Minggu, 23 November 2025

Anak-Anak dan Kelainan Bahasa: Kajian Psikolinguistik dan Implikasinya terhadap Pembelajaran (Bagian 10 )

Abstrak

Kelainan bahasa pada anak merupakan fenomena kompleks yang berkaitan dengan gangguan perkembangan kognitif, neurologis, sosial, dan emosional. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat kelainan bahasa anak dari perspektif psikolinguistik, jenis-jenis kelainan bahasa, faktor penyebabnya, serta implikasinya terhadap proses pembelajaran. Dengan memanfaatkan teori-teori psikolinguistik dari Chomsky, Vygotsky, dan Piaget, artikel ini menunjukkan bagaimana gangguan bahasa dapat mempengaruhi kemampuan berpikir dan belajar anak. Selain itu, disajikan pula ilustrasi kasus nyata dalam konteks pembelajaran untuk membantu pendidik memahami strategi intervensi yang tepat.

Kata kunci: anak-anak, kelainan bahasa, psikolinguistik, pembelajaran, gangguan komunikasi

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

Pendahuluan

Bahasa merupakan alat utama bagi anak untuk berkomunikasi, berpikir, dan belajar. Melalui bahasa, anak mengekspresikan ide, memahami dunia, dan membangun interaksi sosial. Namun, tidak semua anak memiliki perkembangan bahasa yang normal. Sebagian mengalami hambatan yang dikenal sebagai kelainan bahasa (language disorders), yang dapat mempengaruhi aspek fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, atau pragmatik (Owens, 2016).

Psikolinguistik sebagai ilmu yang mengkaji hubungan antara bahasa dan proses mental memberikan kerangka teoretis untuk memahami mengapa dan bagaimana kelainan bahasa terjadi. Gangguan tersebut tidak hanya bersumber dari aspek fisiologis, tetapi juga dari aspek psikologis dan lingkungan sosial. Pemahaman psikolinguistik memungkinkan guru, terapis, dan orang tua mengenali gejala dini serta menentukan strategi pembelajaran dan intervensi yang tepat (Gleason & Ratner, 2017).

 

Hakikat Kelainan Bahasa pada Anak

Kelainan bahasa (language disorder) mengacu pada kondisi di mana kemampuan berbahasa anak tidak berkembang sesuai dengan usia kronologisnya, tanpa adanya gangguan intelektual berat atau kelainan sensorik yang signifikan (ASHA, 2022).

Menurut Bishop (2014), gangguan bahasa dapat dibedakan menjadi dua kategori besar:

1.      Gangguan bahasa primer (Specific Language Impairment / SLI) – gangguan yang terjadi tanpa disertai kelainan neurologis atau sensorik lain.

2.      Gangguan bahasa sekunder – muncul sebagai akibat dari kondisi lain seperti autisme, gangguan pendengaran, atau cedera otak.

Dalam pandangan psikolinguistik, kelainan bahasa disebabkan oleh gangguan pada mekanisme pemrosesan bahasa di otak yang melibatkan area Broca (produksi bahasa) dan area Wernicke (pemahaman bahasa). Anak dengan kelainan bahasa sering kali mengalami kesulitan memahami kalimat kompleks, merangkai kata, atau mengingat kosakata (Fromkin et al., 2018).

 

Jenis-Jenis Kelainan Bahasa pada Anak

1. Dislalia (Gangguan Artikulasi)

Dislalia merupakan gangguan pada kemampuan mengucapkan bunyi bahasa dengan benar. Anak mungkin mengganti bunyi tertentu dengan bunyi lain, seperti “tat” untuk “cat”. Gangguan ini sering muncul pada anak usia dini, tetapi menjadi masalah jika bertahan setelah usia lima tahun.

Ilustrasi Kasus:
Rani, usia 6 tahun, sering mengucapkan kata “rusa” menjadi “lusa”. Dalam evaluasi psikolinguistik, ditemukan bahwa lidahnya kaku dan kontrol motorik artikulator belum matang. Dengan terapi wicara yang menstimulasi gerak lidah dan bibir, kemampuan artikulasi Rani meningkat dalam tiga bulan.

2. Disfasia (Gangguan Ekspresif dan Reseptif)

Disfasia atau Developmental Language Disorder (DLD) mencakup kesulitan dalam memahami (reseptif) dan menghasilkan (ekspresif) bahasa. Anak mungkin mengerti kata “bola”, tetapi tidak mampu mengucapkannya.

Menurut Leonard (2014), DLD berhubungan dengan defisit dalam memori kerja fonologis dan pemrosesan morfosintaktik. Anak seperti ini membutuhkan strategi pengajaran yang multisensori, misalnya penggunaan gambar dan gerakan untuk memperkuat makna kata.

3. Disgrafia dan Disleksia (Gangguan Tulisan dan Bacaan)

Disleksia merupakan kelainan pada kemampuan membaca yang disebabkan oleh gangguan pemrosesan fonologis di otak (Snowling & Hulme, 2020). Anak dengan disleksia sulit mengenali huruf, mencocokkan bunyi dengan simbol, dan memahami teks. Sementara itu, disgrafia berkaitan dengan kesulitan menulis huruf atau kata dengan benar.

Ilustrasi Kasus:
Andi, siswa kelas 3 SD, mampu berbicara lancar namun tidak dapat menulis kata “meja” tanpa kesalahan. Ia menulis “meya” atau “maje.” Guru menerapkan latihan phonics dan menulis huruf menggunakan pasir untuk menstimulasi hubungan visual-motorik. Setelah enam minggu, peningkatan signifikan terlihat.

4. Dispraksia Verbal (Apraxia of Speech)

Kelainan ini terkait dengan kesulitan koordinasi gerakan otot bicara. Anak tahu apa yang ingin dikatakan, tetapi tidak dapat mengatur gerakan bibir dan lidah dengan tepat.

5. Gagap (Stuttering)

Gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang ditandai pengulangan bunyi, pemanjangan suara, atau jeda tidak wajar (Yairi & Seery, 2015). Meskipun penyebab pastinya kompleks, psikolinguistik menjelaskan gagap sebagai gangguan pada mekanisme speech planning di otak.

Ilustrasi Kasus:
Dimas, siswa kelas 5 SD, sering mengulang bunyi awal kata (“ka-ka-kamu”). Guru bekerja sama dengan terapis wicara menggunakan pendekatan fluency shaping, yaitu melatih pernapasan dan ritme bicara dengan metode permainan.

 

Faktor Penyebab Kelainan Bahasa pada Anak

1. Faktor Neurologis dan Genetik

Beberapa anak memiliki kelainan pada struktur atau fungsi otak yang menghambat pemrosesan bahasa. Penelitian menunjukkan keterlibatan gen FOXP2 dalam kemampuan berbahasa manusia (Vargha-Khadem et al., 2005).

2. Faktor Kognitif dan Psikologis

Anak dengan gangguan kognitif seperti autisme atau ADHD sering memiliki kesulitan dalam memproses bahasa karena defisit dalam perhatian, memori kerja, dan teori pikiran (theory of mind) (Tager-Flusberg, 2007).

3. Faktor Lingkungan dan Sosial

Lingkungan miskin bahasa (kurangnya stimulasi verbal, minimnya interaksi sosial) dapat memperlambat perkembangan bahasa. Vygotsky (1978) menekankan pentingnya interaksi sosial dan scaffolding dari orang dewasa untuk perkembangan bahasa anak.

Ilustrasi:
Anak yang tumbuh di rumah dengan sedikit percakapan atau tanpa kegiatan membaca bersama sering mengalami keterlambatan bahasa dibanding anak yang terlibat aktif dalam interaksi verbal dengan orang tua.

4. Faktor Emosional

Trauma psikologis, kecemasan tinggi, atau penolakan sosial juga dapat mempengaruhi ekspresi bahasa. Anak yang mengalami kekerasan verbal cenderung menarik diri dan enggan berbicara (Owens, 2016).

 

Implikasi Psikolinguistik terhadap Pembelajaran Anak dengan Kelainan Bahasa

Pemahaman psikolinguistik memberikan arah penting bagi guru dan terapis dalam merancang pendekatan pembelajaran yang inklusif dan berbasis kebutuhan individu.

1.      Pendekatan Multisensori
Metode seperti Orton-Gillingham Approach menggabungkan visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu anak disleksia memahami bahasa melalui lebih dari satu jalur sensorik (Birsh & Carreker, 2018).

2.      Strategi Scaffolding Sosial (Vygotsky, 1978)
Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan bantuan bertahap sesuai kemampuan anak. Misalnya, anak yang kesulitan menyusun kalimat dibimbing melalui tanya jawab berurutan hingga ia mampu berbicara mandiri.

3.      Pemanfaatan Teknologi Asistif
Aplikasi text-to-speech dan speech recognition membantu anak dengan gangguan bicara untuk tetap berkomunikasi. Teknologi ini juga meningkatkan motivasi dan partisipasi siswa di kelas inklusif.

4.      Kolaborasi Interdisipliner
Psikolinguistik menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, terapis wicara, psikolog, dan orang tua untuk memahami kondisi anak secara holistik.

Ilustrasi:
Dalam program terapi sekolah dasar, tim guru bekerja sama dengan terapis wicara untuk anak disfasia. Guru mengintegrasikan latihan kosakata ke dalam kegiatan seni dan permainan bahasa, sementara terapis fokus pada penguatan struktur kalimat sederhana.

 

Kesimpulan

Kelainan bahasa pada anak merupakan fenomena multidimensional yang memerlukan pendekatan interdisipliner antara linguistik, psikologi, dan pendidikan. Psikolinguistik memberikan pemahaman mendalam tentang bagaimana gangguan pada sistem kognitif dan neurologis dapat memengaruhi kemampuan berbahasa anak. Dengan pemahaman ini, guru dan terapis dapat merancang intervensi yang lebih efektif, manusiawi, dan sesuai kebutuhan individu.

Pemanfaatan teori psikolinguistik dalam pendidikan bahasa anak memungkinkan proses pembelajaran yang inklusif, adaptif, dan berbasis ilmiah, sehingga setiap anak—terlepas dari hambatannya—memiliki kesempatan untuk berkembang secara optimal melalui bahasa.

 

Daftar Pustaka

American Speech-Language-Hearing Association. (2022). Language disorders in children. ASHA. https://www.asha.org

Birsh, J. R., & Carreker, S. (2018). Multisensory teaching of basic language skills (4th ed.). Paul H. Brookes Publishing.

Bishop, D. V. M. (2014). Ten questions about terminology for children with unexplained language problems. International Journal of Language & Communication Disorders, 49(4), 381–415. https://doi.org/10.1111/1460-6984.12101

Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N. (2018). An introduction to language (11th ed.). Cengage Learning.

Gleason, J. B., & Ratner, N. B. (2017). The development of language (9th ed.). Pearson.

Leonard, L. B. (2014). Children with specific language impairment. MIT Press.

Owens, R. E. (2016). Language development: An introduction (9th ed.). Pearson Education.

Snowling, M. J., & Hulme, C. (2020). The science of reading: A handbook (2nd ed.). Wiley-Blackwell.

Tager-Flusberg, H. (2007). Evaluating the theory-of-mind hypothesis of autism. Current Directions in Psychological Science, 16(6), 311–315. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2007.00527.x

Vargha-Khadem, F., Gadian, D. G., Copp, A., & Mishkin, M. (2005). FOXP2 and the neuroanatomy of speech and language. Nature Reviews Neuroscience, 6(2), 131–138. https://doi.org/10.1038/nrn1605

Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher psychological processes. Harvard University Press.

Yairi, E., & Seery, C. H. (2015). Stuttering: Foundations and clinical applications (2nd ed.). Pearson Education.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...