Abstrak
Kelainan bahasa pada anak merupakan fenomena
kompleks yang berkaitan dengan gangguan perkembangan kognitif, neurologis,
sosial, dan emosional. Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan hakikat kelainan
bahasa anak dari perspektif psikolinguistik, jenis-jenis kelainan bahasa,
faktor penyebabnya, serta implikasinya terhadap proses pembelajaran. Dengan
memanfaatkan teori-teori psikolinguistik dari Chomsky, Vygotsky, dan Piaget,
artikel ini menunjukkan bagaimana gangguan bahasa dapat mempengaruhi kemampuan
berpikir dan belajar anak. Selain itu, disajikan pula ilustrasi kasus nyata
dalam konteks pembelajaran untuk membantu pendidik memahami strategi intervensi
yang tepat.
Kata
kunci: anak-anak, kelainan bahasa, psikolinguistik,
pembelajaran, gangguan komunikasi
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
Pendahuluan
Bahasa merupakan alat utama bagi anak untuk
berkomunikasi, berpikir, dan belajar. Melalui bahasa, anak mengekspresikan ide,
memahami dunia, dan membangun interaksi sosial. Namun, tidak semua anak
memiliki perkembangan bahasa yang normal. Sebagian mengalami hambatan yang
dikenal sebagai kelainan bahasa (language disorders), yang dapat mempengaruhi
aspek fonologis, morfologis, sintaksis, semantik, atau pragmatik (Owens, 2016).
Psikolinguistik sebagai ilmu yang mengkaji
hubungan antara bahasa dan proses mental memberikan kerangka teoretis untuk
memahami mengapa dan bagaimana kelainan bahasa terjadi. Gangguan tersebut tidak
hanya bersumber dari aspek fisiologis, tetapi juga dari aspek psikologis dan
lingkungan sosial. Pemahaman psikolinguistik memungkinkan guru, terapis, dan
orang tua mengenali gejala dini serta menentukan strategi pembelajaran dan
intervensi yang tepat (Gleason & Ratner, 2017).
Hakikat Kelainan Bahasa pada Anak
Kelainan bahasa (language disorder) mengacu pada kondisi di mana kemampuan
berbahasa anak tidak berkembang sesuai dengan usia kronologisnya, tanpa adanya
gangguan intelektual berat atau kelainan sensorik yang signifikan (ASHA, 2022).
Menurut Bishop (2014), gangguan bahasa dapat
dibedakan menjadi dua kategori besar:
1.
Gangguan bahasa primer (Specific Language
Impairment / SLI) – gangguan yang terjadi tanpa disertai
kelainan neurologis atau sensorik lain.
2.
Gangguan bahasa sekunder
– muncul sebagai akibat dari kondisi lain seperti autisme, gangguan pendengaran,
atau cedera otak.
Dalam pandangan psikolinguistik, kelainan
bahasa disebabkan oleh gangguan pada mekanisme pemrosesan bahasa di otak yang
melibatkan area Broca (produksi bahasa) dan area Wernicke (pemahaman bahasa).
Anak dengan kelainan bahasa sering kali mengalami kesulitan memahami kalimat
kompleks, merangkai kata, atau mengingat kosakata (Fromkin et al., 2018).
Jenis-Jenis Kelainan Bahasa pada Anak
1. Dislalia
(Gangguan Artikulasi)
Dislalia merupakan gangguan pada kemampuan
mengucapkan bunyi bahasa dengan benar. Anak mungkin mengganti bunyi tertentu
dengan bunyi lain, seperti “tat” untuk “cat”. Gangguan ini sering muncul pada
anak usia dini, tetapi menjadi masalah jika bertahan setelah usia lima tahun.
Ilustrasi
Kasus:
Rani, usia 6 tahun, sering mengucapkan kata “rusa” menjadi “lusa”. Dalam
evaluasi psikolinguistik, ditemukan bahwa lidahnya kaku dan kontrol motorik
artikulator belum matang. Dengan terapi wicara yang menstimulasi gerak lidah
dan bibir, kemampuan artikulasi Rani meningkat dalam tiga bulan.
2. Disfasia
(Gangguan Ekspresif dan Reseptif)
Disfasia atau Developmental Language Disorder (DLD) mencakup kesulitan
dalam memahami (reseptif) dan menghasilkan (ekspresif) bahasa. Anak mungkin
mengerti kata “bola”, tetapi tidak mampu mengucapkannya.
Menurut Leonard (2014), DLD berhubungan dengan
defisit dalam memori kerja fonologis dan pemrosesan morfosintaktik. Anak
seperti ini membutuhkan strategi pengajaran yang multisensori, misalnya
penggunaan gambar dan gerakan untuk memperkuat makna kata.
3. Disgrafia
dan Disleksia (Gangguan Tulisan dan Bacaan)
Disleksia merupakan kelainan pada kemampuan
membaca yang disebabkan oleh gangguan pemrosesan fonologis di otak (Snowling
& Hulme, 2020). Anak dengan disleksia sulit mengenali huruf, mencocokkan
bunyi dengan simbol, dan memahami teks. Sementara itu, disgrafia berkaitan
dengan kesulitan menulis huruf atau kata dengan benar.
Ilustrasi
Kasus:
Andi, siswa kelas 3 SD, mampu berbicara lancar namun tidak dapat menulis kata
“meja” tanpa kesalahan. Ia menulis “meya” atau “maje.” Guru menerapkan latihan phonics dan menulis huruf menggunakan pasir
untuk menstimulasi hubungan visual-motorik. Setelah enam minggu, peningkatan
signifikan terlihat.
4. Dispraksia
Verbal (Apraxia of Speech)
Kelainan ini terkait dengan kesulitan
koordinasi gerakan otot bicara. Anak tahu apa yang ingin dikatakan, tetapi
tidak dapat mengatur gerakan bibir dan lidah dengan tepat.
5. Gagap
(Stuttering)
Gagap adalah gangguan kelancaran bicara yang
ditandai pengulangan bunyi, pemanjangan suara, atau jeda tidak wajar (Yairi
& Seery, 2015). Meskipun penyebab pastinya kompleks, psikolinguistik
menjelaskan gagap sebagai gangguan pada mekanisme speech planning di otak.
Ilustrasi
Kasus:
Dimas, siswa kelas 5 SD, sering mengulang bunyi awal kata (“ka-ka-kamu”). Guru
bekerja sama dengan terapis wicara menggunakan pendekatan fluency shaping, yaitu melatih pernapasan dan ritme bicara
dengan metode permainan.
Faktor Penyebab Kelainan Bahasa pada Anak
1. Faktor
Neurologis dan Genetik
Beberapa anak memiliki kelainan pada struktur
atau fungsi otak yang menghambat pemrosesan bahasa. Penelitian menunjukkan
keterlibatan gen FOXP2 dalam kemampuan berbahasa manusia (Vargha-Khadem et al.,
2005).
2. Faktor
Kognitif dan Psikologis
Anak dengan gangguan kognitif seperti autisme
atau ADHD sering memiliki kesulitan dalam memproses bahasa karena defisit dalam
perhatian, memori kerja, dan teori pikiran (theory
of mind) (Tager-Flusberg, 2007).
3. Faktor
Lingkungan dan Sosial
Lingkungan miskin bahasa (kurangnya stimulasi
verbal, minimnya interaksi sosial) dapat memperlambat perkembangan bahasa.
Vygotsky (1978) menekankan pentingnya interaksi sosial dan scaffolding dari orang dewasa untuk perkembangan bahasa
anak.
Ilustrasi:
Anak yang tumbuh di rumah dengan sedikit percakapan atau tanpa kegiatan membaca
bersama sering mengalami keterlambatan bahasa dibanding anak yang terlibat
aktif dalam interaksi verbal dengan orang tua.
4. Faktor
Emosional
Trauma psikologis, kecemasan tinggi, atau
penolakan sosial juga dapat mempengaruhi ekspresi bahasa. Anak yang mengalami
kekerasan verbal cenderung menarik diri dan enggan berbicara (Owens, 2016).
Implikasi Psikolinguistik terhadap Pembelajaran Anak
dengan Kelainan Bahasa
Pemahaman psikolinguistik memberikan arah
penting bagi guru dan terapis dalam merancang pendekatan pembelajaran yang
inklusif dan berbasis kebutuhan individu.
1.
Pendekatan Multisensori
Metode seperti Orton-Gillingham Approach
menggabungkan visual, auditori, dan kinestetik untuk membantu anak disleksia
memahami bahasa melalui lebih dari satu jalur sensorik (Birsh & Carreker,
2018).
2.
Strategi Scaffolding Sosial (Vygotsky,
1978)
Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan bantuan bertahap sesuai
kemampuan anak. Misalnya, anak yang kesulitan menyusun kalimat dibimbing
melalui tanya jawab berurutan hingga ia mampu berbicara mandiri.
3.
Pemanfaatan Teknologi Asistif
Aplikasi text-to-speech dan speech recognition membantu anak dengan
gangguan bicara untuk tetap berkomunikasi. Teknologi ini juga meningkatkan
motivasi dan partisipasi siswa di kelas inklusif.
4.
Kolaborasi Interdisipliner
Psikolinguistik menekankan pentingnya kolaborasi antara guru, terapis wicara,
psikolog, dan orang tua untuk memahami kondisi anak secara holistik.
Ilustrasi:
Dalam program terapi sekolah dasar, tim guru bekerja sama dengan terapis wicara
untuk anak disfasia. Guru mengintegrasikan latihan kosakata ke dalam kegiatan
seni dan permainan bahasa, sementara terapis fokus pada penguatan struktur
kalimat sederhana.
Kesimpulan
Kelainan bahasa pada anak merupakan fenomena
multidimensional yang memerlukan pendekatan interdisipliner antara linguistik,
psikologi, dan pendidikan. Psikolinguistik memberikan pemahaman mendalam
tentang bagaimana gangguan pada sistem kognitif dan neurologis dapat
memengaruhi kemampuan berbahasa anak. Dengan pemahaman ini, guru dan terapis
dapat merancang intervensi yang lebih efektif, manusiawi, dan sesuai kebutuhan
individu.
Pemanfaatan teori psikolinguistik dalam
pendidikan bahasa anak memungkinkan proses pembelajaran yang inklusif, adaptif,
dan berbasis ilmiah, sehingga setiap anak—terlepas dari hambatannya—memiliki
kesempatan untuk berkembang secara optimal melalui bahasa.
Daftar
Pustaka
American Speech-Language-Hearing Association.
(2022). Language disorders in children.
ASHA. https://www.asha.org
Birsh, J. R., & Carreker, S. (2018). Multisensory teaching of basic language skills
(4th ed.). Paul H. Brookes Publishing.
Bishop, D. V. M. (2014). Ten questions about
terminology for children with unexplained language problems. International Journal of Language &
Communication Disorders, 49(4), 381–415. https://doi.org/10.1111/1460-6984.12101
Fromkin, V., Rodman, R., & Hyams, N.
(2018). An introduction to language
(11th ed.). Cengage Learning.
Gleason, J. B., & Ratner, N. B. (2017). The development of language (9th ed.).
Pearson.
Leonard, L. B. (2014). Children with specific language impairment. MIT Press.
Owens, R. E. (2016). Language development: An introduction (9th ed.). Pearson
Education.
Snowling, M. J., & Hulme, C. (2020). The science of reading: A handbook (2nd
ed.). Wiley-Blackwell.
Tager-Flusberg, H. (2007). Evaluating the
theory-of-mind hypothesis of autism. Current
Directions in Psychological Science, 16(6), 311–315. https://doi.org/10.1111/j.1467-8721.2007.00527.x
Vargha-Khadem, F., Gadian, D. G., Copp, A.,
& Mishkin, M. (2005). FOXP2 and the neuroanatomy of speech and language. Nature Reviews Neuroscience, 6(2),
131–138. https://doi.org/10.1038/nrn1605
Vygotsky, L. S. (1978). Mind in society: The development of higher
psychological processes. Harvard University Press.
Yairi, E., & Seery, C. H. (2015). Stuttering: Foundations and clinical applications
(2nd ed.). Pearson Education.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar