Sabtu, 20 Desember 2025

MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA


MORFOFONEMIK DALAM PEMBENTUKAN KATA

(Sub-CPMK 4: Memahami Proses Morfofonemik Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi, pembentukan kata tidak selalu berlangsung secara sederhana melalui penambahan afiks atau penggabungan morfem. Sering kali, proses morfologis diiringi oleh perubahan bunyi tertentu yang bersifat sistematis. Fenomena inilah yang dikaji dalam morfofonemik. Morfofonemik menjadi bidang kajian penting karena memperlihatkan hubungan erat antara struktur kata (morfologi) dan sistem bunyi (fonologi).

Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik tampak jelas terutama pada proses afiksasi, seperti perubahan prefiks me- menjadi mem-, men-, meng-, atau meny- sesuai dengan bunyi awal kata dasar. Pemahaman morfofonemik membantu pembelajar bahasa memahami bahwa perubahan bunyi tersebut bukanlah kesalahan, melainkan bagian dari kaidah kebahasaan yang sah.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Morfofonemik

Secara terminologis, morfofonemik merupakan gabungan dari dua istilah, yaitu morfologi dan fonemik (bagian dari fonologi). Morfofonemik mengkaji perubahan bunyi yang terjadi akibat proses morfologis.

Chaer (2007) mendefinisikan morfofonemik sebagai kajian tentang perubahan fonem yang terjadi sebagai akibat pertemuan morfem dalam proses pembentukan kata. Sementara itu, Arifin dan Junaiyah (2009) menyatakan bahwa morfofonemik berfokus pada hubungan antara bentuk morfem dan variasi bunyi yang muncul dalam konteks tertentu.

Dengan demikian, morfofonemik tidak berdiri sendiri sebagai cabang linguistik, melainkan berada di wilayah pertemuan antara morfologi dan fonologi. Kajian ini menekankan bahwa perubahan bunyi dalam kata memiliki dasar sistematis dan dapat dijelaskan secara ilmiah.

 

2. Hubungan Morfologi dan Fonologi

Morfologi dan fonologi merupakan dua subsistem bahasa yang saling berkaitan erat. Morfologi mengkaji struktur dan pembentukan kata, sedangkan fonologi mengkaji sistem bunyi bahasa. Dalam praktik berbahasa, pembentukan kata sering kali memengaruhi realisasi bunyi, sehingga perubahan fonologis tidak dapat dilepaskan dari proses morfologis.

Hubungan ini tampak jelas pada proses afiksasi dalam bahasa Indonesia. Ketika prefiks me- dilekatkan pada kata dasar, bentuk fonologis prefiks tersebut dapat berubah menyesuaikan bunyi awal kata dasar. Misalnya, prefiks me- berubah menjadi mem- pada kata membaca dan menjadi menulis pada kata menulis.

Perubahan ini menunjukkan bahwa fonologi berperan dalam menentukan bentuk akhir suatu morfem dalam kata. Oleh karena itu, analisis morfologis yang mengabaikan aspek fonologis akan menghasilkan pemahaman yang tidak lengkap.

 

3. Jenis Proses Morfofonemik

Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis utama, yaitu peluluhan bunyi, perubahan bunyi, pergeseran bunyi, penambahan bunyi, dan penanggalan bunyi.

a. Peluluhan Bunyi

Peluluhan bunyi adalah proses hilangnya bunyi tertentu pada kata dasar akibat pertemuan dengan afiks. Peluluhan bunyi paling sering terjadi pada konsonan /p/, /t/, /k/, dan /s/ ketika bertemu dengan prefiks me-.

Contoh:

·         me- + pukulmemukul (bunyi /p/ luluh)

·         me- + tulismenulis (bunyi /t/ luluh)

·         me- + kirimmengirim (bunyi /k/ luluh)

·         me- + sapumenyapu (bunyi /s/ luluh)

Peluluhan bunyi ini bertujuan mempermudah pengucapan dan menciptakan keharmonisan bunyi.

 

b. Perubahan Bunyi

Perubahan bunyi terjadi ketika suatu fonem berubah menjadi fonem lain akibat proses morfologis. Perubahan ini tidak selalu menyebabkan hilangnya bunyi, tetapi menggantinya dengan bunyi lain yang lebih sesuai secara fonologis.

Contoh:

·         me- + bacamembaca

·         me- + dengarmendengar

Pada contoh tersebut, prefiks me- berubah bentuk menjadi mem- atau men- menyesuaikan bunyi awal kata dasar.

 

c. Pergeseran Bunyi

Pergeseran bunyi adalah perubahan posisi bunyi tertentu dalam struktur kata akibat proses morfologis. Fenomena ini relatif jarang dibahas secara eksplisit, tetapi dapat ditemukan dalam variasi bentuk kata tertentu, terutama pada bahasa lisan dan ragam nonbaku.

Pergeseran bunyi menunjukkan bahwa morfofonemik juga dapat dipengaruhi oleh faktor kebiasaan berbahasa dan efisiensi artikulasi.

 

d. Penambahan Bunyi

Penambahan bunyi adalah proses munculnya bunyi baru yang sebelumnya tidak ada pada kata dasar. Penambahan bunyi ini biasanya terjadi untuk mempermudah pengucapan atau menjaga pola fonotaktik bahasa.

Contoh:

·         me- + ajarmengajar (penambahan bunyi /ŋ/)

·         pe- + ajarpengajar

Bunyi /ŋ/ ditambahkan untuk menciptakan transisi bunyi yang lebih mudah diucapkan.

 

e. Penanggalan Bunyi

Penanggalan bunyi merupakan kebalikan dari penambahan bunyi, yaitu penghilangan bunyi tertentu dalam proses pembentukan kata. Penanggalan bunyi dapat terjadi pada bunyi awal, tengah, atau akhir kata.

Contoh:

·         ber- + kerjabekerja (bunyi /r/ pada prefiks mengalami penyesuaian)

·         per- + rasaperasa

Penanggalan bunyi ini terjadi karena pertimbangan fonologis dan kemudahan artikulasi.

 

4. Contoh Kasus Morfofonemik Bahasa Indonesia

Fenomena morfofonemik sangat mudah ditemukan dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Kata-kata seperti menyanyi, memasak, mengajar, dan menulis merupakan contoh nyata proses morfofonemik yang melibatkan perubahan dan peluluhan bunyi.

Kasus-kasus ini menunjukkan bahwa bentuk kata yang kita gunakan sehari-hari merupakan hasil interaksi kompleks antara morfologi dan fonologi. Tanpa pemahaman morfofonemik, penutur bahasa mungkin menganggap bentuk-bentuk tersebut sebagai bentuk yang “tidak konsisten”, padahal justru sangat sistematis.

 

5. Analisis Morfofonemik dalam Teks

Analisis morfofonemik dalam teks dapat dilakukan dengan mengidentifikasi kata-kata yang mengalami proses afiksasi, kemudian menelusuri perubahan bunyi yang terjadi. Misalnya, dalam kalimat:

Mahasiswa sedang menulis laporan penelitian.

Kata menulis berasal dari me- + tulis. Dalam proses ini, bunyi /t/ pada kata dasar tulis luluh dan prefiks me- berubah menjadi men-.

Analisis semacam ini sangat penting dalam pembelajaran bahasa Indonesia karena membantu mahasiswa memahami alasan di balik bentuk kata yang digunakan.

 

6. Ringkasan

Morfofonemik merupakan kajian yang membahas perubahan bunyi akibat proses morfologis. Dalam bahasa Indonesia, proses morfofonemik meliputi peluluhan bunyi, perubahan bunyi, pergeseran bunyi, penambahan bunyi, dan penanggalan bunyi. Proses ini menunjukkan hubungan erat antara morfologi dan fonologi serta mencerminkan sistem kebahasaan yang teratur dan produktif.

 

7. Latihan

1.      Jelaskan pengertian morfofonemik menurut para ahli!

2.      Mengapa morfofonemik dianggap sebagai penghubung antara morfologi dan fonologi?

3.      Identifikasilah proses morfofonemik pada kata-kata berikut: mengirim, menyapu, membaca, dan bekerja!

4.      Ambillah satu paragraf dari teks berita dan temukan minimal lima contoh proses morfofonemik. Jelaskan jenis proses yang terjadi pada masing-masing kata!

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

 

Jumat, 19 Desember 2025

PROSES MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA

 

PROSES MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 3: Memahami Proses Morfologis Kata dalam Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Bahasa tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kebutuhan penuturnya. Salah satu bukti dinamika bahasa dapat dilihat dari cara kata-kata dibentuk, dimodifikasi, dan digunakan dalam berbagai konteks komunikasi. Dalam linguistik, kajian tentang pembentukan kata ini dibahas dalam morfologi, khususnya melalui konsep proses morfologis.

Proses morfologis merupakan inti kajian morfologi karena melalui proses inilah kata-kata baru lahir, makna berkembang, dan fungsi gramatikal dibentuk. Dalam bahasa Indonesia, proses morfologis memiliki pola yang relatif sistematis dan produktif, sehingga penting dipahami oleh mahasiswa, pendidik, dan pemerhati bahasa. Artikel ini membahas secara komprehensif pengertian proses morfologis, jenis-jenisnya, serta penerapannya dalam bahasa Indonesia.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Proses Morfologis

Proses morfologis adalah proses pembentukan kata yang melibatkan penggabungan, pengulangan, atau perubahan bentuk morfem sehingga menghasilkan kata baru atau bentuk kata yang berbeda secara gramatikal. Chaer (2007) menyatakan bahwa proses morfologis merupakan cara atau mekanisme pembentukan kata dari satuan morfem dengan aturan tertentu.

Arifin dan Junaiyah (2009) menegaskan bahwa proses morfologis tidak hanya menghasilkan bentuk kata baru, tetapi juga memengaruhi makna dan kelas kata. Oleh karena itu, proses morfologis mencakup aspek bentuk, fungsi, dan makna secara bersamaan.

Dalam bahasa Indonesia, proses morfologis sangat produktif dan menjadi ciri khas sistem kebahasaannya. Proses ini memungkinkan satu kata dasar melahirkan berbagai bentuk turunan dengan makna dan fungsi yang berbeda.

 

2. Jenis-Jenis Proses Morfologis

Secara umum, proses morfologis dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis utama, yaitu:

1.      Afiksasi

2.      Reduplikasi

3.      Komposisi

4.      Abreviasi dan akronimisasi

5.      Deviasi

Kelima jenis proses ini menunjukkan cara bahasa Indonesia membentuk dan mengembangkan kosakata secara sistematis. Masing-masing proses memiliki ciri, fungsi, dan kaidah yang berbeda.

 

3. Afiksasi

Afiksasi adalah proses morfologis yang paling produktif dalam bahasa Indonesia. Afiksasi terjadi melalui penambahan afiks pada morfem dasar. Afiks adalah morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain.

Jenis afiks dalam bahasa Indonesia meliputi:

·         Prefiks (awalan), seperti me-, ber-, di-, ter-

·         Sufiks (akhiran), seperti -kan, -i, -nya

·         Infiks (sisipan), seperti -el-, -em-

·         Konfiks (awalan-akhiran), seperti ke- -an, per- -an

Sebagai contoh, kata dasar ajar dapat mengalami berbagai proses afiksasi menjadi mengajar, pelajaran, pengajar, dan pengajaran. Setiap bentuk turunan tersebut memiliki makna dan fungsi gramatikal yang berbeda.

Afiksasi tidak hanya membentuk kata baru, tetapi juga dapat mengubah kelas kata, misalnya dari verba menjadi nomina. Hal ini menunjukkan bahwa afiksasi memiliki peran penting dalam sistem gramatika bahasa Indonesia.

 

4. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfologis yang dilakukan dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian. Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi merupakan proses yang sangat khas dan produktif.

Chaer (2007) membedakan reduplikasi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1.      Reduplikasi penuh, seperti buku-buku

2.      Reduplikasi sebagian, seperti lelaki

3.      Reduplikasi berimbuhan, seperti berlari-lari

4.      Reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik

Reduplikasi dapat menyatakan berbagai makna gramatikal, seperti jamak, intensitas, frekuensi, atau variasi. Makna reduplikasi sangat bergantung pada konteks penggunaan dalam kalimat.

 

5. Komposisi

Komposisi atau pemajemukan adalah proses morfologis yang menggabungkan dua morfem dasar atau lebih untuk membentuk satu kata baru. Kata hasil komposisi sering disebut kata majemuk.

Contoh komposisi dalam bahasa Indonesia antara lain rumah sakit, meja tulis, dan kepala sekolah. Dalam komposisi, makna keseluruhan tidak selalu dapat ditafsirkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya.

Putrayasa (2003) menyatakan bahwa komposisi memiliki ciri khusus, seperti ketaktersisipan unsur lain dan kekompakan makna. Oleh karena itu, tidak semua gabungan kata dapat dianggap sebagai kata majemuk.

 

6. Abreviasi dan Akronimisasi

Abreviasi adalah proses pemendekan kata atau frasa menjadi bentuk yang lebih singkat. Abreviasi sering digunakan dalam bahasa tulis dan lisan untuk kepraktisan dan efisiensi komunikasi.

Jenis abreviasi meliputi:

·         Singkatan, seperti SMA, PT

·         Akronim, seperti LAN, Puskesmas

Akronimisasi adalah pembentukan kata baru dari huruf atau suku kata awal suatu frasa yang diucapkan sebagai satu kata. Contoh akronim yang umum digunakan adalah Pemilu (Pemilihan Umum) dan Bappenas.

Proses ini menunjukkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam merespons kebutuhan komunikasi modern.

 

7. Deviasi

Deviasi dalam morfologi merujuk pada penyimpangan atau pembentukan kata yang tidak sepenuhnya mengikuti kaidah morfologis baku. Deviasi sering ditemukan dalam bahasa informal, bahasa media sosial, dan ragam kreatif.

Contoh deviasi antara lain penggunaan bentuk ngopi, ngegas, atau baper. Meskipun secara normatif dianggap tidak baku, bentuk-bentuk ini mencerminkan kreativitas dan dinamika bahasa.

Dalam kajian linguistik, deviasi tidak selalu dipandang sebagai kesalahan, melainkan sebagai fenomena kebahasaan yang layak dianalisis secara ilmiah.

 

8. Ringkasan

Proses morfologis merupakan mekanisme utama pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Proses ini meliputi afiksasi, reduplikasi, komposisi, abreviasi dan akronimisasi, serta deviasi. Setiap proses memiliki ciri dan fungsi tersendiri dalam membentuk makna dan struktur kata. Pemahaman proses morfologis sangat penting dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa Indonesia.

 

9. Latihan dan Studi Kasus

Latihan

1.      Jelaskan pengertian proses morfologis menurut para ahli!

2.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis proses morfologis dalam bahasa Indonesia!

3.      Berikan contoh afiksasi yang mengubah kelas kata!

Studi Kasus

Ambillah satu artikel berita daring. Identifikasilah minimal 15 kata yang mengalami proses morfologis. Klasifikasikan kata-kata tersebut berdasarkan jenis proses morfologisnya dan jelaskan makna gramatikal yang dihasilkan.

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...