MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA
(Sub-CPMK 4: Memahami Proses Morfofonemik Bahasa Indonesia)
Pendahuluan
Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi, pembentukan kata tidak selalu
berlangsung secara sederhana melalui penambahan afiks atau penggabungan morfem.
Sering kali, proses morfologis diiringi oleh perubahan bunyi tertentu yang
bersifat sistematis. Fenomena inilah yang dikaji dalam morfofonemik.
Morfofonemik menjadi bidang kajian penting karena memperlihatkan hubungan erat
antara struktur kata (morfologi)
dan sistem bunyi (fonologi).
Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik tampak jelas terutama pada
proses afiksasi, seperti perubahan prefiks me- menjadi mem-, men-,
meng-, atau meny- sesuai dengan bunyi awal kata dasar.
Pemahaman morfofonemik membantu pembelajar bahasa memahami bahwa perubahan
bunyi tersebut bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari kaidah kebahasaan yang
sah.
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
1. Pengertian Morfofonemik
Secara terminologis, morfofonemik merupakan
gabungan dari dua istilah, yaitu morfologi dan fonemik
(bagian dari fonologi). Morfofonemik mengkaji perubahan bunyi yang terjadi
akibat proses morfologis.
Chaer (2007) mendefinisikan morfofonemik sebagai kajian tentang perubahan
fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan morfem dalam proses pembentukan
kata. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menyatakan bahwa morfofonemik
berfokus pada hubungan antara bentuk morfem dan variasi bunyi yang muncul dalam
konteks tertentu.
Dengan demikian, morfofonemik tidak berdiri sendiri sebagai cabang
linguistik, melainkan berada di wilayah pertemuan antara morfologi dan
fonologi. Kajian ini menekankan bahwa perubahan bunyi dalam kata memiliki dasar
sistematis dan dapat dijelaskan secara ilmiah.
2. Hubungan Morfologi dan Fonologi
Morfologi dan fonologi merupakan dua subsistem bahasa yang saling berkaitan
erat. Morfologi mengkaji struktur dan pembentukan kata, sedangkan fonologi
mengkaji sistem bunyi bahasa. Dalam praktik berbahasa, pembentukan kata sering
kali memengaruhi realisasi bunyi, sehingga perubahan fonologis tidak dapat
dilepaskan dari proses morfologis.
Hubungan ini tampak jelas pada proses afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Ketika prefiks me- dilekatkan pada kata dasar, bentuk fonologis prefiks
tersebut dapat berubah menyesuaikan bunyi awal kata dasar. Misalnya, prefiks me-
berubah menjadi mem- pada kata membaca dan menjadi menulis
pada kata menulis.
Perubahan ini menunjukkan bahwa fonologi berperan dalam menentukan bentuk
akhir suatu morfem dalam kata. Oleh karena itu, analisis morfologis yang
mengabaikan aspek fonologis akan menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap.
3. Jenis Proses Morfofonemik
Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik dapat diklasifikasikan ke dalam
beberapa jenis utama, yaitu peluluhan bunyi, perubahan bunyi, pergeseran bunyi,
penambahan bunyi, dan penanggalan bunyi.
a. Peluluhan Bunyi
Peluluhan bunyi adalah proses hilangnya bunyi
tertentu pada kata dasar akibat pertemuan dengan afiks. Peluluhan bunyi paling
sering terjadi pada konsonan /p/, /t/, /k/, dan /s/ ketika bertemu dengan
prefiks me-.
Contoh:
·
me- + pukul
→ memukul (bunyi /p/ luluh)
·
me- + tulis
→ menulis (bunyi /t/ luluh)
·
me- + kirim
→ mengirim (bunyi /k/ luluh)
·
me- + sapu
→ menyapu (bunyi /s/ luluh)
Peluluhan bunyi ini bertujuan mempermudah pengucapan dan menciptakan
keharmonisan bunyi.
b. Perubahan Bunyi
Perubahan bunyi terjadi ketika suatu fonem
berubah menjadi fonem lain akibat proses morfologis. Perubahan ini tidak selalu
menyebabkan hilangnya bunyi, tetapi menggantinya dengan bunyi lain yang lebih
sesuai secara fonologis.
Contoh:
·
me- + baca
→ membaca
·
me- + dengar
→ mendengar
Pada contoh tersebut, prefiks me- berubah bentuk menjadi mem-
atau men- menyesuaikan bunyi awal kata dasar.
c. Pergeseran Bunyi
Pergeseran bunyi adalah perubahan posisi bunyi
tertentu dalam struktur kata akibat proses morfologis. Fenomena ini relatif
jarang dibahas secara eksplisit, tetapi dapat ditemukan dalam variasi bentuk
kata tertentu, terutama pada bahasa lisan dan ragam nonbaku.
Pergeseran bunyi menunjukkan bahwa morfofonemik juga dapat dipengaruhi oleh
faktor kebiasaan berbahasa dan efisiensi artikulasi.
d. Penambahan Bunyi
Penambahan bunyi adalah proses munculnya bunyi
baru yang sebelumnya tidak ada pada kata dasar. Penambahan bunyi ini biasanya
terjadi untuk mempermudah pengucapan atau menjaga pola fonotaktik bahasa.
Contoh:
·
me- + ajar
→ mengajar (penambahan bunyi /ŋ/)
·
pe- + ajar
→ pengajar
Bunyi /ŋ/ ditambahkan untuk menciptakan transisi bunyi yang lebih mudah
diucapkan.
e. Penanggalan Bunyi
Penanggalan bunyi merupakan kebalikan dari
penambahan bunyi, yaitu penghilangan bunyi tertentu dalam proses pembentukan
kata. Penanggalan bunyi dapat terjadi pada bunyi awal, tengah, atau akhir kata.
Contoh:
·
ber- + kerja
→ bekerja (bunyi /r/ pada prefiks mengalami penyesuaian)
·
per- + rasa
→ perasa
Penanggalan bunyi ini terjadi karena pertimbangan fonologis dan kemudahan
artikulasi.
4. Contoh Kasus Morfofonemik Bahasa
Indonesia
Fenomena morfofonemik sangat mudah ditemukan dalam bahasa Indonesia
sehari-hari. Kata-kata seperti menyanyi, memasak, mengajar,
dan menulis merupakan contoh nyata proses morfofonemik yang melibatkan
perubahan dan peluluhan bunyi.
Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa bentuk kata yang kita gunakan sehari-hari
merupakan hasil interaksi kompleks antara morfologi dan fonologi. Tanpa
pemahaman morfofonemik, penutur bahasa mungkin menganggap bentuk-bentuk
tersebut sebagai bentuk yang “tidak konsisten”, padahal justru sangat
sistematis.
5. Analisis Morfofonemik dalam Teks
Analisis morfofonemik dalam teks dapat dilakukan dengan mengidentifikasi
kata-kata yang mengalami proses afiksasi, kemudian menelusuri perubahan bunyi
yang terjadi. Misalnya, dalam kalimat:
Mahasiswa sedang menulis laporan penelitian.
Kata menulis berasal dari me- + tulis. Dalam
proses ini, bunyi /t/ pada kata dasar tulis luluh dan prefiks me-
berubah menjadi men-.
Analisis semacam ini sangat penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia
karena membantu mahasiswa memahami alasan di balik bentuk kata yang digunakan.
6. Ringkasan
Morfofonemik merupakan kajian yang membahas perubahan bunyi akibat proses
morfologis. Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik meliputi peluluhan
bunyi, perubahan bunyi, pergeseran bunyi, penambahan bunyi, dan penanggalan
bunyi. Proses ini menunjukkan hubungan erat antara morfologi dan fonologi serta
mencerminkan sistem kebahasaan yang teratur dan produktif.
7. Latihan
1. Jelaskan pengertian morfofonemik menurut para ahli!
2. Mengapa morfofonemik dianggap sebagai penghubung antara
morfologi dan fonologi?
3. Identifikasilah proses morfofonemik pada kata-kata berikut: mengirim,
menyapu, membaca, dan bekerja!
4. Ambillah satu paragraf dari teks berita dan temukan minimal lima
contoh proses morfofonemik. Jelaskan jenis proses yang terjadi pada
masing-masing kata!
Daftar Pustaka
Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna,
dan fungsi. Jakarta: Grasindo.
Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.