen, S.
D. (1982). Principles and practice in second language acquisition.
Pergamon Press.
Levelt, W.
J. M. (1989). Speaking: From intention to articulation. MIT Press.
Owens, R. E.
(2016). Language development: An introduction (9th ed.). Pearson
Education.
Stevick, E.
W. (1980). Teaching languages: A way and ways. Newbury House.
Tager-Flusberg,
H. (2007). Evaluating the theory-of-mind hypothesis of autism. Current
Directions in Psychological Science, 16(6), 311–315.
Vargha-Khadem,
F., Gadian, D. G., Copp, A., & Mishkin, M. (2005). FOXP2 and the
neuroanatomy of speech and language. Nature Reviews Neuroscience, 6(2),
131–138.
Vygotsky, L.
S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological
processes. Harvard University Press.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar