Jumat, 19 Desember 2025

PROSES MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA

 

PROSES MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 3: Memahami Proses Morfologis Kata dalam Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Bahasa tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kebutuhan penuturnya. Salah satu bukti dinamika bahasa dapat dilihat dari cara kata-kata dibentuk, dimodifikasi, dan digunakan dalam berbagai konteks komunikasi. Dalam linguistik, kajian tentang pembentukan kata ini dibahas dalam morfologi, khususnya melalui konsep proses morfologis.

Proses morfologis merupakan inti kajian morfologi karena melalui proses inilah kata-kata baru lahir, makna berkembang, dan fungsi gramatikal dibentuk. Dalam bahasa Indonesia, proses morfologis memiliki pola yang relatif sistematis dan produktif, sehingga penting dipahami oleh mahasiswa, pendidik, dan pemerhati bahasa. Artikel ini membahas secara komprehensif pengertian proses morfologis, jenis-jenisnya, serta penerapannya dalam bahasa Indonesia.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Pengertian Proses Morfologis

Proses morfologis adalah proses pembentukan kata yang melibatkan penggabungan, pengulangan, atau perubahan bentuk morfem sehingga menghasilkan kata baru atau bentuk kata yang berbeda secara gramatikal. Chaer (2007) menyatakan bahwa proses morfologis merupakan cara atau mekanisme pembentukan kata dari satuan morfem dengan aturan tertentu.

Arifin dan Junaiyah (2009) menegaskan bahwa proses morfologis tidak hanya menghasilkan bentuk kata baru, tetapi juga memengaruhi makna dan kelas kata. Oleh karena itu, proses morfologis mencakup aspek bentuk, fungsi, dan makna secara bersamaan.

Dalam bahasa Indonesia, proses morfologis sangat produktif dan menjadi ciri khas sistem kebahasaannya. Proses ini memungkinkan satu kata dasar melahirkan berbagai bentuk turunan dengan makna dan fungsi yang berbeda.

 

2. Jenis-Jenis Proses Morfologis

Secara umum, proses morfologis dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa jenis utama, yaitu:

1.      Afiksasi

2.      Reduplikasi

3.      Komposisi

4.      Abreviasi dan akronimisasi

5.      Deviasi

Kelima jenis proses ini menunjukkan cara bahasa Indonesia membentuk dan mengembangkan kosakata secara sistematis. Masing-masing proses memiliki ciri, fungsi, dan kaidah yang berbeda.

 

3. Afiksasi

Afiksasi adalah proses morfologis yang paling produktif dalam bahasa Indonesia. Afiksasi terjadi melalui penambahan afiks pada morfem dasar. Afiks adalah morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri dan harus melekat pada morfem lain.

Jenis afiks dalam bahasa Indonesia meliputi:

·         Prefiks (awalan), seperti me-, ber-, di-, ter-

·         Sufiks (akhiran), seperti -kan, -i, -nya

·         Infiks (sisipan), seperti -el-, -em-

·         Konfiks (awalan-akhiran), seperti ke- -an, per- -an

Sebagai contoh, kata dasar ajar dapat mengalami berbagai proses afiksasi menjadi mengajar, pelajaran, pengajar, dan pengajaran. Setiap bentuk turunan tersebut memiliki makna dan fungsi gramatikal yang berbeda.

Afiksasi tidak hanya membentuk kata baru, tetapi juga dapat mengubah kelas kata, misalnya dari verba menjadi nomina. Hal ini menunjukkan bahwa afiksasi memiliki peran penting dalam sistem gramatika bahasa Indonesia.

 

4. Reduplikasi

Reduplikasi adalah proses morfologis yang dilakukan dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian. Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi merupakan proses yang sangat khas dan produktif.

Chaer (2007) membedakan reduplikasi menjadi beberapa jenis, antara lain:

1.      Reduplikasi penuh, seperti buku-buku

2.      Reduplikasi sebagian, seperti lelaki

3.      Reduplikasi berimbuhan, seperti berlari-lari

4.      Reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik

Reduplikasi dapat menyatakan berbagai makna gramatikal, seperti jamak, intensitas, frekuensi, atau variasi. Makna reduplikasi sangat bergantung pada konteks penggunaan dalam kalimat.

 

5. Komposisi

Komposisi atau pemajemukan adalah proses morfologis yang menggabungkan dua morfem dasar atau lebih untuk membentuk satu kata baru. Kata hasil komposisi sering disebut kata majemuk.

Contoh komposisi dalam bahasa Indonesia antara lain rumah sakit, meja tulis, dan kepala sekolah. Dalam komposisi, makna keseluruhan tidak selalu dapat ditafsirkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya.

Putrayasa (2003) menyatakan bahwa komposisi memiliki ciri khusus, seperti ketaktersisipan unsur lain dan kekompakan makna. Oleh karena itu, tidak semua gabungan kata dapat dianggap sebagai kata majemuk.

 

6. Abreviasi dan Akronimisasi

Abreviasi adalah proses pemendekan kata atau frasa menjadi bentuk yang lebih singkat. Abreviasi sering digunakan dalam bahasa tulis dan lisan untuk kepraktisan dan efisiensi komunikasi.

Jenis abreviasi meliputi:

·         Singkatan, seperti SMA, PT

·         Akronim, seperti LAN, Puskesmas

Akronimisasi adalah pembentukan kata baru dari huruf atau suku kata awal suatu frasa yang diucapkan sebagai satu kata. Contoh akronim yang umum digunakan adalah Pemilu (Pemilihan Umum) dan Bappenas.

Proses ini menunjukkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam merespons kebutuhan komunikasi modern.

 

7. Deviasi

Deviasi dalam morfologi merujuk pada penyimpangan atau pembentukan kata yang tidak sepenuhnya mengikuti kaidah morfologis baku. Deviasi sering ditemukan dalam bahasa informal, bahasa media sosial, dan ragam kreatif.

Contoh deviasi antara lain penggunaan bentuk ngopi, ngegas, atau baper. Meskipun secara normatif dianggap tidak baku, bentuk-bentuk ini mencerminkan kreativitas dan dinamika bahasa.

Dalam kajian linguistik, deviasi tidak selalu dipandang sebagai kesalahan, melainkan sebagai fenomena kebahasaan yang layak dianalisis secara ilmiah.

 

8. Ringkasan

Proses morfologis merupakan mekanisme utama pembentukan kata dalam bahasa Indonesia. Proses ini meliputi afiksasi, reduplikasi, komposisi, abreviasi dan akronimisasi, serta deviasi. Setiap proses memiliki ciri dan fungsi tersendiri dalam membentuk makna dan struktur kata. Pemahaman proses morfologis sangat penting dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa Indonesia.

 

9. Latihan dan Studi Kasus

Latihan

1.      Jelaskan pengertian proses morfologis menurut para ahli!

2.      Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis proses morfologis dalam bahasa Indonesia!

3.      Berikan contoh afiksasi yang mengubah kelas kata!

Studi Kasus

Ambillah satu artikel berita daring. Identifikasilah minimal 15 kata yang mengalami proses morfologis. Klasifikasikan kata-kata tersebut berdasarkan jenis proses morfologisnya dan jelaskan makna gramatikal yang dihasilkan.

 

Daftar Pustaka

Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna, dan fungsi. Jakarta: Grasindo.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

Kamis, 18 Desember 2025

KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA


KELAS KATA DALAM BAHASA INDONESIA

(Sub-CPMK 2: Mengidentifikasi Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia)

Pendahuluan

Dalam kajian linguistik, khususnya morfologi dan sintaksis, kelas kata merupakan konsep fundamental yang tidak dapat diabaikan. Kelas kata berfungsi sebagai dasar untuk memahami bagaimana kata dibentuk, digunakan, dan disusun dalam struktur kalimat. Pemahaman kelas kata sangat penting bagi mahasiswa, pendidik, dan pemerhati bahasa karena berkaitan langsung dengan kemampuan berbahasa yang efektif, baik secara lisan maupun tulis.

Dalam bahasa Indonesia, pengelompokan kelas kata tidak hanya didasarkan pada makna, tetapi juga pada ciri morfologis dan perilaku sintaktisnya. Oleh karena itu, pembahasan kelas kata perlu dilakukan secara sistematis agar penutur bahasa dapat mengidentifikasi dan menggunakan kata secara tepat sesuai konteks kebahasaan.

 

Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing

1. Konsep Kelas Kata

Kelas kata adalah penggolongan kata berdasarkan kesamaan perilaku gramatikal, makna, dan distribusinya dalam kalimat. Chaer (2007) menjelaskan bahwa kelas kata merupakan kategori gramatikal yang menunjukkan fungsi kata dalam struktur bahasa. Dengan kata lain, kelas kata membantu menentukan posisi dan peran kata dalam frasa maupun kalimat.

Dalam bahasa Indonesia, konsep kelas kata sangat erat kaitannya dengan morfologi karena proses pembentukan kata sering kali mengakibatkan perubahan kelas kata. Misalnya, kata ajar (verba) dapat berubah menjadi pelajaran (nomina) melalui proses afiksasi. Perubahan ini tidak hanya berdampak pada bentuk kata, tetapi juga pada fungsi dan maknanya.

Secara umum, kelas kata dalam bahasa Indonesia dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu kelas kata terbuka dan kelas kata tertutup. Pembagian ini didasarkan pada kemungkinan penambahan anggota baru dalam masing-masing kelas.

 

2. Kelas Kata Terbuka

Kelas kata terbuka adalah kelompok kata yang memungkinkan penambahan anggota baru seiring perkembangan bahasa dan kebutuhan komunikasi. Kelas kata ini bersifat produktif dan dinamis. Dalam bahasa Indonesia, kelas kata terbuka meliputi nomina, verba, adjektiva, dan adverbia.

a. Nomina

Nomina atau kata benda adalah kelas kata yang mengacu pada manusia, benda, tempat, konsep, atau hal-hal abstrak. Nomina umumnya dapat diikuti oleh kata ini atau itu dan dapat didahului oleh kata bilangan.

Contoh nomina antara lain buku, mahasiswa, keadilan, dan pendidikan. Dalam struktur kalimat, nomina sering berfungsi sebagai subjek atau objek.

Secara morfologis, nomina bahasa Indonesia dapat dikenali melalui afiks pembentuk nomina, seperti pe-, -an, ke- -an, dan per- -an. Misalnya, kata ajar menjadi pengajar dan pelajaran.

b. Verba

Verba atau kata kerja adalah kelas kata yang menyatakan tindakan, proses, atau keadaan. Verba biasanya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat.

Ciri khas verba bahasa Indonesia antara lain dapat didahului oleh kata sedang, akan, atau telah. Contoh verba antara lain makan, menulis, berjalan, dan mengajar.

Dari segi morfologis, verba sering dibentuk melalui afiksasi, seperti prefiks me-, ber-, di-, dan ter-. Afiks-afiks tersebut menunjukkan aspek gramatikal seperti keaktifan, keberlangsungan, dan pasivitas.

c. Adjektiva

Adjektiva atau kata sifat adalah kelas kata yang menyatakan sifat, keadaan, atau kualitas suatu nomina. Adjektiva umumnya dapat didahului oleh kata sangat, lebih, atau paling.

Contoh adjektiva dalam bahasa Indonesia meliputi besar, indah, cerdas, dan cepat. Dalam kalimat, adjektiva dapat berfungsi sebagai predikat atau sebagai atribut yang menerangkan nomina.

Secara morfologis, adjektiva dapat dibentuk melalui afiksasi, misalnya dengan konfiks ke- -an pada kata panas menjadi kepanasan.

d. Adverbia

Adverbia atau kata keterangan adalah kelas kata yang berfungsi menerangkan verba, adjektiva, atau adverbia lainnya. Adverbia memberikan keterangan tambahan mengenai cara, waktu, tempat, atau tingkat.

Contoh adverbia antara lain sangat, sekali, kemarin, di sini, dan perlahan. Dalam bahasa Indonesia, adverbia memiliki distribusi yang fleksibel dan dapat muncul di awal, tengah, atau akhir kalimat.

 

3. Kelas Kata Tertutup

Berbeda dengan kelas kata terbuka, kelas kata tertutup adalah kelompok kata yang jumlah anggotanya relatif tetap dan jarang mengalami penambahan. Kelas kata tertutup meliputi pronomina, numeralia, preposisi, konjungsi, dan partikel.

a. Pronomina

Pronomina atau kata ganti adalah kelas kata yang digunakan untuk menggantikan nomina. Pronomina berfungsi untuk menghindari pengulangan kata benda dalam tuturan.

Contoh pronomina dalam bahasa Indonesia meliputi saya, kamu, dia, ini, dan itu. Pronomina memiliki peran penting dalam kohesi wacana.

b. Numeralia

Numeralia atau kata bilangan adalah kelas kata yang menyatakan jumlah, urutan, atau ukuran. Contoh numeralia antara lain satu, dua, pertama, dan beberapa.

Numeralia sering digunakan bersama nomina dan memiliki fungsi penting dalam menyampaikan informasi kuantitatif.

c. Preposisi

Preposisi atau kata depan adalah kelas kata yang digunakan untuk menghubungkan nomina dengan unsur lain dalam kalimat. Contoh preposisi bahasa Indonesia antara lain di, ke, dari, dengan, dan untuk.

Preposisi tidak dapat berdiri sendiri dan selalu diikuti oleh objek berupa nomina atau frasa nominal.

d. Konjungsi

Konjungsi atau kata hubung berfungsi menghubungkan kata, frasa, klausa, atau kalimat. Contoh konjungsi meliputi dan, atau, tetapi, karena, dan sehingga.

Konjungsi memiliki peran penting dalam membangun hubungan logis antarbagian wacana.

e. Partikel

Partikel adalah kelas kata yang memiliki fungsi gramatikal atau pragmatis tertentu, seperti penegasan, penanya, atau pembatas. Contoh partikel bahasa Indonesia antara lain -lah, -kah, pun, dan tah.

 

4. Ciri Morfologis Kelas Kata

Setiap kelas kata dalam bahasa Indonesia memiliki ciri morfologis tertentu yang membedakannya dari kelas kata lain. Nomina cenderung menerima afiks nominal, verba menerima afiks verbal, dan adjektiva memiliki afiks pembentuk sifat.

Ciri morfologis ini membantu penutur bahasa dalam mengidentifikasi kelas kata secara sistematis. Misalnya, kata yang dapat menerima prefiks me- hampir pasti merupakan verba.

 

5. Identifikasi Kelas Kata dalam Teks

Identifikasi kelas kata dalam teks dilakukan dengan memperhatikan bentuk kata, afiks yang digunakan, serta fungsi kata dalam kalimat. Misalnya, dalam kalimat Mahasiswa sedang membaca buku, kata mahasiswa merupakan nomina, sedang merupakan adverbia, dan membaca merupakan verba.

Kemampuan mengidentifikasi kelas kata sangat penting dalam analisis teks, pembelajaran tata bahasa, dan penulisan akademik.

 

6. Ringkasan

Kelas kata merupakan penggolongan kata berdasarkan kesamaan perilaku gramatikal, makna, dan distribusi. Dalam bahasa Indonesia, kelas kata dibedakan menjadi kelas kata terbuka dan kelas kata tertutup. Setiap kelas kata memiliki ciri morfologis dan fungsi sintaktis yang khas. Pemahaman kelas kata sangat penting dalam kajian morfologi dan pembelajaran bahasa.

 

7. Latihan dan Diskusi

Latihan

1.      Jelaskan perbedaan kelas kata terbuka dan tertutup!

2.      Sebutkan ciri morfologis verba bahasa Indonesia!

3.      Identifikasilah kelas kata dalam kalimat berikut:
Dosen tersebut sedang menulis artikel ilmiah.

Diskusi

Diskusikan peran pemahaman kelas kata dalam meningkatkan kemampuan menulis akademik mahasiswa.

 

Daftar Pustaka

Alwi, H., Dardjowidjojo, S., Lapoliwa, H., & Moeliono, A. M. (2014). Tata bahasa baku bahasa Indonesia (Edisi ke-4). Jakarta: Balai Pustaka.

Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.

Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta.

Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.

 

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA

KESIMPULAN AKHIR MORFOLOGI BAHASA INDONESIA Buku Morfologi Bahasa Indonesia ini disusun untuk memberikan pemahaman komprehensif dan apl...