Selasa, 25 November 2025

Penyebab Terjadinya Kelainan Bahasa pada Anak (Bagian 12)

Penyebab Terjadinya Kelainan Bahasa pada Anak: Kajian Psikolinguistik dan Implikasinya terhadap Pendidikan (Bagian 12)

Abstrak

Bahasa merupakan kemampuan manusia yang paling kompleks dan fundamental dalam berkomunikasi, berpikir, serta membangun hubungan sosial. Namun, tidak semua individu, khususnya anak-anak, mengembangkan kemampuan bahasa dengan normal. Beberapa mengalami kelainan bahasa yang berdampak pada komunikasi, prestasi akademik, dan perkembangan sosial-emosional. Artikel ini bertujuan untuk menguraikan penyebab terjadinya kelainan bahasa dari perspektif psikolinguistik, meliputi faktor neurologis, genetik, kognitif, afektif, lingkungan, serta sosial-budaya. Dengan meninjau teori dari Chomsky, Vygotsky, Lenneberg, dan penelitian kontemporer, tulisan ini menegaskan bahwa gangguan bahasa merupakan hasil interaksi antara faktor internal (biologis dan psikologis) dan eksternal (lingkungan dan sosial). Contoh ilustrasi kasus disajikan untuk memberikan pemahaman praktis bagi guru, terapis, dan orang tua dalam menangani anak-anak dengan kelainan bahasa.

Kata kunci: kelainan bahasa, psikolinguistik, faktor penyebab, anak-anak, pembelajaran bahasa

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

Pendahuluan

Bahasa berfungsi sebagai alat utama komunikasi dan berpikir manusia. Melalui bahasa, anak mengekspresikan gagasan, membangun konsep, dan berinteraksi sosial. Namun, tidak semua anak memiliki kemampuan berbahasa yang berkembang normal. Beberapa menunjukkan keterlambatan atau penyimpangan yang dikenal sebagai language disorder atau kelainan bahasa.

Psikolinguistik, sebagai bidang interdisipliner yang menghubungkan linguistik dan psikologi, memberikan pemahaman mengenai bagaimana bahasa diproses, diperoleh, dan dihasilkan oleh manusia. Ketika proses ini mengalami gangguan, muncullah kelainan bahasa (Fromkin, Rodman, & Hyams, 2018).

Gangguan bahasa bukan hanya masalah komunikasi, melainkan berpengaruh terhadap perkembangan kognitif dan sosial anak. Anak yang mengalami hambatan berbahasa sering kesulitan mengikuti pelajaran, menjalin pertemanan, dan mengelola emosi. Oleh karena itu, memahami penyebab kelainan bahasa sangat penting agar pendidik dan terapis dapat merancang intervensi yang efektif dan berbasis ilmiah (Owens, 2016).

 

Hakikat Kelainan Bahasa

Menurut American Speech-Language-Hearing Association (ASHA, 2022), kelainan bahasa adalah gangguan dalam pemahaman atau penggunaan sistem bahasa, baik lisan, tulisan, maupun simbolik lainnya. Gangguan ini dapat memengaruhi aspek fonologi (bunyi), morfologi (bentuk kata), sintaksis (struktur kalimat), semantik (makna), atau pragmatik (penggunaan sosial bahasa).

Bishop (2014) membedakan dua tipe utama kelainan bahasa:

  1. Gangguan Bahasa Primer (Specific Language Impairment / SLI) – muncul tanpa penyebab neurologis yang jelas.
  2. Gangguan Bahasa Sekunder – akibat dari kondisi lain seperti autisme, gangguan pendengaran, atau cedera otak.

Dalam konteks psikolinguistik, kelainan bahasa menunjukkan adanya gangguan pada mekanisme mental dan neurologis yang mengatur pemrosesan bahasa di otak (Levelt, 1989).

 

Faktor-Faktor Penyebab Kelainan Bahasa

1. Faktor Neurologis dan Biologis

Faktor neurologis merupakan penyebab utama gangguan bahasa, terutama yang berkaitan dengan kerusakan atau kelainan fungsi otak.

a. Gangguan pada Area Broca dan Wernicke

Dua area penting otak dalam pemrosesan bahasa adalah area Broca (berkaitan dengan produksi bahasa) dan Wernicke (berkaitan dengan pemahaman bahasa). Kerusakan pada area ini dapat menyebabkan afasia, yaitu kehilangan kemampuan berbahasa sebagian atau seluruhnya (Gleason & Ratner, 2017).

Ilustrasi:
Seorang anak yang mengalami cedera otak sebelah kiri akibat kecelakaan menunjukkan kesulitan merangkai kalimat meskipun memahami pembicaraan orang lain. Ini menunjukkan gangguan pada area Broca yang mengatur kemampuan ekspresif.

b. Faktor Genetik dan Keturunan

Penelitian oleh Vargha-Khadem et al. (2005) menunjukkan keterlibatan gen FOXP2 yang berperan dalam kemampuan berbicara dan memproses bahasa. Anak-anak yang memiliki mutasi gen FOXP2 cenderung mengalami kesulitan dalam artikulasi dan tata bahasa.

c. Gangguan Perkembangan Otak

Kelainan seperti cerebral palsy, autisme, atau sindrom Down dapat menghambat fungsi otak dalam memproses dan menghasilkan bahasa (Tager-Flusberg, 2007).

 

2. Faktor Kognitif dan Psikologis

Faktor kognitif mencakup kemampuan berpikir, mengingat, memperhatikan, dan memahami simbol linguistik. Anak dengan gangguan kognitif sering mengalami kesulitan dalam memproses input bahasa atau mengorganisasi tuturan.

Menurut Piaget (1959), perkembangan bahasa sangat erat dengan perkembangan kognitif. Anak yang belum mencapai tahap operasi konkret belum mampu menggunakan struktur bahasa yang kompleks.

Ilustrasi:
Anak dengan gangguan atensi (Attention Deficit Hyperactivity Disorder / ADHD) sering kehilangan fokus ketika berbicara, menyebabkan kalimatnya tidak lengkap atau melompat-lompat. Ini bukan karena tidak tahu kata, tetapi karena defisit dalam memori kerja (working memory) dan kontrol perhatian (Baddeley, 2003).

Selain itu, gangguan emosional seperti kecemasan ekstrem atau trauma juga dapat menyebabkan mutisme selektif — kondisi di mana anak enggan berbicara di situasi sosial tertentu meskipun memiliki kemampuan bahasa normal di rumah.

 

3. Faktor Lingkungan dan Sosial

Lingkungan sosial memiliki peran penting dalam pemerolehan bahasa. Anak yang tumbuh dalam lingkungan miskin bahasa—minim percakapan, interaksi, dan stimulasi verbal—cenderung mengalami keterlambatan bahasa (Vygotsky, 1978).

a. Kurangnya Stimulasi Verbal

Anak yang jarang diajak berbicara atau dibacakan cerita akan kesulitan memperkaya kosakata dan struktur kalimat. Dalam konteks ini, teori scaffolding Vygotsky menekankan pentingnya interaksi sosial antara anak dan orang dewasa dalam membangun kemampuan bahasa.

Ilustrasi:
Dua anak usia 4 tahun dibandingkan: anak pertama sering dibacakan dongeng oleh orang tuanya setiap malam, sedangkan anak kedua lebih sering menonton televisi sendirian. Hasil evaluasi menunjukkan anak pertama memiliki kosakata dua kali lebih banyak dan mampu membentuk kalimat lebih kompleks.

b. Kemiskinan dan Akses Pendidikan Rendah

Faktor sosio-ekonomi juga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa. Penelitian Hart dan Risley (1995) menemukan bahwa anak dari keluarga miskin mendengar sekitar 30 juta kata lebih sedikit selama 4 tahun pertama dibanding anak dari keluarga berpendidikan tinggi. Perbedaan paparan bahasa ini berdampak langsung pada kemampuan linguistik dan akademik anak.

c. Dua Bahasa (Bilingualisme) yang Tidak Seimbang

Anak yang tumbuh dalam lingkungan bilingual kadang mengalami keterlambatan sementara dalam berbicara, terutama jika kedua bahasa digunakan secara tidak konsisten. Namun, keterlambatan ini bersifat sementara dan bukan kelainan (Bialystok, 2001).

 

4. Faktor Fisiologis dan Sensorik

Gangguan pada organ bicara (mulut, lidah, pita suara) dan pendengaran juga memengaruhi perkembangan bahasa.

  • Anak dengan gangguan pendengaran sejak lahir sulit memperoleh bahasa secara alami karena keterbatasan input auditori.
  • Gangguan anatomi seperti cleft palate (sumbing) dapat menghambat artikulasi yang jelas.

Ilustrasi:
Lina, anak usia 7 tahun, memiliki gangguan pendengaran ringan. Ia mampu berbicara tetapi kesulitan membedakan bunyi “p” dan “b”. Dengan penggunaan alat bantu dengar dan latihan fonetik intensif, kemampuan artikulasi Lina meningkat secara bertahap.

 

5. Faktor Afektif dan Emosional

Menurut Krashen (1982), faktor afektif seperti motivasi, kepercayaan diri, dan kecemasan berperan penting dalam pemerolehan bahasa. Affective filter hypothesis menjelaskan bahwa emosi negatif dapat menjadi penghalang masuknya input bahasa ke dalam sistem kognitif.

Anak yang mengalami stres, depresi, atau tekanan sosial sering menunjukkan penurunan kemampuan berbicara. Dalam kasus ekstrem, mereka bisa mengalami selective mutism, yaitu tidak mau berbicara dalam situasi tertentu meskipun mampu (Stevick, 1980).

 

Implikasi Psikolinguistik terhadap Pendidikan Anak dengan Kelainan Bahasa

  1. Pentingnya Diagnosis Dini
    Deteksi dini oleh guru dan orang tua membantu menentukan bentuk intervensi yang tepat, apakah melalui terapi wicara, pelatihan kognitif, atau dukungan sosial.
  2. Pendekatan Multisensori dan Kontekstual
    Guru dapat menggunakan pendekatan visual-auditif-kinestetik untuk menstimulasi jalur bahasa berbeda di otak. Misalnya, anak belajar kata “apel” melalui gambar, suara, dan pengalaman nyata memegang buah apel.
  3. Lingkungan Belajar yang Kaya Bahasa
    Sekolah dan keluarga perlu menyediakan lingkungan komunikatif yang hangat dan suportif. Pembelajaran berbasis cerita, dialog, dan kegiatan sosial sangat efektif meningkatkan kemampuan berbahasa anak.
  4. Kolaborasi Interdisipliner
    Penanganan anak dengan kelainan bahasa harus melibatkan guru, terapis wicara, psikolog, dan dokter anak. Kolaborasi ini memungkinkan pendekatan yang holistik dan konsisten.

 

Kesimpulan

Kelainan bahasa pada anak merupakan hasil dari interaksi berbagai faktor: biologis, neurologis, kognitif, lingkungan, sosial, dan emosional. Psikolinguistik memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana setiap faktor tersebut memengaruhi mekanisme pemerolehan, pemrosesan, dan produksi bahasa.

Guru dan terapis perlu memahami aspek psikolinguistik ini agar mampu merancang intervensi yang sesuai dengan karakteristik anak. Dengan demikian, kelainan bahasa tidak dipandang sebagai hambatan permanen, melainkan tantangan perkembangan yang dapat ditangani melalui dukungan ilmiah, empati, dan pendidikan yang inklusif.

 

Daftar Pustaka

American Speech-Language-Hearing Association. (2022). Language disorders in children. ASHA. https://www.asha.org

Baddeley, A. D. (2003). Working memory and language: An overview. Journal of Communication Disorders, 36(3), 189–208. https://doi.org/10.1016/S0021-9924(03)00019-4

Bialystok, E. (2001). Bilingualism in development: Language, literacy, and cognition. Cambridge University Press.

Bishop, D. V. M. (2014). Ten questions about terminology for children with unexplained language problems. International Journal of Language & Communication Disorders, 49(4), 381–415.

Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N. (2018). An introduction to language (11th ed.). Cengage Learning.

Gleason, J. B., & Ratner, N. B. (2017). The development of language (9th ed.). Pearson.

Hart, B., & Risley, T. R. (1995). Meaningful differences in the everyday experience of young American children. Paul H. Brookes Publishing.

Krashen, S. D. (1982). Principles and practice in second language acquisition. Pergamon Press.

Levelt, W. J. M. (1989). Speaking: From intention to articulation. MIT Press.

Owens, R. E. (2016). Language development: An introduction (9th ed.). Pearson Education.

Stevick, E. W. (1980). Teaching languages: A way and ways. Newbury House.

Tager-Flusberg, H. (2007). Evaluating the theory-of-mind hypothesis of autism. Current Directions in Psychological Science, 16(6), 311–315.

Vargha-Khadem, F., Gadian, D. G., Copp, A., & Mishkin, M. (2005). FOXP2 and the neuroanatomy of speech and language. Nature Reviews Neuroscience, 6(2), 131–138.

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...