PROSES MORFOLOGIS DALAM BAHASA INDONESIA
(Sub-CPMK 3: Memahami Proses Morfologis Kata dalam Bahasa Indonesia)
Pendahuluan
Bahasa tidak bersifat statis, melainkan terus berkembang mengikuti kebutuhan
penuturnya. Salah satu bukti dinamika bahasa dapat dilihat dari cara kata-kata
dibentuk, dimodifikasi, dan digunakan dalam berbagai konteks komunikasi. Dalam
linguistik, kajian tentang pembentukan kata ini dibahas dalam morfologi,
khususnya melalui konsep proses morfologis.
Proses morfologis merupakan inti kajian morfologi karena melalui proses
inilah kata-kata baru lahir, makna berkembang, dan fungsi gramatikal dibentuk.
Dalam bahasa Indonesia, proses morfologis memiliki pola yang relatif sistematis
dan produktif, sehingga penting dipahami oleh mahasiswa, pendidik, dan
pemerhati bahasa. Artikel ini membahas secara komprehensif pengertian proses
morfologis, jenis-jenisnya, serta penerapannya dalam bahasa Indonesia.
| Dasar Psikolinguistik - Aco Nasir, S.Pd.I., M.Pd. | CV. Cemerlang Publishing |
1. Pengertian Proses Morfologis
Proses morfologis adalah proses pembentukan kata
yang melibatkan penggabungan, pengulangan, atau perubahan bentuk morfem
sehingga menghasilkan kata baru atau bentuk kata yang berbeda secara
gramatikal. Chaer (2007) menyatakan bahwa proses morfologis merupakan cara atau
mekanisme pembentukan kata dari satuan morfem dengan aturan tertentu.
Arifin dan Junaiyah (2009) menegaskan bahwa proses morfologis tidak hanya
menghasilkan bentuk kata baru, tetapi juga memengaruhi makna dan kelas kata.
Oleh karena itu, proses morfologis mencakup aspek bentuk, fungsi, dan makna
secara bersamaan.
Dalam bahasa Indonesia, proses morfologis sangat produktif dan menjadi ciri
khas sistem kebahasaannya. Proses ini memungkinkan satu kata dasar melahirkan
berbagai bentuk turunan dengan makna dan fungsi yang berbeda.
2. Jenis-Jenis Proses Morfologis
Secara umum, proses morfologis dalam bahasa Indonesia dapat diklasifikasikan
ke dalam beberapa jenis utama, yaitu:
1. Afiksasi
2. Reduplikasi
3. Komposisi
4. Abreviasi dan akronimisasi
5. Deviasi
Kelima jenis proses ini menunjukkan cara bahasa Indonesia membentuk dan
mengembangkan kosakata secara sistematis. Masing-masing proses memiliki ciri,
fungsi, dan kaidah yang berbeda.
3. Afiksasi
Afiksasi adalah proses morfologis yang paling
produktif dalam bahasa Indonesia. Afiksasi terjadi melalui penambahan afiks
pada morfem dasar. Afiks adalah morfem terikat yang tidak dapat berdiri sendiri
dan harus melekat pada morfem lain.
Jenis afiks dalam bahasa Indonesia meliputi:
·
Prefiks
(awalan), seperti me-, ber-, di-, ter-
·
Sufiks
(akhiran), seperti -kan, -i, -nya
·
Infiks
(sisipan), seperti -el-, -em-
·
Konfiks
(awalan-akhiran), seperti ke- -an, per- -an
Sebagai contoh, kata dasar ajar dapat mengalami berbagai proses
afiksasi menjadi mengajar, pelajaran, pengajar, dan pengajaran.
Setiap bentuk turunan tersebut memiliki makna dan fungsi gramatikal yang
berbeda.
Afiksasi tidak hanya membentuk kata baru, tetapi juga dapat mengubah kelas
kata, misalnya dari verba menjadi nomina. Hal ini menunjukkan bahwa afiksasi
memiliki peran penting dalam sistem gramatika bahasa Indonesia.
4. Reduplikasi
Reduplikasi adalah proses morfologis yang
dilakukan dengan mengulang bentuk dasar, baik secara utuh maupun sebagian.
Dalam bahasa Indonesia, reduplikasi merupakan proses yang sangat khas dan
produktif.
Chaer (2007) membedakan reduplikasi menjadi beberapa jenis, antara lain:
1. Reduplikasi penuh, seperti buku-buku
2. Reduplikasi sebagian, seperti lelaki
3. Reduplikasi berimbuhan, seperti berlari-lari
4. Reduplikasi dengan perubahan bunyi, seperti bolak-balik
Reduplikasi dapat menyatakan berbagai makna gramatikal, seperti jamak,
intensitas, frekuensi, atau variasi. Makna reduplikasi sangat bergantung pada
konteks penggunaan dalam kalimat.
5. Komposisi
Komposisi atau pemajemukan adalah proses
morfologis yang menggabungkan dua morfem dasar atau lebih untuk membentuk satu
kata baru. Kata hasil komposisi sering disebut kata majemuk.
Contoh komposisi dalam bahasa Indonesia antara lain rumah sakit, meja
tulis, dan kepala sekolah. Dalam komposisi, makna keseluruhan
tidak selalu dapat ditafsirkan secara langsung dari makna unsur-unsurnya.
Putrayasa (2003) menyatakan bahwa komposisi memiliki ciri khusus, seperti
ketaktersisipan unsur lain dan kekompakan makna. Oleh karena itu, tidak semua
gabungan kata dapat dianggap sebagai kata majemuk.
6. Abreviasi dan
Akronimisasi
Abreviasi adalah proses pemendekan kata atau
frasa menjadi bentuk yang lebih singkat. Abreviasi sering digunakan dalam
bahasa tulis dan lisan untuk kepraktisan dan efisiensi komunikasi.
Jenis abreviasi meliputi:
·
Singkatan, seperti SMA,
PT
·
Akronim, seperti LAN,
Puskesmas
Akronimisasi adalah pembentukan kata baru dari
huruf atau suku kata awal suatu frasa yang diucapkan sebagai satu kata. Contoh
akronim yang umum digunakan adalah Pemilu (Pemilihan Umum) dan Bappenas.
Proses ini menunjukkan fleksibilitas bahasa Indonesia dalam merespons
kebutuhan komunikasi modern.
7. Deviasi
Deviasi dalam morfologi merujuk pada penyimpangan
atau pembentukan kata yang tidak sepenuhnya mengikuti kaidah morfologis baku.
Deviasi sering ditemukan dalam bahasa informal, bahasa media sosial, dan ragam
kreatif.
Contoh deviasi antara lain penggunaan bentuk ngopi, ngegas,
atau baper. Meskipun secara normatif dianggap tidak baku,
bentuk-bentuk ini mencerminkan kreativitas dan dinamika bahasa.
Dalam kajian linguistik, deviasi tidak selalu dipandang sebagai kesalahan,
melainkan sebagai fenomena kebahasaan yang layak dianalisis secara ilmiah.
8. Ringkasan
Proses morfologis merupakan mekanisme utama pembentukan kata dalam bahasa
Indonesia. Proses ini meliputi afiksasi, reduplikasi, komposisi, abreviasi dan
akronimisasi, serta deviasi. Setiap proses memiliki ciri dan fungsi tersendiri
dalam membentuk makna dan struktur kata. Pemahaman proses morfologis sangat
penting dalam kajian linguistik dan pembelajaran bahasa Indonesia.
9. Latihan dan Studi Kasus
Latihan
1. Jelaskan pengertian proses morfologis menurut para ahli!
2. Sebutkan dan jelaskan jenis-jenis proses morfologis dalam bahasa
Indonesia!
3. Berikan contoh afiksasi yang mengubah kelas kata!
Studi Kasus
Ambillah satu artikel berita daring. Identifikasilah minimal 15
kata yang mengalami proses morfologis. Klasifikasikan kata-kata
tersebut berdasarkan jenis proses morfologisnya dan jelaskan makna gramatikal
yang dihasilkan.
Daftar Pustaka
Arifin, E. Z., & Junaiyah, H. M. (2009). Morfologi: Bentuk, makna,
dan fungsi. Jakarta: Grasindo.
Chaer, A. (2007). Morfologi bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Chaer, A. (2007). Linguistik umum. Jakarta: Rineka Cipta.
Putrayasa, I. B. (2003). Kajian morfologi. Jakarta: Eresco.